Letusan Gunung Samalas –Barujari di Lombok Lebih Dahsyat dari Tambora dan Krakatau

19
18931
Danau Segara Anak sebagai sisa struktur awal Gunung Samalas (Gunung Barujari)
Danau Segara Anak sebagai sisa struktur awal Gunung Samalas (Gunung Barujari)

BARUJARI (SAMALAS), Tambora, Krakatau, Toba, dan beberapa lainnya adalah nama-nama gunung ataupun danau (telaga) dengan sejarah cukup panjang dan mendunia karena latar-belakangnya mampu membuat perubahan beberapa peradaban.

Dimulai dari catatan sejarah mengenai kehebatan dari meletusnya Gunung Krakatau yang terletak di antara Pulau Jawa serta Pulau Sumatera, tepatnya berlokasi di Selat Sunda.   Krakatau meletus pada tanggal 26-27 Agustus 1883 yang menimbulkan awan panas serta tsunami. Letusan tersebut membawa akibat meninggalnya sekitar 36.000 jiwa. Sementara, suara letusan  terdengar hingga di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues yang berdekatan dengan Afrika. Selain itu letusan Krakatau juga menyebabkan perubahan iklim global, lantaran dunia sempat gelap selama dua setengah hari. Hal tersebut  diakibatkan atmosfer bumi yang tertutup oleh debu vulkanis, sehingga sinar matahari juga tak cerah hingga satu tahun berikutnya.

Tahun 1927, yaitu 40 tahun pasca terjadi letusan dahsyat Gunung Krakatau, muncullah  gunung berapi yang dikenal dengan nama  Anak Krakatau.  Gunung Anak Krakatau tumbuh dari kawasan kaldera purba gunung Krakatau dan terus bertumbuh hingga membuat tingginya semakin bertambah.

Letusan Gunung Toba

Ketika mendengar kata ‘Toba’, orang mungkin akan langsung merujuk pada sebuah tempat indah berujud danau; Danau Toba. Toba yang terletak di Sumatera Utara memiliki panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer ditengarai berasal dari gunung yang pernah meletus dahsyat.

Memang tak ada catatan sejarah yang menceritakan kedahsyatan dari letusan gunung Toba. Hal ini bisa dipahami karena peristiwa letusan terjadi pada masa yang cukup lama dan belum ada perdaban yang mencatatnya. Namun jejak letusan gunung Toba tetap masih bisa ditelusuri berdasarkan pada pendeteksian jejak-jejak geologisnya. Van Bemmelen, seorang geolog asal Belanda, pada tahun 1939 melaporkan  bahwa danau Toba dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung berapi. Letusan dahsyat dari gunung Toba itu dikenal juga dengan istilah Youngest Toba Tuff (YTT).

Laporan Van Bemmelen semakin diperkuat oleh hasil penelitian beberapa ahli, dengan penjelasan lebih detail, bahwa kaldera Toba tercipta melalui tiga kali letusan raksasa. Yang pertama sekira 840.000 tahun lampau dan yang terakhir adalah 74.000 tahun yang lalu.

Partikel letusan dahyat dari gunung Toba bukan saja sebatas sampai di daratan Malaysia ataupun India Tengah, tetapi juga diyakini tersebar ke seluruh antero dunia. Sisa ledakan dahsyat tersebut menimbulkan partikel asam belerang di inti es dan  berhasil mendinginkan samudra. Tak elak hal ini pun menjadi penyebab kekacauan iklim di masa lalu, salah satunya adalah terjadinya perubahan mendadak dari panas menjadi dingin.

Saat Toba meletus, jutaan ton asam sulfat dilepaskan ke stratosfer sehingga menciptakan kegelapan total selama enam tahun dan suhu beku sedikitnya 1.000 tahun, lalu diikuti cuaca dingin ribuan tahun. Fotosintesis melambat, bahkan hampir mustahil terjadi, menghancurkan sumber pakan manusia dan hewan. Vulkanolog mengadopsi istilah humongous untuk letusan Toba guna menggambarkan bencana global yang nyaris memusnahkan spesies manusia di Bumi ini. [nationalgeographic]

Letusan Gunung Tambora

Tak kalah hebatnya dengan letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, ada pula letusan dahsyat dari Gunung Tambora pada 1815.  Abu vulkanis letusan Tambora yang berlokasi di Nusa Tenggara Barat ini  mampu menutupi langit Eropa. Berbarengan dengan itu terjadi peristiwa yang cukup menggelikan, yaitu Napoleon Bonaparte yang menghentikan sementara peperangan,  bahkan disinyalir mengalami kekalahan perang akibat gangguan dari letusan Tambora itu.

Letusan Tambora diyakini menyebabkan kematian hingga mencapai angka 71.000 orang. Sejumlah 11.000 hingga 12.000 di antaranya terbunuh secara langsung.  Catatan lain menyatakan bahwa letusan gunung Tambora mampu membuat dunia tak lagi memiliki musim panas. Hal tersebut diakibatkan oleh abu vulkanis yang menyelimuti bumi.  Letusan Tambora itu juga mampu mengubur beberapa peradaban di seputar lokasi Tambora.  Beberapa arkeolog pada tahun 2005 melaporkan adanya sisa kebudayaan yang terkubur di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik (awan panas, wedhus gembel).

Kedahsyatan letusan Tambora ini sangat bisa dipahami dengan merujuk ukuran yang disebut Volcanic Explosivity Index (VEI), yaitu indeks letusan gunung –mirip skala Richter pada ukuran kekuatan gempa.  Jika menilik skala Volcanic Explosivity Index ada pada angka 1 hingga 8, lalu letusan Gunung Tambora tahun 1815 itu berada pada skala 7, tentu itu artinya letusan yang terjadi sangatlah dahsyat. Sebagai gambaran, letusan gunung Merapi tahun 2010 lalu ada pada skala 4 Volcanic Explosivity (VEI).

Fenomena –Letusan Gunung Samalas

Gambar rekonstruksi sebelum letusan ini, Lokasi Samalas berada di bagian barat segara anak
Gambar rekonstruksi Lokasi Samalas (Source; sasak.org)

Nusantara memang berlimpah kekayaan alam, salah satunya adalah gunung berapi dengan beragam cerita. Banyaknya gunung berapi menyisakan catatan sejarah yang menarik untuk disimak. Jika uraian sebelumnya menceritakan kedahsyatan letusan  Toba, Krakatau dan Tambora, paruh akhir tahun 2013 lalu muncul pula berita mencengangkan seputar Gunung Samalas. Berita mencengangkan tersebut bersumber dari penemuan para arkeolog yang meneliti  di area Gunung Samalas, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Para ahli meyakini Gunung Samalas –atau belakangan dikenal pula dengan nama Gunung Barujari– pernah mengalami letusan sangat dahsyat dan menyebabkan kerusakan di pelbagai belahan bumi. Bahkan gunung ini juga disebut sebagai penyebab perubahan iklim mendadak untuk wilayah Eropa dan sekitarnya pada abad pertengahan. Letusan gunung Samalas pada tahun 1257 disinyalir sebagai bencana yang bertanggung jawab terhadap kematian dan derita kelaparan besar warga Eropa. Dugaan tersebut dijelaskan dengan penemuan tulang-belulang di makam massal London, yang oleh para arkeolog diyakini  dibuat tepat pada 1258 .

Sebagaimana tertuang dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, letusan gunung Samalas yang masuk dalam kategori “ledakan termega” sejatinya sempat terekam jejak sejarahnya sekitar 800 tahun lampau. Namun tanpa diketahui alasannya, pada akhirnya catatan sejarah itu terlupakan. Jika merujuk pada skala Volcano Explositivy Index (VEI), besarnya letusan gunung Samalas ini 8 kali lebih dahsyat dibanding Krakatau dan 2 kali lebih besar ketimbang letusan gunung Tambora.  Bisa dibayangkan  kan kehebatannya?

Tidak mengherankan sekiranya perubahan iklim juga terjadi secara signifikan. Lantaran –sebagaimana pemaparan dalam beberapa teks zaman Pertengahan– ada yang menerangkan bahwa pada musim panas tahun 1258, cuaca justru malah menjadi dingin sepanjang tahun. Hujan juga tak kunjung reda dan mengakibatkan banjir.  Bukan tidak mungkin debu letusan Samalas mencapai dua kutub es dunia.

Awalnya para peneliti menduga tentang “pelaku” letusan besar pada tahun 1257 adalah gunung api Okataina yang berada di Selandia Baru ataupun El Chichón yang terletak di Meksiko. Namun, kedua gunung ini gagal memenuhi persyaratan untuk dikategorikan sebagai penyebab. Peneliti berhasil mengaitkan sebuah data yang didapat dari Lombok dengan jejak sulfur dan debu dari kutub. Salah satu metodenya adalah dengan mencocokkan penanggalan radiokarbon. Hasil keterkaitan antara  data dan bukti kesamaan debu vulkanis tersebut  mendorong para ahli untuk menyimpulkan bahwa hanya Samalas yang berhasil memenuhi syarat ketepatannnya.

Mengacu Franck Lavigne, ahli dari Pantheon-Sorbonne University Prancis, peneliti Samalas sempat kebingungnan menghubungkan beragam temuan penelitian tentang Samalas. Para peneliti juga menggunakan penelitian serupa investigasi kriminalitas untuk menelusuri rinci keterkiaitan antar anasir. Geokimia pada inti es pada akhirnya menjelaskan keterkaitannya. Selepas terjadinya erupsi gunung Samalas yang sangat dahsyat, terbentuklah kaldera Segara Anak, sedangkan Gunung samalas sendiri menjadi runtuh.

Penemuan kemiripan kadar belerang dan debu jejak es di kutub dengan balutan data yang terkumpul di wilayah Lombok, termasuk tanggal radiokarbon, dan jenis serta penyebaran batuan ataupun abu yang dikeluarkan menjelaskan fenomena ledakan gunung Samalas. Tak ketinggalan peneliti  turut memeriksa rangkaian pohon yang ada. Penelitian juga dilakukan dengan menelusuri catatan sejarah lokal yang menceritakan tentang jatuhnya kejayaan kerajaan di Lombok pada seputar abad 13. Salah satunya dengan mempelajari babad Lombok.

Asal Nama Samalas terkait Babad Lombok

Meski dikenal dengan nama Barujari, namun dalam sejarahnya ia tercatat sebagai Samalas. Yaitu sebuah nama yang tak banyak orang ketahui, begitupun dengan keberadaan gunungnya. Ini bisa dipahami, apalagi jika mengacu pada hasil penelitian Franck Lavigne yang menyatakan bahwa Gunung Samalas runtuh akibat terlalu banyaknya material yang dimuntahkan pada letusan terbesarnya tahun 1257. Letusan tersebut memuntahkan lebih dari 40 kubik kilometer batu dan abu. Ketinggian material vulkanik yang dimuntahkan ke udara mencapai lebih dari 40kilometer.  Ledakan dahsyat tersebut akhirnya menyisakan kaldera, yang lalu membentuk Segara Anak.

(Ingat, bukan Segara Anakan lho..! Karena Segara Anakan adalah tempat lain yang lokasinya berada di seputar Cilacap, Jawa Tengah. Sila baca juga: Nusa Kambangan: Pulau Penjara yang Memiliki Potensi Wisata Tersembunyi).

Sebagai tindak lanjut penelitiannya, nama Samalas kembali diperkenalkan oleh Franck Lavigne melalui publikasi hasil penelitiannya di Proceeding of National Academy of Science of the United Stated of America. Tulisan ilmiah dari peneliti Université Panthéon-Sorbonne – Prancis ini dimuat pada tanggal 4 september 2013 dengan judul Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia.

Franck Lavigne memperoleh nama Gunung Samalas tak lain adalah dari catatan yang ada di Babad Lombok. Sebagaimana pada babad tanah Jawa, Babad Lombok ini juga berisi banyak catatan. Sementara bahasa yang digunakan juga hampir mirip dengan bahasa Jawa Kawi ataupun bahasa Jawa tengahan. Babad ini dituliskan pada Lontar Jatiswara, yang pada tahun 1979 lalu ditulis kembali oleh Lalu Wacana kedalam lembaran kertas.  Kemudian Babad tersebut diterbitkan dalam Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pada butir 274 Babad Lombok dapat kita lihat satu kata “SAMALAS” yang dikisahkan pernah luluh lantak. Berikut selengkapnya;

  • 274. Gunung Renjani kularat, miwah gunung samalas rakrat, balabur watu gumuruh, tibeng desa Pamatan, yata kanyut bale haling parubuh, kurambangning sagara, wong ngipun halong kang mati.
  • 275. Pitung dina lami nira, gentuh hiku hangebeki pretiwi, hing leneng hadampar, hanerus maring batu Dendeng kang nganyuk, wong ngipun kabeh hing paliya, saweneh munggah hing ngukir.
  • 276. Hing jaringo hasingidan, saminya ngungsi salon darak sangaji, hakupul hana hing riku, weneh ngunsi samuliya, boroh Bandar papunba lawan pasalun, sarowok pili lan ranggiya, sambalun pajang lan sapit.
  • 277. Yek nango lan pelameran, batu banda jejangkah tanah neki, duri hanare menyan batu, saher kalawan balas, batu lawang batu rentang batu cangku, samalih tiba hing tengah, brang bantun gennira ngungsi.
  • 278. Hana ring pundung buwak bakang, tana’ gadang lembak babidas hiki, saweneh hana halarut, hing bumi kembang kekrang, pangadangan lawan puka hatin lungguh, saweneh kalah kang tiba, mara hing langko pajanggih.
  • 279. Warnanen kang munggeng palowan, sami larut lawan ratu hing nguni, hasangidan ya riku, hingLombok goku medah, genep pitung dina punang gentuh, nulih hangumah desa, hing preneha siji-siji.

Di bawah ini adalah hasil terjemahan oleh Lalu Muhamad Jaelani sebagaimana yang terkutip dari situs sasak[.]org;

  • 274. Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.
  • 275. Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.
  • 276. Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.
  • 277. DiNangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.
  • 278. Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik.
  • 279. Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.

Demikian adalah beberapa bunyi dari catatan yang ada di lontar, menceritakan Gunung Rinjani serta hikayat para raja pada zaman dahulu-kala. Bisa jadi dalam memahami bait-bait catatan itu, awam lebih memaknainya sebatas sebagai dongeng belaka. Namun kini, setelah mulai terkuaknya keberadaan Samalas, tentu ada kemungkinan orang-orang akan mulai melihatnya sebagai sebuah cerita yang berdasarkan fakta, yaitu cerita terjadinya letusan yang teramat dahsyat dari sebuah gunung bernama Samalas, sebagaimana gambaran yang terpaparkan dalam babad Lombok itu.

Nama-nama Peneliti Gunung Barujari

Sejatinya ada banyak ahli yang pernah meneliti keberadaan gunung Samalas alias gunung Barujari ini, namun kebanyakan dari mereka berjalan sendiri-sendiri. Baru pada tahun 2013 ada sebuah tim berjumlah 12 orang yang terdiri dari warga Indonesia dan beberapa pakar manca bersatu untuk meneliti. Tim dari berbagai macam disiplin ilmu itu dipimpin oleh Frank Lavigne yang berkebangsaan Prancis. Berikut selengkapnya;

  • Peneliti Dari Dalam Negeri
    1. Indyo Pratomo, geolog dari Badan Geologi Bandung
    2. Danang Sri Hadmoko dari Geografi Universitas Gadjah Mada
    3. Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
  • Peneliti Dari Manca Negara
    1. Frank Lavigne, Université Panthéon-Sorbonne, Prancis
    2. Jean-Philippe Degeai, Université Montpellier, Prancis
    3. Jean-Christophe Komorowski, Université Panthéon-Sorbonne, Prancis
    4. Sébastien Guillet, University of Bern, 3012 Bern, Switzerland
    5. Vincent Robert,  Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne, Prancis
    6. Pierre Lahitte, Université Paris-Sud, 91405 Orsay Cedex, Prancis
    7. Clive Oppenheimer, University of Cambridge, Inggris
    8. Markus Stoffel, University of Bern, 3012 Bern & University of Geneva, 1227 Carouge, Switzerland
    9. Céline M. Vidal, Université Panthéon-Sorbonne, Prancis
    10. Patrick Wassmer, Université Panthéon-Sorbonne& Université de Strasbourg, 67000 Strasbourg, Prancis
    11. Irka Hajdas, Eidgenössiche Technische Hochschule, 8093 Zürich, Switzerland
    12. Edouard de Belizal, Université Panthéon-Sorbonne, Prancis

Kerajaan-kerajaan di Tanah Lombok

Catatan sejarah menyatakan awalnya di kecamatan Sambalia -Lombok Timur berdiri sebuah kerajaan bernama Laeq yang selanjutnya bermigrasi dan membangun kerajaan baru bernama Pamatan yang terletak di Aikmel, atau saat ini terkenal dengan nama desa Sembalun yang lokasinya tak jauh dengan Gunung Samalas.  Tahun 1257, sesaat setelah Gunung Samalas meletus dengan dahsyat otomatis kerajaan ini hancur, sehingga warga yang masih tersisa menjadi tercerai-berai dan pergi menyelamatkan diri, hal ini tentu menjadi tanda berakhirnya kerajaan Pamatan dan lalu muncul kerajaan Suwung yang dipandegani oleh Batara Indera.

Kerajaan Suwung yang berlokasi di daerah Perigi ini tak lama juga hancur dan kemudian memunculkan kerajaan Lombok. Kerajaan Lombok sendiri selanjutnya juga mengalami kehancuran pada tahun 1357 akibat gempuran dari bala-tentara Majapahit, sementara Raden Maspahit sebagai penguasa kerajaan Lombok tak hendak mati konyol, melihat kekalahan itu dia melarikan diri masuk ke dalam hutan.   Hanya saja tatkala para prajurit Majapahit kembali ke tanah Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan dan kembali mendirikan kerajaan dengan nama Batu Parang yang pada perkembangannya lebih dikenal dengan nama Selaparang, yang kerajaan ini pada akhirnya juga mengalami dua kali periode. Yang pertama adalah periode Hindu berlangsung sejak abad ke-13 M hingga tahun 1357 M. Berakhirnya periode awal dari Selaparang ini tak lain akibat ekspansi yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit.     Sementara periode kedua adalah periode Islam yang berlangsung sejak abad ke-16 hingga abad 18, yaitu sekitar tahun 1740 M.    Berakhirnya periode kedua kerajaan Selaparang adalah karena adanya gempuran dari pasukan gabungan kerajaan Karang Asem, Bali dan Banjar Getas.

Mengacu pada jejak yang ada, sebelum abad ke-16 kerajaan Lombok berhasil ditakhlukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada, sehingga secara tak langsung kerajaan ini berada dibawah naungan kerajaan Majapahit.   Selanjutnya pada akhir abad 16 hingga awal abad 17, Lombok mendapat pengaruh banyak dari tanah Jawa yang telah membawa unsur Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri. Selain itu pengaruh dari Makassar juga sangat lekat, sehingga hal ini juga memengaruhi perubahan utamanya pada sisi agama di suku Sasak, yang sebelumnya Hindu beralih menjadi Islam.

Awal abad ke 18 M tatkala Lombok ditaklukkan oleh kerajaan Gel Gel Bali juga menyebabkan banyaknya jejak yang bisa dilihat, sebagai contoh adalah banyaknya komunitas Hindu Bali yang bertempat tinggal di daerah Mataram dan Lombok Barat. Selain itu beberapa Pura besar juga sangat mudah dijumpai pada kedua daerah tersebut. Hingga pada akhirnya Lombok membebaskan diri dari pengaruh Gel Gel usai terjadinya pengusiran oleh penguasa kerajaan Selaparang yang berpusat di Lombok Timur atas bantuan kerajaan di Sumbawa yang telah dipengaruhi oleh Makassar).   Hal ini dibuktikan dengan tak sedikitnya prajurit Sumbawa yang menetap di Lombok Timur,  yaitu nampak keberadaan beberapa desa di tepi timur-laut Lombok Timur yang mayoritas penduduknya berbicara menggunakan bahasa Samawa.

Uraian dari sejarah kerajaan yang berdiri di atas bumi Lombok ini tentu memberikan keterangan dan memperkuat bukti penemuan yang dilakukan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, bahwa Babad Lombok memang bukan karangan dongeng belaka, ia merupakan bagian dari catatan sejarah yang banyak orang mengategorikannya sebagai sastra.    Hal itu menambah khasanah kekayaan Nusantara, bahwa keberadaan kerajaan tersebut tak diragukan lagi karena pernah ada dan berdiri, kemudian berkembang walau pada akhirnya juga mengalami keruntuhan.

Benarkah Barujari Merupakan Anak Gunung Rinjani?

Kembali pada bahasan tentang Gunung Barujari.    Apabila mengamati “Gunung Barujari” sebagai nama satu gunung yang lokasinya  sama dengan “Gunung Samalas,” maka ketika ada beberapa media yang justru belakangan ini acap mengatakan bahwa “Gunung Barujari” merupakan anak dari Gunung Rinjani, tentu akan menimbulkan pertanyaan.

Karena jika dinalar, eksistensi Rinjani hingga kini tentu merupakan generasi setelah Samalas. Maka, munculnya julukan “anak Rinjani” ini bisa disetujui, namun juga bisa tidak.        Alasannya, Barujari bisa saja merupakan cucu Samalas, namun bisa pula justru Barujari itulah yang merupakan induk dari Rinjani karena keberadaannya berlokasi di gunung yang awalnya dijuluki sebagai Gunung Samalas.

Atau ada dari Anda yang menyimpulkan bahwa justru “Gunung Samalas” itu adalah kesatuan dari “Gunung Rinjani” dan juga “Gunung Batujari” yang dahulunya memang mewujud dalam satu gunung besar sebelum terjadi letusan dahsyat?       Fenomena ini bisa saja dimungkinkan. Karena jika kita merujuk pada keberadaan bentukan gunung, toh ada yang serupa dengannya, yaitu wujud Gunung Bromo.    Jika kita mengamati seputar Bromo maka kita pun akan menjumpai satu kaldera bernama Tenger, dimana terdapat pula kemunculan satu kerucut ataupun ‘bisul’ pada area tengahnya. Kerucut yang membisul dan aktif di Tenger inilah Gunung Bromo, yang bisa jadi dahulu merupakan Gunung Batok juga. [uth]

Sumber Rujukan:
[1]  Saat Toba Meletus, Malapetaka Terjadi di Bumi    www.nationalgeographic.co.id    Diakses pada 10 Agustus 2014
[2]  Gunung Toba   id.wikipedia.org Diakses pada 2 Agustus 2014
[3]  Gunung Krakatau  id.wikipedia.org Diakses pada 2 Agustus 2014
[4]  Gunung Tambora  id.wikipedia.org Diakses pada 1 Agustus 2014
[5]  Lake Segara Anak  id.wikipedia.org Diakses pada 11 Agustus 2014
[6]  Mount Rinjani id.wikipedia.org Diakses pada 9 Agustus 2014
[7]  Letusan Samalas di Lombok taklukkan Tambora dan Krakatau   Merdeka. www.merdeka.com Diakses pada 11 Agustus 2014
[8]  Samalas, Gunung Api Yang Lebih Dahsyat dari Krakatau   www.nationalgeographic.co.id Diakses pada 1 Agustus 2014
[9]  Misteri Letusan Dahsyat Abad ke-13 di Lombok   BBC. www.bbc.co.uk Diakses pada 3 Agustus 2014
[10]  Tiga Gunung Api Indonesia Memberi Kejutan pada Dunia. sains.kompas.com Diakses pada 11 Agustus 2014
[11]  Letusan Samalas dalam Babad Lombok yang Melumpuhkan Dunia   www.apakabardunia.com Diakses pada 71 Agustus 2014
[12]  Gambar & Asal-usul Nama Gunung Samalas (Babad Tanah Lombok) oleh Lalu Muhamad Jaelani www.sasak.org Diakses pada 11 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

19 COMMENTS

  1. sebagai putra asli yang bernaung di bawah kaki gunung Tambora dan sekarang di bawah Samalas, saya menyadari bahwa betapa sayangnya Sang Pecipta kepada setiap hambanya yang tak tau akan keberadaannya. Begitu mudah bila Ia berkehendak. Bagaimana mungkin kita tenang dari rasa takut bila ternyata kita tertidur di atas kerak bumi yang mahatipis, tak ubahnya kerak telur yang menutup cairan di dalamnya. fabiayyi aalaaaairobbikuma tukadzziban…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here