Inilah Tata Cara Shalat berjamaah 

0
5763
Tata cara shalat berjamaah
Panduan Shalat Berjamaah

Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan bersama-sama, sekurang-kurangnya dilakukan oleh dua orang, di mana yang satu bertindak sebagai imam dan yang satunya bertindak sebagai makmum. Shalat berjamaah tetap dilakukan dengan seorang imam yang makmumnya seorang anak kecil ataupun wanita. Shalat berjamaah hukumnya fardlu kifayah dalam shalat fardhu bagi laki-laki yang bermukim dalam suatu wilayah. Sedangkan pada shalat Jum’at, berjamaah adalah hukumnya wajib.

Rasulullah Saw. bersabda: “Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Muttafaq ‘Alaih). Rasulullah Saw. juga bersabda: “Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian ke masjid, walaupun rumah bagi mereka adalah lebih baik.” (HR. Abu Dawud)

Dengan berjamaah Allah akan melipatgandakan pahala sampai duapuluh tujuh derajat. Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan dengan shalat sendirian dengan dilipargandakan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Shalat berjamaah akan sah jika  diimami oleh seorang sah shalatnya dan tahu tata cara bagaimana ia harus menjadi imam. Orang yang paling fasih dalam membaca al-Qur’an adalah yang paling berhak menjadi imam. Dari Abu Sa’id Ra. menuturkan, “Rasulullah Saw. bersabda, “Jika mereka bertiga, maka hendaklah yang dijadikan imam salah seorang dari mereka dan paling patut untuk menjadi imam adalah yang paling fasih bacaannya.” (HR. Muslim)

Perhatikan ketentuan sebagai berikut: (1) Laki-laki, perempuan, dan banci boleh bermakmum kepada laki-laki; (2) Perempuan tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki; (3) Orang dewasa boleh makmum kepada anak yang hampir dewasa; (4) Laki-laki tidak boleh makmum kepada perempuan ataupun banci; (5) Banci tidak boleh makmum kepada banci dan perempuan; (6) Orang yang fasih bacaannya tidak boleh makmum kepada yang tidak fasih bacaannya; (7) Orang yang sedang makmum kepada orang lain tidak bisa dijadikan imam; (8) Tidak boleh makmum kepada orang yang sudah jelas shalatnya tidak sah, seperti makmum kepada orang yang berhadats, bernajis pakaian, dan tempat shalatnya.  

Adapun syarat-syarat makmum adalah: (1) Makmum berniat mengikuti imam sebagai makmum. Bisa dilakukan dengan melafadzkan niatnya tersebut. Sedangkan imam tidak diwajibkan untuk berniat menjadi imam, akan tetapi disunnatkan berniat menjadi imam untuk mendapatkan pahala shalat berjamaah. (2) Posisi makmum jangan sampai lebih depan daripada imam  sebab makmum diharuskan mengikuti imam dan dilarang mendahuluinya. (3) Makmum harus mengetahui perpindahan imam dari satu rangkaian shalat ke  rangkaian shalat yang lain. (4) Antara makmum dan imam tidak dihalangi oleh pembatas. (5) Makmum jangan sampai mendahului imam atau sampai ketinggalan dari imam  sampai dua rukun shalat. (6) Tidak mendahului imam atau sama persisi pada saat takbiratul ihram. (7) Kedua-duanya harus melaksanakan shalat yang sama, misalnya sama-sama shalat fardhu. Tidak boleh imamnya melaksanakan shalat fardhu, sedangkan makmum melaksanakan shalat sunnah. 

Urutan Shaf adalah sebagai berikut: jika makmum hanya seorang diri, maka hendaknya makmum berdiri agak sedikit di kanan belakang imam. Ketika ada makmum baru datang, maka hendaknya berdiri di sebelah kiri. Sesudah takbir, hendaknya imam maju ke depan atau kedua makmum itu mundur. Jika makmumnya terdiri dari laki-laki dewasa, anak-anak, dan perempuan, maka urutannya adalah di belakang imam laki-laki dewasa, lalu shalat anak-anak, baru disusul shaf perempuan. Shalat sebaiknya lurus dan rapat, jangan ada renggang antara orang satu dengan yang lain. 

Makmum terbagi menjadi dua macam, yaitu makmum muwafiq dan makmum masbuq. Makmum muwafiq adalah adalah  makmum yang masih bisa menyelesaikan membaca surat al-Fatihah sebelum imam rukuk. Sedangkan makmum masbuq adalah makmum yang tidak bisa menyelesikan membaca surat al-Fatihah sebelum imam rukuk. 

Ketentuan makmum Masbuq adalah sebagai berikut: (1) jika masih menjumpai rukuknya imam, maka ia menggugurkan membaca surat al-Fatihah dan dia tetap dianggap masih mendapatkan satu rakaat jika masih bisa bertuma’niyah bersama-sama imam. (2) Jika masih menjumpai imam masih berdiri dan dia belum menyelesaikan membaca surat al-Fatihah, maka ia tetap ikut rukuk bersama imam walaupun ia belum selesai membaca surat al-Fatihah. (3) Mammum tetap dianggap ikut berjamaah jika masih bisa bersama imam duduk pada tasyahud yang terakhir dengan tuma’ninah. 

Sedangkan ketentuan makmum Muwafiq adalah sebagai berikut: (1) Wajib menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya walaupun imam telah rukuk dan dia terlambat karena  membaca al-Fatihah. (2) Jika makmum terlambat dalam memaca al-Fathihah, maka ia boleh ketinggalan dari imam sampai sebanyak tiga rukun shalat karena alasan sebagai berikut: (a) Jika makmum muwafiq sangat terlambat dalam membaca al-Fatihah bukan karena alasan was-was  dan imam sedang dalam membaca al-Fatihahnya; (b) Jika makmum muwafiq lupa membaca al-Fatihah sebelum imam rukuk. Jika ia teringat setelah rukuk, maka ia tidak usah membaca al-Fatihah dan langsung mengikuti imam dan menambahi satu rakaat setelah imam salam; (c) Jika makmum disibukkan dalam membaca do’a al-iftitah dan ta’awwudz sebab ia mengira masih bisa menyelesaikan al-Fatihah-nya. Jika ia bisa menyesaikan al-Fatihahnya sebelum imam masih rukuk, maka ia dianggap kehilangan satu rakaat dan wahjib menambahinya setelah imam.

Sunnah-sunnah dalam berjamaah adalah sebagai berikut: (1) Meluruskan shaf dan tidak membiarkan shaf renggang; (2) Berdiri pada shaf terdepan, jika masih ada yang kosong; (3) Jika jamaah hanya dilakukan dua orang, maka makmum berdiri di belakang sebelah kanan imam agak mundur sedikit saja; (4) Imam mengeraskan bacaan takbir, sami’allahu liman hamidah, dan salam; (5) Sunnah membaca surat-surat yang sedang, tidak terlalu panjang dan terlalu pendek. Hal ini karena beragamnya makmum. 

Sebelum mendirikan shalat berjamaah, maka disunnahkan mengumandangkan adzan. Redaksi adzan adalah sebagai berikut: Allahu akbar (Allah Mahabesar) sebanyak dua kali, asyhadu an la ilaha illallah (aku bersaksi tidak ada sesembahan selain Allah) sebanyak dua kali, asyahdu anna muhammadan rasulullah (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) sebanyak dua kali, hayya ‘alash-shalah (marilah shalat) sebanyak dua kali, hayya ‘alal-falah (marilah menuju keberuntungan) sebanyak dua kali, Allahu akbar (Allah Mahabesar) sebanyak dua kali, la ilaha illallah (tidak dada sesembahan selain Allah).  Pada saat shalat Subuh, maka setelah membaca “hayya ‘alal-falah”, maka ditambah bacaan: ash-shalatu khairun minan-naum (shalat lebih baik daripada tidur).  

Sedangkan redaksi iqamah adalah: Allahu akbar Allahu akbar, asyhadu an la ilaha illallah, asyahdu anna muhammadan rasulullah, hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah, qad qamat-shalah, Allahu akbar Allahu akbar, la ilaha illallah. 

Untuk jamaah perempuan disarankan tidak memakai adzan, cukup iqamah saja. 

orang Islam disunnahkan mendengarkan adzan dan menjawabnya. Cara menjawabnya sama dengan redaksi adzan itu sendirinya, kecuali setelah “hayya alal-falah”, maka kita yang mendengar membaca: la haula wa la quwwata illa billahil-aliyyil-adhim (Tidak ada daya dan upaya, kecuali dari Allah yang Mahaluhur dan Mahaagung). Pada saat adzan Subuh, maka setelah muadzin membaca “ash-shalat khairun minan-naum”, maka kita yang mendengar membaca: shadaqda wa barirta wa ana minasy-syahidin (Anda benar dan baik, sedangkan aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi atas hal tersebut).

Ketika mendengar iqamah, maka hendaknya membaca sebagaimana redaksi iqamah, kecuali setelah mendengar “qad qamatis-shalah”, maka kita yang mendengarnya membaca: Aqamahallahu wa adamaha ma damatis-samawatu wal-ardhu wa ja’alani minash-shalihin (Semoga Allah menegakkan shalat ini dan melestarikan selama masih ada bumi dan langit, serta menjadikanku termasuk orang-orang yang saleh). 

Setelah adzan, maka disunnahkan membaca doa: Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah, wash-shalatil-qa’imah, ati sayyidana muhammadinil-wasilata wal-fadhilah wasy-syarafa wad-darajatal-aliyatar-rafi’ah, wab-atshul-maqamam-mahmudal-ladzi wa’adtah. Innaka la tukhliful mi’ad, ya arhamar-rahimin (Ya Allah, Tuhan doa yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, anugerahilah junjungan kami, Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi dan anugerahkanlah dia kedudukan terpuji yang Engkau janjikan kepadanya, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji, wahai yang Mahapengasih). 

Sedangkan setelah iqamah, maka disunnahkan membaca doa: Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah wash-shalatil-qa’imah, shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ati rasulahu yaumal-qiyamah (Ya Allah, Tuhan doa yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, berikanlah kesejahteraan kepada junjungan kami, Muhammad dan kabulkanlah permohonannya pada hari kiamat). 

Sunnah-sunnah pada saat menyerukan adzan sebagai berikut: (1) Bersuci terlebih dahulu; (2) Menghadap kiblat, serta menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tidak sampai memutar badan ketika sampai pada bacaan “hayya ‘alash-shalah”  dan “hayya ‘alal-falah”, tapi jangan terputus; (3) Bersuara bagus dan nyaring; (4) Tangan di telinga dan jari tangan kanan dan kiri hendaknya didekatkan ke telinga.   

Sumber: 

Muhammad Asnawi al-Qudsi, Fashalatan, Kudus: Menara Kudus, Tanpa Tahun. 

Chatibul Umam, dkk, Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah, Kudus: Menara Kudus, 2004. 

Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Dimasyqi, Kifayah al-Akhyar, Semarang: Makrabah Keluarga, Tanpa Tahun. 

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here