Apa itu Anarkisme? Anarkis Bukanlah Tindak Kekerasan pun Perusakan

22
43146
Apakah Ati Anarki?
Apakah Ati Anarki?

Begitu mendengar kata anarki, mungkin kita akan teringat dengan nama anak sulung Iwan Fals yang juga pernah menjadi gitaris band Bunga. Dialah (alm) Galang Rambu Anarki. Dari sini ada hal yang butuh kita pertanyakan, dan lantas bisa kita mengerti; apa makna kata anarki sebagaimana nama yang disematkan oleh seorang penyanyi legendaris -bernama asli Virgiawan Listanto- tersebut terhadap anaknya..?

Apa Itu Anarki, Anarkis, & Anarkisme?

Simbol logo Anarki Anarkis Anarkisme
Simbol Anarkisme (Sumber; wikipedia)

Anarkis dan anarkisme memiliki kata dasar anarki. Ia merupakan serapan berbahasa Inggris dari kata anarchy, ataupun serapan dari bahasa Belanda, Jerman serta Prancis dari kata anarchie, dimana keseluruhannya memiliki akar kata dari bahasa Yunani brupa kata ‘anarchos’ ataupun kata “anarchein.”

Secara etimologi kata anarki, anarchy, anarchie,  anarchos, dan anarchein merupakan kata bentukan dari  ‘an’ dan “archos.” Serupa dengan istilah ‘un’ pada bahasa Inggris, ‘an’ memiliki definisi tidak, tanpa, ataupun nihil. Sedangkan archos atau archein adalah kata yang memiliki arti pemerintah ataupun kekuasaan.

Anarchos dan anarchein bisa disama-artikan dengan “tanpa pemerintahan”. Nah ‘anarkis’ sendiri adalah orang/manusia yang memercayai adanya anarki, sementara ‘isme’ berarti ajaran, ideologi, ataupun paham tentang anarki.

Jadi merunut pemaparan diatas, anarkisme adalah satu paham yang memercayai bahwa segala bentuk negara serta pemerintahan (dengan kekuasaannya) merupakan lembaga yang menumbuhkembangkan penindasan terhadap kehidupan. Sehubungan dengan hal tersebut, paham anarki menyatakan bahwa negara, pemerintahan, beserta para perangkatnya haruslah dihapuskan.

Pada akhir abad 17 seorang tokoh bernama William Godwin (1756 – 1836) menemukan alasan timbulnya penyakit sosial justru ada pada keberadaan negara dengan pemerintahannya.  Bahwa keberadaan negara tak lebih hanya sebatas karikatur masyarakat. Sementara keadilan dan kesetaraan akan susah diterapkan oleh negara dengan pemerintahannya, karena dengan bentuk otoritasnya, negara hanya akan mempromosikan ketidaksetaraan dan juga ketidakadilan. Pemerintah, ataupun segala bentuk otoritas itu jauh dari kepemilikan hak atas individu.

Selanjutnya Godwin mendapat sambutan dari Pierre-Joseph Proudhon (1809 – 1865) yang meneruskan idenya. Hanya saja agak lain, jika Godwin lebih mengarah pada anarkis-komunis, maka Proudhon bukanlah seorang komunis. Proudhon sangat melawan hak eksploitasi para penguasa -baik negara maupun kaum kapitalis- atas hak milik tiap individu, namun akan mengakui hak milik itu asalkan untuk berproduksi, dimana hasil produksi itu akan dipakai oleh kelompok-kelompok industri yang terikat antara satu dengan lainnya dalam kontrak yang bebas, dengan catatan tak digunakan untuk mengeksploitasi manusia lain, namun sebaliknya, setiap individu bisa menikmati seluruh hasil kerjanya. Pada kondisi ini maka kemampuan kapitalis untuk menjalankan riba secara otomatis menjadi sirna. Atau sekiranya kapital itu masih tersedia pada setiap orang, maka kapital tersebut fungsinya bukan lagi menjadi sebuah instrumen yang bisa dipakai untuk mengeksploitasi, melainkan sebagai instrumen untuk berbagi.

Serupa dengan William Godwin  dan Pierre-Joseph Proudhon, ada pula pernyataan lain yang datang dari Errico Malatesta;

Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas. – Errico Malatesta (Roma, 1853 – 1932).

Pada pernyataan tokoh-tokoh diatas ada yang butuh dipahami bahwa ideologi anarkisme membenarkan tentang “tiada pemimpin” ataupun ‘tanpa pemerintahan’. Sama sekali tak menyatakan “tanpa aturan.” Artinya dalam anarki tetap ada perwujudan keteraturan secara sukarela dari masing-masing individu. Ialah keteraturan sejati. Dalam anarki tetap ada keteraturan, sama sekali bukan anti-aturan.

Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Yaitu dimulai antar-manusia dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama hal itu merupakan pergerakan dari manusia itu sendiri. – Peter Kropotkin (Russian, 1842 – 1921)

Dalam anarki, ketiadaan pemerintahan menjadi format yang dipertahankan dan diterapkan pada sistem sosial, dengan tujuan menghindari hirarki serta menciptakan kebebasan secara individu, yang selanjutnya mampu merawat kebersamaan pada sisi sosial. Hal ini sebagaimana bisa dipahami dari penuturan Mikhail Bakunin yang juga ditasbihkan sebagai sosok penggerak anarkisme modern.

Kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, sedangkan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan – Mikhail Bakunin (1814 – 1876)

Pemutarbalikan Arti Anarki(s)me!

Kata anarki, anarkis, pun anarkisme kerap terdengar dalam konteks dan pemahaman yang salah. Saking biasa, dan masih sedikit orang yang bersedia mengoreksinya, maka kata anarkis menjadi salah-kaprah. Dewasa ini tindakan anarkis lebih memiliki arti sebagai tindakan kekacauan ataupun perbuatan pengrusakan. Anarkis lebih mengarah pada perbuatan kekerasan. Padahal arti sebenarnya tak seperti itu. Karena tindakan perusakan, mengacau, ataupun kekerasan terhadap pihak lain akan lebih tepat diistilahkan dengan tindakan brutalisme ataupun vandalisme.

Sebaliknya, anarkisme jelas bukanlah brutalisme, apalagi vandalisme. Anarkis lebih merupakan perbuatan kesetaraan, anti-brutality, dan non-violence.

Bagaimana anarkisme  disalahpahami?

Awal penyalah-artian ini ditengarai karena adanya penggiringan opini oleh para kaum kapitalis dan juga pihak penguasa. Yaitu berawal dari pernyataan salah satu tokoh anarkisme bernama Durruti;

‘Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan’ – Buenaventura Durruti Dumange (Spanyol, 1896 – 1936)

Sesungguhnya ada yang butuh kita pahami, bahwa Durruti membuat pernyataan yang mengarah pada jalan kekerasan itu hanya ditujukan terhadap negara serta kaum kapitalis. Namun bagai senjata makan tuan, kenyataannya hal itu justru dijadikan bahan pemutarbalikan fakta oleh kalangan penguasa dan juga kaum kapitalis yang tentu saja lebih mampu memengaruhi masa bermodalkan kuasa pun hartanya.

Tak pelak terjadilah penggiringan opini dari pemutarbalikan arti bahasa. Kata anarkis lebih berhasil diopinikan oleh para penguasa dan kaum kapitalis sebagai “anti pemerintahan” yang lalu disambung dengan kalimat perlawanan sebagaimana disebutkan oleh Durutti. Bahwa esensi Durutti berjuang dengan jalan kekerasan, perusakan, dan pembunuhan, itu semua yang ditonjolkan. Dan celakanya awam saat ini lebih memercayai hal itu.

Lebih telak lagi, isu anti kekerasan juga dimanfaatkan oleh para penguasa guna membatasi gerak para aktivis agar tak merusak hak milik mereka. Dimanfaatkan untuk menyerang balik atas nama menjaga stabilitas. Padahal itu semua hanya digunakan demi memberi jarak aman antara penguasa dan yang dikuasai.

Pada pemutarbalikan arti anarki ini, faktanya rakyat awam telah menjadi tertutup matanya. Awam telah luput dari pemahaman utuh. Bahwa tindak kekerasan – ataupun penghujatan – yang dilakukan oleh Durruti hanyalah ditujukan kepada pihak yang lebih berkuasa sebagai sikap perlawanan atau setidaknya upaya pembelaan. Sementara di sisi lain ada yang juga kudu disadari, bahwa kekerasan dan pelecehan penguasa kepada kaum lemah hanyalah sebentuk sikap fasis. Ironis memang, tapi inilah salah satu bukti keberhasilan penguasa atas kendali pada yang dikuasainya.

Apa yang dipaparkan Durruti itu memang bukanlah satu hal yang diharamkan oleh para penganut anarkisme. Namun bukan pula hal yang butuh di-excluive-kan. Karena titik bidik anarki ada pada ‘anti pemerintahan’  serta ‘keteraturan sejati.’ Sehubungan dengan hal itu pada kurun waktu yang tak berjauhan Alexander Berkman juga lebih mengedepankan pada tujuan utamanya.

Anarkisme bukan bom ataupun kekacauan. Bukan perampokan serta pembunuhan. Bukan juga sebuah perang dan perusakan di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali pada kehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia.

Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa Anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda inginkan serta (hidup) berada didalamnya tanpa ada yang mengganggu dan diganggu. Memiliki persamaan hak, hidup dalam perdamaian serta harmoni seperti saudara. Menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan. – Alexander Berkman (1870 – 1936)

Anarki, Anarkis & Anarkisme di Nusantara

Di Indonesia ada tak sedikit sambutan paham anarkisme. Hal ini bisa jadi lantaran paham ini banyak kesamaan dengan filosofi pun tradisi Nusantara. Lihat saja mengenai tradisi gotongroyong, lampah saiyeg sekapraya, pun tradisi kebersamaan dalam kesetaraan di beberapa daerah yang telah lama ada di peradaban Nusantara ini.

Ada implementasi anarkisme pada ajaran yang dipelopori oleh Samin Surosentiko (1859 -1914), salah satunya adalah sebentuk perlawanan ‘disobey’ alias pembangkangan terhadap pemerintahan kolonial, yaitu berupa aksi penolakan membayar pajak oleh Kaum Saminisme.

Ada juga falsafah mulur-mengkeret pun lmu Begja yang diinisiasi oleh Ki Ageng Suryomentaram (20 Mei 1892-18 Maret 1962). Ajaran Ilmu Begja yang sangat populer  adalah Aja Dumeh yang berisi pendidikan moral agar jangan menyombongkan diri, jangan membusungkan dada, dan jangan mengecilkan orang lain. Seberapapun tinggi pangkat serta derajatnya, seberapa luas kekuasaannya, pun seberapa banyak hartanya, manusia itu pada hakikatnya adalah sama dan setara.

Kita memiliki suku Badui, dimana paham anarki dalam menjauhi teknologi perusak kemanusiaan penolakannya telah lama mereka praktikkan. Menuju generasi lebih depan, ada istilah ‘Do It Yourself (DIY),’ yang tanpa disadari hal ini juga merupakan bagian dari aksi kaum anarki dalam menolak bantuan penguasa ataupun pihak asing. DIY amatlah sejalan dengan semangat ‘Swadesi’ ataupun ‘Berdiri Di Atas Kaki Sendiri’ (Berdikari).

Pihak Yang Ditentang Anarkis

Sebagaimana terbaca pada paragraf atas, awal pemutarbalikan fakta dan penggiringan opini dari makna anarki, anarkis, pun anarkisme cenderung dilakukan oleh para penguasa ataupun kaum kapitalis. Karenanya mereka adalah bagian dari pihak yang ditentang oleh kaum anarkis.

  1. Kapitalisme. Dalam pandangan kaum anarkis, biang diskriminasi ekonomi selalu berujung pada privilese lapisan atas. Oleh karenanya, sebagai bagian lingkaran masyarakat bawah, kaum anarkis lebih yakin bisa melakukan banyak hal secara independen.
  2. Feodalisme. Pengendalian berbagai wilayah yang diklaim oleh kaum feodal bukan merupakan bagian dari kesetaraan, kebersamaan, pun keadilan.
  3. Rasisme. Kaum anarkis menandaskan semua bangsa, ras, agama, dan golongan adalah sederajat.
  4. Sexisme. Kaum anarkis menganggap semua jenis seks memiliki hak yang sama atas apapun, baik itu pria, wanita, dan bahkan juga di luar dua jenis kelamin tersebut.
  5. Fasisme atau supranasionalis. Kaum anarkis beranggapan tak ada bangsa yang melebihi bangsa lain. Semua setaraf dalam perbedaannya.
  6. Xenophobia, yaitu ketakutan dan kebencian apriori pada hal baru atau asing. Kaum anarkis menentangnya sebab xenophobia bisa berkembang jadi fasisme, yaitu menganggap buruk hal yang datang dari pihak luar yang sejatinya tak(belum)  dikenalnya.
  7. Perusak lingkungan, perusak habitat, dan segala bentuk perusakan dan atau tindakan kekerasan terhadap semua makhluk hidup. Maka kaum anarkis menentang segala bentuk percobaan dengan hewan.. lantaran itu merupakan tindak kesewenang-wenangan terhadap kehidupan. Padahal, kehidupan tak bisa diciptakan manusia, harus dihargai. Maka banyak kaum anarkis yang hidup vegetarian.
  8. Melawan perang dan 1.001 sumber, alat dan perkakasnya, misalnya militerisme. Bagi kaum anarkis, segala bentuk kekerasan atau penghancuran kehidupan adalah nista. Perang adalah sesuatu hal yang sangat tidak berguna bagi dunia dan penghuninya. Maka segala sumbernya harus segera dihapuskan. Pada kondisi ini jelaslah anarkisme juga sejalan dengan ahimsa.

Tokoh-tokoh Anarkisme

William Godwin (1756-1836), Max Stirner (1806-1856), Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865), Mikhail Bakunin (1814-1876), Leo Tolstoy (1828-1910), Prince Peter Kropotkin (1842-1921), Errico Malatesta (1853-1932), Emma Goldman (1869-1940), Alexander Berkman (1870-1936), Rudolf Rocker (1873-1958), Buenaventura Durruti Dumange (1896-1936), Avram Noam Chomsky (lahir pada 7 Desember 1928), Peter Lamborn Wilson atau dikenal pula dengan nama Hakim Bey (lahir tahun 1945).  [uth]

Sumber Rujukan:
Anarkis; id.wikipedia.org, Diakses pada 10 Agustus 2014
Anarkisme, wikipedia.org, Diakses pada 10 Agustus 2014
Geger Samin; blorakab.go.id, Diakses pada 10 Agustus 2014
Salah kaprah; anarkis.org Diakses pada 10 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

22 COMMENTS

  1. […] Surabaya sepertinya memang menjadi kota yang tak bisa dipisahkan dari musik cadas. Jika masih teringat nama Log Zhelebour mungkin kita akan langsung terngiang dengan nama-nama artis & band rock terkenal Indonesia. Ada Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, Power Metal, Grass Rock, El Palmas, Kaisar, Boomerang, dan juga Jamrud. Akan tetapi sungguh disayangkan, masih sangat sedikit khalayak yang mengenal kebesaran nama band bernama Tielman Brother. Nama band legendaris ini seperti tak pernah tersentuh dalam sejarah musik rock tanah air, kitapun tak begitu mengerti alasan pastinya. Hanya saja sepertinya ada aroma kekhawatiran pihak penguasa apabila membanggakan grup band bentukan komandan tentara KNIL, hal ini dianggap sebagai tindakan kontrarevolusi pada orde lama, sedangkan pada rezim orde baru timbul ketakutan akan pengaruh keras dari musik rock -dan punk- yang acap digambarkan sebagai manifestasi semangat anarkisme. […]

  2. […] Kebanyakan orang mungkin akan mengasumsikan bahwa jazz adalah musik yang identik dengan kelas atas, namun hal itu toh ternyata tak 100% benar, karena pada acara musik tahunan bertajuk ‘ngayogjazz’ kita masih tetap bisa menikmatinya secara gratis tanpa tiket masuk, melainkan hanya bermodalkan kaki untuk berdiri berdesakan dengan penonton lain. Bukan di gedung ataupun hall sebuah hotel, akan tetapi di tengah kebun serta halaman rumah warga desa. Pada ngayogjazz ini paham komunal yang jauh dari paham “money oriented” tetap menjadi nafasnya. Ngayogjazz hadir sebagai cermin gelaran musik berkelas, namun tetap mampu menjaga sisi humanisme dan jauh dari pengaruh hedonisme. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here