Asal-usul HIK, Wedangan dan Angkringan sebagai Sosialita Keramahan

16
14405
Sejarah asal-usul HIK, Wedangan Angkringan
Sejarah asal-usul HIK, Wedangan Angkringan (Source: playindonesia.com)

Tatkala berkunjung ke Yogyakarta, di beberapa ruas jalan dan juga di pojokan gang ada yang tak bisa Anda hilangkan dari pandangan mata. Yaitu pemandangan berujud gerobak yang diselimuti terpal ataupun kain lebar dan juga dilengkapi tungku serta bara api. Di seputar gerobak tersebut kadang terdapat pula beberapa orang yang sedang duduk santai, nangkring di atas bangku sambil menikmati sesuatu, entah menikmati obrolannya, menikmati hidangan makanan, ataupun menikmati hidangan minumannya.    Pada malam hari pun dini hari, suasana seperti itu tetap bisa Anda saksikan di beberapa sudut kota budaya, bahkan dilengkapi juga dengan remang-remang lampunya.

Tak lain, yang berselimutkan terpal itu adalah gerobak penjaja berbagai jenis minuman dan juga makanan. Sementara orang-orang yang mengerumuninya, selain penjual tentu saja adalah pembelinya.       Jadi yang acap menikmati obrolan itu bukan saja pembelinya, namun juga penjualnya.

HIK, Hidangan Istimewa Kampung Klaten

Asal-usul HIK, Wedangan Angkringan Jogja at Rumah Blogger Indonesia RBI SOlo
Wedangan RBI (Rumah Blogger Indonesia) Solo (Source: blontea.wordpress.com)

Gerobak yang mangkal di beberapa sisi kota pelajar Jogjakarta tersebut, awalnya bernama HIK, singkatan dari Hidangan Istimewa -ala- Kampung ataupun Hidangan Istimewa Klaten.

Mengapa disebut HIK?

Dari cerita yang ada, sekitar tahun 1950 sesosok wajah bersahaja dari Cawas – Klaten bernama Mbah Pairo mengadu nasib merantau ke kota di sebelah barat kampungnya, Yogyakarta. Kedatangan Mbah Pairo tersebut memiliki tujuan berjuang demi menakhlukan kemiskinan yang dialami keluarga akibat ketiadaan lahan subur untuk bercocok-tanam.   Cawas pada waktu itu adalah daerah tandus dan gersang yang secara adminstratif masuk wilayah  kabupaten Klaten,  Propinsi Jawa Tengah.       Seperti menemukan keberuntungan, perjuangan Mbah Pairo di kota Jogja menuai keberhasilan, hal itu diperkuat oleh kenyataan bahwa generasi keturunannya juga meneruskan perjuangannya di Jogjakarta, ialah ‘angkringan Lik Man’ yang berada di sebelah utara stasiun Tugu.

Pada awalnya Mbah Pairo berjualan makanan kecil dan juga minuman dengan cara dipikul dan ngider berkeliling keluar masuk gang kampung serta perkotaan. Sambil membawa beban pikulan tersebut Mbah Pairo juga berteriak menawarkan dagangannya; ‘Hiiik…iyeek,‘   dan selain berteriak Mbah Pairo juga memukulkan piring, mangkok ataupun gelas dengan menggunakan sendoknya, sehingga  mulai saat itu orang menyebutnya dengan julukan  ting-ting hik.   Lebih gampangnya disebutlah sebagai HIK, yang oleh sebagian orang diartikan sebagai singkatan dari “Hidangan Istimewa Kampung.”

Wedangan

Mbah Pairo tak sendirian, pasalnya pada era yang tak jauh rentang waktunya bukan Mbah Pairo saja yang rela meninggalkan kampung halaman dan selanjutnya menjalani perjuangan menaklukan kemiskinan, bukan dari daerah Cawas saja, namun juga dari Bayat (masih wilayah Klaten juga -red). Dan bukan sebatas menuju ke kota Yogyakarta saja, mereka ini mengadu nasib, karena sebagian yang lainnya juga menuju arah timur, yaitu di kota Sala atau dikenal juga sebagai kota Surakarta.

Polanya hampir serupa dengan yang dilakukan oleh Mbah Pairo, yaitu ngider dan memikul makanan pun minuman yang dijajakan, juga sambil berteriak serta menabuh gelasnya.     Maka orang Solo generasi dulu juga mengenalnya dengan sebutan HIK.   Hanya saja seiring perkembangan jaman, warga Solo saat ini lebih mengenalnya dengan julukan ‘wedangan,’ hal ini tak bisa dipungkiri karena memang ada berbagai macam dan jenis wedang (air minum) yang dijajakan.

Angkringan

Serupa di Solo, di Jogja akhirnya HIK juga lebih menggema dengan julukan ‘angkringan.’  Hal ini sebagaimana telah digambarkan di atas, bahwa orang-orang yang berkerumun dan menikmati obrolan dan juga menikmati hidangan adalah mereka yang gemar duduk santai sambil nongkrong nangkring dan juga “methangkringke sikile” (mengangkat salah satu kakinya dibangku -red).

Baik angkringan di Jogja ataupun HIK di Solo, keduanya memiliki awal yang serupa, menawarkan jajanan kepada warga dengan cara memikul jajanannya berkeliling dari kampung ke kampung. Namun pada perkembangannya sistem ini mengalami perubahan, yaitu menjadi semacam warung kaki lima berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal ataupun plastik. Jika dahulu identik dengan waktu malam hari, yaitu sejak bakda Maghrib hingga jelang Subuh, maka hal itu kini juga mengalami pergeseran, karena di beberapa sudut kampung akan dengan mudah pula menjumpainya pada waktu siang hari.

Menu Angkringan, Wedangan, dan HIK

Awalnya menu angkringan, wedangan ataupun HIK ini tak begitu variatif, hanya sebatas jajanan saja. Kalaupun ada makanan khas, kemungkinan besar hanyalah makanan khas daerah sekitar  operasionalnya, misanya kalau di Solo yang terkenal dahulu adalah hidangan nasi langgi, dan di Jogja adalah nasi kucing.      Hanya saja seturut perkembangan jaman , orang berjualan juga dituntut kreatif serta inovatif. Dari sini tersajilah menu-menu lainnya.

Sampai saat ini nasi kucing masih menjadi hidangan khas angkringan. Nasi kucing dalam bahasa Jawa dikenal pula dengan istilah Sega Kucing.   Dinamakan sego kucing karena nasi yang tersaji dalam satu bungkusnya hanya sedikit sedangkan isinya hanya sebatas ditambah sambel kering, ikan teri goreng, ataupun tempe orek. Layaklah kalau nasi itu hanya pantas disajikan kepada binatang bernama kucing. Untuk manusia besar kemungkinan tak cukup satu bungkus dalam mengonsumsinya.

Selain nasi kucing, pada grobak angkringan, wedangan ataupun HIK, dilengkapi pula dengan hidangan sate telur puyuh, sate usus, sate ceker, kepala ayam bakar, ikan bandeng, dan juga bermacam gorengan. Semua hidangan itu  menjadi menu tambahan. Sementara untuk jenis minuman, pada umumnya penjual angkringan pun wedangan tetap melayani berbagai macam permintaan, baik wedang jahe, wedang uwuh (berbahan rempah-rempah), susu jahe, teh manis, air jeruk dan kopi, dan jenis minuman lain dari yang panas sampai yang dingin (diberikan es).

Murah dan Tetap Bisa Menikmati

Angkringan adalah suasana yang dibangun secara santai, tak ada batasan usia, jenis kelamin, suku, pun agama, semua berkumpul di sana.  Segala profesi juga merasa ‘welcome’ untuk menikmati hidangan yang ada di angkringan ini. Bukan saja sebatas hidangan makanan ataupun minuman, lebih dari itu adalah hidangan berupa ruang terbuka untuk melepaskan lelah, mengeluarkan uneg-uneg kepada siapapun, dan hidangan berujud tempat bersenda-gurau.

Mungkin awalnya angkringan, wedangan pun HIK adalah tempat istirahat bagi pekerja kasar dan rakyat kecil kelas rendahan. Itu tak bisa dipungkiri, sebab yang banyak berkumpul di sana adalah para sopir, tukang becak, buruh, tukang parkir, dan juga kusir pedati.      Akan tetapi sesuai perkembangan,  angkringan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang intelek yang rela terbuka ngobrol dan berbagi kepada siapapun. Tak peduli kepada orang bodoh dan pekerja kasar, tak risau pula becanda dengan anak kecil penikmat nasi kucing.  Hal ini tak lepas dari keberadaan angkringan yang makin marak di kota Yogya sebagai kota budaya dan kota pelajar, di mana Jogja menjadi tempat berkumpulnya beragam lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, seniman, pegawai kantor, bahkan juga pejabat.

Menjadi Tempat Bersosialisasi

Dari jenis makanan pun minuman yang dihidangkan, tak ada cocktail, tiada beef Sirloin, pun tak tersedia steak tenderloin. Artinya, tak ada yang istimewa dari apa yang disajikan pada angkringan. Ini memberikan pemahaman bahwa semua yang tersaji di angkringan pun wedangan adalah makanan “wong cilik”  yang apa adanya.         Dari apa adanya ini, ada budaya wong cilik yang blaka-suta alias blak-blakan apa adanya tanpa ada motif tersembunyi dan penuh konspirasi.    Keramahan dan kehangatan yang terciptapun menjadi hal lumrah dan memiliki nilai keunikan tersendiri, bahwa rakyat jelata yang kadang pendidikannya juga tak tinggi ini tetap menyediakan semangat saling menghargai tradisi dan kesederhanaan.

Kebebasan yang tercipta di angkringan telah lama dipraktekan bahkan jauh sebelum negeri Indonesia ini menggaung-gaungkan paham demokrasi, sebab di angkringan orang boleh makan apa saja, makan sambil tiduran, minum sambil mengangkat kaki, ngobrol sambil berteriak atau misuh (mengeluarkan sumpah-serapah -red).   Semua dimerdekakan, yang membatasi hanyalah norma sosial.

Lebih dari itu, angkringan juga menjadi ajang diskusi oleh siapapun, tak peduli dari aroma, warna kulit dan agama apa saja, termasuk orang yang baru dikenal saat itu juga.  Jadi selama tungku dan minuman masih hangat, maka selama itu pula kehangatan dan keramahtamahan suasana angkringan akan tetap terjaga.     Antara pembeli dan penjualpun tak terdapat sekat, jarak ataupun batas untuk membedakan. Keduanya menyatu selaras. Ada keterhubungan, dimana hubungan itu nyata adanya tatkala pembeli bisa secara langsung ‘request’ hidangan sesuai keinginan. Sebaliknya, penjualpun juga tanpa sungkan bisa meminta pendapat dari pembeli.

Tradisi modern lambat-laun memang telah mengadopsi konsep angkringan untuk dibawa oleh para pemodal menuju ke ranah yang lebih tinggi sebagaimana kelas caffee. Namun melihat suasana yang telah dibangun dari jiwa HIK, tentu suasana ini tak mudah pula untuk digantikan. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Sejarah asal Mula Warung Angkringan, www.playindonesia.com. Diakses pada 27 Agustus 2014

[2] Gambar Angkring Baru, BlontankPoer. Dilisensikan sebagai CC BY 2.0. blontea.wordpress.com Diakses pada 27 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

16 COMMENTS

  1. […] Di akhir acara penutupan, terdapat hal yang menarik pasalnya usai Everyday Band tampil sejatinya MC juga telah berpamitan menutup acara, sementara lampu-lampu panggung juga sudah dipadamkan. Saat itu sebagian penonton juga telah mulai meninggalkan lokasi acara, walau sebagian lainnya enggan beranjak seperti tak rela dengan berakhirnya acara. Dan ketika waku berlalu beberapa saat lamanya dalam kegelapan, lampu panggung malah dinyalakan kembali. Selanjutnya tiga sosok manusia yang tak lain adalah Ketua Umum, Ketua II, dan Ketua III FKY 26, dengan jenaka dan penuh canda mereka memanggil penampil utama sekaligus tamu misteri lainnya di panggung pemungkas FKY 26 ini, ialah Shaggy Dog, grup musik beraliran “reggae” asal Sayidan, Yogyakarta. […]

  2. […] Menyaksikan kebersamaan dan gotong-royong dalam proses terjadinya pertunjukan ngayogjazz yang telah digelar sejak tahun 2007 ini, ada hal yang bisa diambil maknanya, bahwa lokasi yang dari tahun ke tahun selalu berpindah dan bahkan ada yang menengarai tidak lumrah, memberikan signal kepada khalayak bahwa musik jazz yang selama ini identik dengan kaum borju, toh di Jogja bisa merakyat, mampu menyapa siapa saja tanpa harus membedakan kelas strata sosial. […]

  3. […] Sebagai kota pelajar serta kota budaya, Yogyakarta juga tak asing dengan kegiatan ilmiah, akademisi, dan juga seni.   Dari sisi fashion, kota dengan slogan “berhati nyaman” ini terkenal pula dengan kaos dagadu, berbagai jenis pakaian batik, dan pakaian Jawa, baik berujud surjan serta dilengkapi topi ‘blangkon’nya.        Dari jenis kuliner, selain gudeg, Yogya juga dikenal sebagai penghasil bakpia, sate, klathak, salak-pondoh, geplak, gaplek, dan varian makanan di angkringan sega kucing. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here