Meski Kontroversial, Film G 30 S/PKI Adalah Karya Dahsyat Pada Zamannya

15
6465
Soeharto di Lubang Buaya pada pengkhianatan G 30 S PKI
Soeharto di Lubang Buaya pada pengkhianatan G 30 S PKI

Jargon “sejarah adalah milik para pemenang” adalah hal yang tak bisa disingkirkan begitu saja. Pasalnya peristiwa membuktikan bahwa bagaimanapun alasannya, meskipun yang kalah memiliki perilaku mulia & istimewa kepada banyak pihak, namun tetap saja yang kalah itu tak akan selalu tampak baik dan diistimewakan oleh pihak pemenang. Sebagai bukti nyata, di Indonesia sendiri memiliki peristiwa “perang Jawa” yang berdarah-darah, dimana Pangeran Diponegoro yang didukung rakyat jelata melawan tirani & kesewenangan penguasa. Ketika Diponegara akhirnya mengalami kekalahan, tak elak nama gelar putra Raja Mataram berujud ‘Dipanagara’ tak disandang lagi oleh pihak penguasa, yaitu pihak kerajaan Mataram yang didukung pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

Selain perang Jawa oleh Diponegoro, ada pula peristiwa tahun 1965 yang dikenal dengan Gestok (Gerakan Satu Oktober) pun G 30 S/PKI. Meski masih menjadi perdebatan, banyak pihak tetap menilai sang pemenag yang mewujud sebagai generasi orde baru adalah pihak yang bisa leluasa menguasai sejarah. Sebagai pihak yang berkuasa, tentu saja ada keleluasaan dalam mencetak sejarah. Dan pencetakan sejarah itu salah satu contohnya adalah melalui propaganda. Pembuatan serta penyiaran rutin setiap tahun dari sebuah film berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI adalah salah satu cara yang mujarab dilaksanakannya.

Produksi Film Penghianatan G 30 S/PKI

Film pengkhianatan G 30 S/PKI adalah film yang digarap oleh sutradara besar bernama Arifin C Noer pada awal tahun 80an. Film ini rutin setiap tahun ditayangkan oleh media publik satu-satunya milik pemerintah pada saat itu, yaitu TVRI, mulai ditayangkan pada 1984 hingga 1997.

Lagi-lagi sejarah adalah milik sang pemenang dibuktikan dengan keberadaan film Pengkhianatan G 30 S/PKI ini. Karena meskipun kontroversial dan menjadi perdebatan banyak pihak, namun pada rezim orde baru film ini diwajibkan menjadi rujukan resmi oleh pemerintah kepada setiap warga Indonesia, utamanya melalui dunia pendidikan. Anak murid di sekolah diwajibkan menontonnyai setiap akhir bulan September, dan selanjutnya para guru juga tak jarang meminta “review” dari anak didik tersebut. Ini adalah langkah yang hebat dari sebuah rezim, karena generasi saat itu benar-benar bisa memercayai 100% kebenaran yang disajikan. Dan hal itu mampu memperkuat satu mata pelajaran bernama PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa) yang didominasi tentang kisah heroik penguasa orde baru dan memojokkan pihak yang kalah pada “stigma” yang buruk.

Kedahsyatan Propaganda

Menjadi kontroversial sebab film ini memang bermuatan politis. Hal ini sebagaimana yang dibilang sendiri oleh setidaknya dua orang pelaku film tersebut, yaitu Amoroso Katamsi, pemeran Presiden Soeharto, dan juga Keke Tumbuan yang berperan sebagai Ade Irma Suryani Nasution. Kedua pemeran ini memang mengakui kedahsyatan filmnya yang kemudian dijuluki sebagai super infra box office. Bahwa terlepas pihak pemerintah mewajibkan wargananya menonton, namun terbukti film ini mampu menarik sekurang-kurangnya ada 699.282 orang penonton.

Secara sinematografi karya film Arifin C. Noer ini banyak yang memuji, kekuatan film itu sungguh luar biasa, dibuktikan dengan banyaknya orang yang bisa dengan mudah menerima adegan dan cerita yang ada merupakan representasi kenyataan yang pernah dilakukan PKI jaman itu. Di posisi ini Arifin C Noer berhasil memengaruhi khalayak, baik orang yang sudah tua pun generasi muda. Mereka dengan mudah percaya bahwa apa yang terjadi di masa lalu yang sebagaimana yang tersaji dalam film itu.

Itu mengindikasikan bahwa propaganda penguasa bermodalkan tayangan film Pengkhianatan G30S/PKI sangat berhasil. Masyarakat yang tak lagi vokal & kritis akan mudah menerima apa yang tersaji tanpa berpikir lagi tentang adanya campur tangan kepentingan politik pihak penguasa. Masyarakat tak begitu hirau dengan intervensi dengan cara mengeksploitasi ketidaktahuan atau kesalahpahaman untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Di sinilah letak sejarah yang tercipta dari salah satu cara propaganda yang dimiliki penguasa

Pernyataan Soeharto

Awal tayang Film Pengkhianatan G 30 S/PKI adalah pada tahun 1974. Saat itu Soeharto yang menjabat presiden sekaligus penguasa rezim orde baru menyatakan tentang masih ada banyak yang belum diceritakan pada film ini. Dari kalimat Soharto itu, artinya ini mengindikasikan bahwa film ini jelas belum lengkap dan bukan tidak mungkin yang diambil adalah bagian-bagian yang secara politis menguntungkan. Baik menguntungkan pihak yang berkuasa pun menguntungkan pihak yang memroduksinya.

Bagaimana tidak, film ini hanya mengisahkan periode sejarah pada enam hari masa genting Indoensia saja, yaitu tertanggal 30 September hingga 5 Oktober 1965. Memang film ini cukup kaya dengan detail karena ditunjang dengan latarnya yang berpindah-pindah, baik dari Istana Bogor kemudian menuju adegan rapat-rapat gelap PKI, dan selanjutnya juga di rumah para Pahlawan Revolusi serta ke Lubang Buaya. Namun enam hari itu tentu saja tak akan bisa dijadikan refferensi sepenuhnya dalam menilai serta menyimpulkan sejarah. Jadi sekiranya Soeharti mengatakan “Ada banyak yang belum diceritakan,” tepat adanya. Ada banyak yang belum diceritakan termasuk cerita yang tak selalu bermuatan kepentingan pihak penguasa.

Para Pemain & Pelaku Sejarah

Selain Keke Tambunan yang berperan sebagai Ade Irma Suryani, pada film Pengkhianatan G30S/PKI ini terdapat pula tiga tokoh sentral sebagaif sorotan, yaitu Presiden Soekarno yang diperankan oleh Umar Kayam, Mayor Jenderal Soeharto yang diperankan oleh Amoroso Katamsi, dan gembong PKI DN Aidit yang diperankan oleh Syu’bah Asa.

Selain 120 tokoh lain dan 10 ribu figuran, tentu saja masih ada banyak lagi yang berlaku sebagai pemeran dalam film tersebut. Hanya saja, terlepas dari para pemeran film, ada yang tak boleh dilupakan, yaitu pelaku sejarahnya sendiri. Sebagai contoh adalah Hendro Subroto, wartawan perang yang saat itu bertugas di TVRI, ialah sejatinya yang menjadi saksi mata sejarah sebab pada tanggal 4 Oktober, Hendro adalah satu wartawan yang mengabadikan pengangkatan jenazah enam jenderal serta seorang kapten pahlawan revolusi dari Lubang Buaya.

Kebenaran adegan penyiletan dan penyiksaan lainnya terhadap para jenderal dibantah almarhum Hendro Subroto, wartawan perang. Dia adalah saksi mata sejarah tersebut. Kala menjadi wartawan TVRI, Hendro mengabadikan pengangkatan jenazah enam jenderal dan seorang kapten pahlawan revolusi dari Lubang Buaya. Tepatnya pada 4 Oktober 1965.

Sebagaimana terungkap dalam sebuah wawancara oleh Tempo pada Maret 2001 yang jurnalnya kemudian dimuat pada majalah Tempo edisi 11 Maret 2001, Hendro menyatakan apa yang dia lihat beberapa detailnya menyimpang dari apa yang dipublikasikan dalam banyak buku sejarah dan film-film era Orde Baru. Termasuk diantaranya adalah pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI ini. Hendro mengatakan bahwa tubuh para jenderal itu sama sekali tidak disayat-sayat. Pembengkakan pada para jendral juga tak terlihat, hal ini memberikan bukti bahwa sejatinya tak ada penyundutan rokok sebagaimana yang ada pada cerita adegan film.

Yang lebih dipertanyakan Hendro justru kejanggalan cerita yang ada tepatnya ketiadaan orang yang memerankan dirinya sebagai satu-satunya wartawan perekam semua peristiwa pengangkatan jenazah itu bermodalkan kamera film.

Ada pula pernyataan Sulami yang juga bekas anggota Gerwani, organisasi onderbouw PKI. Sulami menyangkal adegan penggambaran anggota kelompoknya yang menari-nari di Lubang Buaya tatkala para jenderal dibawa ke sana. Ini hanyalah langkah jaman Orde Baru dalam menemukan cara efektif guna menanamkan racun kebencian terhadap PKI, yang dengan langkah ini tentu saja Soeharto juga diuntungkan karena legitimasinya menjadi semakin kuat.

Karya Film Yang Luar Biasa

Karya Arifin C. Noer pada film tentang PKI ini menghabiskan dana sekira 800juta, perlu diketahui bahwa jumlah uang $1 saat itu setara dengan Rp 1.000,- Dari besarnya dana ini, terlepas dari kontroversi yang ada, Arifin membuktikan kepiawaiannya dalam berkarya.

Iya film ini banyak mendapat cercaan karena secara cerita memang kontroversi, namun dari sudut karya seni banyak yang memujinya, dari film ini pada tahun 1984, Arifin C. Noer juga bisa menggondol penghargaan Piala Citra sebagai skenario terbaik. Masih dalam acara penghargaan yang sama, Arifin juga masuk unggulan dalam kategori penyutradaraan terbaik, sementara Amoroso Katamsi menjadi kandidat pemeran utama pria terbaik. Di belakang layar, saudara Arifin, yaitu Embie C. Noer juga diunggulkan dalam kategori tata musik terbaik. Lainnya adalah Hasan Basri dalam kategori tata kamera terbaik, serta Farraz Effendy yang menjadi nominasi kategori tata artistik terbaik. Semua yang diunngulkan pada akhirnya memang hanya Arifin C Noer yang berhasil menggondol Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik, namun ini mengindikasikan bahwa karya ini cukup banyak yang mengapresiasi.

Setahun kemudian, yaitu 1985, di hajatan yang sama, FFi – Festival Film Indonesia, film Pengkhianatan G30S/PKI masih mampu memperoleh penghargaan Piala Antemas untuk kategori film unggulan terlaris periode tahun itu, 1984-1985.

Sudut pandang

Keberhasilan Arifin C. Noer tentu bukan sebuah karya yang bisa disepelekan. Dan dari banyaknya pihak yang memuji kala itu, tentu saja ada banyak hal yang butuh digali secara runtut.

Sebagai filmaker & sineas muda yang acap menyimak perkembangan perfilman nusantara, Hanung Bramantyo mengakui keunggulan yang tercipta pada film ini, khusunya pada sisi karya seni. Hanung berpandangan bahwa terlepas dari propaganda dan muatan politis, secara sinematik film Pengkhianatan G30S/PKI ini penggarapannya rapi, detail, dan nyata, sehingga jangankan orang awam, Hanung yang bergelut dengan dunia sinema juga sempat menyangka kalau yang disaksikannya itu bukan film, namun kejadian nyata.

Detil adalah pada adegan bagaimana para jenderal disiksa, disayat-sayat, dan alat kelaminnya dipotong. Selain itu kalimat-kalimat yang dimunculkan juga cukup mengena dan gampang diingat, sebagai contoh adalah kalimat yang diucapkan oleh Aidit; “Untuk bisa menguasai Indonesia, kuncinya adalah menguasai Jawa!” Sedang bagi Hanung Bramantyo sebagaimana yang dikatakan kepada tempo pada hari Kamis 27 September 2012, bagian yang paling diingat dalam film ini adalah adegan diskusi yang ada.

Shot big close-up mulut-mulut sedang diskusi atau menghisap rokok, sangat menohok. Bayangkan saja, di layar besar semua gelap. Hanya mulut yang tampak. It’s brilliant,” ujar Hanung Bramantyo

Tak Diputar Lagi Mulai Tahun 1998

Film Pengkhianatan G 30 S/PKI adalah film yang wajib tonton pada era pemerintahan Presiden Soeharto. Namun pasca rezim Soeharto tumbang akibat digulingkan gerakan reformasia, daya kritis dan vokal banyak muncul dari warga, sehingga tak ayal hal itu membuat banyak pihak mempertanyakan kembali ikhwal adegan film ini berbanding kebenaran sejarah.

Menyikapi kenyataan bahwa film itu sebatas propaganda Orde Baru, maka akhirnya pemerintah melalui Menteri Penerangan pada 1998, Yunus Yosfiah, memutuskan melarang pemutaran film G 30 S/PKI yang berdurasi sekitar 220 menit itu. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Film Pengkhianatan PKI Propaganda Berhasilkah? www.tempo.co. Diakses pada 02 September 2014

[2] Film Pengkhianatan G30S/PKI di Mata Para Sineas. www.tempo.co Diakses pada 02 September 2014

[3] Gambar Soeharto di Lubang Buaya. Dilisensikan sebagai CC BY 2.0. www.tempo.co Diakses pada 02 September 2014

Berbagi dan Diskusi

15 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here