Memahami Konsep Exposure atau Segitiga Exposure pada Fotografi

7
3133
Konsep Exposure dalam fotografi

Fotografi terkait erat cahaya. Dapat dikatakan bahwa cahaya adalah elemen terpenting dalam foografi selain alat dan penguasaannya. Fotografi secara mendasar tidak semata berarti mencari objek yang tepat untuk ditangkap dalam bentuk citra gambar. Fotografi juga terkait dengan pengolahan cahaya secara maksimal untuk menemukan komposisi gambar dan warna yang memadai dan padu.Ketajaman visi untuk memilah dan memilih objek yang akan ditangkap menggunakan kamera perlu dilengkapi dengan pemahaman dan teknik yang mumpuni dalam penggunaan pelbagai fasilitas yang terdapat dalam kamera. Salah satu hal yang membedakan fotografer profesional dan amatir adalah kemampuannya untuk mengulang satu teknik pengambilan gambar. Fotografer tidak mengandalkan faktor ketidaksengajaan untuk memperoleh gambar yang bagus, tetapi menggunakan teknik yang memadai dan dapat diulang pada waktu dan objek yang berbeda.

[Baca Juga: Memahami Aperture atau Bukaa Lensa]

Fotografi memiliki konsep khusus tentang pengaturan cahaya yang kerap dikenal dengan istilah eksposur (exposure) atau pencahayaan.  Konsep tersebut terdiri dari tiga elemen utama, yaitu diafragma (aperture), ISO dan kecepatan pengambilan gambar (speed). Ketiga elemen ini saling berkaitan dan memengaruhi keseluruhan hasil dari pemotretan. Jika cahaya yang diterima oleh sensor terlalu besar akibat pengaturan ketiga elemen ini, tidak tertutup kemungkinan kamera akan menghasilkan gambar yang terlalu terang (overexposed). Peterson memperkenalkan istilah segitiga eksposur sebagai penanda kterhubungan antar ketiga elemen tersebut.

Bukaan lensa (Aperture), adalah pengaturan lebar saluran cahaya yang masuk melalui lensa. Elemen teknis ini terkait pula dengan istilah lain, yaitu DOF (depth of field). Saat memencet tombol memotret, secara otomatis lensa akan terbuka dan memberikan ruang pada cahaya untuk masuk ke dalam sensor. Ukuran bukaan tersebut (aperture) yang menentukan seberapa banyak cahaya yang diizinkan masuk ke dalam sensor kamera.
Satuan yang digunakan untuk mengukur besaran bukaan diafragma di kenal dengan f stop (f). Dengan mudah fotografer sering menemukan istilah seperti f/1.4 atau f/5.6. F melambangkan satuan utuh diafragma lensa dapat terbuka. Dengan demikian dapat dipahami bahwa f/1.4 setara dengan 1/1.4 dan f/5.6 setara dengan 1/5.6. Semakin besar bilangan pembagi angka 1 (f utuh) menunjukkan semakin kecil jumlah cahaya yang masuk ke dalam sensor. Sebagai contoh, angka f/2.8 lebih besar dari pada angka f/5.6.

ISO menjadi salah satu variabel lain yang menentukan seberapa besar cahaya memengaruhi gambar hasil pemotretan. ISO dapat didefinisikan secara teknis sebagai sensitivitas sensor kamera dalam menangkap jumlah cahaya. Semakin besar angka ISO, semakin sensitif kamera menangkap dan mengolah cahaya yang masuk. Kamera dijital saat ini telah memiliki pilihan ISO yang beragam, seperti 100, 200, 400, 800, 1600, 3200. Implikasi dari terlelu besarnya ISO adalah munculnya bintik-bintik pada gambar yang dihasilkan. Implikasi lainnya adalah menurunnya kualitas gambar, terutama pada aspek warna.

Kecepatan lensa (shutter speed) menunjukkan seberapa lama diafragma pada lensa terbuka saat pengambilan gambar. Semakin cepat durasi diafragma terbuka akan mengakibatkan semakin kecilnya cahaya yang masuk dan diterima oleh sensor. sebalinya, semakin lama durasi terbukanya diafragma menyebabkan semakin banyaknya cahaya yang ditangkap oleh sensor kamera.

Sumber:
Ibad, Irsyad dalam http://kabartersiar.web.id. Mengenal Dasar-dasar Fotografi.
Peterson, B. Understanding Exposure, 3rd Edition: How to Shoot Great Photographs with Any Camera. Amphoto Books; 3rd edition (August 10, 2010).

Berbagi dan Diskusi

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here