Macam Najis dan Cara Mensucikannya

1
2851
macam najis, cara bersuci dari najis
Cara mensucikan najis

Bersuci menjadi salah satu syarat sah ibadah. Seorang muslim yang hendak melakukan ibadah, sepeti shalat diwajibkan untuk membersihan diri dari pelbagai jenis najis. Najis menurut bahasa diartikan sebagai apa saja yang dipandang kotor dan menjijikkan. Sedangkan menurut syara, makna najis ialah suatu kotoran yang dapat menghalangi sahnya suatu ibadah, seperti shalat, tawaf, dan lain-lain.

Fikih mengenal tiga macam najis, yaitu najis mukhaffafah (najis yang ringan), mutawassithah, (najis yang sedang), dan mughaladhah (najis yang berat). Najis Mukhaffafah adalah najis yang berasal dari air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan hanya meminum air susu ibunya. Cara menyucikannya cukup menyiramkan air pada badan, pakaian, ataupun tempat yang terkena najis. Nabi Saw. bersabda, “Dicuci/dibasuh karena kencing anak perempuan dan disiram/dipercikkan air karena kencing anak laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i). Jadi, seluruh air kencing dan kotoran wajib dibasuh, kecuali air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan hanya meminum air susu ibunya.

Najis Mutawassithah adalah najis yang berasal dari air kencing, kotoran manusia dan hewan, darah, muntahan, arak, air susu hewan yang diharamkan untuk dimakan, bangkai binatang selain ikan dan belalang, bagian yang terpisah dari tubuh binatang walaupun binatang yang dihalalkan untuk dimakan, dan semua bangkai binatang selain bangkai ikan dan belalang. Najis Mutawassithah dibagi menjadi dua yaitu hukmiyah dan ‘ainiyah. Najis hukmiyah yaitu najis yang tak mempunyai bentuk, bau, rasa, ataupun warna seperti bekas air kencing yang sudah mengering dan tak tampak sama sekali sifat-sifatnya. Cara menyucikannya cukup diguyur dengan air walaupun sekali.

Najis ‘ainihyah yaitu najis yang mempunyai bentuk, bau, rasa, ataupun warnanya seperti air kencing, kotoran manusia dan hewan, darah, muntahan, arak, air susu hewan yang diharamkan untuk dimakan, bangkai binatang selain ikan dan belalang, bagian yang terpisah dari tubuh binatang walaupun binatang yang dihalalkan untuk dimakan, dan semua bangkai binatang selain bangkai ikan dan belalang.     Cara menyucikannya yaitu dengan membasuhnya semaksimal mungkin sampai hilang bau, warna dan rasanya. Bila terpaksa karena sulit menghilangkan ketiga sifatnya itu, maka tersisanya salah satu sifat najisnya dianggap dimaafkan.

Dari Abu Hurairah Ra. berkata: seorang Arab pedalaman berdiri dan kencing di masjid. Orang-orang pun berdiri hendak menghajarnya. Maka Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat untuk menyuruh orang Arab pedalaman itu pergi dan menuruh menyiram air kencingnya dengan seember air.

Cara menyucikan kulit binatang adalah dengan disamak. Namun tidak berlaku bagi kulit babi dan anjing atau binatang yang lahir dari perkawinan keduanya atau salah satu darinya kawin dengan binatang lain dan melahirkan anak. Perlu diperhatikaan bahwa tulang belulang bangkai binatang dan rambutnya itu najis, kecuali kepunyaan manusia.

Najis Mughaladhah adalah air liur dan kotoran anjing dan babi yang mengenai benda (khususnya peralatan rumah tangga). Cara menyucikan perabotan atau badan yang terkena air liur babi adalah mencucinya sampai tujuh kali dengan air, salah satunya dengan memakai debu yang suci. Rasulullah Saw. bersabda, “Sucinya tempat dan perkakas salah seorang di antara kamu apabila dijilat anjing, kendaklah dicuci tujuh kali, permulaan tujuh kali itu harus dengan tanah/debu.” (HR. Muslim).

Najis yang diampuni ketika terkena badan, pakaian, dan tempat ibadah kita adalah darah yang sangat sedikit  dan muntahan. Ketika ada binatang yang mempunyai darah yang tak mengalir, seperti nyamuk dan lalat jika masuk ke dalam wadah yang ada wadah dan benda cair lainnya, maka dianggap tidak menajiskannya.

Perlu diperhatikan bahwa seluruh binatang itu suci, kecuali anjing dan babi serta binatang-binatang yang lahir dari keduanya atau salah satu dari keduanya. Seluruh bangkai itu najis, kecuali ikan dan belalang serta manusia

 

Sumber Rujukan:
Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Dimasyqi, Kifayah al-Akhyar, Semarang: Makrabah Keluarga, Tanpa Tahun.
Chatibul Umam, dkk, Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah, Kudus: Menara Kudus, 2004.

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

  1. […] Bersuci menjadi salah satu syarat sah ibadah. Seorang muslim yang hendak melakukan ibadah, sepeti shalat diwajibkan untuk membersihan diri dari pelbagai jenis najis. Najis menurut bahasa diartikan sebagai apa saja yang dipandang kotor dan menjijikkan. Sedangkan menurut syara, makna najis ialah suatu kotoran yang dapat menghalangi sahnya suatu ibadah, seperti shalat, tawaf, dan lain-lain. Fikih mengenal tiga macam najis, yaitu najis mukhaffafah (najis yang ringan), mutawassithah, (najis yang sedang), dan mughaladhah (najis yang berat). Najis Mukhaffafah adalah najis yang berasal dari air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan hanya meminum air susu ibunya. Cara menyucikannya cukup menyiramkan air pada badan, pakaian, ataupun tempat yang terkena najis. Nabi Saw. bersabda, “Dicuci/dibasuh karena kencing anak perempuan dan disiram/dipercikkan air karena kencing anak laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i). Jadi, seluruh air kencing dan kotoran wajib dibasuh, kecuali air  […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here