Asal-usul Timbulnya Umpatan Bajingan & Sontoloyo

15
10719
Sontoloyo itu Tukang Angon Bebek Itik
Sontoloyo itu Tukang Angon Bebek Itik

Sontoloyo dan bajingan adalah dua kata yang bisa jadi tak terlalu asing lagi bagi kita, yaitu kata pisuhan (sumpah-serapah) yang acap keluar tatkala hati kita sedang jengkel. Benar sekali, dua kata itu adalah kata-kata yang acap keluar dari mulut sebagai reaksi kekesalan atau dalam istilah bahasa Jawanya adalah ‘misuh.’

Misuh dan sumpah-serapah

Pada pergaulan sehari-hari, kita lazim mendengar berbagai kata umpatan sebagai reaksi kemarahan. Di lain sisi kita juga acap mendengar kata sumpah serapah yang bukan saja timbul karena kemarahan, namun justru muncul dalam nuansa becanda bersama teman.

Kata umpatan khas daerah tentu akan lebih dikenal secara lokal di daerahnya, sebagai contoh pisuhan “jancuk” yang keluar dari daerah Surabaya, Jawa Timur, dan sekitarnya. Ada pula kata “pantek” (la gadang) untuk jenis pisuhan yang tergolong kasar dari “orang awak” alias dari tanah Minang. Dan karena Nusantara kaya akan tradisi etnisnya, tentunya masih banyak lagi pisuhan lainnya.

Kembali pada tema awal, lalu dari mana asal mula kata kata sumpah-serapah ‘sontoloyo’ dan juga ‘bajingan’ itu? Bagaimana itu terjadi dan apa arti sebenarnya?

Sontoloyo dan Bajingan

  • Apa itu Sontoloyo?

    Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti dari ‘sontoloyo’ adalah ‘Konyol, Tidak Beres, dan Bodoh“. Kata ini lebih sering dipakai sebagai kata makian pun umpatan.
    Pernyataan KBBI tersebut sangat bertolak-belakang dengan arti sesungguhnya, karena kenyatannya sontoloyo itu merupakan nama yang disematkan orang Jawa dahulu guna menjuluki mereka yang berprofesi sebagai penggembala itik (bebek), atau di ranah Jawa akrab juga dengan sebutan “tukang angon bebek.”
    Selain berpakaian layaknya petani yang mengenakan caping sebagai tutup kepala, sontoloyo juga melengkapi diri dengan tongkat yang difungsikan sebagai alat pengendali binatang gembalaan.
    Begitulah makna sejati dari sontoloyo yang merupakan profesi terpuji.

  • Apa itu Bajingan?

    Masih di ranah Jawa, sejatinya kata pisuhan ‘bajingan’ merupakan satu istilah yang muncul guna merujuk orang yang memiliki profesi sebagai pengendara gerobak sapi. Sekali lagi, julukan ‘bajingan’ ini lebih cenderung merujuk kepada kusir gerobak (pedati) yang bergeraknya karena ditarik tenaga sapi (lembu), dan ini tidak berlaku pada kendaraan yang mengandalkan tenaga kuda, karena yang menggunakan tenaga kuda biasanya disebut ‘kusir.’

Tugas dan Tanggungjawab

Mungkin akan terlihat janggal dan bahkan juga lucu tatkala sekarang ini kita mendengar seorang bajingan namun memiliki tugas dan juga tanggung-jawab. Namun ketika merujuk pada arti sebenarnya, tentu saja kita akan sangat memahami bahwa sontoloyo dan bajingan kenyatannya adalah pekerjaan mulia yang tak bisa lepas dari tugas dan tanggungjawab.

Sontoloyo yang merupakan profesi “tukang angon bebek” sudah tentu bertanggungjawab terhadap bebek yang digembalakannya, antara lain harus mengarahkan bebek-bebeknya menuju sawah pun sungai sehingga bisa mencari makanan. Selain itu sontoloyo juga memiliki tugas mengembangbiakkan bebek dan juga melindunginya dari berbagai gangguan sehingga tetap terjamin keamanan serta kenyamanannya.

Tindakan nyata yang dilakoni seorang sontoloyo sebagai contoh adalah berada di bagian belakang barisan bebek dan lalu menggiring sesuai arah yang dikehendaki. Hal ini bertujuan agar bisa mengamati keadaan bebek, utamanya yang berada dibarisan paling belakang. Ada banyak alasan, bebek barisan paling belakang yang jalannya lambat berkemungkinan belok arah dan alu kabur, atau bisa jadi ada bebek paling belakang bakal mendapat ancaman dimakan ular sawah. Bukan itu saja, sontoloyo juga tetap bertanggungjawab terhadap bebek yang telah berada di dalam kandang. Selain merawat bebek yang kurang sehat, setiap pagi juga wajib memeriksa kandang yang biasanya akan banyak telur dikeluarkan oleh bebek pada malam harinya.

Serupa dengan sontoloyo, bajingan juga memiliki tanggungjawab yang sangat manusiawi. Pada jaman dahulu alat transportasi tentu tak semudah sekarang, sehingga untuk bepergian jauh pun membawa beban, banyak orang masih menemukan kesulitan. Demi mengatasi kesulitan tersebut, maka dihadirkanlah pedati ataupun gerobak dengan tenaganya mengandalkan sapi. Secara otomatis pengendali gerobak sapi yang berjuluk bajingan inilah yang ditunggu-tunggu banyak orang dengan kepentingannya masing-masing.

Dari tugas dan tanggungjawab di atas tentu ada banyak manusia bisa terbantu, baik oleh bajingan ataupun sontoloyo. Jika profesi sontoloyo mendedikasikan hidupnya dmei memenuhi kebutuhan makanan yang dihasilkan oleh binatang ternak bernama “bebek,” maka kehadiran bajingan juga memiliki tugas dan tanggungjawab mengendalikan laju gerobak yang sangat memberi manfaat bagi khalayak pengguna jasa transportasi. Lalu kenapa keduanya justru malah dijadikan bahan umpatan dan sumpah serapah?

Awalmula Sumpah-Serapah Bajingan dan Sontoloyo

Bajingan, menjadi kata sumpah-serapah dimungkinkan karena sering terjadi keterlambatan kedatangannya.

Jaman dulu belum banyak orang kaya yang mau memanfaatkan kekayaannya guna memfasilitasi alat transportasi umum kepada khalayak rakyat jelata, termasuk menyediakan gerobak sapi ini. Berawal dari terjadi ketidak-berimbangannya antara jasa penyedia dan pengguna layanan transportasi tersebut, maka acap terjadi keterlambatan. Pada akhirnya orang yang menunggu menjadi kesal terhadap sopir pedati, para bajingan ini. Dan karena telah terbiasa terlambatnya, maka kekesalan terhadap “bajingan’ ini juga menjadi kebiasaan untuk bersama-sama mengolok-oloknya, ‘dasar bajingan, lambat kerjanya!’

Semacam itulah olok-olokan itu terjadi, sehingga berlanjut dan seolah menjadi daftar hitam yang harus disandang oleh para pengendali pedati, bajingan.

Tatkala para pengguna transportasi umum mengumpat sopir pedati dnegan kata bajingan, sejatinya tak jauh berbeda dengan pisuhan yang diungkapkan pada kata “sontoloyo.” Sontoloyo biasanya menggembala bebek dengan jumlah yang sangat banyak, bahkan tak jarang ratusan bebek harus dikendalikannya sendiri. Akibat dari banyaknya itik ini, maka ketika berjalan akan menimbulkan barisan yang sangat panjang.

Munculnya umpatan “sontoloyo” bermula ketika barisan bebek yang sangat panjang menyebrangi sebuah jalan, sehingga mau tak mau para pengguna jalan juga harus berhenti hingga barisan bebek ini semuanya berhasil menyebrangi jalan. Saking lamanya dan kadang juga lambatnya bebek berjalan, maka banyak orang menjadi jengkel dibuatnya. Kejengkelan ini akhirnya memicu para pengguna jalan untuk mengumpat dengan “sontoloyo.” Hal ini sangat bisa dipahami, karena belakangan umpatan lain namun peristiwanya serupa juga muncul, yaitu ungkapan aneh dan lucu; “ndase!” (Kepalanya!) yang disebabkan harus menunggu lama akibat palang kereta-api ditutup, giliran ketahuan yang lewat cuma kepala lokomootifnya saja, maka orang-orang akan misuh dengan umpatan ndase!

Jadi dapat disimpulkan umpatan yang timbul pada kata bajingan, sontoloyo dan bahkan juga ndase, semua disebabkan karena ketidak-sabaran manusia untuk menunggu. Atau bisa juga sebaliknya, karena perilaku para sontoloyo, bajingan, dan petugas palang kereta-api yang lambat, cenderung menghambat, tak disiplin, dan kurang menghargai waktu, sehingga hal inipun dipakai pula oleh Bung Karno sebagai bahan artikel “istimewa-nya” yang dimuat majalah “Panji Islam” tahun 1940 dengan tajuk ‘Islam Sontoloyo.’ [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Arti kata Sontoloyo & Bajingan  bumisaloka.wordpress.com    Diakses pada 14 September 2014

[2] Gambar Tukang Angon Bebek www.ikanmasteri.com  Diakses pada 14 September 2014

Berbagi dan Diskusi

15 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here