Musik Rock Indonesia Era 70an yang Lebih Mengutamakan Aksi Panggung

9
5059
GodBless
GodBless

Indonesia merupakan negeri yang telah lama memiliki warga bertalenta tinggi dan keragaman budaya. Situs dan catatan sejarah menjadi cermin peradaban yang telah ada sebelumnya, seperti candi,  bangunan tua dan  jenis alat musik yang tak selalu sama pada tiap daerahnya.  Angklung, rebab, kendang, seruling, dan lain sebagainya adalah beberapa jenis alat musik khas Indonesia. Di samping memiliki jenis musik kroncong sebagai tradisi peninggalan Portugis, Nusantara ini juga telah lama memiliki lagu khas yang menunjukkan ciri kadaerahannya masing-masing, seperti jenis musik langgam Jawa, campur sari, jaipongan, degung, kolintang dan gambang kromong.

Pasca Kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, seni dan budaya lokal Indonesia tetap hidup. Ini terbukti dengan tetap semaraknya seni pertunjukan rakyat, misalnya panggung seni kethoprak, pertunjukan wayang orang, wayang kulit ataupun wayang golek. Tak ketinggalan pula penyanyi, musisi beserta band pengiringnya. Hanya saja waktu itu Soekarno –sebagai presiden pertama republik yang dikenal antibarat– mengeluarkan peraturan bahwa segala nama dan title dari produk milik warga Indonesia diwajibkan menerapkan istilah berbahasa Indonesia. Hal tersebut juga berlaku pada dunia musik. Musisi serta nama band Indonesia dari semua jenis aliran musik dilarang mengadaptasi ataupun menerapkan istilah-istilah mancanegara. Bukan tidak mungkin lantaran peraturan yang diterapkan oleh Bung Karno itulah, maka band legendaris & terkenal asal Kupang – Indonesia, The Tielman Brothers, saat itu lebih memilih hengkang menuju negeri Belanda.

Era Tahun 60an

Terkait adanya peraturan yang diterapkan oleh Presiden Sukarno, pada awal tahun 1960 muncullah sejumlah musisi berserta band yang mengusung nama-nama nasionalis. Band Arulan, Panca Nada, Band Diselina, Band Quarta Nada, Orkes Bayu, Band Zaenal Combo, Orkes Suita Rama, Orkes Simanalagi, Orkes Gaya Remaja, Orkes Irama Nada, Orkes Nada Kentjana,Orkes Prima Nada,Orkes Tjandra Kirana, Orkes Seni Maya, Orkes Mustika Rama, Orkes Sahabat Lama, Orkes Suwita Rama, Band Eka Sapta, Band Ayodhia, Band Medenasz, Orkes Rachman A, Band Bina Ria, dan masih banyak lagi. Band menggunakan bahasa atau istilah berbahasa asing menjamur paska bergantinya rezim Soekarno. Ada banyak band yang muncul dengan nama baru atau ada juga band lama namun berganti nama. Berbagai macam band yang muncul itu antara lain; Band Parwita Junior, Band Aria, Band Aria Junior, Band Darma Putra Kostrad, Band Elektrika, The Memory, De Prinz, The Brims (Brimoresta), Band Halpers, Koes Plus, Pandjaitan Bersaudara , Usman Bersaudara (Kembar Group), dan The Rhythm Boys.

Pada zaman Orde Lama, Bung Karno juga tak begitu berkenan dengan aliran musik rock. Bung Karno menyebutnya sebagai jenis musik ngik-ngok. Meski demikian, Era Koes Ploes telah memerkenalkan aliran musik cadas ini, salah satunya terdengar pada lagu berjudul Kelelawar.

Musik Rock Era 70-an

Tahun 1970, seiring dengan masa awal terbukanya segala informasi terbuka pula kebebasan anak-anak negeri ini untuk bermain musik sesuai selera,. Hal tersebut turut memengaruhi minat pada  musik rock. Pelbagai jenis musik diadaptasi dan deras mengalir menjadi bagian dari musik Indonesia, seperti dari Barat dan  Timur Tengah. Jika pada masa-masa sebelumnya, dengan alasan nasionalisme Soekarno melarang impor budaya barat, maka kali ini insan-insan rock yang mengaggap Inggris dan Amerika sebagai kiblat baru semacam menemukan titik-temunya. Nama-nama beraroma baratpun tak sungkan lagi digunakan. Nama-nama bernuansa Barat kian berkembang dan mudah ditemukan, seperti  The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Paramour, Finishing Touch, Freedom, Lizard, Big Brothers, Brotherhood ,Speed King, Oegle Eyes, Superkid, God Bless, Giant Step, Freedom of Rhapsodia, The Rhythm Kings, Golden Wings, Freemen, Reg Time, Silver Train, Free Men, Black Spades, Ireka, The Rhadows, Chekinks, Equator Child, Double Zero, Ternchem Stallion, Lizard, Paramour, Big Brothers, ODALF, Sea Men, Fancy, Zonk, Savoy Rhythm, dan masih banyak lagi.

Jika varian musik Rock n Roll (Indo Rock) yang dipelopori oleh The Tielman Brothers dan The Beatles mengilhami musisi Indonesia era 60an,  pada era 70an ini ada dua band cikal-bakal music rock beraliran Heavy Metal yang menjadi kiblat musik Indonesia: Led Zeppelin (Inggris)  dan Deep Purple (Amerika). Keduanya menjadi salah satu kiblat insan rock saat itu. selain itukaum muda tahun 70an juga menggemari varian musik progressif rock (Art Rock) yang dipandegani oleh band-band ternama Genesis ataupun Pink Floyd.

Menemukan sebuah kebebasan dalam berinovasi dan dan kemerdekaan dalam bergaya tanpa takut adanya pembatasan, segala gaya yang disuguhkan para musisi rock barat juga tak ragu lagi ditirukan. Potongan rambut gondrong, memakai celana cutbra ataupun celana kulit, berbaju ketat, dan dengan gaya lusuh, kesemuanya dipadukan menjadi semacam “identitas baru” kaum muda saat itu. Anak-anak penggemar rock ini pun seolah mendapatkan sebuah mimpi dalam tidur panjangnya: mimpi go internasional.

Ada benarnya jika ada yang menilai bahwa keinginan anak muda era 70an untuk tampil di kancah internasional sebatas khayalan. Bagaimana pun, pelbagai keterbatasan masih harus dihadapi musisi periode itu. Umumnya musisi zaman itu hanya bermodal perangkat sound system dan kapasitas studio yang saat itu masih terbatas kemampuannya. Selain itu, biaya menjadi faktor lain yang turut memengaruhi.

Namun pepatah “tak ada yang tak mungkin” menjadikan tekad dan semangat mereka dalam berkarya tetap membara. Mencipta lagu berbahasa Inggris yang diawali dengan menulis lalu merangkai nadanya menjadi pekerjaan yang disenangi. Hingga pada akhirnya beberapa karya mereka disiarkan oleh sejumlah radio di Australia serta Inggris. Bahkan lagu-lagu mereka juga sempat berada di puncak tangga lagu musik rock BBC ataupun ABC. Di dalam negeri, selain disiarkan oleh radio-radio yang awalnya hanya memutar lagu dangdut ataupun keroncong, karya-karya rock juga semakin menggema lantaran dipublikasikan dengan kemunculan majalah yang membahas khusus musik rock, yaitu; Aktuil, Junior, Flamboyan, Varia Nada dan TOP.

Band-band bernama AKA, SAS, Rollies dan Silver Train mampu menorehkan sejarah baru dalam perindustrian musik, khususnya musik rock Indonesia. Karya mereka disukai khalayak, otomatis nama mereka juga semakin beken. Tak ayal anak-anak muda pelaku musik rock ini juga mengalami lonjakan finansial yang pesat. Seolah tak hendak kalah dahsyat dengan pertunjukan band internasional Deep Purple yang digelar tanggal 4 & 5 Desember 1975, jadwal pertunjukan mereka di beberapa kota Indonesia juga tanpa jeda. Berkeliling dari kota Surabaya, Malang, Jogja, Semarang, Jakarta, Bandung bahkan juga kota Medan menjadi kegiatan pagelaran.

Aksi Panggung Band Rock Era 70an

Era 70an, tatkala band-band Indonesia tampil di atas panggung sangat jarang melantunkan lagu karyanya sendiri, mereka justru bangga ketika mampu membawakan dengan sempurna lagu-lagu band rock dari barat, termasuk aksi-aski panggungnya. Aksi panggung menjadi kunci penting bagi kesuksesan pementasan musik rock pada saat itu.

Aksi panggung yang ciamik dengan ekspresi wajah yang cukup memukau penonton, menjadi jaminan guna mendongkrak popularitas dari band itu sendiri. Dikatakan mampu memukau penonton apabila aksi yang dilakukan tak sebatas berekspresi dan menjiwai musik saja, lebih dari itu gaya gitaris Deep Purple, Ricthie Blackmore ataupun Jimmy Hendrix yang membakar gitar menjadi tuntutan pasar juga. Ucok Harahap dan Arthur Kaunang adalah dua musisi dari grup band AKA yang saat itu mampu melakukannya.

Pemberitaan mediapun tak jarang hanya menyorot aksi panggungnya tanpa harus terpaku pada karya yang tersaji. Sebut saja Deddy Dores. Si “Wonder Guys” yang dinilai merupakan reinkarnasi dari pemain gitar grup band Deep Purple, yaitu Ritchie Blackmore karena sering merusak gitar yang dimainkannya di atas panggung. Selain Jongkie (dikenal sebagai Yockie Suryoprayogo) sebagai pemain keyboard handal yang disepadankan dengan Patrick Mora, ada pula gitaris AKA bernama Sunatha Tandjung yang dijuluki Jimmy Page Indonesia. Penamaan tersebut disebabkan  aksi memutar-mutarkan gitar hingga menciptakan raungan yang memekakan telinga, seperti gitaris Led Zepelin.

Kesimpulan bahwa musik rock Indonesia Era 70an lebih mengutamakan aksi panggung mungkin ada benarnya.  Hal tersebut tidak serta merta membuat orang boleh mengabaikan kualitas karya deretan musisi tersebut.  Pelbagai karya musisi era tersebut yang sampai saat ini masih tetap enak untuk dinikmati. Satu hal yang yang patut disayangkan dari perkembangan musik Indonesia terkait dengan kualitas karya. Saat kehidupan para musisi rock Indonesia ini bertambah baik,  kreatifitas musisi Indonesia disebut-sebut kian menurun. Menjelang akhir tahun 70an, jenis musik rock mulai bergeser ke ranah pop cengeng. Beberapa musisi rock juga mengikuti pasar pada musik pop cengeng itu. [uth]

Pranala Referensi;

Berbagi dan Diskusi

9 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here