Keunikan & Keindahan Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta

22
5450
Keindahan Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta

Roda selalu berputar, apabila dahulu kabupaten Gunungkidul hanya dikenal karena tanahnya yang gersang dan juga susahnya mendapatkan air, maka sekarang hal itu tak lagi terdengar beritanya.  Karena saat ini Gunung Kidul adalah bagian timur dan tenggara dari wilayah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki kekayaan alam luar biasa, banyaknya masyarakat yang telah menuntut ilmu menggunakan daya serta upayanya guna memberdayakan keadaan alam dan perbukitan sekitar, baik dalam bidang ekonomi, sosial juga budaya. Salah satunya adalah dengan memberdayakan alam sebagai tempat wisata, baik itu yang berujud bukit pun pegunungan, serta laut, pantai dan peninggalan goanya.    Dan gunung api purba Nglanggeran adalah salah satu hasilnya.

Nglanggeran adalah tempat wisata di Gunungkidul yang jaraknya dari pusat kota Yogyakarta tak terlalu jauh, yaitu di seputar Ngoro-oro, Kalisong, Patuk, Gunungkidul.

Perjalanan Menuju Gunung Api Nglanggeran

Pintu depan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta
Pintu depan Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta

Nglanggeran merupakan bukit bebatuan yang ditengarai sebagai gunung api purba. Miliki ketinggian antara 200 sampai dengan 700m dpl, dengan suhu udara rata-rata  23˚ C – 27˚ C.         Antara pusat kota Gunungkidul (Wonosari -red) dan juga pusat kota Yogyakarta, boleh dikatakan Nglanggeran ada di tengah-tengahnya, yaitu sama-sama memiliki jarak tempuh kurang-lebih 25 km.      Apabila hendak bertandang ke Nglanggeran, dari arah Wonosari kita bisa melewati Bunderan Sambipitu, lalu belok kanan mengarah ke dusun Bobung/kerajinan Topeng, dan tak lama kemudian bisa mencapai Desa Nglanggeran.       Namun apabila dari kota Jogjakarta, rute yang harus ditempuh adalah; Jalan Wonosari – Piyungan – naik ke bukit Bintang Patuk – sesampainya di perempatan  Patuk (Radio GCD FM) pilih jalan yang belok kiri.    Dari perempatan Patuk ini tinggal menempuh jarak kira-kira 7 KM, maka kita akan tiba di kawasan gunung api Purba, yaitu tak jauh dari lokasi stasiun-stasiun Transmisi.

Untuk menuju kawasan ekowisata gunung Api Purba Nglanggeran, baik dari arah kota Yogyakarta maupun dari arah Wonosari, disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan sendiri. Disamping lebih hemat uang juga bisa lebih bisa mengatur waktu.        Namun sekiranya hendak mengandalkan kendaraan umum, dari Wonosari naik saja kendaraan yang memiliki trayek ke kota Yogyakarta, sedangkan dari kota Jogja pilih saja bus jurusan Gunungkidul yang melewati bukit Patuk.    Turun di perempatan Patuk, dan cari kendaraan (ojeg) yang menuju ke daerah Ngoro-oro & Nglanggeran.

Bisa Mendirikan Tenda dan Tersedia Homestay

Menjelang sampai di area gunung api Nglanggeran, kita sudah bisa menyaksikan gagahnya bebatuan yang menjulang tinggi, dan tak lama kemudian setibanya di pintu depan kita juga akan melihat sebuah pendopo.    Ada petugas jaga yang bisa kita minta informasi, pengalaman selama ini para petugasnya cukup helpfull & informatif.

Selain bisa mengadakan acara pada malam hari dan lalu juga mendirikan tenda, tak jauh dari pendapa ada pula rumah-rumah penduduk yang sebagian diantaranya juga disewakan bagi pengunjung Nglanggeran.       Jika melihat alamnya, nuansa yang tercipta dari rumah yang disewakan itu tentu saja adalah suasana pedesaan yang tak bisa dibandingkan dengan hotel berbintang di kota-kota besar.

Tradisi Masyarakat Nglanggeran

Menurut penelitian yang pernah dilakukan, ekowisata Gunung Api Nglangeran adalah kawasan wisata alam yang secara litologi disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alam yang memiliki keindahan. Sedangkan dari segi ilmu geologi , kawasan ini memiliki keunikan tersendiri sebab memiliki nilai ilmiah tinggi.     Oleh karenanya, dari banyaknya referensi yang ada, banyak peneliti menyepakati bahwa Gunung Nglanggeran merupakan gunung berapi Purba.     Wujud bongkahan batu yang menjulang tinggi diperkirakan pada 60 juta tahun lampau merupakan gunung berapi aktif.

Masyarakat seputar Nglanggeran juga masih selalu menjalankan ritual rutin tahunan, yaitu setiap bulan Haji  (bulan Dulhijah a.k.a wulan besar -red).     Upacara ritual tiap tahun itu dikenal dengan tradisi rasulan, yang prosesinya juga mengadakan acara semacam ‘kirab budaya.’       Seluruh warga berpartisipasi antara lain dengan cara menghadirkan kelompoknya untuk membuat gunungan berupa hasil pertaniannya lalu diarak menuju ke sumber air Kalisong (Pangkal Gunung Api Purba).    Sesampainya di sumber air Kalisong, banyak kelompok masyarakat berkumpul dan kemudian menjalankan ritual yang intinya sebagai wujud rasa syukur, oleh karenanya dilakukan pula upacara do’a bersama.

Selepas ritual rasulan usai, dipentaskan pula berbagai macam kesenian yang disuguhkan oleh masing-masing  kelompok masyarakat.          Ritual kirab dan gelar kesenian ini biasanya dilaksanakan pada hari Minggu Legi atau hari Senin Legi .

Mendaki puncak Gunung Api Nglanggeran

Berdiri di atas pendopo Kalisong adalah bebatuan yang tinggi menjulang ke langit, ialah yang disebut sebagai gunung api purba Nglanggeran.      Hasrat menyusuri dan mendaki bebatuan, menginjak tanah liat, dan merangkak pada tanah karang yang penuh liku sungguh menjadi tantangan namun menghibur hati.    Jiwa-jiwa petualang tentulah merasa terpanggil untuk menelusurinya.      Ada banyak pemandangan yang bisa dijumpai, entah tumbuhan dan pepohonan yang terlihat kasat mata, jenis bebatuan pun karang yang sangat memesona, ataupun keindahan alam yang memberikan kesejukannya.

Memang ada rasa lelah dalam perjalanan mendaki, apalagi kalau mengetahui medan yang harus ditempuh yang wajib menyediakan fisik prima, namun semua itu akan bisa terobati saat kita telah sampai di ketinggian gunung api purba. Dari puncaknya kita akan bisa menikmati keindahan alam sekitar, termasuk lamat-lamat  bisa pula melihat deburan ombak laut selatan (samudera Hindia) dikejauhan. Selain itu ada pula beberapa keunikan yang bisa ditemui.

Keunikan Gunung Api Nglanggeran

Nglanggeran memiliki asal kata “Planggaran”  yang berarti setiap ada perilaku jahat pasti tertangkap dan ketahuan.  Selain itu, ada pula yang menuturkan bahwa Nglanggeran berasal dari kata Langgeng, yang memiliki definisi menjadi desa yang aman, nyaman dan tentram.               Gunung yang ada di Kalisong ini memnag lebih dikenal dengan nama Gunung Nglanggeran, akan tetapi ada sebagian pula yang menjulukinya sebagai ‘gunung wayang’  alasannya karena gunung yang tersusun dari bebatuan ini ada yang menyerupai tokoh pewayangan, ditambah lagi ada kepercayaan adat Jawa yang menyatakan bahwa Gunung Nglanggeran juga dijaga oleh Kyi Ongko Wijoyo dan anggota Punokawan, yaitu Kyai Semar, Kyai Nolo Gareng, Kyai Petruk, dan Kyai Bagong.

  • Pohon Termas

Termas adalah jenis tanaman obat yang telah lama ditemukan oleh nenek moyang masyarakat sekitar Gunung Nglanggeran, yaitu dilokasi lereng Gunung Nglanggeran tepatnya berada di sebelah timur Sumber Kalisong. Berjarak kurang lebih 100 meter dari Sumber kalisong, pohon Termas hidup menempel di lereng-lereng Gunung Nglanggeran.              Dan telah lama dipeercaya pula bahwa pohon termas ini memiliki khasiat menyembuhkan segala penyakit.    Hanya saja tak sembarang orang bisa mengambil dan memanfaatkan getah dari tanaman berbentuk menjalar ini, kecuali sang juru kunci.

  • Tujuh Kepala keluarga

Berada di puncak Gunung Nglanggeran tersedia hal unik yang jarang bisa dijumpai pada tempat lain, dan  sampai saat ini keunikan itu tetap masih terjaga. Ialah satu area yang hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga saja.      Sesuai sesepuh pepunden dusun Tlogo, ada salah satu lokasi di Nglanggeran yang hanya boleh dihuni oleh Mpu Pitu (kelompok 7 kepala keluarga), maka tradisi dan kepercayaan ini tetap dipatuhi dan dijaga secara turun temurun , karenanya ketika ada anggota keluarga baru yang telah menikah harus ada yang rela meninggalkan lokasi tersebut.

  • Arca Tanpa Kepala

Di sekitar Tlogo Mardidho, satu lokasi di gunung api purba Nglanggeran, terdapat arca tanpa kepala yang tubuhnya sampai saat ini masih tetap disimpan.

Menurut cerita, pada masa lampau arca tersebut merupakan bentuk satu kesatuan utuh. Namun ketika arca tersebut dijauhi menyajikan senyuman, padahal ketika didekati kembali arca tersebut tetap mewujud sebagai arca biasa. Karena perilaku itulah maka Kyai Tir menjadi marah dan lalu menendangnya hingga terpisah antara kepala dan tubuhnya.              Selanjutnya tubuh arca itu dibuang ke sebuah Song yang di kemudian hari Song tersebut bernama Song Putri.      Sementara selang bertahun lamanya kepala arca ditemukan kembali oleh salah satu warga Nglanggeran yang bernama Kyai Kromo Suwito (Paimin), yaitu pada sekitar tahun 1961 dipekarangannya. Wujud kepala arca menyerupai Ken Dedes dengan kepala perunggu dan bibir berlapis emas.    Saat ini kepala arca disimpan di Museum Sono Budoyo Yogyakarta sedangkan tubuhnya masih tersimpan di Kalisong Gunung Api Purba Nglanggeran.

  • Cerita Rakyat

Warga desa sekitar Gunung Nglanggeran banyak memiliki cerita rakyat dan juga cerita mitos yang masih diceritakan secara turun temurun, diantaranya adalah cerita mitos tentang tlogo wungu. Penduduk sekitar Nglanggeran meyakini bahwa Tlogo Wungu merupakan tempat pemandian para bidadari. Namun tak semua orang bisa melihat keberadaan tlogo gaib ini, hanya saja terdapat sebuah sumber bernama “sumber comberan” yang diyaqini menjadi muara mengalirnya air tlogo wungu.

  • Pantangan Kebudayaan

    1. Tatkala ada perhelatan kesenian Wayang Kulit, posisi duduknya sang dalang dilarang membelakangi Gunung Nglanggeran.
    2.  Laon dalam cerita wayang tidak boleh yang bersangkutan dengan Ongko Wijaya yang disakiti.
    3. Dialarang menggelar pertunjukan wayang kulit di zona bagian Utara Gunung Nglanggeran.
  • Kepercayaan Mistis

Masyarakat memercayai bahwa penguasa desa Nglanggeran, Kyai SOYONO, memiliki klangenan (binatang kesayangan) berujud Macan Putih. Macan Putih ini  dipercaya mampu menjaga dan mengamankan Nglanggeran dari berbagai macam kejahatan. Kepercayaan ini menguat setelah beberapa kali dibuktikan ikhwal selalu tertangkapnya orang yang bertindak jahat.

Demikian mengenai ekowisata gunung api purba Nglanggeran, tempat yang bisa dinikmati dalam segala suasana, dimana golden moment tetap bisa ditemukan dalam waktu apa saja, baik pada masa tenggelamnya matahari (sunset), terbit matahari (sunres), ataupun pada tengah malam kala bintang dan bulan berhamburan di langit. Bahkan dikejauhan juga nampak indahnya Gunung Merapi, sementara tak jauh dari gunung api purba tersebut terdapat pula tempat wisata indah yang juga bisa dinikmati, yaitu Embung Nglanggeran.               Apabila berkeinginan mengunjungi tempat wisata ini, selain disarankan untuk menyiapkan tenaga, juga akan lebih nyaman apabila melengkapi perjalanan dengan menambahkan alat secukupnya, seperti lampu penerang (senter) dan juga  sepatu pun sandal yang mendukung dalam pendakian. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Gunung Nglanggeran. www.wikipedia.com Diakses pada 26 Agustus 2014

[2] Gunung Api Purba www.gunungapipurba.com  Diakses pada 26 Agustus 2014

[3] Gambar ‘Menunggu pun Mengantri’  Utroq Trieha. Dilisensikan sebagai CC BY 2.0. pic.ikanmasteri.com  Diakses pada 26 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

22 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here