Sekilas profil Arifin C Noer, Sutradara Film Kontroversial G 30 S/PKI

4
3955
Arifin C. Noer
Arifin C. Noer

Indonesia pernah memiliki sebuah karya film yang boleh dibilang cukup sukses pada zamannya. Film itu berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI yang digarap awal tahun 80an, menelan biaya sejumlah Rp 800 juta. Sebanyak 120 tokoh dan lebih dari 10 ribu figuran terlibat dalam produksi film era orde baru tersebut.

Film yang juga dibintangi oleh Umar Kayam, Amoroso Katamsi, dan juga Keke Tumbuan ini mampu menyedot penonton yang jumlahnya tak terhingga. Bukan itu saja, film yang juga menjadi rujukan rezim orba untuk diputar rutin setahun sekali tiap akhir bulan September ini juga mampu membawa para penontonnya “sangat percaya” dan turut larut dalam kisah yang disajikannya. Itulah hasil karya yang dahsyat dari tangan terampil bernama Arifin C. Noer.

Kerja Keras & Profesional

Meski bukan film kolosal yang pertama, namun tetap harus menghabiskan waktu selama dua tahun guna menggarap film G 30 S/PKI ini. Pekerjaan yang jauh dari kata gampang, karena Arifin C. Noer sebagai sutradara juga harus mengurus dan menata casting yang sangat detil dan besar. Dan meski hanya mengisahkan periode sejarah pada enam hari masa genting Indonesia saja namun lagi-lagi sang sutradara juga harus membaca sebanyak mungkin sumber, mewawancarai sebanyak mungkin sosok saksi sejarah, dan juga harus mencari properti asli.

Dengan langkah itu saja kenyataannya tetap menuai hasil kontroversial karena penuh dengan muatan politik dari pihak penguasa. Namun demikian, banyak yang menilai bahwa film ini cukup kaya dengan detail, sedangkan latarnya juga berpindah-pindah dari Istana Bogor menuju ke rapat-rapat gelap PKI dan kemudian ganti adegan di rumah para pahlawan revolusi, yang selanjutnya juga menuju Lubang Buaya. Selain cerita utama berujud pemberontakan, beberapa fakta mengenai kerawanan ekonomi juga dilukiskan dalam sketsa “antri” yang menunjukkan rakyat telah dilanda kemiskinan. Sementara mengenai kerawanan politik digambarkan melalui serangan PKI pada sebuah masjid di Jawa Timur, sissi penyiaran berita radio, dan onggokan koran yang tergunting, serta komentar-komentar tajam. Tak ketinggalan gambar poster Bung Karno juga menyeruak di sana-sini, dan latar lingkungan bertulisan Manipol Usdek (Manifesto Politik/Undang-Undang Dasar 1945) juga bertebaran di sana-sini, di tembok, di pagar, serta pada atap rumah.

Sebagai sarana propaganda, film G 30 S/PKI garapan Arifin C. Noer ini dinilai sangat berhasil, sebab mayoritas yang pernah menontonnya benar-benar percaya terhadap adegan pun cerita yang tersaji.

Siapa Arifin C. Noer?

Sutradara film Penghianatan G 30 S/PKI bernama lengkap Arifin Chairin Noer ini dikenal sebagai seniman multitalenta. Seni teater dan baca puisi telah digelutinya sejak menempuh pendidikan di Surakarta dan juga Yogyakarta

  • Aktif Berkesenian Pada Masa Pendidikan

Setelah lulus dari SD Taman Siswa Cirebon, Arifin melanjutkan sekolah di SMP Muhammadiyah di kota yang sama. Selepas itu pendidikan SMA dia tempuh di SMA Negeri Cirebon. Hanya saja di SMA Cirebon ini dia tidak tamat, maka ia hijrah ke Solo dan di sana menempuh pendidikan di SMA Jurnalistik. Perndidikan tinggi ia tempuh di kota Yogyakarta yaitu dengan memilih Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta.

Saat di SMP Muhamadiyah Cirebon sejatinya Arifin sudah mulai menulis cerpen dan puisi lalu dikirimkannya ke majalah yang beredar di wilayah Cirebon serta Bandung. Sedangkan sewaktu di Solo, ia juga bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra serta aktif sebagai anggota Himpunan Sastrawan Surakarta, dan dari sinilah ia menemukan latar belakang teaternya. Hal tersebut dibuktikan dengan karya yang kerap ia tulis dan sekaligus ia lakoni sensiri. Sebut saja karya yang berjudul Kapai-kapai, Madekur dan Tarkeni, Sandek Pemuda Pekerja, Tengul, dan juga Umang-Umang. Tatkala statusnya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Jogjakarta, Arifin bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegoro. Anak Mohammad Adnan, penjual sate keturunan kiai ini terkenal pula dengan karya sajak pertamanya berjudul Langgar Purwodiningratan, yang menceritakan tentang masjid tempat ia bertafakur. Reward yang diterima Arifin C. Noer tahun 1967 adalah sebagai pemenang sayembara Teater Muslim dari naskah berjudul ‘Lampu Neon’ dan juga ‘ Nenek Tercinta.’

  • Hijrah dan Mulai Meniti Karir di Jakarta

Usai menyelesaikan pendidikannya di Universitas Cokroaminoto – Yogyakarta, pada tahun 1968 ia hijrah ke Jakarta. Awalnya bekerja sebagai manajer personalia di Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia dan juga menjadi wartawan di Harian Pelopor Baru. Namun hal itu dilakoninya tak lama, karena minat dan impian sebagai seniman membawanya untuk mendirikan Teater Kecil yang selanjutnya teater ini sangat arab dengan masyarakat. Keakraban masyarakat ini ditengarai dengan debutan awal pementasan sebuah cerita dongeng yang memasukkan unsur-unsur kesenian tradisional, baik lenong, stambul, boneka (marionette), melodi pesisir, wayang kulit, ataupun wayang golek.Unsur kesenian rakyat itu dimasukkan kedalam Teater Kecil sebab menurut Arifin sedari awal kehidupannya juga tak jauh dari lingkungan kejelataan. Hal ini diperkuat oleh penyair Taufiq Ismail yang -usai pementasan Interogasi pada tahun 1984- menyatakan bahwa Arifin C. Noer adalah pembela kaum miskin.Aktif dalam bidang seni membawa prestasi lain bari Arifin C. Noer, ia dinobatkan sebagai penulis skenario terbaik pada Festival Film Asia tahun 1972 dan berhasil menggondol piala The Golden Harvest.

Seperti tak kenal lelah, Arifin juga mulai belajar memegang kamera, yaitu tahun 1976 tatkala ia bekerja bersama Wim Umboh dalam pembuatan film berjudul Kugapai Cintamu. Iapun mulai aktif sendiri dalam dunia film dengan karya perdana tahun 1977 berjudul “Suci Sang Primadona.” Bahkan berkat kepiawaiannya memilih pemeran, film perdana tersebut mampu melahirkan pendatang baru bertalenta bernama Joice Erna, yang juga menjadi pemenang Piala Citra sebagai Aktris Terbaik FFI (Festival Film Indonesia) tahun 1978. Masih pada tahun yang sama, Arifin kembali tampil memperoleh penghargaan sebagai penulis skenario terbaik untuk Rio Anakku dan Melawan Badai dalam Festival Film Indonesia.

Dari karya perdananya, Arifin selanjutnya serius menekuni dunia film, karya-karyanya antara lain adalah Harmonikaku, Matahari-Matahari, Petualangan-Petualangan, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, dan yang tak kalah menariknya adalah karya berjudul “Serangan Fajar” yang dinilai menjadi film FFI terbaik tahun 1982.

  • Film Kontroversial G 30 S/PKI

Tahun 1982 Arifin telah piawai dalam dunia film, sehingga ia tak diragukan lagi oleh pihak pemerintah Orde Baru untuk menggarap film yang memiliki unsur politis propaganda, maka Film berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI adalah hasil yang dicapai Arifin C. Noer tahun 1984

Meski menuai sikap kontroversi dari banyak pihak, film ini merupakan karya terlaris dan dijuluki superinfra box-office. Dan dari film G 30 S/PKI ini, tahun 1985 Arifin berhasil meraih kembali sebuah penghargaan Piala Citra sebagai enulis skenario terbaik. Film ini diwajibkan pemerintah Orde Baru untuk diputar rutin oleh seluruh stasiun televisi nasional pada tiap akhir bulan September demi memperingati insiden Gerakan 30 September 1965. Dan selanjutnya tahun 1990, “Taksi” adalah judul film hasil karya Arifin yang juga tak kalah suksesnya karena berhasil meraih 6 piala Citra.

  • Beristri Nurul Aini & Jajang C. Noer

Pria kelahiran Cirebon, anak kedua dari delapan bersaudara ini menikahi Nurul Aini, dan dikaruniai dua anak, yaitu Vita Ariavita dan Veda Amritha. Namun tahun 1979 hubungan rumah tangga ini berakhir dengan perceraian. Kemudian Arifin menikah dengan Jajang Pamoentjak, seorang artis dengan nama beken Jajang C. Noer, putri tunggal dari duta besar RI pertama untuk Prancis dan Filipina.

Dari pernikahannya dengan Jajang C. Noer ini Arifin memperoleh dua orang anak, ialah Nitta Nazyra dan Marah Laut.

Profil & Biografi Arifin C. Noer

Nama Lengkap : Arifin Chairin Noer

Agama : Islam

Tempat Lahir : Cirebon

Tanggal Lahir : Senin, 10 Maret 1941

Zodiac : Pisces

  • PENDIDIKAN
    1. SD Taman Siswa, Cirebon
    2. SMP Muhammadiyah, Cirebon
    3. SMA Negeri Cirebon (tidak selesai)
    4. SMA Jurnalistik, Solo
    5. Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta (1967)
    6. International Writing Program, Universitas Iowa, AS (1972)
  • KARIR
    1. Manajer Personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia
    2. Wartawan Harian Pelopor Baru
    3. Sutradara Teater Muslim (1962)
    4. Anggota Studi Grup Drama Yogyakarta (1962)
    5. Pendiri dan pemimpin Teater Kecil (1968-1995)
    6. Kepala Humas Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972)
    7. Penulis skenario film (1971-1995)
    8. Sutradara film (1977-1995)

     

  • PENGHARGAAN
    1. Pemenang pertama sayembara penulisan lakon Teater Muslim “Mega Mega”
    2. Pemenang kedua sayembara naskah drama (1967)
    3. Anugerah Seni dari pemerintah RI, 1971
    4. Pemenang pertama sayembara penulisan lakon DKJ naskah drama “Kapai Kapai”, 1972
    5. Piala The Golden Harvest untuk film Pemberang pada FFA, 1972
    6. Piala Citra untuk film Rio Anakku pada FFI, 1973
    7. Piala Citra untuk film Melawan Badai pada FFI, 1974
    8. Piala Citra untuk film Serangan Fajar pada FFI, 1982
    9. Pengkhianatan G-30-S/ PKI pada FFI, 1984
    10. Piala Citra untuk film Taksi, 1990
    11. Sea Write Award dari Kerajaan Thailand, 1990
  • KARYA
    1. Rio Anakku (1973)
    2. Melawan Badai (1974)
    3. Suci Sang Primadona (1977)
    4. Petualang-Petualang (1978)
    5. Harmonikaku (1979)
    6. Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (1979)
    7. Serangan Fajar (1981)
    8. Djakarta 1966 (1982)
    9. Pengkhianatan G-30-S PKI (1982)
    10. Pengkhianatan G-30-S/PKI (1984)
    11. Matahari-Matahari (1985)
    12. Biarkan Bulan Itu (1986)
    13. Cas Cis Cus (1989)
    14. Taksi (1990)
    15. Bibir Mer (1991)
    16. Tasi Oh Tasi (1992)
  • BUKU
    1. Mega, mega : sandiwara tiga bagian, 1966
    2. The bottomless well : a play in four acts, 1992
    3. Good morning, Jajang. Singapore: Dept. of Malay Studies, 1995
    4. Orkes madun, atawa, Madekur dan tarkeni ; Umang-umang ; Sandek pemuda pekerja ; Ozone ; Magma, 2000
    5. Ideologi teater modern kita, 2000

Arifin C Noer sebelumnya pernah menjalani operasi kanker di negara Singapura. Dan sejak tanggal 23 Mei 1995, ia kembali harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Medistra Jakarta karena penyakit yang sama, kanker hati.

Penyakit kanker hati itulah yang menyebabkan jiwanya tak tertolong lagi. Arifin C. Noer, seorang seniman besar yang pernah di miliki negeri ini meninggal pada hari Minggu, 28 Mei, pukul 06.25 di Jakarta dalam usia 54 tahun. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Arifin C. Noer id.wikipedia.org Diakses pada 04 September 201

[2] Sosok Dalang Film Pengkhianatan G 30 S/PKI www.tempo.co Diakses pada 04 September 2014

[3] Arifin Chairin Noer profil.merdeka.com Diakses pada 04 September 2014

[4] Gambar “Arifin C. Noer”. plasa.msn.com Diakses pada 03 September 2014

Berbagi dan Diskusi

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here