Adab dan Tata Cara Berwudhu

2
4248

Dalam ibadah ada hal-hal yang tidak bisa dilewatkan yang disebut dengan rukun. Dalam wudhu, ada enam rukun yang harus dijalankan, yaitu: (1) Niat menghilangkan hadas kecil karena Allah yang dilakukan bersamaan dengan membasuh wajah; (2) Membasuh wajah mulai dari tempat tumbuhnya rambut sampai ujung dagu dan dari telinga kanan ke telinga kiri; (3) Membasuh kedua tangan sampai siku; (4) Mengusap sebagian kepala walaupun hanya sebatas rambutnya namun tidak cukup hanya mengusap rambut yang panjang yang terurai melewati batas kepala; (5) Membasuh kaki dengan sampai mata kaki dan mata kaki harus benar-benar basah; (6) Berurutan dari rukun yang pertama sampai terakhir.

Dalam wudhu ada beberapa hal yang disunnahkan, diantaranya: (1) Membaca basmalah terlebih dahulu; (2) Melafalkan niat untuk menuntut niat yang ada dalam hati, sebab niat adalah rukun qalby, seperti dengan membaca: Nawaitul wudhu’a li raf’il-hadatsil-ashghari fardhan lillahi ta’ala lillahi ta’ala (Aku berniat wudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardhu karena Allah); (3) Membasuh kedua telapak tangan sebelum dimasukkan ke tempat wudhu; (4) Menggosok gigi terlebih dahulu. Menggosok gigi sendiri itu suatu kesunahan kapan saja, kecuali setelah tergelincirnya matahari pada saat menjalankan puasa. Namun sangat disarankan dalam tga kondisi, yaitu ketika bau mulut mulai berubah menjadi sangat tidak enak sebab suatu hal, ketika bangun tidur, dan ketika hendak mendirikan shalat. (5) Berkumur-kumur; (6) Menghirup air melalui hidung; (7) Mengusap seluruh kepala; (8) Membasuh telinga baik bagian luar ataupun dalam dengan memakai air yang baru; (9) Menggerak-gerakkan cincin (jika memakai); (10) Mendahulukan yang kanan dari yang kiri; (11) Melakukannya semuanya tiga kali-tiga kali; (12) Melakukannya secara berurutan tanpa jeda waktu yang panjang; (13) Menghadap kiblat setelah berwudhu dengan membaca dua kalimah syahadat: Asyhadu anla ilaha illallah wahdahu laa syariika lau, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasululuh (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah yang tiada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah); (14) Allahummaj’alni minat-tawwabinna, waj’alni minal-mutathahhirin, waj-‘alni min ‘ibadikash-shalihin. Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu an la ilaha illa Anta, astaghfiruka wa atubu ilaika (Ya, Allah! Jadikanlah kami menjadi bagian orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang shalih. Maha suci Engkau, ya Allah dan segala puji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Engkau dan aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu).

Adapun hal-hal yang dimakruhkan dalam berwudhu di antaranya: (1) Boros dalam memakai air; (2) Melakukan sunat maupun rukum wudhu; lebih dari tiga kali; (3) Membasahi seluruh tubuh.

Ada lima hal yang membatalkan wudhu. Pertama, apa saja yang keluar dari kubul ataupun dubul. Baik berupa benda cair seperti air kencing, wadi, mazi atau apapun yang cair. Juga berupa benda padat seperti kotoran, batu ginjal, cacing atau lainny. apun juga benda gas seperti kentut. Kesemuanya itu bila keluar lewat dua lubang qubul dan dubur, membuat wudhu yang bersangkutan menjadi batal. Kedua, hilangnya akal baik dikarenakan gila, mabuk, sakit, ataupun pingsan. Seorang yang minum khamar dan hilang akalnya karena mabuk, maka wudhu nya batal. Demikian juga orang yang sempat pingsan tidak sadarkan diri, juga batal wudhunya. Demikian juga orang yang sempat kesurupan atau menderita penyakit ayan, dimana kesadarannya sempat hilang beberapa waktu, wudhunya batal. Kalau mau shalat harus mengulangi wudhunya. Ketiga, menyentuh kulit wanita lain yang tidak mahramnya tanpa adanya penghalang. Keempat, Menyentuh kelamin siapapun dengan telapak tangan bagian dalam. Hal ini berlaku, baik menyentuh kemaluannya sendiri atau pun kemaluan orang lain. Baik kemaluan laki-laki maupun kemaluan wanita. Baik kemaluan manusia yang masih hidup atau pun kemauan manusia yang telah mati (mayat). Baik kemaluan orang dewasa maupun kemaluan anak kecil. Bahkan para ulama memasukkan dubur sebagai bagian dari yang jika tersentuh membatalkan wudhu. Namun para ulama mengecualikan bila menyentuh kemaluan dengan bagian luar dari telapak tangan, dimana hal itu tidak membatalkan wudhu. Kelima, tidur yang bukan dalam posisi tamakkun (tetap) di atas lantai. Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang membuat hilangnya kesadaran seseorang. Termasuk juga tidur dengan berbaring atau bersandar pada dinding. Sedangkan tidur sambil duduk yang tidak bersandar kecuali pada tubuhnya sendiri, tidak termasuk yang membatalkan wudhu.

 

Sumber: 

Muhammad Asnawi al-Qudsi, Fashalatan, Kudus: Menara Kudus, Tanpa Tahun.

Chatibul Umam, dkk, Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah, Kudus: Menara Kudus, 2004.

Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Dimasyqi, Kifayah al-Akhyar, Semarang: Makrabah Keluarga, Tanpa Tahun.

Berbagi dan Diskusi

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here