Bisakah Insting Hewan Memprediksi Bencana Alam?

4
1874
Insting Hewan Memperkirakan becana alam
Insting Hewan Memperkirakan becana alam

Keberadaan hewan kerap dikaitkan dengan prediksi kedatangan bencana alam. Hewan dinilai sebagai salah satu prediktor cukup baik untuk memerkirakan kemungkinan terjadinya bencana alam. Fenomena hijrahnya hewan buas dari hutan di lereng Gunung Merapi menjelang erupsi merupakan salah satu contoh yang tampak. Pada Tsunami Aceh tahun 2004, fenomena ini juga terjadi di wilayah Sri Langka. Suaka Margasatwa Yala menjadi saksi bahwa Tsunami yang berimbas ke wilayah tersebut tidak banyak menelan korban hewan. Taman Nasional tersebut dihuni oleh ratusan binatang buas, seperti Gajah, Singa, Macan dan Monyet. Bencana Tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 tersebut hanya berimbas pada beberapa jenis hewan dan memakan korban tidak banyak.

Fenomena tersebut banyak dijelaskan dalam pelbagai riset ilmiah. Sejumlah riset menyebutkan menemukan bahwa hewan memiliki insting yang dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya perubahan pada alam, termasuk bencana. Hewan dinilai memiliki kemampuan merasakan gejala perubahan  pada alam yang terjadi secara cepat dan berkemngkinan menimbulkan bencana.

Benarkah Hewan memiliki insting yang dapat memprediksi bencana?

Kepercayaan bahwa hewan mampu merasakan kemungkinan terjadinya bencana telah menjadi kepercayaan selama berabad-abad. Hewan, pada prinsipnya, memiliki insting yang dapat digunakan untuk menyadari kehadiran situasi berbahaya, terutama yang berasal dari hewan predator lainnya. Insting tersebut dapat digunakan pula untuk menangkan gejala perubahan alam. Insting tersebut membantu hewan untuk bertahan hidup di tengah kehidupan di lingkungan yang buas. Pelbagai negara melakukan penelitian tentang pemanfaatan hewan untuk mendeteksi kemungkinan bencana, seperti yang dilaporkan oleh National Geographic pada konteks bencana gempa bumi. Dua teori besar berkembang untuk menjelaskan kemampuan hewan tersebut.

Teori pertama meyakini bahwa hewan dapat merasakan getaran dan perubahan yang terjadi pada lempeng bumi. Teori lainnya meyakini bahwa hewan dapat merasakan udara dan gas yang dilepaskan oleh perut bumi kepermukaan yang menunjukkan gejolak atau perubahan di dalam bumi.  Teori ini mampu menjelaskan tentang fenomena perpindahan hewan dari hutan lereng Merapi sebelum letusan; serta selamatnya hewan di Taman Nasional Yala di Sri Langka.

Meski kedua teori tersebut berkembang, namun terdapat juga sikap skeptis pada beberapa ilmuan terkait dengan situasi kebencanaan tersebut. Pandangan ilmiah lain mengannggap bahwa upaya untuk menemkan keterhubungan antara perilaku hewan dan perubahan bumi menjelang gempa sangat sulit dilakukan. Hal tersebut sangat sulit untuk dijabarkan secara ilmiah mengingat hewan juga memiliki kecenderungan perubahan pola perilaku yang serupa pada situasi yang lain. Pandangan ini menempatkan studi atas hubungan antara insting hewan dan prediksi kebencanaan tidak dilakukan oleh ilmuan skeptis ini.

 

Berbagi dan Diskusi

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here