“Aku Rapopo” adalah Bentuk Salah Tulis dalam Bahasa Jawa

23
6409
Aksara Jawa
Aksara Jawa (Source: Wikipedia)

Gundhul-gundhul pacul-cul gembèlèngan // Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembèlèngan // Wakul ngglimpang segané dadi selatar // Wakul ngglimpang segané dadi selatar

Yang tertulis di atas adalah lirik dari lagu -dolanan- anak-anak berbahasa Jawa yang nadanya juga tak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Berbicara tentang bahasa Jawa, ada banyak hal yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan berdiskusi dan lalu memelajarinya dalam ranah kekayaan budaya Nusantara. Dari lirik lagu gundhul-gundhul pacul itu saja sudah ada beberapa hal yang bisa kita bahas, misalnya tentang penulisan dan pengucapan verbalnya. Tanpa banyak yang menyadari bahwa orang Jawa sendiri juga masih banyak yang belum benar menuliskan istilah Jawa kedalam tulisan latin, sehingga kesalahan yang telah menjadi kebiasaan itu mengakibatkan salah-kaprah. Sebelum membahas mengenai pelafalan (pengucapan) berbanding penulisan pada bahasa daerah Jawa, mari kita cermati dulu bentuk aksara Jawa sebagaimana abjad yang kita ketahui pada huruf lain.

Aksara Jawa
Aksara Jawa (Source: Wikipedia)

.

Ha Na Ca Ra Ka

Da Ta Sa Wa La

Pa Dha Ja Ya Nya

Ma Ga Ba Tha Nga

.

Pada aksara Jawa sebagaimana terlampir, ada beberapa huruf yang wajib diperhatikan, misalnya antara DA dan DHA, ataupun antara TA dan THA. Lalu apa perbedaannya?

Perbedaan Antara DA dan DHA

Mengamati aksara sesuai yang ditampilkan di atas, pengucapannya ada hal yang harus dibedakan dalam bentuk tulisan, antara lain antara DA dan DHA. Sebagai contoh antara kata kadal dan kata kudus.

Kata kadal akan tepat saat ditulis ‘kadhal’ (menggunakan DH), sementara kata ‘Kudus’ akan tetap menjadi Kudus tanpa harus menyisipkan huruf ‘H” Kenapa demikian? Karena dalam pengucapannya jelas berbeda. Hal itu akan terasa perbedaannya tatkala dalam satu kalimat kita menemukan kata serupa. Misalnya;

  1. Ana wong sing mendem bathang kucing
  2. Ana wong sing mendhem bathang kucing

Kalimat pada nomor satu jelas memiliki arti berbeda dengan nomor dua. Nomor satu memiliki arti; ‘Ada orang yang mabuk bangkai kucing,’ sementara nomor dua memiliki definisi ‘Ada orang yang mengubur bangkai kucing”

Perbedaan Antara TA dan THA

Masih mengamati aksara Jawa murda di atas, ada pula yang butuh dibedakan dalam menuliskan TA berbanding THA. Kata kuthuk dalam bahasa Jawa tentu memiliki beda arti dengan kata kutuk.

  1. Bapak golek kutuk nang kali, artinya Bapak mencari ikan gabus di sungai
  2. Bapak golek kuthuk nang kali, artinya Bapak mencari anak ayam di sungai

Pada nomor satu ada kata ‘kutuk’ yang dalam bahasa Jawa memiliki definisi “ikan gabus,” sedangkan pada nomor dua, kata ‘kuthuk’ memiliki arti ‘anak ayam’

Perbedaan Antara Huruf A dan Huruf O

Dalam menuliskan kata berbahasa Jawa antara A dan O ini sangat memrihatinkan, pasalnya masih sangat banyak orang Jawa juga salah kaprah. Kalimat yang seharusnya ditulis ‘aku rapapa’ (kalimat utuhnya adalah ‘aku ora papa’ ataupun aku ora apa-apa) namun banyak yang tetap menuliskan ‘aku rapopo’ yang merujuk pada kata ‘aku ora popo’ dan juga “aku ora opo-opo.”

Mengapa ini memrihatinkan? Cukup seriuskah kesalahan ini? Ya, sangat serius kesalahan itu terjadi, dan bisa dibilang salah telak. Namun sayangnya sangat sedikit orang yang mau mengoreksinya.

Vokal O dan A mungkin tak begitu kelihatan bermasalah tatkala diterapkan pada kata yang tak banyak definisinya, akan tetapi ‘ketidak-masalahan’ ini akan menjadi kebiasaan buruk jika dibiarkan, karena bisa terlihat fatal adalah ketika menemukan bentuk kata yang serupa. Misalnya antara kata LARA dan LORO, ataupun kata CARA dan CORO.

  1. Ada dua cara untuk membunuh coro
  2. Kowe lara weteng njuk wis ngombe pil loro iki, durung? (kamu sakit perut, terus sudah minum dua pil ini, belum?)

Pada kalimat nomor satu, kita akan dengan mudah membedakan kata ‘cara’ dan ‘coro.’ “Caramemiliki pengertian dan definisi ‘metode sementara ‘coro’ tentu artinya adalah binatang kecoak. Namun pada kalimat nomor dua kita baru bisa memahami kata itu setelah diterapkan ke dalam sebuah kalimat, bukan?

Dari memahami bentuk kalimat di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ada yang butuh dibedakan penulisannya dalam kata yang pengucapannya berbeda. penggunaan huruf A lebih diterapkan pada kata yang pengucapannya tak baku bersuara O, sementara huruf O benar-benar hanya diterapkan pada kata yang memiliki ketegasan berbunyi O. Huruf vokal “A” pada kata ‘lara’ memiliki bunyi ‘O’ seperti pada kata ‘gotong-royong’ sedangkan penulisan huruf vokal ‘O” mempunyai bunyi tegas sebagaimana yang terucap pada kata ‘jompo.’

Sumber Rujukan;

[1] Aksara Jawa www.wikipedia.org  Diakses pada 26 Agustus 2014

[2] Gambar ‘Aksara Jawa’  Dilisensikan sebagai CC BY 2.0. www.wikipedia.org  Diakses pada 26 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

23 COMMENTS

  1. "Mengapa ini memrihatinkan? Cukup seriuskah kesalahan ini? Ya, sangat serius kesalahan itu terjadi, dan bisa dibilang salah telak. Namun sayangnya sangat sedikit orang yang mau mengoreksinya." – Saya adalah satu dari yang sedikit itu. Tapi, apakah koreksi saya diperhatikan? Entahlah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here