Ngayogjazz: Event ‘Pertunjukan Musik Kelas Atas’ Yang Disajikan Secara Merakyat

21
1636
Ngayogjazz Yogyakarta
Salah satu performance Ngayogjazz di Yogyakarta

Dalam bahasa Jawa “selo” memiliki arti longgar ataupun ada ruang kosong. Istilah selo belakangan ini juga merebak diucapkan khalayak masyarakat Jogjakarta, namun selain berarti longgar, ada definisi yang mengarah pada ungkapan plesetan alias slengekan, yang berkonotasi pada kata “slow” alias “pelan.”

Begitulah Jogja dengan bahan canda dan gurauannya yang kadang membawa unsur “plesetan” di dalamnya, yang selanjutnya hal itu juga banyak direspon oleh pelaku seni dan hiburan. Salah satunya adalah kalimat “Bukak Sithik Jazz” yang sejatinya merupakan kalimat plesetan dari satu jingle lagu dangdut ‘bukak sithik joss.‘ Kalimat ‘Bukak Sithik Jazz’ ini hadir dalam acara rutin tahunan di Yogyakarta bertemakan jazz, ngayogjazz.

Event Rutin Setiap Tahun, Ngayogjazz

Sebagai kota budaya, Yogyakarta tentu saja mengakomodasi banyak aliran serta jenis musik, baik musik etnik ataupun musik modern, pentatonis pun diatonis, beraliran pop, rock, dangdut, reagee, jazz, ataupun mahzab lainnya, semua terakomodasi di kota budaya. Ada yang berbayar dan mengenakan HTM(Harga Tiket Masuk) ataupun free karena memang menjadikannya sebagai hiburan rakyat.

Dan sekiranya jazz dipandang sebagai musik kelas atas yang harus membayar mahal guna menyaksikannya, maka di Jogja ada pertunjukan rutin yang bertemakan musik jazz namun tak butuh mengeluarkan kocek banyak, ialah event Ngayogjazz.

  • Ngayogjazz, pertunjukan rakyat

Ngayogjazz boleh dibilang adalah satu pertunjukan hiburan rakyat yang sangat demokratis, karena dilakukan di tengah hunian masyarakat kampung yang tiap tahun selalu berpindah, dan crew yang menanganinya juga berasal dari berbagai rakyat, baik dari komunitas ataupun kelompok, semuanya bekerjasama secara gotong-royong saling menopang demi satu tujuan, terwujudnya pertunjukan musik jazz yang spektakuler. Kegotong-royongan antara masyarakat dengan pegiat kesenian ini bukan saja mempertontonkan satu panggung jazz saja, akan tetapi lebih dari tiga panggung bakal tersaji dengan penampil yang beraneka-warna.

  • Jazz adalah juga musik rakyat

Beberapa panggung yang berada di tengah-tengah masyarakat “kampung wisata” menjadi pembeda hajatan musik jazz di Yogyakarta dibanding perhelatan musik jazz di tempat lain. Hal ini menyuguhkan hal positif karena telah memberikan kesan yang berimbang. Pasalnya musik daerah yang acap ditinggalkan kawula muda, di Jogja juga sering dipertontonkan agar naik kelasnya. Sebaliknya, dengan adanya “ngayogjazz” ini memberikan makna kepada kita bahwa musik jazz yang selama ini dikategorikan sebagai musik kelas atas, toh pada akhirnya bisa disejajarkan “grade-nya” dan masyarakat kecil juga bisa menikmati, lantaran berada ditengah panggung rakyat.

  • Komunal dan jauh dari paham “money oriented

Menyaksikan kebersamaan dan gotong-royong dalam proses terjadinya pertunjukan ngayogjazz yang telah digelar sejak tahun 2007 ini, ada hal yang bisa diambil maknanya, bahwa lokasi yang dari tahun ke tahun selalu berpindah dan bahkan ada yang menengarai tidak lumrah, memberikan signal kepada khalayak bahwa musik jazz yang selama ini identik dengan kaum borju, toh di Jogja bisa merakyat, mampu menyapa siapa saja tanpa harus membedakan kelas strata sosial.

Ngayogjazz membuktikan sebagai salah satu bagian dari istimewanya Jogja, karena tak sedikit penggemar jazz dan juga pecinta atmosphere Jogja bakal kembali lagi ke kota pelajar ini demi menikmatiny. Baik menikmati musik jazz dengan suasana lain, pun menikmati suasana Jogja dan berbaur dengan masyarakatnya. Di ngayogjazz kita bisa menikmati hiburan ala “rakyat” yang harus rela berdiri dan berdesakan dengan penonton lain, di ngayogjazz pula kita harus rela digigit nyamuk karena memang venue-nya tak jauh dari kebun dan juga persawahan. Masih di ngayogjazz kita tetap bisa menikmati gelaran musik jazz meski hanya bersendal jepit tanpa harus bergaun mewah serta tak wajib mengenakan sepatu mahal.

Ngayogjazz Dengan Tema Merakyat

Kembali ke nuansa ‘plesetan’ sebagai salah satu istilah yang menjadi nafas gurauan masyarakat dan rakyat Yogyakarta, maka tema yang diusungpun tetap merakyat, tak menggunakan istilah yang modern padahal tak banyak orangbisa memahaminya. Kenyataannya bahasa plesetan tetap semarak diterapkan dalam mengusung tema ngayogjazz dari tahun ke tahun;

    • 2007, bertempat di Padepokan Bagong Kusudiardja
      Iki jaman e-jazz, yen ora ngejazz, ora kedum-jazz (berasal dari kalimat Jawa: iki jaman edan, yen ora edan, ora keduman)
    • 2008, bertempat di Tembi, Sewon, Bantul
      Njajazz desa milang kori (dari kalimat peribahasa Jawa: Njajah desa milang kori)
    • 2009, bertempat di kompleks pasar seni Gabusan
      Jazz basuki mawa beya (dari kalimat peribahasa Jawa: Jer basuki mawa beya)
    • 2011, bertempat di rumah kediaman Joko Pekik
      Mangan ora mangan, ngejazz (dari kalimat Jawa: Mangan ora mangan, kumpul)
    • 2011, bertempat di Kota Gedhe
      Nandoer jazzing pakarti (dari kalimat peribahasa Jawa: nandur wohing pakarti)
    • 2012, bertempat di desa wisata Brayut, Sleman
      Dengan ngejazz, kita tingkatkan swasembada jazz (dari kalimat: dengan bercocoktanam, kita tingkatkan swasembada pangan)
    • 2013, bertempat di Sidoakur, Godean, Sleman
      Rukun agawe ngejazz (dari kalimat peribahasa Jawa: rukun agawe santosa)

Yang tercipta memang adalah suasana gurauan serta candaan, dan pekerjaan dilakukan atas dasar sukarela, namun tak berarti itu semua menjadikan pekerjaan hanya sebatas berkelas amatir.

  • Gratis namun tetap profesional

Dari pertunjukan yang tanpa tiket masuk ini, boleh dibilang tiada pendanaan besar dalam mengelola sebuah pertunjukan. Dari bentuk kerjasama tanpa bayaran dari para tenaga yang menanganinya, bisa saja dinyatakan melakukan “proyek terimakasih,” namun semua itu tak menjadikan orang-orang yang membidanginya menyajikan alakadarnya. Sebaliknya, justru dari sana akan tampak siapa yang ada itikad baik dalam mendedikasikan diri melakukan pekerjaannya, profesionalisme tumbuh dari diri tanpa orientasi berlebih, utamanya pada uang.

Begitupun pada sisi para penampil, meski banyak pelaku jazz pemula yang tampil, namun artis dan selebriti kawakan jazz juga tak luput dari hajatan ini, lihat saja kehadiran Idang Rasjidi, Syaharani, dan masih banyak lagi, bahkan selalu dihadirkan pula artis jazz dari mancanegara.

Event ngayogjazz yang telah terlaksana lebih dari lima kali ini menjadi bukti profesionalisme di tengah masyarakat itu.  Dan dengan Idang Rasjidi menjuluki Djaduk Ferianto, sang pelopor ngayogjazz, sebagai “Jazzer Proletar” semakin membuktikan bahwa profesionalisme tetap bisa diraih tanpa harus melacurkan diri pada harta. Ini benar-benar memberikan pelajaran tentang “kemanusiaan” yang sejatinya telah kita miliki sejak lama, bahwa Ngayogjazz sebagai bagian dari “kebudayaan” memberikan cerminan sebagai gelaran musik berkelas, akan tetapi tetap mampu menjaga kita sebagai masyarakat yang “berbudaya,” yaitu yang tetap menjaga sisi-sisi humanisme.

Tatkala musim hujan tiba, banyak insan jazz yang kemudian teringat dengan event ngayogjazz ini. Pada tahun 2014 gelaran ngayogjazz bakal dilaksanakan pada hari Sabtu Kliwon tanggal 22 November 2014, bertempat di Dusun Malangrejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Ngayogjazz www.ngayogjazz.com Diakses pada 11 September 2014

[2] Warta Jazz Ngayogjazz www.wartajazz.com Diakses pada 11 September 2014

[3] Gambar performance ngayogjazz 2013 AmirudinAkhmad diambil dari www.ngayogjazz.com Diakses pada 11 September 2014

Berbagi dan Diskusi

21 COMMENTS

  1. […] Pajak pada jaman kerajaan masih belum terlihat sebagai “pajak,” karena lebih cenderung sebagai ‘upeti’ yaitu penyerahan harta (bisa berujud uang ataupun barang) dari seorang rakyat terhadap kalangan penguasa. Upeti ini ada yang menyerahkannya secara sukarela, tentu kalau rajanya memang bijak dan benar dalam memimpin, namun ada pula yang menyerahkan upeti secara terpaksa, utamanya jika memiliki penguasa yang tak ada niat menyejahterakan rakyatnya. […]

  2. […] Total 6.802 hektare area tanah yang akan dibangun sebagai bandara berkapasitas 10.000 penumpang setiap tahun ini, 40 persennya memang merupakan ‘Sultan Ground’ yaitu tanah milik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Hal ini bisa jadi merupakan area yang bisa dikompromikan pihak pemerintah pun pihak korporatsi, mengingat Sultan adalah juga yang menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. […]

LEAVE A REPLY