Sejarah Asal-usul Bendera dan Sang Saka Merah-Putih

8
4195
Sang Saka Dwiwarna Merah-Putih
Sang Saka Dwiwarna

Pengibaran bendera, umbul-umbul, ataupun panji-panji pada moment tertentu adalah hal yang biasa dilakukan. Selain demi memperingati sebuah acara, pengibaran bendera adalah juga menandai sebuah kelompok yang ada di dalamnya. Untuk mengetahui seluk-beluk bendera ini, studi yang menekuninya dikenal dengan julukan vexillology.

Sebagaimana ujudnya, bendera adalah sepotong kain yang secara simbolis digunakan untuk memberikan sinyal ataupun identifikasi pada sekelompok yang memilikinya. Sekelompok ini bisa jadi kelompok kecil yang juga acap disebut “regu” ataupun sekelompok besar, baik sebuah organisasi ataupun institusi. Negara adalah salah satu bagian kelompok yang memiliki bendera.

Sebelum berevolusi sebagai sinyal pun identifikasi, pada awalnya bendera difungsikan guna membantu koordinasi setiap anggota militer di medan perang . Hal itu diterapkan karena kondisinya ditantang untuk cepat tanggap pada lingkungan tanpa perlu mengeluarkan informasi berlebihan. Pada perkembangannya, selain sebagai “umbul-umbul” signal, bendera juga difungsikan sebagai alat mengirimkan pesan antara lain berujud sandi semaphore.

Bendera Negara & Maritim

Masa awal penggunaan bendera adalah di negeri India serta Cina. Namun pada abad 13 negara Denmark juga telah mengibarkan sebuah bendera yang acap disebut sebagai Dannebrog, yang diinspirasikan dari desain salib. Di Nusantara ada pula istilah “gula kelapa” yang acap dikibarkan oleh patih Gadjah Mada dalam mengibarkan panji-panjinya. Gula kelapa pada akhirnya juga menjadi salah satu inspirasi para pendiri bangsa guna memilih dan menentukan warna bendera Indonesia, Sang Saka Merah-Putih. Sedangkan negeri Belanda dijuluki sebagai “The Tricolour,” sebab mereka ditengarai menjadi pelopor bendera triwarna yang selanjutnya juga diadopsi negara-negara lain. Yaitu tahun 1572 memunculkan bendera pangeran yang berwarna oranye-putih-biru.

Sementara dalam peperangan, tanpa harus bersepakat sepertinya telah tercipta kesepakatan berujud pengibaran “panji-panji” ataupun ‘tanda-tanda’ pada setiap kelompoknya. Sebagai contoh di medan perang, legiun Romawi mengibarkan sepotong kain bergambar elang yang dibawa oleh salah seorang pasukan berkuda.

Pada awal abad ke-17, kebiasaan mengibarkan bendera itu “semacam” telah menjadi kebiasaan bersama. Oleh karenanya secara umum kemudian juga dianggap sebagai ‘persyaratan hukum’ yang harus diterapkan pada setiap kapal laut, yaitu mewajibkan setiap armada laut untuk mengibarkan bendera kebangsaannya. Dan pada awal abad 18, penggunaan bendera menyebar bukan saja sebatas pada konteks militer serta maritim, akan tetapi muncul pula sentimen kenegaraan (nasionalisme), sehingga pada abad 19 bendera nasional juga menjadi “persyaratan wajib” bagi sebuah negara. Dari kebiasaan yang mengarah pada ‘persyaratan hukum wajib’ inilah, maka berkembang menjadi ‘bendera nasional‘ dan juga bendera maritim.

Bendera Nasional

Penggunaan paling populer adalah bendera yang dikibarkan demi mengidentifikasikan sebuah negara, dikenal dengan sebutan bendera nasional, yaitu simbol patriotik dari sebuah bangsa. Sehingga setiap pengibaran bendera lain yang merujuk pada identifikasi kelompok pun kedaerahan, keberadaan bendera nasional adalah hal yang diharuskan.

Bendera lain yang berposisi dibawah bendera nasional tersebut bisa dikategorikan sebagai bendera sipil yang di dalamnya termasuk juga bendera insitusi militer. Sementara yang lebih luas dari bendera nasional tentu saja adalah bendera internasional, sebagai contoh adalah bendera Olimpiade, bendera Paralimpiade, Bendera ASEAN, Bendera Uni Eropa, dan Bendera PBB.

Sang Saka Merah Putih

Bendera Negara Dwiwarna Sang Saka Merah Putih memiliki standar bentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebarbarnya adalah 2/3 (dua-pertiga) dari panjang. Sementara untuk bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih, keduanya harus berukuran sama.

Catatan sejarah menyatakan bahwa warna merah-putih pada bendera Indonesia itu diinspirasikan dari warna panji-panji (pataka) Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Selain terkenal dengan istilah ‘gula-kelapa’ yang identik dengan warna merah putih, ada pula yang menengarai bahwa pemuliaan terhadap warna merah-putih itu awalnya berasal dari mitologi bangsa Austronesia yang menyatakan tentang “bunda bumi” dan “bapak langit,” dimana bumi dilambangkan dengan warna merah-tanah, sedangkan warna putih adalah manifestasi dari langit. Hal itu diperkuat dengan kerap munculnya warna merah dan putih pada lambang-lambang Austronesia yang menghampar dari Tahiti, Indonesia, sehingga Madagaskar, yang kemudian dua warna ini diterapkan sebagai lambang dualisme alam yang saling berpasangan.

  • Merah-Putih Majapahit, Kediri, Bugis, Batak, Badung & Aceh

Catatan lain menyatakan penggunaan bendera merah putih bisa dijumpai dalam Kitab Pararaton, yang menyebutkan bahwa balatentara Jayakatwang dari kerajaan Gelang-gelang mengibarkan panji-panji merah-putih tatkala bertempur melawan Singasari. Ini mengindikasikan, sejatinya sebelum masa Majapahit warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan, apalagi ada kecenderungan tentang pembuatan panji merah putih yang telah dilakukan melalui teknik pewarnaan tekstil pada zaman Indonesia purba. Bahwa warna putih merupakan warna alami kapuk-kapas yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah secara natural bisa didapatkan dari pepohonan, antara lain dari daun jati, bunga belimbing wuluh (averrhoa bilimbi), ataupun dari kulit buah manggis.

Selain kerajaan Majapahit, kerajaan Gelang-Gelang, ataupun kerajaan Kediri, sejatinya juga ada sejarah lain yang menerapkan merah putih sebagai bendera kebesaran. Yaitu panji-panji perang Sisingamangaraja IX di tanah Batak yang mengibarkan bendera berupa gambar pedang kembar warna putih dengan latar warna merah menyala & putih. Tradisi warna merah-putih ini dilanjutkan juga sampai pada perang Sisingamangaraja XII. Tak ketinggalan pula saat perang Aceh yang serupa dengan perang Sisingamagaraja, para pejuang Aceh juga menggunakan bendera perang berujud umbul-umbul warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Zaman kerajaan Bugis Bone, Sulawesi Selatan, sang saka Merah Putih merupakan simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone yang lebih dikenal dengan nama Woromporang. Begitu pula ketika jaman keemasan kerajaan Badung, panji-panjinya memiliki warna merah-putih-hitam yang ditengarai juga berasal dari warna Majapahit.

  • Merah-Putih Perang Diponegoro

Perang Jawa yang berlangsung sejak 1825 hingga 1830 adalah perang besar dan merupakan perang-modern-awal dengan korban luar biasa, karena lebih dari 15.000 serdadu Belanda tewas, sementara lebih dari 200.000 penduduk Mataram Yogyakarta juga sirna. Saat di pertempuran melawan kolonial Belanda, Pangeran Diponegoro acap juga mengibarkan panji-panji warna merah putih yang pada awal abad 20 panji-panji itu disemarakkan kembali oleh para mahasiswa sebagai ekspresi nasionalisme menghadapi Belanda. Hal ini dibuktikan dengan berkumpulnya para pendahulu kita di Surabaya tahun 1928, yaitu dengan ditandai peringatan Sumpah Pemuda.

Pada era pemerintahan kolonialisme Hindia Belanda, terjadi pelarangan pengibaran bendera merah-putih. Hingga akhirnya sang saka resmi dijadikan sebagai bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu tatkala terjadi proklamasi kemerdekaan RI.

  • Filofosi Sang Saka Merah Putih

Dari perjuangan Gadjah Mada yang terkenal dengan sumpah Palapa, ada istilah lain pula yang tak kalah menariknya, yaitu bendera ‘gula-kelapa,’ dimana selanjutnya itu menjadi salah satu acuan untuk meyakinkan diri memilih warna merah-putih.

Selain merupakan manifestasi ibu bumi dan bapak langit, secara filosofi merah putih memiliki arti, merah sebagai “berani” sedangkan putih berarti “suci.” Itu melambangkan manusia dan jiwanya, bahwa sebagai manusia yang sudah seharusnya memanusiakan orang lain, maka kita ini tak cukup dengan lambang merah berujud ragawi, namun butuh putih sebagai menifestasi sebuah “kesucian” yang tumbuh dari jiwa sejati. Sebagaimana merah putih yang tak bisa dipisahkan, jiwa dan raga inipun tak bisa dipisahkan pula, keduanya harus ada guna saling melengkapi dan menyempurnakan manusia, tentu guna membangun kesejahteraan warga Indonesia.

Pada istilah gula-kelapa, terdefinisikan juga bahwa jika merah adalah gula, namun putih tak hanya sebatas diidentikan dengan kelapa. Lebih dari itu, putih bisa pula dianalogikan sebagai nasi, yaitu salah satu bahan makanan khas Indonesia. Warna merah-putih pada nasi itu juga identik dengan bubur -merah putih- yang tersaji dalam upacara selamatan kandungan dan kelahiran bayi. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Bendera www.wikipedia.org. Diakses pada 31 Agustus 2014

[2] Bendera Indonesia www.wikipedia.org. Diakses pada 31 Agustus 2014

[3] Gambar Flag of Indonesia. Dilisensikan sebagai CC BY 2.0. www.wikipedia.org Diakses pada 31 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

8 COMMENTS

  1. […] Disamping mengenal orang-orangan sawah yang berfungsi untuk mengusir burung, masyarakat petani di Jawa, utamanya di daerah Yogyakarta mengenal pula satu tanda yang diletakkan ataupun ditancapkan pada salah satu bagian persawahan, bisa ditengah-tengah sawah ataupun di pematangnya. Tanda yang terbuat dari sebatang kayu atau sebilah bambu tersebut bernama anjir. Anjir merupakan tanda yang memiliki ukuran panjang sekitar 2 meter dan biasanya juga dilengkapi dengan bendera. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here