Rukun dan Sunnah dalam Shalat

1
1440
Rukun dan Sunnah Shalat
Rukun dan Sunnah Shalat

Terdapat  tiga belas rukun yang wajib dijalankan dalam  shalat. Rukun-rukun tersebut ada yang ada dalam hati, ada yang dalam bentuk ucapan, dan ada pula yang berupa gerakan-gerakan tubuh. Rukun-rukun tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, niat. Niat bersamaan dengan takbiratul ihram. Niat intinya di dalam hati sebagai pernyataan diri benar-benar menghadap Allah. Para ulama’ terdahulu menganjurkan  melafazkan niat untuk menuntun apa yang diniatkan di dalam hati. Untuk lebih bisa mempersiapkan hati dalam menghadap Allah dalam shalat, maka dianjurkan membaca surat an-Nas sampai selesai. Kemudian membaca: A’udzu billahi minasy-syaithainir-rajim, diteruskan dengan: Bismillahirrahmanirrahim. Setelah itu baru melafalkan niat.

Adapun niat shalat wajib adalah sebagai berikut:

(1) Niat shalat Zuhur: Ushalli fardhazh-zhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal-qiblati imaman/ma’muman lillahi ta’ala (aku berniat shalat Zuhur empat rekaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah).

(2) Niat shalat Ashar: Ushalli fardhal-‘ashri arba’a raka’atin mustaqbilal-qiblati imaman/ma’muman lillahi ta’ala (aku berniat shalat Ashar empat rekaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah).

(3) Niat shalat Maghrib: Ushalli fardhal-maghribi tsalatsa raka’atin mustaqbilal-qiblati imaman/ma’muman lillahi ta’ala (aku berniat shalat Maghrib tiga rekaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah).

(4) Niat shalat Isya’: Ushalli fardhal-‘isya’i arba’a raka’atin mustaqbilal-qiblati imaman/ma’muman lillahi ta’ala (aku berniat shalat Isya’ empat rekaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah).

(5) Niat shalat Subuh: Ushalli fardhash-shubhi raka’atain mustaqbilal-qiblati imaman/ma’muman lillahi ta’ala (aku berniat shalat Subuh dua rekaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah).

Kedua, berdiri bagi yang mampu. Jika tak bisa berdiri, maka dengan duduk. Jika tak dapat duduk, maka dengan tiduran. Dan jika tidak mampu, maka bisa dilakukannya dengan hanya  isyarat. Jika dengan isyarat sudah tidak bisa, maka dengan hati saja.

Ketiga, Tabiratul Ihram yaitu mengatakan: Allahu akbar, yang artinya Allah Mahabesar. Caranya dengan mengangkat kedua tangan sampai ke pundak dengan telapak tangan terbuka. Kemudian telapan tangan diletakkan di atas perut, di bawah dada. Tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri seraya membaca: Allahu Akbar.

Keeampat, membaca surat al-Fatihah. Syarat-syarat membaca al-Fatihah: (1) Tertib dalam membacanya dari awal surat sampai akhir surat. Yaitu mulai dari membaca “bismillaahirrahmanirrahim” sampai pada ayat “ghairil-maghdlubi ‘alayhim wa ladl-dlalin”. (2) Dalam membacanya secara beruntun dan tak ada jeda waktu yang sangat lama. (3) Tidak disisipi dengan kata-kata yang lain. (4) Dia harus mendengarkan al-Fathihah yang dibacanya. Bagi yang shalat sendirian, maka wajib membaca surat al-Fatihah pada setiap rekaat. Bagi yang makmum dalam shalat berjamaah, maka wajib membaca surat al-Fatihah di mana imam tidak mengeraskan bacaan surat al-Fatihah. Pada rekaat-rekaat imam membaca dengan suara nyaring, maka makmum wajib mendengarkannya dan tidak boleh membaca bersama-sama dengan imam).

Kelima, rukuk dengan thuma’ninah. Syarat-syaratnya: (1) Kedua belah tangan harus benar-benar menggapai lutut. (2) Punggung, kepala, dan bagian belakang tubuh haruslah sama tidak boleh ada yang lebih tinggi.

Keenam, I’tidal (bangun dari rukuk dan berdiri tegak) dengan thuma’ninah.

Ketujuh, sujud dengan thuma’ninah. Syarat-syarat sujud: (1) Sujud dilakukan dengan tujuh bagian tubuh yang harus menyentuh lantai yaitu kening, dua telapak tangan, dua ujung kaki, dan dua lutut. (2) Kening diharuskan terbuka. (3)  Sujud tidak dilakukan di atas sesuatu yang bergerak-gerak ketika dia bersujud.

Kedelapan, duduk antara dua sujud dengan thuma’ninah. Maksudnya bangun kembali setelah sujud yang pertama untuk duduk sebentar, sementara menanti sujud yang kedua.

Kesembilan, duduk yang terakhir. Maksudnya pada rekaat kedua pada shalat Subuh, ketiga pada shalat Maghrib, dan keempat pada shalat Zuhur, Ashar, dan Isya’.

Kesepuluh, membaca Tasyahhud pada duduk yang terakhir.

Kesebelas, membaca shalawat pada saat sujud yang terakhir setelah selesai membaca Tasyahhud.

Keduabelas, membaca salam yang pertama, yaitu setelah membaca Tasyahhud dan shalawat, baru kemudian membaca salam: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah (Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian semua)

Ketigabelas, rukun-rukun ini harus tertib. Maksudnya urutan pelaksanaan rukun-rukun shalat itu harus tertib sesuai dengan peraturan di atas.

Sedangkan sunnat-sunnat shalat ada yang sebelum mendirikan shalat dan ada yang pada saat mendirikan shalat. Sunnat-sunnat sebelum shalat adalah: (1) Mengumandangkan azan setiap tiba waktu shalat, (2) Mengumandangkan iqamah sebelum shalat

Sedangkan sunnat-sunnat pada saat shalat dibedakan atas ab’adh shalat dan hai’at shalat. Ab’adh as-Shalat adalah jika ditinggalkan, maka disunnatkan melakukan sujud sahwi. ab’adh shalat adalah: (1) Duduk yang pertama, (2) Membaca tasyahhud pada duduk yang pertama, (3) Membaca shalawat atas Nabi SAW pada tasyahhud yang pertama, (4) Membaca shalawat kepada keluarga Nabi Saw. pada tasyahhud yang terakhir, (5) Membaca qunut pada shalat subuh dan pada witir di pertengahan yag akhir di bulan Bulan Ramadhan. Qunut dilakukan setelah I’tidal sebelum turun ke sujud, yaitu dengan membaca doa qunut: allahummah-dini fiman hadait. Wa ‘afini fiman ‘afait. Wa tawallani fiman tawallait. Wa barikli fima a’thait. Wa qini bi rahmatika syarra ma qadhait. Fa innaka taqdhi wala yuqdha ‘alaik. Wa innahu la yadzillu man walait. Wala ya’izzu man ‘adait. Tabarakta rabbana wa ta’alait. Falakal-hamdu ‘ala ma qadhait. Astaghfiruka wa atubu ‘ilaik. Wa shallallhu ‘ala muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. (Aku memohon petunjuk seperti orang yang telah Engkau berikan petunjuk. Berilaku aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau berikan kesehatan. Palinglah aku [dari keburukan] seperti orang yang telah Engkau palingkan [dari keburukan]. Berkahilah terhadap apa yang telah Engkau berikan. Selamatkanlah aku dengan kasih sayang-Mu dari keburukan yang Engkau tentukan. Sesungguhnya Engkau yang memutuskan, tidak yang diputuskan. Engkau tidak akan menghinakan orang yang Engkau tolong dan memuliakan orang yang Engkau musuhi. Mahasuci dan Mahaluhur Engkau. Bagi-Mu segala puji atas apa yang Engkau putuskan. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu. Semoga Allah memberikan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan semua sahabatnya).

Sujud Sahwi adalah dua sujud yang dilakukan setelah tasyahhud akhir dan sebelum salam. Caranya takbir terlebih dahulu dengan membaca “Allahu akbar” kemudian sujud dengan membaca: Subhana man la yanamu wa la yashu (Mahasuci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa) sebanyak tiga kali. Bangun dari sujud membaca takbir “Allahu akbar”, duduk di antara dua sujud dengan membaca “rabbighfir li war-hamni wajburni war-fa’ni war-zuqni wahdini wa’afini wa’fu a’nni”, lalu takbir “Allahu akbar” terus sujud dengan membaca “subhana man la yanamu wa la yashu” sebanyak tiga kali. Bangun dari sujud membaca “Allahu akbar”. Kemudian menengok ke kanan dan ke kiri dengan membaca salam “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah” dan menengok ke kiri dengan membaca salam kedua.

Sebab-sebab melakukan sujud sahwi adalah sebagai berikut: (1) Meninggalkan Ab’adh as-Shalat, (2) Ragu dalam mengerjakan jumlah rekaat shalat, maka dia memilih yang dia yakini dan menyelesaikan shalatnya dan disunnahkan menjalankan sujud sahwi, (3) Memindahkan rukun shalat yang berupa perkataan seperti mengulang membaca al-Fathihah pada saat rukuk ataupun sujud.

Sedangkan Hai’at Shalat adalah jika ditinggalkan, maka maka disunnatkan melakukan sujud sahwi. Diantara Hai’at Shalat adalah sebagai berikut:

  1. Mengangkat tangan ketika takbir, ketika hendak rukuk, ketika bangun dari rukuk, dan ketika berdiri setelah tasyahhud yang pertama.
  2. Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri tepat di atas pusar.
  3. Mengarahkan pandangan mata pada tempat sujud, kecuali pada saat membaca asyhadu anla ilaha illallah pada saat Tasyahhud di mana pandangan mata melihat telunjuk jari kanan.
  4. Membaca do’a iftitah sesudah takbir Iftitah: Allahu akbar kabira, wal-hamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila. Inni wajjahtu wajhiya lil-ladzi fatharas-samawati wal-ardha hanifan wa ma ana minal-musyrikin. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil-alamin. La syarika lah, wa bidzalika umirtu wa ana minal-muslimin (Allah Maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah di pagi dan sore hari. Aku hadapkan wajahku ke Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kelurusan dan penyerahan diri dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri).
  5. Membaca ta’awwudz sebelum membaca surat al-Fatihah: A’udhu billa minasy-syaithanir-rajim (aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk).
  6. Membaca keras saat menjadi imam ketika shalat maghrib, Isya’, subuh , shalat Jum’at, shalat Idul Fitri, dan shalat Idul Adha, khusus pada rekaat pertama dan kedua. Demikian juga pada shalat Terawih dan Witir pada bulan Ramadhan.
  7. Diam sebentar sebelum membaca “amin” setelah membaca surat al-Fatihah.
  8. Membaca “amin” ketika selesai membaca surat al-Fathihah.
  9. Membaca surat atau ayat tertentu setelah membaca al-Fatihah kecuali saat menjadi ma’mum, maka cukup mendengarkan apa yang dibaca oleh imam.
    Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here