Apa itu Zionisme Israel? Inilah Fakta dan Penjelasannya

0
5329
Sejarah Zionisme Israel
Sejarah Zionisme Israel

Zionisme menjadi salah satu istilah populer di Indonesia. Kedekatan emosional kebanyakan masyarakat Indonesia dengan masyarakat Palestina menjadi salah satu penyebab popularitas penggunaan istilah zionisme. Apakah yang dimaksud dengan zionisme? Apakah tujuan dari zionis Israel? Sebagai sebuah gerakan, zionisme beroperasi untuk tujuan serta melambangkan maksud tertentu.

Apa Itu Zionisme?

Zionisme (Ibrani: צִיּוֹנוּת, translit. Tsiyonut) merupakan sebuah gerakan sistematis orang dan komunitas Yahudi yang bersifat global. Gerakan ini bertujuan untuk mempercepat terwujudnya tanah air bangsa Yahudi. Tanah yang dipercaya sebagai wilayah yang dijanjikan tersebut disebut dengan Tanah Israel. Gerakan ini mendapat dukungan luas dari agamawan dan penganut agama Yahudi [1. Wikipedia. Zionisme ->].

Jewish Virtual Library secara lugas menyebut baha gerakan tersebut merupakan pergerakan sistematis untuk pemulangan masyarakat Yahudi ke tanah air mereka. Istilah Zionisme yang pertama kali diperkenalkan oleh Nathan Birnbaum (1890) ini turut bertujuan untuk mewujudkan kejayaan masyarakat Yahudi di Tanah Israel. Sejak pendirian negara Israel pada tahun 1948, zionisme menyatu dalam gerakan pengembangan dan penguatan negara Israel dan perlindungan masyarakat Yahudi. Gerakan ini mengejawantah salah satunya melalui penggunaan angkatan bersenjata Israel (Israel Defense Forces).  Gerakan ini tidak semata menjadi penggerak terbentuknya negara Israel, tetapi kini juga beroperasi sebagai pelindung negara Israel dengan segala kepentingannya [2. Definisi Zionisme Menurut Jewish Virtual Library ->].

Siapa Pelopor Gerakan Zionisme Israel?

Sejarah Zionisme
Herzl. Sumber Gambar Wikipedia.

Gerakan Zionisme didirikan oleh Theodor Herzl. herzl merupakan seorang Jurnalis kelahiran Hungaria pada 2 Mei 1860 [3. Sejarah Hidup Theodor Herzl ->]. Herzl melalui karyanya A Jewish State: An Attempt at a Modern Solution of the Jewish Question (1896), menyatakan bahwa pertanyaan utama kelompok Yahudi dunia adalah pertanyaan politik tentang kebutuhan akan adanya kesatuan negara dan wilayah yang menaungi warga dan kepentingan Yahudi [4. Herzl, Theodor: A Jewish state: an attempt at a modern solution of the Jewish question (1896) ; Teks Utuh dapat dibaca secara online -> ]. Pada Agustus 1897 ia mengadakan kongres zionis pertama di Basel, Swiss. Kongres tersebut salah satunya menghasilkan keputusan pendirian Organizasi Zionis Dunia (World Zionist Organization) yang diketuai sendiri oleh Herlz [5. Sejarah Zionisme. Encyclopedia of Britannica ->].

Meski disebut-sebut sebagai pendiri Zionisme internasional, ide tentang pendirian negara Yahudi di tanah Palestina yang diyakini sebagai tanah yang dijanjikan bagi bangsa Israel disebut-sebut bukan semata ide Herzl. Kelompok Yahudi Ortodoks disebut telah berupaya memperjuangkan terbentuknya negara Yahudi tersebut. Namun, upaya sistematis pendirian negara Israel dimulai oleh Herzl.

Perjuangan Herzl Membangun Negara Yahudi

Animo Herzl mendirikan Negara Israel di Palestina diperjuangkan dengan keras paska Kongres Basel. Ia meminta dukungan konglomerat Yahudi untuk membiayai proyek besar terbentuknya negara Israel. Herzl melakukan perlabagai perjalanan politik penting guna mengkampanyekan ide tentang negara Yahudi. Upaya ini awalnya benyak dicemoooh oleh kelompok Yahudi yang tinggal di wilayah Eropa Barat yang relatif memiliki hidup yang lebih baik dibandingkan dengan Eropa Timur.

Baron pernah melakukan perjalanan politik ke Istambul untuk memengaruhi Sultan Abdul Hamid II. Herzl meminta Turki Ustmani untuk melepaskan wilayah Palestina dan menyatakannya sebagai negara berdaulat. Saat itu, Palestina berada dalam pengawasan dan keuasaan Turki Ustmani. Turki Ustmani memberlakukan larangan bagi warga Yahudi untuk menetap dan tinggal lebih dari 3 bulan di wilayah Palestina. Sultan Abdul Hamid II menolak permohonan Herzl tersebut. Meski tinggal di Istambul selama 11 hari pada tahun 1896, Herzl gagal meyakinkan Sultan Turki guna memenuhi permintaan politiknya tersebut [6. Encyclopedia of Britannia. Biography of Theodor Herzl ->].

Upaya lobi politik juga dilakukan oleh Herzl melalui beberapa perjalanan politiknya untuk memuluskan rencana pendirian negara Israel. Ia pernah berupaya melobi Joseph Chamberlain untuk membantunya merelokasi warga yahudi di Eropa Timur. Loby Serupa pernah dilakukannya kepada Tsar Rusia agar membantu Zionis untuk memindahkan bangsa Yahudi ke tanah Palestina yang diyakini sebagai tanah Yahudi.

Penolakan Atas Zionisme

Ide zionisme tidak semata kontroversial kini, saat negara Israel berdiri dengan segala tindakannya kepada warga Palestina. kontroversi ide zionisme terjadi sejak Herzl memerkenalkan ide pembentukan negara Yahudi melalui organisasi Zionis. Situasi warga Yahudi di Eropa Barat yang lebih baik dibandingkan dengan Eropa Timur menimbulkan penolakan di kalangan Yahudi Eropa Barat. Ide Herzl dinilai sebagai paham utopis yang tidak bisa direalisasikan oleh Ras Yahudi. 

Kontroversi terbesar gerakan ini terkait dengan pendudukan tanah Palestina. Terbentuknya negara Israel tidak dapat dipisahkan dari Deklarasi Balfour. Kerajaan Inggris, melalui perdana menteri Arthur James Balfour, mengirimkan surat resmi kepada komunitas Yahudi yang berisi dukungan terbuka atas berdirinya negara Yahudi di tanah Palestina. Tanah Palestina saat itu sebagian besar masih dikuasai oleh Turki Ustmani. Surat tersebut dikirimkan berdasarkan persetujuan rapat kabinet Inggris (31 Oktober 1917) yang menyepakati dukungan kepada zionisme internasional dalam pembentukan negara Yahudi.

Terdapat dua pendapat terbesar terkait dengan penolakan terhadap zionisme dan pendudukan atas tanah Palestina yang dilakukan tentara Israel dengan dukungan Inggris pada tahun 1948. Pandangan pertama melihat zionisme sebagai kolonialisasi militeristik terbaru di era modern. Pandangan ini melihat upaya tidak adil yang dilakukan oleh zionisme dalam perebuatan lahan, pengusiran warga Palestina dan kekerasan yang dialami warga Palestina. Nur Mashala dan Michel Prior memandang zionisme memiliki watak penjajah (kolonialis) yang dipraktekkan melalui pendudukan absolut tanah Palestina yang berdaulat. Pengusiran atas warga yang mendiami lahan dan memiliki hak asasi dinilai dilakukan oleh kolonial dalam satu kerangka dan kepentingan: pendudukan [[7. Pappé Ilan, A history of modern Palestine: one land, two peoples, Cambridge University Press, 2006, hal 72–121]] [[8. Masalha, Nur (2007), The Bible and Zionism: invented traditions, archaeology and post-colonialism in Palestine-Israel 1, Zed Books, hal. 16]]. Noam Chomsky menjadi salah satu ilmuan Amerika terkemuka yang menolak penjajahan yang dilakukan oleh Negara Israel atas Palestina. Permbersihan etnis adalah salah satu kritik lain yang ditujukan kepada zionisme Israel. Pengusiran warga Palestina yang diikuti dengan kekerasan yang memakan korban termasuk dalam kategori pembersihan etnis. Edward Said menilai bahwa pengusiran bangsa Palestina merupakan watak zionisme yang mendasar. Said mengutip catatan Herzl yang menyatakan dibutuhkannya pengusiran “masyarakat miskin” hingga keluar dari batas wilayah Israel [9. Said, EdwardThe Edward Said reader, Random House, Inc., 2000, hal 128–129].

Rasisme dinilai menjadi salah satu bagian inti dari keberadaaan zionisme Israel. Ekslusivitas yang dibangun di tanah Israel dengan menyingkirkan ras lain merupakan bentuk rasisme di era modern. Keberadaaan zionisme sebagai sebuah rasisme turut dinyatakan dalam resolusi Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) nomor 3379. Resolusi tersebut menilai Zionisme sebagai sebuah bentuk rasisme dan diskriminasi atas nama ras. Resolusi tersebut dilahirkan atas desakan Uni Sovyyet dengan dukungan beberapa negara Arab [10. Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 3397. Sumber Wikipedia].

Daftar Pustaka

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here