Istilah ‘Aksara’ Berasal dari Bahasa Sanskerta yang Berarti Tidak Musnah

14
15824
Aksara Jawa
Aksara Jawa (Source: Wikipedia)

Aksara adalah hal yang tak asing lagi pada kehidupan kita, baik pada masyarakat yang berada di perkotaan pun yang bertempat tinggal di pedalaman. Bahkan bagi masyarakat perkotaan tanpa disadari membaca aksara merupakan hal yang melebihi kebutuhan sehari-hari. Apabila kebutuhan makan nasi saja sesuai aturan adalah tiga kali sehari, maka membaca aksara bisa tak terhitung jumlahnya. Namun dari kebiasaan yang tak terhingga jumlahnya tersebut, ada hal yang butuh dipertanyakan; bisakah kita menjelaskan apabila berjumpa dnegan sebuah pertanyaan, “apa definisi dari aksara?”

Apa itu aksara?

Aksara adalah sebuah “sistem simbol visual” yang tertoreh pada satu media, memiliki fungsi untuk mengungkapkan unsur-unsur yang mengekspresikan suatu bahasa. Jika istilah lain untuk menyebut “aksara” adalah ‘sistem tulisan,’ maka alphabetical (alfabet) dan abjad adalah istilah berbeda, yaitu merupakan tipe aksara berdasar klasifikasi fungsional. Pada suatu aksara ada unsur-unsur lebih kecil, antara lain; grafem, huruf, diakritik, tanda baca, dan lain-lain.

  • Aksara berasal dari bahasa Sanskerta

Secara etimologi asal-mula “aksara’ adalah dari bahasa Sanskerta yang berakar pada kata “a” dan “kshara.” “A” memiliki arti ‘tidak,’ sedangkan “kshara” memiliki definisi “termusnahkan”

Dari definisi dua akar-kata di atas, maka arti aksara adalah sesuatu yang kekal, langgeng, ataupun tak termusnahkan. Alasan “kekal” sebab aksara memiliki peran demi mendokumentasikan serta mengabadikan satu peristiwa kedalam bentuk tulis. Hal ini sangat bisa dipahami tatkala kita bisa mengamati banyaknya aksara yang tertoreh pada masa lampau. Sebagai contoh adanya aksara yang ditatah pada batu, dicoretkan di atas daun lontar, serta diukir di permukaan lempeng tembaga, menjadi bukti kita bisa menemukan dokumentasi sejarah masa lampau, baik itu tentang kesuraman ataupun mengenai kejayaannya. Dan hal itu akan kembali dilakukan oleh generasi selanjutnya. Orang-orang Belanda yang menjajah Indonesia, selain menyimpan bukti-bukti sejarah Nusantara masa lalu, kenyataannya juga ada yang menulis ulang, sebagai contoh adalah tulisan tentang perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Selain itu, aksara acapkali juga diistilahkan dengan “huruf” dan juga “abjad,” yang memiliki definisi sebagai lambang bunyi (fonem).

Di Indonesia yang memiliki peradaban masa lampau berlimpah ini juga tak ketinggalan dalam sejarah “aksara,” pasalnya telah banyak aksara tercipta dan juga digunakan sebagai bahasa dokumentasi oleh peradaban Nusantara masa lalu. Sebut saja aksara Pallawa, aksara Jawa, dan masih banyak lagi.

  • Aksara di wilayah Nusantara

Aksara Nusantara adalah berbagai macam aksara pun tulisan berfungsi sebagai sarana komunikasi pun pendokumentasian yang diterapkan di wilayah lokal Nusantara. Memang pada perkembangannya, abjad Arab serta alfabet latin juga memengaruhi penggunaan aksara Nusantara, akan tetapi aksara Nusantara acapkali juga dikaitkan dengan aksara hasil inkulturisasi kebudayaan India sebelum berkembangnya Agama Islam serta berlangsungnya kolonialime bangsa-bangsa Eropa.

Namun yang pasti sudah sejak lama penduduk Nusantara ini mengaplikasikan media tulis, lihat saja dengan bukti adanya prasasti, baik yang berujud batu, kayu, tanduk hewan, lempengan emas, lempengan perak, tempengan tembaga, dan lempengan perunggu. Bukan sebatas prasasti saja, media tulis berbentuk naskah juga berserakan di seantero Nusantara, antara lain dengan memanfaatkan daun lontar, daun nipah, janur kelapa, bilah bambu, kulit kayu, kertas lokal, kertas impor, dan kain.

Jika aksara pada prasasti lebih sering terlihat berujud pahatan, maka tulisan berujud naskah di Nusantara ini diterapkan dengan alat tulis berupa pisau, pena dan tinta.

HAI – Hari Aksara Internasional

Mulai tahun 1966, setiap tanggal 8 September diperingati sebagai hari aksara internasional (HAI) demi memahami status keaksaraan secara global.

Hari aksara internasional yang diperingati tiap 8 September itu diputuskan UNESCO berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada tanggal 17 November 1965 di Teheran, Iran.

Gerakan Aksara di Indonesia

  • Pemberantasan buta aksara

Ketika dunia baru menyentuh “aksara” tahun 1966, maka Indonesia justru terlebih dahulu menyinggungnya, karena sudah sejak tahun 1948 Indonesia memulai gerakan pemberantasan buta aksara secara besar-besaran, yaitu pada era orde lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Bahkan gerakan yang dipelopori Bung Karno ini juga diteruskan oleh rezim orde baru.

  • Kelompok belajar Paket A

Meski hanya berlaku melanjutkan pemerintahan sebelumnya, namun pada pemerintahan orde baru dibawah pimpinan Soeharto membuat program berkelanjutan, yaitu program kelompok belajar Paket A Terintegrasi Pendidikan Mata Pencaharian. Dalam program ini Pak Harto berhasil menerapkan pendidikan dasar yang di dalamnya juga memberlakukan peningkatan pengetahuan tentang keaksaraan, oleh karenanya tahun 1994 UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menganugerahi sebuah penghargaan bernama “Avicenna Award.”

  • Gerakan Membaca Nasional

Tangga 12 November 2013 menjadi era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang juga tetap peduli terhadap keberadaan “aksara,” pasalnya selain menjadi tahun pertama dekade keaksaraan bangsa-bangsa, pada saat itu Indonesia juga mencanangkan Gerakan Membaca Nasional .

  • Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara

Satu tahun kemudian, Susilo Bambang Yudhoyono yang berlaku sebagai presiden RI mendeklarasikan pula sebuah gerakan dengan nama “Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara,” dimana gerakan ini selanjutnya dituangkan kedalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, sebagai salah satu prioritas program pembangunan di bidang pendidikan.

Demi mencapai tujuan tersebut, tahun 2006 pemerintahan SBY juga mengeluarkan Inpres “Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2006” yang isinya tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara. Dan dinilai sukses dalam menuntaskan tuna aksara, pemerintahan SBY memperoleh penghargaan dari Laura Bush, Duta Keaksaraan Internasional. Hal itu ditandai dengan hadirnya Ani Yudhoyono -selaku Ibu Negara- pada Konferensi Regional UNESCO di Beijing – Cina, tanggal 31 Juli 2007, dan lalu berbicara mengenai upaya pemberantasan buta huruf se-dunia (UNESCO Regional Conferences in Support of Global Literacy).

Satu Dekade Keaksaraan PBB (UN Literacy Decade)

Sebagai tindak pencegahan serta pengurangan terhadap makin tingginya jumlah penduduk dunia yang buta-aksara, maka dari tahun 2003 hingga 2012 UNESCO sebagai badan PBB mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau yang dikenal pula dengan istilah UNLD (United Nations Literacy Decade) 2003-2012.

Dekade ini dibagi kedalam lima tema;

  1. Tahun 2003 – 2004; Keaksaraan dan Gender
  2. Tahun 2005 – 2006; Keaksaraan dan Pembangunan Berkelanjutan
  3. Tahun 2007 – 2008; Keaksaraan dan Kesehatan
  4. Tahun 2009 – 2010; Keaksaraan dan Pemberdayaan
  5. Tahun 2011 – 2012; Keaksaraan dan Perdamaian

Sementara badan dunia membagi tema, maka dalam tiap peringatan Hari Aksara Internasional, Indonesia juga tetap melaksanakannya berdasarkan tema yang selaras dengan yang dicanangkan oleh UNLD. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Aksara id.wikipedia.org Diakses pada 08 September 2014

[2] 8 September, Hari Aksara Internasional kemdikbud.go.id Diakses pada 08 September 2014

[3] Gambar aksara Jawa www.wikipedia.org  Diakses pada 26 Agustus 2014

Berbagi dan Diskusi

14 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here