Psikoterapi Adler

0
8150
Psikoterapi Adler
Psikoterapi Adler

Psikoterapi berkembang cukup pesat dalam ranah psikologi. Pelbagai pendekatan dikembangkan untuk mengatasi persoalan mental yang dihadapi oleh manusia. Perspektif tentang penyakit mental yang beragam menghasilkan pendekatan pengobatan atau terapi yang berbeda pula. Salah satu pendekatan yang cukup populer dikembangkan oleh Alfred Adler. Adler sangat erat dengan nama Sigmud Freud. Tulisan ini akan merangkum pendekatan psikoterapi yang dikembangkan oleh Adler semasa hidupnya.

Konsep Teori tentang Kepribadian Adlerian

Terapi Adler, Psikoterapi adlerian
Alfred Adler: Sumber Foto Wikiperdia

Teori humanistis Adlerian tidak bisa dipisahkan dari konsep individu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Perbedaan yang mencolok dari konsep keduanya adalah penambahan konsep altruisme, kerjasama (cooperation), kerativitas (creativity), dan keunikan dari konsep kesdaran pada masing-masing individu. Psikoanalisa yang dinilai bersifat negativis, disangkal oleh pemikiran  Adler yang memberikan ruang bagi hal-hal positif pada konsep kepribadian manusia. Tentu hal tersebut  sangat berbeda dengan konsep psikoanalisa Freudian yang cenderung menunjukkan bahwa manusia menuju pada konsep pengrusakan yang ditandai dengan adanya konsep thanatos pada psikoanalisa Freudian.  Pengalaman (masa lalu) adalah bagian penting dalam teori Adlerian. Hal tersebut selanjutnya memengaruhi pembentukan kepribadian pada masing-masing individu. Pada beberapa hal, Adler sekilas memiliki kemiripan dengan beberapa elemen yang dikembangkan oleh Freud. Adler memandang keluarga sebagai salah satu elemen penting yang sangat menentukan konstruksi kepribadian individu selanjutnya. Keluarga, dalam hal ini, membentuk konstruksi dasar kepribadian yang mengacu pada nilai, sikap,  dan asas dalam keluarga.

Elemen dasar pada struktur kepribadian pada Adlerian

a). Tujuan akhir yang imajiner (fictional finalism).

Prinsip ini sangat berhubungan erat dengan oposisi biner makna realitas dan fiksi pada konsep pemahaman dan pikiran manusia. Manusia tidak hanya menghadapi situasi yang nyata dalam hidupnya tetapi juga berhubugan langsung dengan pelbagai hal yang bersifat fiktif atau imajiner. Situasi imajiner tersebut dapat mengarahkan seseorang kea rah permasalahan psikologis. Meski demikian, aspek tersebut sangatlah penting karena menjadi pemicu tindakan dan perkembangan harapan seseorang yang selanjutnya menentukan bentuk-bentuk tindakan, model perilaku dan pemikiran. Tujuannya, terkadang, adalah untuk mencapai cita-cita imajiner tersebut. Adler memandang perlunya sikap realistis, atau berkesesuaian dengan realitas yang dihadapi. Karena itu, cita-cita ideal yang bersifat imajiner pada orang normal akan selalalu berkesesuaian dengan realitas atau situasi senyatanya dari individu tersebut.

b) Upaya untuk menunju superioritas (striving for superiority).

Perbedaan mendasar dari Psikoanalisa Freudian dan Adler adalah cara memandang hal penting dalam perkembangan. Freud memandang seksualitas sebagai faktor determinan yang sangat memengaruhi keseluruhan aspek pengalaman. Karena itu seksualitas menjadi pokok dalam aras perkembangan kepribadian. Adler memandang kehendak untuk berkuasa yang mendorong agresifitas adalah bagian penting yang mendorong pembentukan kepribadian seseorang. Kehendak itulah yang menentukan bentuk dan model kepribadian yang diinginkan.

c) Inferioritas dan pelampiasan atas kekurangan (inferiority feeling and compensation)

Inferioritas menjadi salah satu merupakan status kekurangan. Rasa inferior menunjukkan adanya sesuatu yang kurang pada individu. Individu pada kehidupannya mengarah pada upaya penghilangan inferioritas atau ingin menghilangkan sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Kehilangan rasa inferior akan memberikan sensasi tersendiri. Karena itu, upaya untuk melakukan pemenuhan atas kekurangan yang memicu inferioritas menjadi fokus dan tujuan pada manusia.

d) Minat-minat sosial (social interest)

Minat sosial sangat terhubung dengan konsep kekurangan. Minat tersebut menjadi bentuk pemenuuhan atas rasa kekurangan pada aspek tertentu yang dirasakan oleh manusia. Minat sosial adalah bentukan alamiah yang terkristalisasi dalam interaksi manusia pada  masa awal yang menghubungkan bayi dan ibu. Pengalaman relasi tersebut membentuk pemahaman dan bentuk-bentuk relasi interpersonal yang berkembang pada fase selanjutnya. Relasi tersebut pada dasarnya dilandasi oleh rasa membutuhkan atas yang lain karena status kekurangan tertentu. Anggitan ini kemudian memandang bahwa sifat sosial manusia adalah sesuatu yang bersifat bawaan.

e) Gaya hidup (life style)

Manusia memiliki gaya hidup beragam yang terkadang digunakan untuk membedakan satu dengan lainnya. Elemen tersebut adalah bagian penting dari fungsi manusia itu sendiri. Gaya ini terbentu secara mendasar pada usia 4-5 tahun yang selanjutnya menjadi pondasi perkembangan. Gaya hidup adalah bentuk langsung yang nyata (etos) dari kepribadian. Gaya hidup juga berkembang seiring dengan  pengalaman dan situasi beragam yang dihadapi oleh individu. Di lain sisi, gaya hidup oleh Adler juga dinilai sebagai bentuk dari kompensasi atas adanya kekuarangan sesuatu pada diri seseorang.

Adler  menegaskan ada empat macam gaya hidup, yaitu

  1. Konsep diri. Idiom ini berarti konsep pada setiap individu yang berisi rincian bagaimana individu tersebut menilai dan memandang dirinya sendiri.
  2. Diri ideal yaitu bentuk diri yang kita inginkan. Konsep ini berarti harapan akan bentuk atau kondisi ideal pada individu.
  3. Weltbild yaitu gambaran tentang dunia. Gambaran tenting dunia bersifat kompleks yang menghubungkan antara individu dan dunia. Konsep ini berarti harapan-harapan dunia yang melekat pada individu tertentu.
  4. Ethical convictions. Konsep ini berisi bentuk sesuatu yang diizinkan atau dilarang oleh individu kepada dirinya sendiri. Hal tersebut juga sangat dipengaruhi oleh sistem dasar yang berkembang dalam keluarga.

f) Diri kreatif (creative self)

Diri kreatif menjadi elemen terpenting dalam konsep kepribadian dan pembentukannya. Manusia dipandang sebagai unit yang menciptakan konsep tentang dirinya dan kepribadiannya yang merupakan kombinasi antara anasir bawaan dengan pengalaman yang berkembang selama proses hidup.

Munculnya Psikopatologi

Adler memunculkan beberapa konsep dasar yang menjadi pencetus kemunculan psikopatologi, yaitu :

  1. Kemanjaan, rendah diri dan penolakan kepada anak merupakan anasir yang menimbulkan psikopatologi pada perkembangan kepribadiannya.
  2. Psikopatologi ditimbulkan oleh kegagalan seseorang dalam beberapa aspek yang menjadi bagian langsung atau tugas hidup, yaitu:
  3. Persahabatan atau hubungan dengan orang lain.
  4. Tugas mencipta atau membuat karya
  5. Memperoleh kelekatan berupa cinta dan kasih sayang
  6. Penerimaan atas diri sendiri
  7. Pengembangan aspek spiritual

Tujuan Terapi pada psikoterapi Adlerian

Tujuan terapi pada Adlerian terhubung erat dengan konsep kepribadian dan perkembangan psikopatlogi telah dikemukakan sebelumnya. Tujuan tersebut, adalah:

  1. Meminimalisir inferioritas pada individu
  2. Mendorong terbentuknya minat sosial yang dapat menghubungkan individu dengan lingkungannya
  3. Mendorong minat sosial
  4. Mengubah tujuan hidup dan elemen yang memengaruhinya, yaitu persepsi dan gaya
  5. Mengarahkan atau mengubah motivasi yang tidak berkesesuaian melalui pembaharuan nilai-nilai yang dianut, dipercayai dan memengaruhi hidup individu tersebut
  6. Mengubah motivasi yang salah dengan memperbaharui nilai-nilai yang ada dalam diri klien
  7. Mendorong pengakuan individu atas kesetaraan orang lain yang memudahkannya untuk berinteraksi dalam lingkup sosial

Proses Psikoterapi Adlerian

Adler memandang beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses psikoterapi, yaitu:

  1. Mempertahankan hubungan yang baik antara klien dengan terapis. Tahapan ini menjadi penentu dari keseluruhan proses. Hubungan baik akan akan membantu terapis menggali dan mengarahkan klien pada tahapan proses terapi selanjutnya.
  2. Mengungkap aspek-aspek dinamika hiudp klien yang berupa gaya hidup, tujuan dan cara hidup. Tindakan ini dilakukan untuk menemukan persoalan mendasar dari klien dalam situasi hidupnya. Persoalan dapat bermula dari salah satu elemen mendasar tersebut. Upaya membantu klien harus dimulai dari merinci hal-hal yang berpotensi menjadi persoalan bagi klien.
  3. Interpretasi atas wawasan dan pemahaman klien atas situasi hidupnya (insight). Persoalan mendasar dari psikopatologi adalah cara pandang atau wawasan yang dipahami dan dipegunakan individu sebagai mekanisme hidup. Karena itu, interpretasi perlu dilakukan untuk menemukan persoalan mendasar yang ditimbulkan dari insight tersebut.
  4. Reorientasi. Proses pengarahan dilakukan dengan mengacu pada konsep sefl ideal yang disusun oleh Adler. Pengarahan dilakukan dengan menemukan konsep lain pada klien yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan klien.  Reorientasi dapat dilakukan pada aspek-aspek seperti wawasan, gaya hidup, gagasan imajiner, dll.

Mekanisme terapi Adlerian antara lain:

a). Terapis sebagai model

Terapis diharapkan mampu menyajikan konsep lain tentang tindakan atau self dan menjadikan dirinya sebagai model yang dapat diacu oleh klien. Klien menempatkan terapis sebagai sosok ideal yang diacu untuk perubahan-perubahan tertentu yang dibutuhkan.

b). Memainkan peran “Jika aku.”

Klien diminta untuk memainkan peran dengan menggunakan konsep “aku” yang lain. Dengan demikian klien dapat membandingkan hal yang dirasa tepat atau tidak pada konsep self sebelumnya.

c). Menyusun gambaran

Proses ini dilakukan dengan menyusun gambaran tentang self ideal yang baru dengan mempertimbangkan persoalan yang muncul akibat status dan situasi self saat ini.

d). Memilih self yang tepat

Memilih self yang tepat adalah pendekatan untuk memetakan self yang sesuai dengan karakter dan situasi klien. Simulasi ini dilakukan untuk menciptakan konsep yang utuh dan operasional untuk klien dalam proses terapi.

e). Teknik menekan tombol 

Pendekatan ini adalah simulasi untuk menentukan self mana yang sesuai dengan individu. Self yang dinyakan tidak sesuai dengan situasi klien akan disingkirkan sehingga klien memiliki gambara gamblang tentang konsep yang berkesesuaian dengan kebutuhan dan situasinya.

f). Pengalaman “AHA…” atau menemukan Insight

Penemuan insight adalah hal penting dalam terapi ini karena menentukan bentuk operasional self selanjutnya. Insight yang menjadi penggerak operasionalisasi self disusun kembali dengan mempertimbangkan pelbagai hal yang juga turut menentukan situasi self tersebut.

g). Paska terapi

Pendekatan reflektif ini dilakukan dengan merumuskan hal-hal baru yang telah diperoleh oleh klien untuk menentukan titik-titik penting dalam kehidupannya  yang perlu secara berkelanjutan diperhatikan dan dikontrol.

Peran Terapis Adlerian

Proses terapi mengacu konsep Adler membutuhkan beberapa peran penting terapis, antara lain:

Ekspresi minat, antusiasme dan sikap terhadap klien yang dapat memotivasi klien untuk melakukan perubahan atas dirinya untuk memperbaiki situasi yang berkembang dan dibutuhkan dalam  hidup lien tersebut. Keinginan klien untuk berubah  sangat ditentukan oleh situasi ini  di mana terapis mampu menunjukkan keseriusan untuk membantu klien menemukan persoalan dan jalan keluar atas persoalan tersebut.

Seting natural selama proses terapi menjadi sesuatu yang penting dalam proses terapi ini. Kehadiran terapi “apa adanya” dengan menampilkan kekurangan dan kelebihan mendorong untuk memahami bahwa terapis adalah orang yang berpotensi memiliki hal yang serupa sehingga tidak menghalangi klien untuk berubah atau menyesuaikan diri.

Penentuan solusi atau pilihan pemecahan masalah pada klien sepenuhnya diserahkan berdasarkan kebutuhnan klien. Proses penentuan ini terbebas dari unsur paksaan atau unsur menyalahkan yang dapat mendorong klien menjadi indidivisu yang tertetutup bahkan terhadap terapis.

Memposisikan terapis sebagai bagian yang dapat dipercaya oleh klien yang memungkinkan dirinya untuk meniru atau melakukan penyesuaia atas aspek-aspek hidup yang perlu disesuaikan atau diubah.

Kualifikasi dan Keterampilan Terapis

Seorang terapis Adlerian selain harus menguasai teknik terapi Adlerian, ia harus memiliki kualifikasi dan ketrampilan sebagai berikut:

Kemampuan untuk bersikap peduli dan berbagi kepada klien yang memungkinkan klien menjadi bagian langsung dari proses terapi tanpa adanya jarak yang menghalangi klien dalam penyelesaian masalah dan hambatan hidupnya.

Kapasitas untuk mengarahkan klien menjadi individu yang menolong dirinya sendiri atau menyelesaikan persoalannnya sendiri. Faktor keterlibatan ini menjadi salah satu kunci penting dalam proses terapi mengingat perubahan pada klien sangat ditentukan oleh kesediaan klien untuk mencoba dan mempertahankan situasi perubahan untuk menyelesaikan persoalannya.

Kemampuan bereaksi cepat atas kebutuhan-kebutuhan klien yang membuat klien merasa diperhatikan dan menjadi bagian langsung dari terapi sehingga memperkecil kemungkinan timbulnya penolakan klien terhadap sebagian atau keseluruhan proses dalam terapi.

Daftar Pustaka

Corsini,. R.,J & Wedding,. D. (2011). Current Psychoterapist. Belmont: Brooks Cole Cengage Learning.

Rogers,. C. (1961). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. London: Consta.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here