Doodle Rumah Adat Kemerdekaan RI 69 Adalah Karya Asli Anak Indonesia

28
5412
Google Doodle Kemerdekaan Republik Indonesia 69 karya asli anak bangsa
Google Doodle Kemerdekaan Republik Indonesia 69 karya asli anak bangsa

Besarnya jumlah penduduk Indonesia merupakan pasar yang tak bisa disepelekan oleh banyak perusahaan dunia, baik yang bergerak dalam bidang kuliner, fashion, ataupun property. Tak ketinggalan juga perusahaan yang berbisnis di dunia elektronik dan produk-produk tehnologi informasi, salah satunya adalah perusahaan raksasa bernama google.

Google, meskipun kantor pusatnya berada di mancanegara, namun kenyataannya telah lama mengikuti perkembangan di wilayah nusantara ini dan bahkan melalui berbagai kegiatan juga telah beberapa kali menjadi sponsor yang cukup diandalkan. Langkah itu diambil tentu saja bukan tanpa maksud, sebagai produsen minimal pihak google memperoleh keuntungan berupa branding dengan harapan konsumen bisa terpengaruhi karena aksinya.

Doodle Adalah Aksi Google Setiap Hari Istimewa

Pada setiap hari menumental dan istimewa bagi rakyat Indonesia, google juga tak mau ketinggalan menunjukkan partisipasi. Lihat saja tatkala rakyat Indonesia mengadakan pesta pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2014, ketika membuka laman pencarian di google.com & google.co.id maka pihak google juga menyajikan logo google -atau lebih dikenal dengan sebutan google doodle- berupa tulisan ‘google’ warna merah-putih dan juga menyertakan gambar kotak suara di dalamnya. Hal serupa juga dilakukan oleh google pada tanggal 17 Agustus 2014, bahwa google menyajikan sebuah gambar ‘google doodle’ yang bernuansa kemerdekaan Indonesia dalam keberagaman.

Ini cukup membuat banyak orang tertarik, padahal jika ditelisik dari tahun-tahun sebelumnya sebagaimana yang tersaji pada link Indonesia Independence Day ini, sejatinya setiap perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, google memang telah lama menyajikan doodle dengan nuansa ke-Indonesia-an. Hanya saja ada yang membuat berbeda pada peringatan kemerdekaan RI yang 69 ini, pasalnya google doodle tahun 2014 ini adalah hasil asli dari kreativitas anak bangsa Indonesia. Ialah Tommy Chandra (@toramichan) yang mempersembahkannya.

Google Doodle Original Karya Anak Bangsa

Sebagaimana keterangan yang dipublikasikan oleh pihak google, gambar Google Doodle HUT Kemerdekaan RI ke 69 ini didesain oleh Tommy Chandra, ilustrator Indonesia bertempat tinggal di Jakarta. Awalnya pihak google menyarankan agar doodle dibikin dengan tampilan sosok tokoh politik dan latarbelakangnya adalah peta negara Indonesia. Namun, Tommy memiliki ide lain yaitu memilih untuk mengangkat keragaman budaya nusantara yang dipadukan dengan suasana 17-an.

Bukan perkara gampang menjalankan proses kreativitas itu, inspirasi mengenai rumah adat dan anak daerah di seluruh Indonesia harus dipadukan. Simbul yang mewakili keberagaman juga harus ditunjukkan. Maka diusunglah beraneka gambaran khas kedaerahan, antara lain kepala khas Papua, tutup kepala khas China, dan pakaian kebaya yang mewakili adat Betawi, Sunda, serta Jawa.

Google Doodle Yang Berbeda Tetapi Tetap Satu Jua

Karena google doodle HUT Kemerdekaan RI tahun ini dibikin oleh orang (team) yang lain dari sebelumnya, tentu karya yang ada juga memiliki perbedaan. Gambar berlatarbelakang aneka rumah adat & daerah memberikan makna bahwa Indonesia ini terdiri dari keaneka ragaman suku, ras, budaya serta adat istiadat . Sementara cerminan dari Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, terlihat dari gambar tujuh anak Indonesia. Bahwa karena menyatunya perbedaan inilah maka kolonialisme dapat diusir dari bumi nusantara dan selanjutnya kemerdekaan Indonesia bisa dicapai.

Di bagian tengah, dekat tiang bendera tampak sosok dua anak kecil yang riang mengikuti upacara pengibaran sang saka Merah Putih sebagai seremonial yang lazim dilakukan setiap 17 Agustus. Sementara tiga anak di sisi kiri dan dua anak di sisi kanan memberikan gambaran mereka berasal dari suku, adat dan budaya yang tak sama. Gambaran itu terlihat dari baju daerah yang dikenakan serta warna kulitnya. Sebagai unsur kegembiraan dalam mengejawantahkan kemerdekaan, terselip juga wujud kucing lokal di antara sosok anak-anak tersebut. Huruf yang membentuk kata “google” menempel sebagai ornamen rumah adat tanpa mengurangi etika pun estetikanya.

Dari Doodle ini diharapkan kebahagiaan tetap menjadi bunga untuk mengisi kemerdekaan, sementara meskipun memiliki budaya yang berbeda, kehangatan dan persaudaraan juga tetap harus dijaga demi melanjutkan perjuangan generasi pendahulu dalam melawan tantangan masa kini. Meski berbeda dan beraneka warna, namun Indonesia ini harus tetap menjadi satu untuk bersama-sama dicintai. [uth]

Pranala Referensi;

Berbagi dan Diskusi

28 COMMENTS

  1. […] Indonesia, sebagaimana India merupakan negeri yang penduduknya kreatif dan memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak. Dari jumlah warga yang ratusan juta, pada akhirnya banyak pihak tak mau meyia-nyiakan keberadaannya karena merupakan pangsa pasar yang menjanjikan.    Hal itu dibuktikan dari semakin merebaknya merk dagang dari berusahaan-perusahaan besar bukan saja yang berasal dari Indonesia, namun juga perusahaan besar yang berasal dari manca negara. Mereka semua seolah berlomba mendirikan outlet-outletnya dengan titik bidik pembeli produknya adalah warga Indonesia.  Sebut saja perusahaan raksasa bernama google, microsoft, dan juga apple, mereka tak tanggung-tanggun memasarkan produknya di Nusantara. Bahkan juga mendirikan kantor perwakilan yang tak kalah besarnya. […]

  2. […] Banyak orang telah lama mengetahui bahwa jenis musik klasik memberi manfaat lebih, utamanya bagi ibu yang sedang hamil. Bahwa anak yang sedang dikandungnya sedikit banyak juga bisa merasakan lantunan musik klasik yang didengar oleh sang ibu.     Menjadi banyak dibenarkan tatkala dipaparkan pula oleh banyak ahli, bahwa musik klasik juga memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kecerdasan, bkarena musik klasik itu mampu merangsang perkembangan anak. […]

  3. […] Dikatakan jaman namun jarang disadari, pasalnya sedari kanak-kanak banyak manusia ini telah melakukannya. Yaitu dengan bergumam, bertepuk-tangan, bersenandung rengeng-rengeng, yang kesemuanya dilakukan dengan refleks tanpa konsep.     Tiada patokan yang harus dipatuhinya, baik tangga nada pun partitur.  Pada kondisi ini ‘bentuk’ merupakan pemahaman yang bermasalah, karena memang tak ada arah pun hasil jelas yang dituju.     Ini bukan perkara jelek, karena dari refleksitas dan spontanitas ‘tiada kepatuhan’ terhadap aturan inilah justru tubuh menemukan kesejatian,menemukan dirinya.   Bebas – Merdeka. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here