Eksperimentasi Pertunjukan Sastra: Seribu Kunang-kunang dan Anjing-anjing

10
1686
Eksperimentasi Pertunjukan Sastra Seribu Kunang-kunang dan Anjing-anjing
Eksperimentasi Pertunjukan Sastra Seribu Kunang-kunang dan Anjing-anjing

Telah lama Nusantara ini memiliki banyak ahli sastra, bukan saja pada era Balai Pustaka pun Pujangga Baru, namun dari zaman kerajaan di Nusantara telah banyak tertoreh catatan hasil karya para pujangga. Selain pupuh Desawarnana atau Nagarakrtagama yang berhubungan dengan Prapanca pun Mpu Kanwa, ada berbagai macam Babad, antara lain babad tanah Jawa, Babad Diponegoro, Babad Lombok dan babad-babad lain. Semuanya lebih dari cukup untuk dijadikan bukti kesusastraan di Nusantara ini lekat dengan masyarakat dan selalu hidup pada masanya.

Babad Jawa adalah karya sastra yang menceritakan kehidupan masa lampau tanah Jawa, begitu juga dengan babad Lombok yang merupakan cerita seputar tanah Lombok yang salah satunya mengisahkan letusan dahsyat gunung Samalas sebelum munculnya Segara Anakan. Karya “Babad Diponegoro” merupakan sastra yang berhubungan dengan kehidupan Diponegoro –termasuk perjuangannya pada perang Jawa dalam melawan kesewenangan tirani. Dari babad Diponegoro diketahui bahwa “Diponegoro” bukanlah sebuah nama orang, melainkan satu gelar “putra raja” di trah Mataram waktu itu.

Semarak Mengangkat Karya Sastra

Melihat melimpahnya karya sastra di negeri ini, ada hal menarik baru saja dilakoni oleh pegiat sastra di kota budaya Yogyakarta, yaitu mengangkat dua karya sastra sekaligus kedalam satu panggung pertunjukan teater yang bertajuk ‘Seribu Kunang-kunang dan Anjing-anjing.’

  • Karya Umar Kayam

Alm. Umar Kayam atau yang akrab dipanggil Uka (UK) adalah manusia Indonesia yang multi-talenta. Selain pernah memerankan sebagai Soekarno dalam film pengkhianatan G 30 SPKI, Uka adalah guru besar Universitas Gadjah Mada, cerpenis, dan juga Novelis.

Salah satu karya yang dihasilkan Umar Kayam saat menempuh pendidikan di Amerika tahun 70-an adalah “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” yang merupakan kumpulan enam cerita pendek.

    • Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Alkisah pada satu malam ada sepasang kekasih bernama Jane dan Marno yang berada di sebuah apartemen kota Manhattan. Sambil menikmati minuman scotch serta martini, dari bilik jendela mereka juga saling bercerita dan memandangi indahnya bulan di luar sana. Perdebatan kecil tentang warna bulan acap terjadi ditengah cerita sepasang kekasih ini. Tatkala Jane menganggap bulan itu berwarna ungu, Marno tak sependapat. Perdebatan terjadi, namun Jane tak putus asa karena dia tetap bersikeras meyakinkan Marno. Marno tak mudah menyerah, dia juga kukuh pada pendiriannya bahwa warna bulan bukan ungu.

Bahasan selanjutnya adalah ingatan Jane yang melayang pada mantan suaminya, Tommy. Jane mempertanyakan hal yang acap ditanyakan kepada Marno, yaitu ikhwal kondisi dan cuaca di Alaska, alasannya karena keberadaan Tommy sedang berada di Alaska. Marno merasa bosan dan jengkel mendengarkan pertanyaan itu lagi, kemudia dia berdiri menghampiri radio serta memutar knopnya. Setelah diputar-putarnya yang terjadi hanya menghasilkan suara aneh dan tak tahu juntrungannya.

Tatkala Jane tak berhenti membicarakan Tommy menceritakan bahwa ia tak ingin Tommy kedinginan, Marno memberitahukan kepada Jane bahwa belum tentu Tommy sedang berada di Alaska sekarang. Dan ketika Jane teringat pernah dikirimi oleh Tommy sebuah boneka Indian dari Oklahoma City, Marno tak mau kalah. Ia menceritakan bahwa lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit Manhattan itu juga mengingatkannya pada masa kecil di kampung halaman, membukan kenangannya kembali pada indahnya ratusan kunang-kunang yang biasanya sering bertebaran di langit-langit sawah malam hari.

Sewaktu Jane melanjutkan ceritanya, Marno tetap tak menghiraukan. Marno lebih tergiur dengan menikmati kenangan kunang-kunangnya. jane tak peduli, dia nyerocos mengisahkan tentang jalan-jalan ke Central Park Zoo. Hanya sesekali Marno menimpali dan juga menjelaskan mengenai “apa itu kunang-kunang.” PAda akhirnya, ada satu cerita Jane yang membuat Marno tertarik, yaitu kisah tentang mainan kekasih yang oleh Jane diberi nama “Uncle Tom.” Jane memberi penjelasan bahwa Uncle Tom adalah boneka hitam yang sangat jelek rupanya namun ia sangat suka. Oleh karena ia tak akan pernah bisa tidur jika jauh darinya.

Cerita tentang boneka uncle Tom dan kunang-kunang itu menjadi cerita terakhir sebelum Marno pamit undur diri. Sementara Jane memberikan hadiah sebuah piyama berukuran medium – large kepada Marno.

  • Anjing-anjing Menyerbu Kuburan Oleh Kuntowijoyo

Ketika Umar Kayam menyajikan cerita tentang sepasang kekasih di Manhattan dengan gaya 70-an, maka tahun 90-an justru Kuntowijoyo menyajikan karya sastra dengan tajuk yang beraroma mistis. Dengan judul ‘anjing-anjing menyerbu kuburan,” Kuntowijoyo mengangkat cerita seseorang yang mencari “jimat” pada sebuah kuburan kramat.

Bertekad ingin menjadi sakti mandraguna dan juga kaya-raya, maka orang tersebut menuruti apa yang menjadi perintah gurunya, ki Juru Sekti. Yaitu agar pada malam Anggara Kasih (Selasa Kliwon) ia harus menggali kubur seorang perawan dan harus mendapatkan dua telinga sang perawan tersebut. Hanya saja cara memperoleh telinga itu harus dengan menggigitnya sampai putus. Bukan itu saja, ia juga harus membawanya kepada sang Juru Sekti masih dengan cara digigitnya.

Apa daya, saat proses penggalian kubur itu, mantra aji penyirep tak manjur lagi akibat datangnya gerombolan anjing-anjing yang sedang kelaparan. Ilmu sakti yang telah ditularkan ki Juru Sekti terlihat tak berdaya dan sia-sia.

Diangkat ke seni panggung

Ada banyak karya sastra telah diangkat sebagai seni peran, utamanya ke dalam sinema, baik layar kaca ataupun layar lebar.  Namun kali ini di Taman Budaya Jogja ada yang sedikit berbeda, bahwa karya Umar Kayam berjudul ‘Seribu kunang-kunang di Manhattan’ dan karya Kuntowijoyo bertajuk “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan,” keduanya dijadikan satu panggung dalam pertunjukan seni teater. Pertunjukan seni teater tersebut bertajuk ‘Seribu Kunag-kunang dan Anjing-anjing.’ Unsur “bulan” bisa jadi merupakan sentral yang mampu menjadikan keduanya bisa diselaraskan dalam satu pertunjukan.

  • Para Kreatif Muda

Mendapat dukungan dari UPTD Taman Budaya Jogjakarta, eksperimentasi pertunjukan sastra yang tak bertiket alias gratis ini disutradarai oleh Zuhdi Sang, dengan tim artistik Bagus Sumarsono. Sedangkan musik digarap oleh Ahmed Sinar dan Lighting oleh Rahmad Hidayat. Kru Panggung dipegang Waris Lakek, sementara beberapa pemainnya adalah; Liek Suyanto, Bambang Darto, Labibah Zain, Sam Chandra, Jalidu, Catur Stanis, Sapta, Reindra, dan anak-akan muda kreatif Jogja lainnya.

Eksperimentasi pertunjukan sastra ini digelar pada hari Sabtu 06 September 2014 pukul 20:00, bertempat di Taman Budaya Yogyakarta dengan pemainnya adalah anak-anak muda penuh talenta. Dan meski pada jalan-cerita masih belum begitu bisa dipahami, namun tim artistiknya terlihat mumpuni karena secara visual pertunjukan ini sangat memukau. Selebihnya pertunjukan itu cukup membuat banyak penonton tertarik, dibuktikan bahwa meskipun Yogyakarta sedang penuh acara di setiap sudut kotanya, namun kursi pertunjukan yang berada di Taman Budaya tetap penuh dan tak tersisa. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Disarikan dari pamflet pertunjukan teater & diulas berdasar pengamatan penulis yang menonton pertunjukan pada 06 September 2014

[2] Gambar “Seribu Kunang-kunang san Aning-anjing” diambil langusng oleh penulis pada 06 September 2014

Berbagi dan Diskusi

10 COMMENTS

  1. […] Anjing bisa dilatih sedemikian rupa, karena ia memiliki indera penciuman yang lumayan tajam dan tak dimiliki binatang lain. Bukan saja melacak keberadaan darah pelaku kejahatan ataupun hal yang berkaitan dengannya, namun lebih dari itu, beberapa anjing juga memiliki kemampuan dalam mendeteksi penyakit kanker. Bahkan, anjing diyakini juga bisa dilatih guna mendeteksi penyakit diabetes tipe 1, caranya antara lain adalah dengan mengendus keringat manusia. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here