Rinding Gumbeng: alat Musik Etnik dari Bambu yang Kini Hampir Punah

25
5355
Rinding Dusun Duren Wonosadi Gunungkidul di YGF 2014 Taman Budaya Yogyakarta
Rinding Dusun Duren Wonosadi Gunungkidul di YGF 2014 Taman Budaya Yogyakarta

Iki jaman e-jazz, yen ora ngejazz, ora kedum-jazz. Njajazz desa milang kori. Jazz basuki mawa beya. Mangan ora mangan, ngejazz. Nandoer jazzing pakarti. Dengan ngejazz, kita tingkatkan swasembada jazz. Rukun agawe ngejazz. Bukak Sithik Jazz.

Kalimat yang tertulis di atas sejatinya adalah kalimat yang diplesetkan dari peribahasa ataupun jingle yang telah akrab pada kehidupan kita sehari-hari, utamanya kehidupan warga Jogjakarta. Sebagai contoh pada kalimat “Iki jaman e-jazz, yen ora ngejazz, ora kedum-jazz,” sebelum diplesetkan memiliki kalimat asli; ‘Iki jaman edan, yen ora edan, ora keduman’ (Ini jaman edan, kalau tidak ikut edan, maka gak akan kebagian). Ialah kalimat-kalimat plesetan khas Jogja yang digunakan sebagai tagline pada acara ngayogjazz yang dihelat rutin tiap tahun, yaitu dari tahun 2007.

Menyimak acara rutin tahunan yang digelar di kota budaya Yogyakarta, ada banyak pertunjukan menarik dan berkelas namun tetap dihadirkan secara gratis bagi seluruh penikmatnya. Diantaranya adalah perhelatan musik jazz berjuluk Ngayogjazz yang biasanya digelar pada musim hujan jelang akhir tahun, ataupun FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) dan juga acara festival gamelan yang dikenal dengan nama YGF (Yogyakarta Gamelan Festival) yang keduanya biasa diselenggarakan seputar bulan Juli ataupun Agustus.

Kebanyakan orang mungkin akan mengasumsikan bahwa jazz adalah musik yang identik dengan kelas atas, namun hal itu toh ternyata tak 100% benar, karena pada acara musik tahunan bertajuk ‘ngayogjazz’ kita masih tetap bisa menikmatinya secara gratis tanpa tiket masuk, melainkan hanya bermodalkan kaki untuk berdiri berdesakan dengan penonton lain. Bukan di gedung ataupun hall sebuah hotel, akan tetapi di tengah kebun serta halaman rumah warga desa. Pada ngayogjazz ini paham komunal yang jauh dari paham “money oriented” tetap menjadi nafasnya. Ngayogjazz hadir sebagai cermin gelaran musik berkelas, namun tetap mampu menjaga sisi humanisme dan jauh dari pengaruh hedonisme.

YGF – Yogyakarta Gamelan Festival

Kebalikan dari ngayogjazz adalah gelaran tahunan Yogyakarta Gamelan Festival. Tatkala ngayogjazz yang berasumsi ‘kelas atas’ diturunkan ‘grade’nya, maka gamelan sebagai musik tradisional yang acap ditinggalkan oleh warganya -karena lebih berkiblat pada musik modern- berhasil dinaikkan kelasnya menjadi setara dengan musik lainnya. Bahkan adakalanya justru gamelan mampu bertahta mendampingi jenis alat musik lain, dan lalu membuat penikmatnya terkesima. Adalah komunitas Gayam16 selaku pihak penyelenggara even YGF yang mampu menyihir anak muda yang awalnya dikonotasikan lebih senang dengan musik barat. Bukan itu saja, YGF benar-benar menjadi ajang pengkolaburasian dari banyak perbedaan jenis alat musik, diatonis dan pentatonis menyatu beriringan menciptakan harmoni yang sangat indah.

Yogyakarta Gamelan festival tahun 2014 ini adalah perhelatan YGF yang ke-19. Acara yang digelar tiga hari berturut-turut ini bisa dibilang sangat sukses, karena sejak hari pertama pertunjukan selalu dipenuhi penonton. Bahkan ketika acara sudah berlangsungpun masih banyak orang yang antusias untuk masuk venue guna menikmatinya. Taman Budaya Yogyakarta sebagai tempat dilangsungkannya acara YGF 2014 ini berjejal penuh penonton. Hari pertama karena nuansa pembukaan tentu menjadi surprized bagi penggemarnya, hari kedua selain karena adanya penampil dari negara China dan juga penampilan grup band letto yang sempat bermain gamelan, ada keramaian pula yang disajikan oleh Anang Batas yang mendampingi Ari Wulu sebagai pembawa acara (MC). Sedangkan hari ketiga sebagai puncak acara dihadirkan pula kolaburasi antara Brian Davidson dan Bhakti Setyaji (USA feat Yogyakarta), Victorhugo Hidalgo feat Maha Srimara (Mexico feat Surakarta), dan juga penampilan terakhir yang tak bisa dilupakan yaitu Rinding Gumbeng Nguri Seni berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta.

Rinding Gumbeng

Wujud gamelan mungkin sudah banyak yang tahu, namun wujud rinding -gumbeng- bisa jadi hanya sedikit yang memahaminya. Karena masih sedikit yang mengetahui inilah, maka YGF menjadi ajang yang tepat guna menyelamatkan dan mengangkatnya agar naik kelas kembali.

  • Apa itu rinding?

Rinding Gumbeng Nguri Seni di Festival Gamelan Yogyakarta
Rinding Gumbeng Nguri Seni di Festival Gamelan Yogyakarta

Rinding adalah jenis alat musik tradisional berbahan bambu petung pun bambu wulung, yang saat ini boleh dibilang ‘hampir’ mengalami kepunahan. Rinding merupakan jenis alat musik etnik langka namun saat ini masih ada masyarakat yang tetap berusaha nguri-uri & merawat layaknya pusaka, yaitu warga Dusun Duren yang berada di kawasan desa wisata Wonosadi – Gunungkidul. Sesuai informasi yang ada, alat musik rinding ini awalnya dulu dimainkan sebagai pengejawantahan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, yaitu untuk mengiringi dan mengarak Dewi Sri (Dewi Padi) sebagai manifestasi kebersyukuran hasil panen pertama yang biasanya dilaksanakan sehabis sadranan (mengirim bunga ke makam para leluhur). Ada jenis musik yang mirip rinding yang biasa dikenal oleh masyarakat Jawa Barat, yaitu bernama Karinding, hanya saja Rinding memiliki ukuran yang lebih kecil. Cara memainkannya juga hampir serupa, yaitu mengandalkan resonansi mulut.

  • Ritual Rasa Syukur Atas Berkah Semesta

Sebagai kesenian yang telah lama  hidup di tengah masyarakat, walaupun sekarang terancam punah namun rinding gumbeng ini merupakan kesenian warisan nenek moyang sejak zaman dahulu.  Cara memainkan rinding adalah dengan menempelkannya di depan bibir, ditiup, sementara bersamaan dengan meniup itu tali yang ada pada ujungnya ditarik menggunakan tangan kanan. Dari gerakan tangan kanan dan tiupan inilah maka akan menimbulkan suara unik serta khas.

Sesuai cerita yang dituturkan secara turun-temurun, dahulu warga sangat percaya dengan dewi padi yang dijuluki dengan sebutan Dewi Sri. Tatkala musim panen tiba, warga biasanya membawa pulang hasil padi yang dipanen pertama sebagai persembahan, oleh karenanya ada upacara persembahan yang dilakukan para petani sebagai ritual ‘bersyukur’ atas kebaikan sang dewi. Pada ritual tersebut diaraklah padi hasil panen dari sawah menuju rumah warga dengan diiringi suara meriah dari rinding gumbeng.   Masyarakat petani memercayai bahwa kemeriahan rinding gumbeng itu mampu membuat senang hati sang Dewi,  sehingga sang Dewi akan dengan murah hati memberikan kembali berkah panen yang melimpah.

  • Pengiring Penjaga Hama & Pemelihara Kemakmuran

Sesampainya di rumah, padi hasil panen yang diarak tadi kemudian ditumpuk di lantai dan lalu diikat menggunakan tali.     Selanjutnya para petani kembali membunyikan rinding gumbeng sebelum padi-padi itu dimasukkan  dan disimpan ke dalam lumbung. Ritual peniupan rinding sebelum masuk kedalam lumbung ini dimaksudkan agar para petani bisa tetap terjaga pangannya, yang ada di sawah bisa aman dari serangan hama, sedangkan yang disimpan di lumbung bisa menyelamatkan warga dari bencana paceklik. Artinya padi-padi di lumbung tersebut memiliki fungsi juga sebagai tadah pangan.

Dari ritual yang dilakukan ini ada nilai yang bisa dimaknai, bahwa lahir dan dipeliharanya tradisi rinding gumbeng sejatinya merupakan tradisi untuk selalu sadar dalam menjaga dan menjalin kedekatan dengan alam, segala makhluk, sesama manusia, dan juga Sang Pencipta. Artinya, melalui tradisi ini, diharapkan manusia mampu mencintai alam beserta isinya secara menyatu & utuh.   Hal ini apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin keberkahan juga akan selalu melimpah, karena langkah sederhana dalam merawat alam ini tak lain merupakan manifestasi kearifan lokal yang tetap memelihara hubungan vertikal maupun horizontal.

  • Pusaka Anugerah Sang Pencipta Yang Wajib Disyukuri

Sebagaimana terpapar di atas, ada kearifan lokal yang terwujud dalam ritual mendekatkan diri pada Tuhan.    Oleh karenanya, para petani tak hendak sembarangan dalam ‘sowan’ menghadap Tuhan, pakaian khusus berwarna serba hitam dikenakan oleh para penabuh Gumbeng dan peniup Rinding.     Warna hitam itu merupakan salah satu warna yang menciptakan suasana magis dan mistis, oleh karenanya sangat representatif mengenakannya guna menghubungi Sang Ghaib.

Selain angklung, suling dan alat musik bambu lainnya, rinding menjadi bagian penting khasanah budaya nusantara, rinding menjadi bagian dari bahasa musik yang universal dan merupalan pusaka yang wajib dilestarikan oleh generasi masa kini, yaitu dengan cara tetap menjaga dan merawatnya sebelum punah ataupun di akui milik negeri tetangga. [uth]

Sumber Rujukan;

[1]  Yogyakarta Gamelan Festival, YGF. www.yogyakartagamelanfesyival.org   Diakses pada 25 Agustus 2014

[2] Gambar “Rinding Gumbeng Nguri Seni” Utroq Trieha. Dilisensikan sebagai CC BY 2.0.  pic.ikanmasteri.com  Diakses pada 25 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

25 COMMENTS

  1. […] Kalimat nomor dua memberikan penjelasan kepada kita bahwa sang pemilik aplikasi ‘phissing’ berhak melihat kita berteman -dan follow- dengan siapa, dan dia juga memiliki hak menambahkan orang lain untuk kita follow. Nah inilah yang memang banyak dikehendaki oleh si pembuat aplikasi  karena bisnis jual beli follower real human masih sangat menarik  di Indonesia ini. […]

  2. […] Umar Kayam adalah sosok manusia Indonesia yang banyak melakukan terobosan di segala bidang kehidupan. Sebagai contoh tatkala masih mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, UK terkenal dengan julukannya pelopor berdirinya kehidupan teater kampus. Sedangkan sebagai Dirjen Radio dan Televisi, gebrakan kerjanya mampu menyemarakkan kehidupan perfilman nasional, dan saat memiliki jabatan sebagai Ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), UK sempat mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Tak ketinggalan pula ketika maskih aktif sebagai dosen UGM, Umar Kayam mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial. Bukan itu saja, masih di almametrenya UK juga mampu menginspirasi munculnya karya-karya seni kreatif, baik di bidang sastra, seni rupa, pun seni pertunjukan antara lain dengan mendirikan pasar seni di kampus. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here