Norman Kamaru: Dari Polisi dan Selebriti lalu Menjadi Tukang Bubur Naik Gaji

12
3371
Norman Kamaru di Warung Bubur khas Manado Kalibata City
Norman Kamaru di Warung Bubur khas Manado Kalibata City

Bagi Anda penggemar infotainment dan juga penyuka film Bolywood (India) kemungkinan besar mengerti dengan sosok yang dulu sempat tenar gara-gara video menirukan joged dan lagu India berjudul ‘Caiya Caiya.’ Dialah Norman Kamaru, mantan anggota Brimob Gorontalo.

Siapa itu Norman Kamaru?

Norman Kamaru yang juga memiliki nama panggilan Oman adalah putra pasangan Idris Kamaru dan Halimah Martinus kelahiran Gorontalo, 27 November 1985 yang pernah menjadi anggota Brigade Mobil berpangkat terakhir Briptu. Norman pernah menjadi terkenal akibat tersebarnya video adegan lip-sync yang menirukan lagu India berjudul “Chaiyya Chaiyya.” Video lip-sync yang berdurasi 6 menit 30 detik berjudul “Polisi Gorontalo Menggila” itu setelah diunggah dan disebarkan melalui situs Youtube mampu membuat masyarakat yang melihatnya tertawa dan terhibur.

  • Menuai pro dan kontra

Yang tersebar di situ Youtube sejatinya bukan saja rekaman video sinkronisasi gerak bibirnya (lip sync), melainkan juga gerakan tubuhnya. Awalnya Norman tak memiliki tujuan untuk mencari sensasi apalagi popularitas, sebab yang dilakukannya sebatas memberikan hiburan pada sesama rekan kerjanya utamanya saat menjalani tugas jaga di Pos Jaga Brimob Polda Gorontalo. Hanya saja, pada akhirnya video itu menyebabkan sikap kontroversial, ada yang pro namun tak sedikit pula yang kontra, termasuk didalamnya adalah para petinggi di institusi kepolisian.

Polri sebagai sebuah institusi negara sempat memiliki rencana memberikan sanksi terhadap Norman Kamaru karena dinilai kurang menjaga kehormatan institusi. Alasan kurang menjaga kehormatan itu diberikan akibat pada saat melakukan adegan lip sync Norman mengenakan seragam dinas kesatuannya. Akan tetapi sanksi itu urung dilaksanakan akibat kuatnya dukungan dari publik, sementara hukuman yang diberikan selanjutnya adalah menyanyi dan menari di depan rekan-rekannya.

Tak berhenti di sini, pihak yang kontra tetap menuntut agar Norman diberikan sanksi lebih dari itu. Alasannya karena Norman merokok saat bertugas dan juga lidahnya bertindik. Pada kondisi ini antara opini pro dan kontra makin merebak, satu sisi Norman memperoleh apresiasi, dia dianggap “humanis” karena selain mampu menghibur temannya dengan cara yang kreatif, ia juga dinilai menjadi sosok pelayan sekaligus pengayom yang baik. Bahkan UBK (Universitas Bung Karno) secara khusus juga memberikan beasiswa kuliah Program Strata-1 Jurusan Hukum ditambah satu sepeda motor. Hal itu dilakukan UBK lantaran di mata masyarakat Indonesia Norman telah berjuang memberikan “pencitraan baik” pada instansi kepolisian.

Sampai kondisi ini sebenarnya Norman juga telah melakukan sejumlah roadshow dengan tujuan menciptakan citra polisi yang humanis sebagai pelayan sekaligus pengayom masyarakat.

  • Diberhentikan dengan tidak hormat

6 Desember 2011 adalah hari yang menjadi bagian dari sejarah pada kehidupan Norman Kamaru karena saat itu karirnya dari keanggotaan brigade mobil Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo diberhentikan dengan “tidak hormat.” Pemberhentian Norman tersebut diputuskan pada sidang kode etik Direktorat Profesi dan Pengamanan Polda Gorontalo berdasarkan Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota POLRI. Norman dinilai telah melanggar disiplin karena tanpa alasan jelas dia telah meninggalkan tugas selama 84 hari.

Beralih Profesi

Meski Norman sudah tak menjadi anggota Brimob, namun dia telah memiliki modal sebagai sosok yang cukup dikenal sekelas selebritis. Tentu ini membawa keberuntungan padanya, antara lain adanya beberapa tawaran di dunia panggung hiburan pun entertainment yang acap menghampirinya. Hanya saja dunia ini tak membawa Norman merasa nyaman, hingga pada satu kesempatan dia memutuskan untuk sengaja vakum dari dunia entertainment.

  • Memulai usaha

Sebagai pelaku dunia entertainment, bersama istri dan seorang anak, Norman memang telah menjalani hidup di Jakarta. Memiliki istri dengan panggilan Cici yang bekerja pada sebuah kantor perdagangan berjangka tak membuat Norman minder, ia justru mulai memutar otak dan berembug dengan istri guna menjalankan sebuah usaha. Awalnya Norman memiliki rencana usaha sebuah butik pakaian, hanya saja sang istri tak menyetujuinya karena ingin memulai usaha berbeda dengan usaha butik yang telah dilakoninya di tanah kelahiran, Manado.

Sebagai pria bungsu di antara sembilan bersaudara dan memiliki ibu berdarah Ambon, Norman tentu menyadari bahwa kegemarannya memasak “makanan khas Manado” bisa dijadikan lahan mencari penghasilan. Maka usulan untuk membuka bisnis kuliner dismapaikan kepada itrinya, dan hal itu langusng mendapat persetujuan.

  • Pencarian lokasi usaha

Selanjutnya Norman mencari beberapa tempat guna menjalankan usaha kuliner tersebut, hanya saja sang istri masih belum setuju, karena maunya adalah lokasi yang tak jauh dari publik area. Tak pernah ada rejeki yang tak diberi oleh Tuhan dalam sebuah usaha, begitulah prinsip mantan anggota polisi ini, maka pucuk dicinta ulampun tiba, sebuah lokasi di Tower Damar, Kalibata City, Jakarta, merupakan tempat strategis yang berhasil didapatkannya. Posisinya langsung berada di depan lobi apartemen yang tak jauh dari pintu masuk-keluar parkir basement. Bahkan tempat itu juga tepat berada di depan lapangan futsal indoor.

Dan total modal senilai 80juta, 2juta rupiah adalah nilai yang harus dia keluarkan dmei memberikan uang muka mendapatkan tempat itu, padahal hanya berukuran 3,5×4 meter persegi.

Selanjutnya tempat yang tak besar itu dipermak agar lebih terlihat. Nuansa cat warna biru dipilihnya, dan penerangan dengan lampu neon besar diberdayakan. Sementara semua sisi dimanfaatkan guna meletakkan perabot dan sajian keperluan warung. Pemandangan warung sebagaimana biasanya terlihat disana, teronggok dispenser, terpajang etalase makanan, lemari es, rak piring, wastafel, aneka kopi dan minuman instan sachet, sampai kaleng kerupuk semua tersedia. Untuk penempatan meja dan bangku, ada empat buah meja makan lipat dengan empat kursi makan di setiap mejanya diletakkan di luar depan warung.

Harga yang harus dibayar berbanding tidak luasnya tempat itu tak membuat Norman pesimis, sebaliknya ia dan istrinya merasa tak salah strategi, karena lokasi “emas” ini mampu membuat warung yang menjual bubur dan beberapa makanan khas Manado ini mampu menarik banyak pengunjung. Tentu saja bukan sebatas penghuni apartemen, melainkan para tamu dan anak-anak muda penggemar futsal juga yang kerap nongkrong di warung 24 jam-nya. Hal itu karena Norman juga melihat peluang lain, sebagaimana dalam ilmu bisnis, ada demand maka Norman yang berlaku menyediakan supply. Orang butuh minum kopi dan memakan mi instan, maka ia menyediakannya.

Tak Terpuruk & Pantang Menyerah

Meski baru tiga bulan berdiri namun J&J Cafe sebagai nama warung milik Norman ini telah mengkaryakan orang lain. Namun karena ini adalah murni usaha yang sedari awal benar-benar ditangani langsung oleh adalahNorman, maka mantan polisi inipun ak hendak berpangku tangan, tak sekedar memasak, adakalanya Norman juga berangkat belanja ke pasar guna membeli bahan-bahan bubur, sayur, ayam, ikan, dan bumbu lainnya. Semua dijalaninya dengan semangat, apalagi sang istri yang sudah bekerja kantoran juga tak ada rasa canggung untuk juga selalu membawa pesanan makanan ke kantornya. Lebih dari itu, sepulangnya dari kantor bahkan sang istri juga tak segan menggantikannya untuk menunggu warung sebentar, sementara Norman memanfaatkannya untuk istirahat.

Warung Norman ini memang hanya berukuran kecil, namun di keseharian yang beroperasi nonstop selama 24 jam, Norman mampu memasak 2 sampai 3 kali.

  • Membiarkan Tangan Tuhan

Menjalani tiga jalur karier yang berbeda dalam usia yang terbilang muda tak membuat Norman merasa harus pilih-pilih pekerjaan. Memang semua memiliki kesan berbeda, terlihat gagah dan sok dihormati adalah saat menjadi polisi, dan nampak banyak uang dan terkenal adaalh ketika menjadi celebrity. Hanya saja ia mengaku hidupnya terasa lebih nyaman dan bisa lepas serta bermasyarakatadaalh tatkala menjadi tukang bubur.

“Ngapain sedih. Roda kehidupan terus berputar. Orang bisa di atas, bisa di bawah. Saya pikir ini sudah jalannya Tuhan manusia seperti itu, sudah digariskan. Dijalani saja. Pokoknya yang penting mencari rezeki yang halal, nggak mencuri,” beginilah tutur Norman sebagaimana dikutip oleh detik.

Sementara pekerjaan yang oleh banyak orang dinilai ‘down grade’, namun bagi sosok Norman proses ini tak menjadikannya patah semangat. Norman adalah sosok bersahaja dalam menghadapi segala suasana. Ia tak tersuruk ketika terpuruk, tetap tersenyum meski keadaan sedang susah, menyadari hal yang mungkin dinilai salah dan kemudian tetap menganggap hidup adalah sesuatu yang harus dijalani dan dituntaskan. Selebihnya, biarkan tangan Tuhan memberikan sesuatu yang memang pantas untuk kita terima karena bukan tidak mungkin tukang bubur bisa naik gaji yang diberkahi. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Norman Kamaru id.wikipedia.org Diakses pada 11 September 2014

[2] Dari artis kini buka warung: Norman kalau malu mau makan apa? news.detik.com Diakses pada 11 September 2014

[3] Gambar Norman Kamaru di Warung Bubur www.tribunnews.com Diakses pada 11 September 2014

Berbagi dan Diskusi

12 COMMENTS

  1. […] Layaknya selebritis di dunia nyata, tak jauh berbeda dengan kebeadaan seleb pada dunia maya. Sebagai bagian dari public figure, mau diakui ataupun tidak, seleb di dunia maya juga memiliki keuntungan tersendiri. Sebagai contoh perbandingan saja, ketika seleb dunia maya telah memiliki fans, penggemar, ataupun lebih dikenal dnegan istilah follower, maka mereka tentu akan mengalami kemudahan lebih dalam mendapatkan uang, dibanding dengan kebanyakan orang yang bukan seleb. Entah itu dengan menjadi buzzer, menerbitkan buku, dan lain sebagainya. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here