‘Anjir’ Adalah Tanda Khusus di Tengah Sawah yang Dipasang Para Petani Jawa

26
5316
Anjir sebagai tanda khusus di tengah sawah
Anjir sebagai tanda khusus di tengah sawah

Dikenal sebagai negeri agraris tentu saja ada banyak metode pertanian yang diterapkan di Nusantara ini, baik dari cara mengelola lahan pertanian, memberi pupuk, menjalankan pengairan, dan masih banyak lagi. Metode pertanian itu selain memang diberikan oleh pihak PPL (Petugas Penyuluh Lapangan), banyak juga metode yang telah diterapkan secara turun-temurun dari leluhur masing-masing.

Metode Bertani Adat dan Metode PPL

Metode bertani yang diterapkan berasal dari petugas lapangan ini bisa jadi memiliki kesamaan antara daerah satu pun daerah lain, akan tetapi tidak demikian halnya dengan metode yang diterapkan dari ajaran turun-temurun. Hal ini terjadi sebab ilmu yang disebarkan oleh PPL merupakan kesepahaman yang telah distandardkan oleh pihak pemerintah, sementara ilmu pada metode turun-temurun memiliki kecenderungan berbeda lantaran adat pada satu daerah akan cenderung berbeda dengan adat daerah lainnya.

Ada banyak sekali jenis metode yang diterapkan pada pertanian, salah satunya adalah pola pengaira “Sabak” yang diterapkan di Bali, dan juga keberadaan penanda pada satu sawah di sebagian daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta yang dikenal dengan nama ‘anjir’

Tanda Anjir di Sawah

Disamping mengenal orang-orangan sawah yang berfungsi untuk mengusir burung, masyarakat petani di Jawa, utamanya di daerah Yogyakarta mengenal pula satu tanda yang diletakkan ataupun ditancapkan pada salah satu bagian persawahan, bisa ditengah-tengah sawah ataupun di pematangnya. Tanda yang terbuat dari sebatang kayu atau sebilah bambu tersebut bernama anjir. Anjir merupakan tanda yang memiliki ukuran panjang sekitar 2 meter dan biasanya juga dilengkapi dengan bendera.

  • Bendera anjir

Bendera memang telah dikenal sejak lama, baik pada sejarah dunia pun sejarah lokal sekitar kita. Apabila pada sejarah dunia dulu sempat dikenal dengan timbulnya tiga warna bendera yang selanjutnya marak dikenakan oleh bangsa-bangsa Eropa, maka di Indonesia ini wujud bendera juga telah dikenal pada amsa kejayaan majapahit, yaitu dengan wujud bendera ‘gula kelapa.’

Tak jauh berbeda dengan keberadaan bendera pada umumnya, bendera pada anjir juga memberikan makna tertentu bagi masyuarakat petani. Hanya saja makna khusus ini tak sebagaimana biasa termaktub dalam warna sebuah bendera, bahwa bendera pada anjir bentuknya hanya “seketemunya saja” alias alakadarny; bisa hanya berasal dari tali plastik, sesobek kain, ataupun lembaran dedaunan yang diikat pada ujung kayu/bambunya.

  • Makna anjir di lahan persawahan

Simbul anjir dikibarkan di sawah memiliki makna yaitu sebagai pertanda bahwa area persawahan diseputar anjir tersebut tak diperkenankan dijamah oleh pihak lain. Artinya siapapun tak boleh mengganggu, mencolek, pun mengambil apa saja yang ada di lingkungan persawahan selama tanda anjir itu masih terpancang, meskipun hanya mau mengambil rumput pun mencari keong. Sehingga apabila ada pihak yang memiliki kepentingan dengan lokasi persawahan tersebut, maka harus terlebih dahulu menghubungi dan meminta ijin kepada sang empunya sawah.

Pemasangan tanda khusus bernama “anjir” ini dilakukan oleh sang empunya sawah bukan karena kesombongan semata, melainkan kebanyakan para petani juga memiliki kepentingan yang berhubungan dengan tumbuhan pun binatang yang ada pada lokasi persawahannya. Sebagai contoh adalah keberadaan rumput, jerami ataupun tanaman lain, yang semua itu bisa dimanfaatkan sendiri, mislanya untuk dijadikan pakan ternaknya. Oleh karenanya hal ini acapkali dilakukan ketika musim kemarau tiba, yaitu masa yang lebih susah dalam mencari pakan ternak.

  • Faktor lain

Selain menyangkut pakan ternak, ada faktor lain yang memungkinkan para petani melakukan pengibaran pun penancapan anjir. Misalnya sehubungan dengan irigasi, menjadi hal yang sangat masuk akal dan lazim tatkala para petani juga memasang anjir dibagian selokan pada pematang sawah, dimana pada tempat itulah sirkulasi air mulai mengalir memasuki area persawahannya. Ada pula pemasangan anjir ketika berlangsungnya musim tanam, ini dimaksudkan agar tak semua orang bisa sembarangan menginjakkan kaki di lahan tersebut, tujuannya bisa jadi karena lahan persawahan sudah diratakan dan siap menjadi media tanam bagi benih-benih padinya.

Hukum Pemasangan Anjir

Anjir merupakan tanda yang diterapkan oleh masyarakat petani di kawasan Yogyakarta bukan atas nama hukum sebuah negeri, akan tetapi lebih pada kesepakatan bersama pada masa lampau kemudian secara turun-temurun tetap dibudayakan keberadaannya. Oleh karenanya hal ini tak akan bisa dibawa naik ke meja hijau tatkala sesorang melanggar kesepakatan yang tanpa tersirat tersebu, akan tetapi hukuman sosual bukan tidak mungkin akan diberlakukan oleh masyarakat petani apabila melanggarnya. Jadi keberadaan anjir memang bukan condong pada sebuah hukum yang dibentuk oleh sebuah instansi pun birokrasi, akan tetapi merupakan sebuah peraturan atas kesepakatan, dan lalu cenderung kepada “norma sosial” dalam penerapannya. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Disarikan dari cerita para tetua petani Jogjakarta. Dipublish pada 29 September 2014

[2] Gambar Anjir www.gkendeng.blogspot.com  Diakses pada 29 September 2014

Berbagi dan Diskusi

26 COMMENTS

  1. […] Menjadi pengajar tamu dengan memberikan kuliah sastra Indonesia dilakoninya melalui terjemahan di Oberlin College, Ohio dan Northern Illionis University, Amerika Serikat , yaitu 1986-1987. Selain menjadi Guru Besar pada jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Bakdi juga pernah memberikan Pengkajian Seni Pertunjukan serta Pengkajian Amerika, pada Pasca Sarjana UGM – Yogyakarta, Pasca Sarjana UNDIP – Semarang dan juga Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo – Jawa Tengah. […]

  2. […] Sejatinya sarapan merupakan hal yang lazim dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia bukan saja pada saat belakangan ini. Namun juga telah dilakukan secara rutin oleh banyak orangtua terdahulu, yaitu sebelum melakukan aktivitas kesehariannya. Tentu saja bentuk makan paginya tak selalu sama. Sebagai contoh adalah apabila para pegawai kantoran menyantap roti pun meminum susu, maka menikmati teh panas dan juga ubi-ubian adalah sarapan yang dilakukan sebagian masyarakat petani. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here