Macam Hadast dan Cara Bersuci

1
7419
bersuci, macam hadast, cara mensucikan hadast
Macam hadast dan cara mensucikannya

Hadats secara bahasa adalah sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang berlaku atau peristiwa. Sedangkan menurut istilah, hadats adalah sesuatu yang menghalangi sahnya shalat. Hadats itu ada hadats besar dan ada hadats kecil. Seseorang yang telah berwudhu kemudian kentut, maka berarti ia berhadats kecil. Sehingga ketika hendak mendirikan shalat, maka wajib baginya untuk berwudhu. Sedangkan jika ada seorang wanita yang datang bulan, maka artinya ia sedang berhadats besar. Hadast besar hanya bisa dihilangkan dengan mandi besar atau mandi jinabat.
Setiap muslim ketika hendak mendirikan shalat, maka diwajibkan untuk bebas dari hadats besar maupun hadats kecil. Hal tersebut merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat di antara kalian jika berhadats, sehingga ia terlebih dahulu berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadats kecil itu ada lima macam, yaitu: (1) Apa yang keluar dari alat kelamin ataupun anus, seperti, keluar angin, buang air besar, maupun buang air kecil. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya: “… atau kembali salah seorang dari kamu dari tempat buang air (kakus/WC)….” (QS. Al-Ma’idah [5]: 6). (2) Tidur yang tidak tetap (bersandar). Dari Mua’wiyah Ra. ia menuturkan: Rasulullah Saw. bersabda, “Mata itu pengikat dubur. Maka ketika kedua mata itu telah tertidur, terlapaslah pengikat itu.” (HR. Ahmad dan Thabrani). (3) Hilang akal karena mabuk ataupun sakit. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Telah diangkat pena dari tiga perkara: dari anak-anak sehingga ia dewasa, orang tidur sehingga ia bangun, dan dari orang gila sehingga ia sehat kembali.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah). (3) Bersentuhan kulit orang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, tanpa ada batas yang menghalangi kedua kulit tersebut. Allah berfirman yang artinya, “… atau bersentuhan dengan perempuan (yang bukan mahramnya).” (QS. Al-Ma’idah [5]: 6). (4) Menyentuh kemaluan dengan telapan tangan, baik kemaluan sendiri ataupun kemaluan orang lain. Dari Bushrah binti Shafwan Ra. sesungguhnya Rasululllah Saw. bersabda, “Siapa saja yang menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu.” (HR. Lima ahli Hadits)

Orang yang berhadats kecil dilarang: (1) Shalat; (2) Thawaf; (3) Menyentuh atau membawa mushaf. Jika ingin melakukannya, maka harus berwudhu terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang menghalangi wudhu, maka bisa dengan bertayammum untuk menghilangkan hadats kecil.
Sedangkan hadats besar terdiri dari enam macam, yaitu: (1) Bertemunya dua alat kelamin, laki-laki dengan perempuan, baik keluar mani ataupun tidak. Nabi Saw. bersabda, “Apabila bertemu dengan khitanan, maka sungguh telah wajib mandi, meski tidak keluar mani.” (HR. Muslim). (2) Keluar mani sebab bermimpi ataupun yang lain. Dari Abu Sa’id al-Khudzri Ra. ia menuturkan: Rasulullah Saw. bersabda, “Air itu dari air (maksudnya wajib mandi karena keluar air mani).” (HR. Muslim). (3) Meninggal dunia.

Dari Ibn Abbas Ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda tentang orang yang meninggal dunia karena terjatuh dari kendaraannya, “Mandikanlah dengan air dan bidara dan kafanilah dia dengan dua kainnya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih). (4) Haid atau menstruasi, yaitu darah yang keluar dari rahim wanita dewasa setiap bulannya sehingga sering disebut dengan bulanan dalam kondisi sehat, bukan karena sebab yang lain, seperti suatu penyakit, kecelakaan, ataupun melahirkan.

Keluarnya darah haid menandakan kedewasaan anak gadis. Biasanya paling muda usia sembilan tahun sudah haid. Sadangkan usia maksimalnya tidak terbatas. Sehingga kewajiban-kewajiban syarat sudah ditetapkan baginya. Biasanya haid paling cepat sehari semalam. Periode wajarnya enam atau tujuh hari dan paling lama itu lima belas hari. Oleh sebab itu, masa suci antara dua haid itu paling sedikit lima belas hari dan paling banyak tidak terbatas, tergantung ritme haid perempuan tertentu.

Perempuan dewasa umumnya telah hafal waktu atau sirkulasi haid. Haid memiliki sirkulasi yang dapat diperkirakan mengacu pada waktu haid sebelumnya. Setiap perempuan memiliki waktu dan lama waktu haid yang berbeda. Sehingga jika darah keluar di luar tanggal tersebut karena suatu penyakit atau hal lain, maka itu darah istihadhah. (5) Nifas, yaitu darah yang keluar dari rahim seorang ibu sehabis melahirkan. Namun darah yang keluar sebelum melahirkan itu tidak bisa digolongkan sebagai darah nifas.

Keluarnya darah nifas paling sedikit sekali keluar dan paling lama enam puluh hari. Bisanya darah nifas keluar selama empat puluh hari. Selain darah haid dan nifas, maka disebut dengan darah istihadhah. (6) Melahirkan. Jika seseorang mengalami salah satu dari keenam hal tersebut, maka wajib baginya untuk mandi besar (jinabah).
Orang yang berhadats besar karena bersenggama, baik keluar mani ataupun tidak, maka dilarang: (1) Shalat; (2) Thawaf; (3) Membaca al-Qur’an; (4) Menyentuh mushaf dan membawanya; (5) Duduk/diam di dalam masjid.

Sedangkan wanita yang berhadats besar kerena haid ataupun nifas, maka dilarang: (1) Shalat, termasuk juga sujud tilawah dan sujut syukur; (2) Thawaf: (3) Berpuasa; (4) membaca al-Qur’an; (5) Menyentuh mushaf dan membawanya; (6) Masuk masjid; (7) Berhubungan suami istri dan bersenang-senang di bagian tubuh antara lutut dan pusar; (8) Bercerai (thalaq).

Sumber:
Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Dimasyqi, Kifayah al-Akhyar, Semarang: Makrabah Keluarga, Tanpa Tahun.
Chatibul Umam, dkk, Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah, Kudus: Menara Kudus, 2004.

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

  1. […] Hadats secara bahasa adalah sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang berlaku atau peristiwa. Sedangkan menurut istilah, hadats adalah sesuatu yang menghalangi sahnya shalat. Hadats itu ada hadats besar dan ada hadats kecil. Seseorang yang telah berwudhu kemudian kentut, maka berarti ia berhadats kecil. Sehingga ketika hendak mendirikan shalat, maka wajib baginya untuk berwudhu. Sedangkan jika ada seorang wanita yang datang bulan, maka artinya ia sedang berhadats besar. Hadast besar hanya bisa dihilangkan dengan mandi besar atau mandi jinabat. Setiap muslim ketika hendak mendirikan shalat, maka diwajibkan untuk bebas dari hadats besar maupun hadats kecil. Hal tersebut merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat di antara kalian jika berhadats, sehingga ia terlebih dahulu berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadats kecil itu ada lima macam, yaitu: (1) Apa yang keluar dari alat kelamin ataupun anus, seperti, keluar angin, buang air  […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here