Legenda Ikan Keramat dan Kelelawar di Gua Ngerong Tuban

14
26819
Gua Ngerong Tuban Jawa Timur
Gua Ngerong Tuban Jawa Timur

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita yang berkembang, mitos atau legenda di beberapa tempat wisata Indonesia menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati.    Salah satunya adalah keberadaan gua yang paling tersohor di Tuban,  Gua Ngerong.        Bahwa karena masyarakat sekitar telah memercayai adanya mitos ratusan ikan di sungai yang menuju ke gua dipelihara oleh danyang Desa Rengel, maka apabila memakannya bisa dipastikan akan mengalami malapetaka berujung kematian.

Wilayah Rengel, Tuban

Rengel adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang dipisahkan Bengawan Solo dan berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro.

  • Asal Mula Nama Rengel

Sesuai dengan kontur atau kondisi daerahnya yang bertebing dan agak susah dijangkau, nama Rengel berasal dari kata ereng-ereng (tebing) dan angel (susah).      Akan tetapi meskipun tandus, daera ini merupakan penghasil tambang batu kapur yang terkenal dengan sebutan batu kumbung (bata putih).

  • Potensi Wisata

Selain Gua Ngerong, wilayah Rengel juga memiliki potensi wisata berupa Bumi Perkemahan Sendang Maibit, Pemandian Sendang Beron, dan Jurang Pencit yang dihuni ribuan monyet yang juga cocok digunakan sebagai hiking-track.   Sementara terdapat pula sebuah sendang dengan nama Sendang Lohgawe yang terkenal sebagai penghasil ikan air tawar.

Legenda Asal Mula Gua Ngerong

Gua Ngerong Tuban Jawa Timur
Gua Ngerong – Tuban – Jawa Timur

Diperkirakan sekitar 2000 tahun lalu berdirilah sebuah kerajaan Gumenggeng yang berpusat di dukuh Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, yang dipimpin seorang raja bernama Raden Arya Bangah, yaitu putra dari Kyai Gede Lebe Lontang.

Karena berada di pegunungan kapur, kerajaan Gumenggeng mengalami kesulitan mengakses sumber air terlebih saat musim kemarau, sehingga masyarakatnya acapkali dilanda paceklik dan kekeringan panjang.            Hal inilah yang menggerakkan Arya Bangah untuk melakukan lelana brata atau laku batin demi mendapatkan petunjuk dari dewata.           Selanjutnya ia memperoleh petunjuk yang mengatakan bahwa bila ada yang sudi bersemedi di puncak gunung (saat ini bernama Desa Andhong), maka Kerajaan Gumenggeng, akan selamat dari kekeringan.     Oleh karenanya Arya Bangah mengadakan sayembara, dan bagi yang bersedia akan dihadiahi tanah luas.

Mendengar sayembara ini, muncullah orang yang bersedia melakoni persyaratan, yaitu Kyai Jala Ijo. Sesampai di bukit, sang kyai bertapa mengheningkan cipta; mandeng pucuking grana, sedakep saluku tunggal, nutup babahan hawa sanga, muji marang Dzat kang murbeng wisesa untuk mendapatkan bisikan gaib.         Hingga akhirnya Kyai Jala Ijo mendapat petunjuk untuk menyungkil tanah di sebuah tempat yang masih merupakan wilayah kerajaan.        Tak pelak Kyai Jala Ijo kemudian menancapkan tongkatnya dan mencungkil tanahnya.      Alkisah tanah tersebut berhasil mengeluarkan air dan berubah menjadi celah (gua) yang berbentuk menyerupai rong (terowongan atau lubang), yang kemudian diberi nama Gua Ngerong.

Obyek Wisata Gua Ngerong

Obyek wisata Gua Ngerong berupa sungai yang menuju ke sebuah gua, dimana konon gua ini bisa tembus sampai Kabupaten Tuban yang di dalamnya juga dihuni sebuah makhluk sangat besar namun tak nampak jelas.       Sedangkan di sungai dalam goa hidup dan berkembang biak pula ikan-ikannya, beberapa di antaranya berjenis nila, mujair, gurami, dan lele. Ukuran rata-rata sebesar telapak tangan, namun ada pula yang panjangnya bisa mencapai ukuran lengan tangan orang dewasa.

  • Kelelawar

Goa Ngerong yang berdiameter tiga meter ini dari kejauhan tampak berwarna hitam di beberapa bagiannya, yang merupakan warna dari ribuan ekor kelelawar jenis Rousettus sp dan Rhinolopus sp.     Jenis kelelawar itu adalah yang hidup berkoloni dan bergelantungan di dinding dan menghasilkan bau menyengat akibat adanya kotoran yang terdapat pada berbagai tempat .

  • Ikan

Di aliran sungai yang memiliki kedalaman 30 cm di bagian dangkal dan sekitar 1 meter pada bagian terdalamnya ini ikan-ikan bisa berkembangbiak dengan baik. Sehingga dari permukaan air yang jernih juga kita bisa memanjakan mata dengan melihat tingkah polah ikan yang hilir mudik mengejar makanan .

  • Bulus Putih

Di dalam gua juga dihuni beberapa ekor bulus (semacam penyu) berwarna putih yang oleh warga dijuluki dengan nama Sanggem, Poleng, dan Menik.  Ada yang unik dari satwa berkarapas (bertempurung keras) itu, yaitu ketidaktakutannya untuk bergerak mendekat bila dipanggil namanya dan diberi pakan roti.

  • Penjual klentheng, Roti, dan Jagung Brondong

Pengunjung bisa memberi makan ikan berupa klentheng (biji buah kapuk), roti, dan jagung brondong yang dijual seharga seribu sampai dua ribu rupiah.      Apabila klentheng, roti atau jagung brondong disebar, maka dalam hitungan detik ikan-ikan akan mendekat dan saling berebut pakan.

  • Mitos Dari Sudut Pandang Ilmiah

Keberadaan ikan yang hilir mudik di sungai tentu menggoda minat untuk mengambil dengan cara memancing atau menjala, akan tetapi hal tersebut tidak berlaku di Gua Ngerong. Tak ada seorang pun yang berani mengusik karena keberadaan ikan-ikan tersebut dikeramatkan oleh warga setempat Dan apabila ada yang berani melanggar pantangan, sangat diyakini orang itu akan mendapat musibah.     Minimal ia akan didatangi penunggu sungai, meminta supaya ikan tersebut dikembalikan ke sungai.

Mungkin ini hanya sebatas mitos saja, namun apabila ditilik secara ilmiah, mitos tersebut juga dapat dijelaskan secara rasional. Makanan utama ikan adalah kotoran kelelawar yang banyak mengandung zat NH3, sedangkan amonia sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh. Jadi, sangat logis bila ada orang yang memakan ikan dari sungai ini akan berujung pada kematian.    Di lain sisi, mitos ini memiliki sisi baik; menjadi pagar betis alami yang melindungi kelestarian ikan dan bulus putih dari pancing dan jaring manusia. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Rengel, Tuban id.wikipedia.org Diakses pada 11 Oktober 2014

[1] Gambar Goa Ngerong Rengel Tuban diambil oleh Desi Puspitasari puspitadesi.com Diakses pada 11 Oktober 2014

Berbagi dan Diskusi

14 COMMENTS

  1. […] Memelihara ikan hias adalah salah satu hobi yang telah lama digandrungi dan memiliki banyak peminat. Mereka yang menggemari ikan hias biasanya memiliki akuarium dilengkap dengan segala pernak-perniknya. Tak sedikit juga yang memilih kolam kecil di halaman atau taman sebagai bagian dari desain rumahnya. Selain akuarium dan kolam, sebagian lainnya juga menggunakan aquascape sebagai media pemeliharaannya. Meski sudah banyak peminat aquascape pada kalangan penghobi ikan hias, namun banyak orang yang belum tahu perbedaan antara aquascape dengan akuarium. [Baca juga: Legenda Ikan Keramat dan Kelelawar di Gua Ngerong Tuban] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here