Memahami Gejala Kecengengan Anak Usia di Bawah 10 Tahun

0
2212
Mengatasi anak sering menangis, megatasi anak cengeng, jenis air mata
Mengatasi anak sering menangis

Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kata cengen sebagai mudah menangis; suka menangis [1]. Istilah ini, pada prakteknya, sebenarnya tidak melekat semata pada anak kecil. Orang dewasa juga dapat dilabeli dengan istilah ini. Menangis pada prinsipnya merupakan simptom atau gejala fisik akibat gejolak emosi [2]. Pada konteks bayi dan anak, menangis juga dapat terjadi sebagai mekanisme menunjukkan rasa sakit yang dialami oleh fisik. Menangis pada prinsipnya merupakan gejala tubuh yang menunjukkan kepada orang lain atau dirinya bahwa orang yang mengalami sedang betul-betul dalam kondisi psikologis yang tertekan, sedih atau susah.

Menangis ditandai denga keluarnya air mata. Meski demikian, tidak semua tangisan menunjukkan situasi psikologis tertentu. Terdapat tiga jenis air mata, yaitu:

  1. Air mata basal: Jenis air mata ini keluar saat mata membutuhkan cairan pelumas, Mekanisme ini dilakukan secara ototmatis oleh tubuh untuk menjamin kelembapan dan kecukupan air pada mata. Mekanisme ini disebut sebagai lakrimasi.
  2. Air mata refleks: mekanisme menangis pada konteks satu ini terjadi apabila mata kemasukan zat atau benda lain. Kelenjar air mata (lacrimal) akan memompa air agar memenuhi permukaan mata supaya benda/zat tersebut dapat keluar.
  3. Air mata emosional: Gejala ini menunjukkan keterbuhungan antara aspek psikologis pada setiap individu dengan aspek biologis. Air mata ini dipicu oleh gejolak atau situasi emosi pada individu.

Menangis pada prinsipnya merupakan mekanisme melepaskan tekanan emosi sekaligus cara untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mekanisme menangis secara umum dipahami sebagai ekspresi gejolak kesedihan pada individu.

Pada konteks anak, ada beberapa kecenderungan umum kecengengan atau sikap cengeng yang ditandai dengan perilaku menangis, antara lain:

Mencari Perhatian Orangtua dan Orang Sekitar

Menangis merupakan salah satu mekanisme bayi untuk mencari perhatian orang lain. Hal serupa dapat terjadi pada balita. Apabila komunikasi anak tidak berkembang dengan baik, maka terdapat kemungkinan mekanisme ini tetap dipertahankan anak hingga usia 12 -13 tahun. Pada bayi menangis digunakan untuk menyatakan rasa lapar, sakit atau haus. Hal ini dilakukan oleh bayi mengingat tidak ada cara berkomunikasi lain yang dapat dilakukan.

Pada saat anak mulai dapat berkomunikasi verbal, orangtua perlu mengajarkan mereka untuk mengganti mekanisme menangis dengan bicara. Anak perlu diajarkan untuk bercerita atau mengungkapkan hal yang dirasakan atau diinginkan kepada orangtua dan sekitarnya.

Kebiasaan anak

Saat menangis  sudah menjadi kebiasaan anak, saat itulah orangtua perlu waspada. Jika gejala ini terjadi pada bayi yang belum bisa berkomunikasi verbal, hal ini masih dalam kondisi wajar. Meski demikian, orangtua dapat mulai mengajak bicara anak tersebut dan mengatakan bahwa menangis perlu dikurangi.

Kebiasaan menangis yang terjadi pada anak yang sudah bisa berbicara dan berkomunikasi perlu diwaspadai oleh setiap ibu dan ayah. Mekanisme ini bisa jadi terbentuk akibat pembiasaan oleh orangtua. Orangtua perlu menjelaskan bahwa tidak setiap hal perlu disampaikan melaui tangisan. Anak perlu diajak untuk membicarakan segala sesuatu dan tidak menggunakan tangisan.

Senjata Bagi Anak

Menagis sebagai senjata meluruhkan hati orangtua adalah yang perlu diwaspadai. Jika mekanisme ini terus berlanjut, maka sikap cengeng akan terbawa hingga dewasa bahkan cenderung menimbulkan sikap memaksakan kehendak. Menangis sebagai senjata dilakukan anak agar keinginannya dipenuhi. Orangtua yang tidak memahami hal ini akan terus memenuhi segala keinginan anak.

Menghadapi anak yang menggunakan tangisan sebagai senjata orangtua perlu bersikap bijak. Pertama, memberi hukuman ringan dengan membiarkan anak menangis sampai waktu tertentu.  Kedua, memberikan penjelasan bahwa tidak semua keinginan akan dapat dipenuhi oleh orangtua dan orang lain meskipun anak menangis. Ketiga, memberikan pemahaman dan alasan kepada anak mengapa satu permintaan tidak dapat dipenuhi. Kondisi dialogis tersebut akan mengajarkan penalaran kepada anak. Anak diajari untuk mengerti kebutuhan dan kondisi orang lain, termasuk orangtua.

Menangis Sebagai Indikator Frustrasi

Frustrasi tidak semata dialami oleh orang dewasa. Anak dapat sewaktu-waktu mengalami hal serupa. Hal ini bisa terjadi pada kegagalan-kegagalan kecil, seperti gagal memakai baju, melepaskan kancing baju, tidak bisa membuka pintu, tidak bisa menghitung dengan cepat dan tepat.

Orangtua perlu mengerti dan memahami mekanisme ini. Anak membutuhkan penjelasan dan pendampingan untuk menyelesaikan hal yang menjadi penyebab frustrasi. Penjelasan bahwa tangisan tidak dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut harus diimbangi dengan solusi yang diajarkan oleh orangtua.     

 

Sumber Rujukan:

[1] Kata Tangis dalam bahasa Indonesia. KBBI Online, diakses pada 18 Agutus 2014

[2] Menangis. Wikipedia Bahasa Indonesia, diakses pada 18 Agustus 2014

[3] Ilustrasi Gambar: Crying Girl. Pixabay.com, diakses pada 18 Agustus 2014.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here