Umar Kayam: Guru Besar , Novelis & Pemeran Bung Karno dalam Film G 30 S/PKI

17
5986
Umar Kayam Saat Memerankan Soekarno

Bagi Anda yang pernah membaca sebuah novel berjudul Para Priyayi tentu tak akan asing lagi dengan sosok Umar Kayam karena Para Priyayi adalah salah satu karya pria asal Ngawi yang juga akrab dengan panggilan Uka (UK) itu.

Umar Kayam adalah seorang Pria kelahiran Ngawi – Jawa Timur 30 April 1932, yang memiliki banyak profesi. Selain pernah menjadi pejabat pemerintahan, dia adalah pria yang sempat juga berprofesi sebagai seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan juga budayawan. Sementara di kalangan akademisi dia adalah seorang guru besar yang mendedikasikan ilmunya di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Akademisi & Jabatan Publik

Di dunia akademisi Umar Kayam merupakan lulusan tahun 1955 sebagai sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada, dan kemudian melanjukan mengambil gelar M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat tahun 1963. Masih di Amerika, UK juga meraih gelar Ph.D. pada tahun 1965, yaitu di Universitas Cornell,Karirnya sebagai pejabat publik sejak 1966 hingga 1969 menduduki jabatan sebagai Dirjen RTF (Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film) Departemen Penerangan RI, selepas ituselama 3 tahun (1969 – 1972) menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan lalu kembali ke dunia pendidikan selama satu tahun (19975 – 1976) sebagai Diektur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial di Unhas (Universitas Hasanudin) Ujungpandang. UK juga sempat ditarik menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) serta mengabdi sebagai dosen si Universitas Indonesia & Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.Tahun 1973 melanglang ke Honolulu – Hawai, USA sebagai senior fellow pada East-West Centre, dan limat tahun kemudian dinobatkan kembali sebagai Ketua Dewan Film Nasional selama satu tahun, yaitu sejak 1978 hingga 1979). Di UGM, walaupun dia juga sempat menjadi Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan, namun UK lebih dikenal sebagai Guru Besar Fakultas Sastra.

Gebrakan Inspiratif

Sebuah Novel Karya Umar Kayam, Para Priyayi
Para Priyayi: Sebuah Novel Karya Umar Kayam

Umar Kayam adalah sosok manusia Indonesia yang banyak melakukan terobosan di segala bidang kehidupan. Sebagai contoh tatkala masih mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, UK terkenal dengan julukannya pelopor berdirinya kehidupan teater kampus. Sedangkan sebagai Dirjen Radio dan Televisi, gebrakan kerjanya mampu menyemarakkan kehidupan perfilman nasional, dan saat memiliki jabatan sebagai Ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), UK sempat mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Tak ketinggalan pula ketika maskih aktif sebagai dosen UGM, Umar Kayam mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial. Bukan itu saja, masih di almametrenya UK juga mampu menginspirasi munculnya karya-karya seni kreatif, baik di bidang sastra, seni rupa, pun seni pertunjukan antara lain dengan mendirikan pasar seni di kampus.

Yang tak banyak ketahui dari generasi 90an keatas adalah bahwa meskipun sempat menentang kebijakannya saat menjadi presiden RI, namun UK tak sungkan untuk tetap menjiwai dalam memerankan Soekarno pada film film Pengkhianatan G 30 S/PKI , film sukses masa orde baru yang disutradarai sahabat dekat UK, Arifin C. Noer.

Peran sebagai Soekarno

Sebagai pelopor & penggebrak kesenian di kampus, tentu saja UK adalah orang yang tak begitu asing dengan dunia tersebut. Oleh karenanya dia tak canggung lagi dalam sebuah peran sebagai Soekarno pada film yang belakangan ini ditengarai sebagai wujud propaganda rezim orde baru, film penghianatan G 30 S/PKI.

Ketika memegang jabatan pemerintahan, UK sejatinya pernah menentang kebijakan Bung Karno mengenai pelarangan konsumsi yang berbau “barat.” Namun hal itu bukan satu alasan untuk menjadikannya anti pati terhadap sang proklamator kemerdekaan tersebut. Sesuai yang tercatat dalam artikel bertajuk Sang Dirjen, di Belakang dan di Muka Layar, majalah Tempo edisi 5 Mei 2002, UK menyatakan bahwa selain tetap menghormati perjuangan Bung Karno, alasan kebersediaannya mau memerankan Bung Karno karena sutradara pada film itu adalah sahabat dekatnya, Arifin C. Noer.

Selain menjiwai peran, UK juga berusaha untuk menjadi Bung Karno yang sebenarnya, salah satunya adalah dengan merelakan rambutnya untuk digunduli. Dan kenyataannya potongan rambut botak itu cukup mendukung perannya, sebagaimana dibuktikan oleh para pelayan di Istana Bogor yang melihatnya sungguh seperti Bung Karno. Dilaporkan oleh majalah Tempo dalam artikel “Pengkhianatan Bersejarah dan Berdarah” edisi 7 April 1984, UK tetap semangat dalam dunia peran dan dia menyatakan tidak jera untuk melakonkan tokoh yang sama di kemudian hari.

Umar Kayam juga sempat menjadi salah satu aktor dalam film Karmila dengan sutradara Ami Priyono, sedang peran sebagai Pak Bei dilakoninya pada sinetron Canting yang isi ceritanya diangkat dari novel karya Arswendo Atmowiloto.

Latar & Karya Umar Kayam

Semasa awal tinggal di Jogjakarta sebagai mahasiswa, Umar Kayam benar-benar aktif di bidang kesenian, pasalnya ia pernah menjadi perintis Universitaria di RRI Nusantara II Yogyakarta yang menyajikan berbagai informasi kegiatan mahasiswa. Hal itu memang cukup membanggakan keluarganya, dan yang lebih bangga lagi tentu saja adalah ayah UK.

Ayah Umar Kayam yang bernama Sastrosoekoso merupakan guru yang mengajar di Hollands Islands School (HIS), yaitu sekolah Dasar era penjajahan Belanda. Latarbelakang sang ayah ini bisa jadi adalah salah satu yang menginspirasinya dalam membuat karya terkenalnya berjudul “para priyayi.” Namun lebih dari itu, sang ayah sejatinya sudah sejak awal memiliki harapan agar anaknya kelak bisa menjadi manusia bijak sebagaimana Omar Khayam, yaitu seorang sufi, filsuf, ahli perbintangan, ahli matematika, dan juga pujangga kenamaan asal Persia pada abad ke-12. Karenanyalah Sastrosoekoso menyematkan nama anaknya “Umar Kayam.”

Profesi sang ayah di dunia pendidikan memengaruhi kehidupan masa kecil Umar Kayam, terjun ke dunia baca dan tulis tak elak adalah hal yang menjadi kegemarannya. Terbiasa dengan bacaan dongeng yang menjadi bagian dari sastra, maka membuatnya semakin cinta dan menjurus ke bacaan lain yang beraroma kepenulisan. Tatkala berpendidikan di MULO, yaitu pendidikan setingkat SMP pada jaman kolonialisme Hindia-Belanda, Umar tak asing lagi dengan novel hingga hal itu menjadi modalnya untuk mengelola sebiah majalah dinding bersama rekan-rekannya. Rekan-rekan UK itu tak lain adalah mereka yang pernah memiliki jabatan sebagai menteri pendidikan & kebudayaan era Soeharto, yaitu Nugroho Notosusanto dan Daoed Joesoef.

Kesibukannya dalam berbagai kegiatan, baik pada bidang akademis pun birokrasi, tak membuat darah seni pria asal Ngawi ini luntur begitu saja. Pasalnya ia tetap kreatif dalam menghasilkan karya tulis, baik itu dalam bentuk cerpen, esai, ataupun novel, semuanya telah ditelurkannya. Sebagai kolumnis UK juga dikenal memiliki ciri-khas yang beraroma renungan, pun di dunia seni peran, ia juga pernah menulis beberapa skenario film, “Jalur Penang dan Bulu-Bulu Cendrawasih” adalah salah satu judul skenario karyanya yang difilmkan tahun 1978.

Cerita pendek:

  • Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (kumpulan cerpen, 1972)
  • Totok dan Toni (cerita anak, 1975)
  • Istriku, Madame Schultz, dan Sang Raksasa
  • Sybil
  • Secangkir Kopi dan Sepotong Donat
  • Chief Sitting Bull
  • There Goes Tatum
  • Musim Gugur Kembali di Connecticut
  • Kimono Biru buat Istri

Kumpulan:

  • Sri Sumarah (kumpulan cerpen, 1975, juga terbit dalam edisi Malaysia, 1981)
  • Bawuk (1975)
  • Seni, Tradisi dan Masyarakat (kumpulan esai, 1981)
  • Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya (bersama Henri Peccinotti, 1985)
  • Parta Karma (kumpulan cerpen, 1997)

Karya Novel:

  • Para Priyayi (Pustaka Jaya, 1992)
  • Jalan Menikung (Pustaka Jaya 2002)

Selepas menderita patah tulang pada paha pangkal kaki, Umar Kayam meninggal pada usianya yang menginjak 70 tahun, yaitu tanggal 16 Maret 2002. [[uth]

Sumber Rujukan;

[1] Umar Kayam www.wikipedia.org. Diakses pada 01 September 2014

[2] Pengorbanan Umar Kayam Perankan Soekarno www.tempo.co. Diakses pada 01 September 2014

[3] Gambar Para Priyayi: Sebuah Novel.  Sampul Buku Karya Umar Kayam.  www.goodreads.com  Diaksses pada 01 September 2014

[4] Foto Umar Kayam Saat Memerankan Soekarno. hendisangjurahan.wordpress.com. Diakses pada 01 September 2014.

Berbagi dan Diskusi

17 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here