Bakdi Sumanto: Sosok Sastrawan, Budayawan, dan Seniman yang “Mbalung Sumsum” pada Profesinya

13
2184
Bakdi Sumanto Sosok Peduli Seni Budaya dari UGM Yogyakarta
Bakdi Sumanto Sosok Peduli Seni Budaya dari UGM Yogyakarta

Pada hari Sabtu, tanggal 11 Oktober 2014, pukul 03.45, orang dengan dedikasi tinggi bernama Bakdi Sumanto telah pergi menghadap sang Maha Kuasa. Tentu saja ini adalah sebuah kehilangan yang teramat besar bagi negeri ini, karena Profesor Bakdi Sumanto adalah sosok pengabdi yang tiada bandingnya. Oleh beberapa sahabat, Pak Bakdi (demikian beliau akrab dipanggil) dikenal sebagai pengejawantahan dari semangat kerendahhatian dan sosok nyata yang masih menjiwai sisi humanisme melalui kesenian. Bahkan tata nilai dan budiluhur bukan sebatas kata klise karena benar-benarada pada sifatnya.

Mbalung Sungsum Memaknai Hidup

Dari pemahaman semacam itu dan ditambah pula rekam jejak yang ada, dapat disimpulkan bahwa Pak Bakdi merupakan sosok yang sungguh-sungguh dan telaten dalam bekerja, sehingga derajad kemanusiaan secara tidak langsung benar-benar melekat pada dirinya. Pengabdiannya pada masyarakat melalui ilmu seni dan budaya yang ditekuni seolah “mbalung sungsum,” yaitu meresap di kehidupan hingga mencapai kedalaman pada tulang sungsum.

  • Pengabdian dan dunia pendidikan

Terlahir di Solo (Surakarta) pada tanggal 29 Oktober 1941, tahun 1977 Bakdi menyelesaikan pendidikannya pada Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Selanjutnya tahun 1982 mengikuti “American Studies Program” di Universitas Indonesia, hingga tiga tahun kemudian kembali di UGM guna menyelesaikan program pascasarjana, dan berhasil meraih gelar Doktor dalam Ilmu Sastra UGM tahun 2002 dengan disertasi berupa penelitian terhadap drama karya Samuel Becket, ‘Waiting for Godot’.

Pada masa menjalankan studi tersebut, Bakdi juga pernah mengajar di IKIP Sanata Darma Yogyakarta, yaitu dari tahun 1971 hingga tahun 1979, dan juga Akademi Kewanitaan Yogyakarta pada tahun 1976 sampai dengan 1979. Selain itu Akademi Bahasa Asing Kumendaman Yogyakarta adalah juga tempat ia berbagi ilmu dari tahun 1979-1982, sedangkan di tanah kelahirannya, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo adalah tempatnya mengabdi dari tahun 1979 hingga tahun 1982.

Menjadi pengajar tamu dengan memberikan kuliah sastra Indonesia dilakoninya melalui terjemahan di Oberlin College, Ohio dan Northern Illionis University, Amerika Serikat , yaitu 1986-1987. Selain menjadi Guru Besar pada jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Bakdi juga pernah memberikan Pengkajian Seni Pertunjukan serta Pengkajian Amerika, pada Pasca Sarjana UGM – Yogyakarta, Pasca Sarjana UNDIP – Semarang dan juga Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo – Jawa Tengah.

  • Karya Sastra

Dalam karya sastra, sedari remaja sebelum menjadi mahasiswa, Profesor Bakdi Sumanto telah memiliki kebiasaan menulis cerpen dan juga puisi. Hasil karyanya, antara lain adalah;

    • 1979, Dari Kartu Natal ke Doktor Plimin
    • 1999, Angan-Angan Budaya Jawa: Analisis Semiotik Pengakuan Pariyem
    • Kalung Tanda Silang (cerber, belum dibukukan).
    • 1999, Cerita rakyat Yogyakarta 1 & 2 & 3
    • 1999, Cerita rakyat Surakarta 1 & 2
    • 2000, Jagat Teater
    • 2001, The Magician
    • 2002, Godot di Amerika dan Indonesia
    • 2003, Doktor Plimin, kumpulan Cerpen
    • 2004), Mincuk (Kumpulan cerpen)
    • 2003, Rendra: Manjing ing Sakjroning Kahanan dalam MSPI
    • 2006, Sapardi Djoko Damono: karya dan dunianya
    • 2006, Majalah Dinding (kumpulan drama)
    • 2006), Kata (kumpulan puisi)
  • Teater

Selain di dunia sastra, Bakdi Sumanto adalah satu dari sedikit kritikus teater yang ada di Indonesia. Dan karenanya, ada pula karya yang terlahir dari tangannya, dainataranya adalah Jagat Teater pada tahun 2000 dan Kumpulan Drama Remaja tahun 1988. Dari keseriusan ini pulalah maka tahun 2013 Federasi Teater Indonesia memilihnya pula sebagai Tokoh Teater Indonesia.

Kepiawaiannya pada dunia seni dan budaya tersebut juga membuatnya untuk diundang beberapa kali oleh ASEAN dan SPAFA guna menyajikan makalah pada seminar seni pertunjukan di Singapura serta Bangkok.

  • Jurnalisme

Keseriusan dalam dunia sastra dan budaya tak menghalangi Bakdi untuk meluangkan waktu dmei menekuni bidang lain, pasalnya ketika remaja beliau pernah menjadi redaktur Basis, yaitu dari tahun 1965 hingga 1967), redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah sejak tahun 1966 hingga 1969, Peraba (1971-1976), dan juga Semangat (1975-1979).

Jabatan sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Yogyakarta pernah disandangnya sebelum poada akhirnya Bakdi kembali ke dunia kampus untuk mengabdi sebagai retired profesor di Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Yogyakarta. Bukan itu saja, di kampus sosok Bakdi juga masih meluangkan diri untuk membimbing thesis dan disertasi khususnya pada program Pascasarjana UGM, ISI Sala, UMS Sala, dan KBI Sanata Darma.

Berbagai penghargaan pernah diraih Bakdi, diantaranya adalah dari Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dari Universitas Kebangsaan Malaysia, dari Oberlin College – Amerika Serika, dan dari Punakara PNS 25 tahun. Bukan itu saja, tahun 2007 Bakdi Soemanto juga mendapakan anugerah Satyalencana Karya Satya dari Presiden Susilo Bambang Yudhyono.

Keluarga Bakdi

Sumanto adalah nama sang ayah, namun layaknya orang-orang barat, sebagai nama keluarga maka nama tersebut juga selalu melekat pada nama asli dan nama lengkapnya, yaitu Prof. Dr. Christoporus Soebakdi Soemanto, S.U.

Dan sebagai salah satu kolumnis tetap ‘Glenak-Glenik’ di harian Kedaulatan Rakyat – Yogyakarta, beliau berpulang pada usia 73 tahun di Rumah Sakit Panti Rapih. Dimakamkan di makam keluarga besar UGM di Sawitsari – Condongcatur, Bakdi meninggalkan seorang istri bernama J.A. Lana Indrayati, dan juga tiga orang anak; F.A.W. Satya Dharma, I. Kristina Dharma, dan M.Th. Kristidiana Putri, serta tiga orang cucu. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Sastrawan Bakdi Soemanto Tutup Usia ugm.ac.id Diakses pada 13 Oktober 2014

[2] Profesor Bakdi Soemanto Wafat www.tempo.co Diakses pada 13 Oktober 2014

[3] Gambar Bakdi Soemanto beritajogja.co.id Diakses pada 13 Oktober 2014

Berbagi dan Diskusi

13 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here