Panduan dan Tata Cara Shalat Jenazah

3
8136
Panduan Shalat Jenazah
Panduan Shalat Jenazah

Shalat Jenazah adalah jenis shalat yang dilakukan untuk jenazah muslim. Setiap muslim yang meninggal baik laki-laki maupun perempuan wajib disalati oleh muslim lain yang masih hidup. Adapun hukum shalat jenazah adalah hukum fardhu kifayah. Maksudnya jika ada sebagian umat Islam yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain. Namun jika sama sekali tidak ada yang melaksanakannya, maka semuanya menanggung dosa sebab meninggalkan kewajiban. Rasulullah Saw. bersabda: “Shalatkanlah mayat-mayat kalian.” (HR. Ibn Majah). Beliau Saw. juga bersabda: “Barangsiapa yang mengiringi jenazah dan turut menshalatkannya, maka ia akan memperoleh pahala sebesar satu qirath (1/16 dirham) dan barangsiapa yang mengiringkannya sampai selesai penyelenggaraannya, ia akan memperoleh dua qirath.” (HR. Muslim).

[Baca: Cara Menghilangkan Hadast Besar]

Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan salat ini adalah: (1) Yang melakukan salat harus memenuhi syarat sah salat secara umum (menutup aurat, suci dari hadas, menghadap kiblat dst); (2) Jenazah/mayit harus sudah dimandikan dan dikafani; (3) Jenazah diletakkan disebelah mereka yang menyalati, kecuali dilakukan di atas kubur atau salat ghaib.

Salat jenazah tidak dilakukan dengan ruku’, sujud maupun iqamah, melainkan dalam posisi berdiri sejak takbiratul ihram hingga salam. Berikut adalah urutannya:

pertama, berdiri tegak menghadap kiblat. Pastikah hati dan pikiran tidak ke mana-mana dan sudah fokus dalam shalat. Lepaskan semua hal di laur shalat, sehingga hati hanya berisi munajat kepada Allah.

[Baca: Cara Shalat Tasbih]

Kedua, berniat. Setelah hati benar-benar siap untuk bermunajat kepada Allah, mendoakan si jenazah, maka berniatlah untuk mendirikan shalat jenazah. Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati. Jika merasa perlu untuk melafalkannya, maka lafalkanlah demi memperteguh niat yang ada dalam hati. Jika niat dilafalkan, maka seperti berikut ini: Ushalli ‘ala hadzal-mayyita fardhan lillahi ta’ala  “Saya berniat shalat untuk mayit ini empat takbir fardhu kifayah sebagai makmum/imam.” (untuk mayit laki-laki). Sedangkan untuk mayat perempuan adalah: Ushalli ‘ala hadzihil-mayyitati fardhan lillahi ta’ala (saya berniat shalat untuk mayit ini empat takbir fardhu kifayah sebagai makmum/imam.”

Ketiga, melakukan takbir yang pertama. Setelah mantap dalam niat, maka selanjutnya adalah melakukan takbir. Kedua telapat tangan yang terbuka diangkat sampai kedua ibu jari sejajar dengan telinga bagian bawah. Pada saat itu, lisan Anda mengucapkan: Allahu akbar (Allah Mahabesar). Lisan mengucapkan takbir, sedangkan pikiran  menyadari dan hati merasakan bahwa Allah Mahabesar.

[Baca: Cara Jamak dan Qashar Shalat ]

Keempat, membaca surat al-Fatihah setelah takbir pertama.

Kelima, melakukan takbir yang kedua. Setelah membaca surat al-Fatihah, maka selanjutnya adalah melakukan takbir yang kedua. Seperti takbir yang pertama, kedua telapak tangan di angkat sampai sejajar dengan daun telinga. Lisan mengucapkan takbir, pikiran  menyadari dan hati merasakan bahwa Allah Mahabesar.

Keenam, membaca shalat kepada Rasulullah Saw. Setelah bertakbir, maka selanjutnya adalah membaca shalat kepada Rasulullah Saw. adapun bunyi shalawatnya adalah sebagai berikut: Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala ‘ali sayyidina Muhammad kama shallaita ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahim, wa barik ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad  kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahim, fil-alamina innaka hamidun majid (Ya Allah, semoga engkau memberikan rahmat kepada junjungan kami, Muhammad, dan keluarga junjungan kami Muhammad, seperti Engkau memberikan rahmat kepada junjungan kami Ibrahim dan keluarganya. Semoga Engkau memberikan keberkahan kepada junjungan kami, Muhammad dan keluarganya seperti Engkau memberikan keberkahan kepada junjungan kami, Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau adalah yang Maha terpuji dan Mahaagung di seluruh alam).

[Baca: Doa dan Zikir setelah Shalat]

Ketujuh, melakukan takbir yang ketiga. Setelah membaca shalawat, maka selanjutnya adalah melakukan takbir yang ketiga. Sama seperti takbir yang pertama dan kedua, kedua telapat tangan yang terbuka diangkat sampai kedua ibu jari sejajar dengan telinga bagian bawah. Pada saat itu, lisan Anda mengucapkan Allahu akbar, artinya Allah Mahabesar. Lisan mengucapkan takbir, sedangkan pikiran  menyadari dan hati merasakan bahwa Allah Mahabesar.
Ketujuh, membaca doa. Adapun doa yang dibaca pada rekaat ketiga minimal adalah: Allahummagh-fir lahu war-hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu (Ya Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia). Ini apa bila jenazah yang dishalati adalah laki-laki.

Apabila jenazah yang disalati itu perempuan, maka bacaan Lahuu diganti dengan Lahaa. Jadi, untuk jenazah wanita bacaannya menjadi: Allahummagh-fir laha war-hamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha. Jika mayatnya banyak, maka bacaan Lahu diganti dengan Lahum. Jadi untuk jenazah banyak bacaannya menjadi: Allahummagh-fir lahum war-hamhum wa ‘afihi wa’fu ‘anhum. Sedangkan jika hendak berdoa secara lengkap, maka sebagai berikut: Allahummagh-fir lahu war-hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu, waj-‘alil-jannata matswahu. Allahummab-dilhu daran khairan min darihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa ahlan khairan min ahlihi. Allahumma nazala bika wa anta khairun manzulun bih. Allahumma akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu (Ya Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia dan jadikanlah surga menjadi tempatnya. Ya Allah semoga Engkau mengganti tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, istri yang lebih baik dari istrinya, dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya. Ya Allah sesungguhnya jenazah ini mengungsi kepada-Mu dan Engkau adalah sebaik-baik tempat mengungsi. Ya Allah, semoga Engkau memuliakan dan meluaskan tempatnya). Jika jenazahnya perempuan ataupun banyak, maka menyesuaikan.

Kedelapan, melakukan takbir yang keempat. Takbir yang keempat caranya sama dengan takbir pertama, kedua, dan ketiga.

Kesembilan, berdoa untuk jenazah. Do’a yang dimaksudkan, minimal adalah sebagai berikut: Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lana wa lahu (Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia). Jika jenazahnya adalah wanita, bacaannya menjadi: Allahumma la tahrimna ajraha wa la taftinna ba’daha waghfir lana wa laha. Jika jenazahnya banyak, bacaannya menjadi: Allahumma la tahrimna ajrahum wa la taftinna ba’dahum waghfir lana wa lahum.

[Baca: Cara Shalat Hajat]

Kesepuluh, mengucapkan salam. Mengucapkan salam pada shalat jenazah adalah salam secara lengkap, yaitu: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (semoga keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan senantiasa ada pada kalian). Setelah salam, maka bisa dilanjutkan dengan membaca tahlil bersama-sama dengan dipimpin oleh imam atau yang lain yang diberi kepercayaan oleh ahli waris si mayit. Setelah membaca tahlil, maka kemudian dilakukan prosesi pemberangkatan si mayit. Prosesi ini dipimpin oleh wakil keluarga yang memohonkan maaf si mayit dan meminta persaksian kepada seluruh yang hadir bahwa si mayit tersebut adalah orang yang baik. Persaksian ini dimaksudkan agar semuanya mengikhlaskan semua ketidakbaikan si mayit dan hanya mengingat kebaikannya sehingga si mayit akan tenang dalam perjalanannya di alam baka. Kemudian di mayit diberangkatkan ke kuburan. Setelah mayit dikubur, kemudian dilakukan talqin kepada si mayit yang dipimpin oleh orang yang diberi kepercayaan ahli waris. Setelah talqin, maka dibacakan tahlil lagi. Prosesi ini mengakhiri prosesi penguburan.

Bila terdapat keluarga atau muslim lain yang meninggal di tempat yang jauh sehingga jenazahnya tidak bisa dihadirkan, maka dapat dilakukan salat ghaib atas jenazah tersebut. Pelaksanaannya serupa dengan salat jenazah, perbedaan hanya pada niat salatnya.

Niat salat ghaib : Ushalli ‘ala mayyiti fulanin al-ghaibi arba’a takbiratin ma’muman/imaman fardhan lillahi ta’ala (Aku niat salat gaib atas mayat (fulanin) empat takbir fardu kifayah sebagai (makmum/imam) karena Allah). Kata fulanin diganti dengan nama mayat yang disalati. Jika Anda dimintai untuk ikut serta shalat ghaib, misalnya, di masjid dan Anda tidak mengetahui nama yang Anda shalati, maka niatnya adalah: Ushalli ‘ala man shalla ‘alaihil-imamu arba’a takbiratin ma’muman lillahi ta’ala (aku niat salat gaib atas mayit yang dishalati imam empat takbir fardu kifayah sebagai makmum karena Allah).

Sumber:
Muhammad Asnawi al-Qudsi, Fashalatan, Kudus: Menara Kudus, Tanpa Tahun.
Chatibul Umam, dkk, Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah, Kudus: Menara Kudus, 2004.
Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Dimasyqi, Kifayah al-Akhyar, Semarang: Makrabah Keluarga, Tanpa Tahun.

Berbagi dan Diskusi

3 COMMENTS

  1. […] Shalat Jenazah adalah jenis shalat yang dilakukan untuk jenazah muslim. Setiap muslim yang meninggal baik laki-laki maupun perempuan wajib disalati oleh muslim lain yang masih hidup. Adapun hukum shalat jenazah adalah hukum fardhu kifayah. Maksudnya jika ada sebagian umat Islam yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain. Namun jika sama sekali tidak ada yang melaksanakannya, maka semuanya menanggung dosa sebab meninggalkan kewajiban. Rasulullah Saw. bersabda: “Shalatkanlah mayat-mayat kalian.” (HR. Ibn Majah). Beliau Saw. juga bersabda: “Barangsiapa yang mengiringi jenazah dan turut menshalatkannya, maka ia akan memperoleh pahala sebesar satu qirath (1/16 dirham) dan barangsiapa yang mengiringkannya sampai selesai penyelenggaraannya, ia akan memperoleh dua qirath.” (HR. Muslim).  […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here