Jokowi – Joko Widodo, Sosok Presiden Indonesia yang Bekerja dengan Cinta

11
1788
Jokowi Joko Widodo Presiden Ri ke-7 yang Bekerja dengan Cinta
Jokowi Joko Widodo Presiden Ri ke-7 yang Bekerja dengan Cinta

Jokowi adalah nama alias dari Joko Widodo, yaitu sosok yang mulai dikenal sebagai seorang gubernur yang gemar blusukan. Seiring perkembangan waktu, nama Jokowi ini semakin membumbung dan bukan saja dikenal di dalam negeri, karena keberhasilannya memimpin kota Surakarta, Jawa Tengah. Keberhasilan tersebut utamanya adalah kemampuannya dalam mendengar keluh-kesah rakyat yang dipimpinnya, kemudian merealisasikan apa yang terbaik bagi mereka. Memanusiakan manusia istilahnya.

Joko Widodo lahir di kota Solo pada tanggal 21 Juni 1961 dan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang tukang kayu di desa, sedangkan ibunya adalah orang kampung yang tak jauh dari kehidupan wong cilik di pedesaan.

Jokowi Kecil

Latar belakang anak Noto Mihardjo yang hidupnya mengalami keprihatinan karena besar dan berkembang di sekitar bantaran sungai pada akhirnya justru membuat Jokowi mengetahui rasanya menjadi orang miskin. Jokowi kecil juga pernah mengalami keadaan susah akibat rumahnya digusur sebanyak tiga kali. Sebagai sulung dan anak lelaki satu-satunya dari empat bersaudara, kesusahan tersebut tak dijadikan sebab “cengeng” dan meratapi hidup. Sebaliknya, secara diam-diam ia lebih berkeinginan melawan keadaan yang dirasanya tidak adil terhadap “wong cilik” ini.

Jokowi memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati. Ayah Jokowi adalah pria bersahaja asal dari Karanganyar, sedangkan kakek serta neneknya berasal dari sebuah desa di Boyolali.

Pendidikan

Joko Widodo menempuh pendidikan dasar di sekolah kalangan orang-orang tak punya, yaitu SD Negeri 111 Tirtoyoso. Sekolah menengah beliau tempuh di SMP N 1 Surakarta, dan dilanjutkan di SMA 6 Surakarta. Selepas itu pendidikan tinggi ial tempuh di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Tatkala menempuh pendidikan di UGM, memang tidak ada prestasi menonjol yang diraih oleh Jokowi. Namun bukan berarti ia tak mendapatkan apa-apa, pasalnya dari UGM ini ia bisa mempelajari struktur kayu, pemanfaatannya, dan juga teknologinya. Sehingga pendidikannya berhasil diselesaikan dengan dilampiri satu skripsi dengan judul “Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta”.

Kerja dan Usaha

Usai kuliah tahun 1985, pria ceking ini diterima sebagai pegawai di BUMN PT Kertas Kraft Aceh, yang kemudian menempatkannya di area Hutan Pinus Merkusii di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Namun pekerjaan itu tak membuatnya betah dan bertahan lama, sehingga iapun pulang menyusul istrinya yang saat itu sedang hamil tujuh bulan. Lalu ia bertekad berbisnis di CV Roda Jati, usaha milik Miyono, Pakdenya, yaitu pada bidang kayu & mebel. Pengalaman usaha bersama sang pakdhe tersebut membuatnya memberanikan diri membuka usaha sendiri, tahun 1988 menjadi awal karir usahanya dengan bendera CV Rakabu, nama bendera yang dipagut dari nama salah satu anaknya.

Saat menjalankan usaha tersebut Joko Widodo pernah tertipu pelanggan yang memesan dagangannya namun tak kunjung dibayar. Namun usaha yang tak selalu berjalan mulus itu tak menjadikannya menyerah dan berbalik arah, hingga pada akhirnya tahun 1990 berhasil bangkit dengan diawali pinjaman modal dari sebuah Bank sebesar Rp 30 juta. Modal itu beliau dapatkan dari hasil menjaminkan rumah satu-satunya milik sang Ibu.

  • Kesusahan mampu membuka mata

Masa lalu sang ayah si penjual kayu di pinggir jalan membuat Joko Widodo kecil juga memicingkan mata. Pasalnya acapkali ada kejadian tak mengenakkan yang dilakukan para aparat terhadap usaha orang kecil. Lain dari itu, Jokowi juga sering pergi ke pasar tradisional dan berdagang apa saja demi menambah penghasilan untuk menghidpui keluarga. Sewaktu di pasar, kejadian pedagang yang dikejar-kejar aparat, lalu diusir tanpa rasa kemanusiaan, menjadi pemandangan yang sering dilihatnya, sehingga rasa takut yangada pada para pedagang juga turut dirasakannya. Jokowi kecil merasa iba, prihatin, dan juga sedih. Kenapa kotanya tak ramah pada manusia? Kenapa para penguasa di kotanya tak memiliki rasa manungsakake manungsa liyan?.

Kejadian yang dialami dan dilihatnya semenjak kecil tersebut selain membuat Jokowi mengetahui susahnya menjadi rakyat kecil yang ditindas semena-mena oleh para penguasa, juga membuatnya tertuntut untuk selalu berusaha hidup secara prihatin, sehingga secara tidak langsung hal tersebut telah membawanya pada situasi disiplin. Di kemudian hari Jokowi mampu mengejawantahkan kehidupan prihatinnya melalui bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi.

  • Mulai dikenal dengan nama JOKOWI

Usaha kayu dan mebel milik Jokowi terdongkrak dan mendapkan banyak keuntungan, hal ini dikarenakan Jokowi junga lihai menjalin relasi bisnis bukan saja terhadap rekanan dalam negeri, pasalnya para pengusaha dari manca negara juga didekatinya dan diajak kerjasama.

Pertemuan dengan seorang pengusaha manca negara asal Jerman bernama Micl Romaknan memberikan angin segar, karena dari Micl Romaknan inilah julukan Jokowi disematkan hingga pada akhirnya nama tersebut menjadi terkenal dan populer. Alkisah Micl Romaknan berbincang langsung dengan Jokowi tanpa ada perantara seorang grader (ahli kayu), hingga pada perkembangannya ia juga mengaku kebingungan membedakan nama Joko, pasalnya di Jepara warga negara Jerman itu juga sempat bertemu dengan pengusaha kayu yang namanya sama, Joko. “Baiklah kamu saya panggil saja dengan nama Djokowi, kan mirip Djokovich.”

Dari kejujuran, kerja keras, dan kedisiplinan waktu terhadap rekanan bisnis dari manca, akhirnya Jokowi mampu memperoleh kepercayaan dan juga diberikan kesempatan untuk berkeliling Eropa. Kesempatan berkeliling Eropa ini membuat Jokowi membuka mata, pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasi guna diterapkan di Solo. Saat berada di Eropa, Jokowi berpikir reflektif tentang keberadaan kota-kota di Eropa yang sangat manusiawi dan sangat tinggi kualitasnya, baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat ataupun kualitas terhadap lingkungan.

Perenungan itu terjawab dengan sebuah kalimat, bahwa ruang kota di Eropa dibangun dengan bahasa kemanusiaan, bahasa kerja dan juga bahasa kejujuran. Tiga cara itulah yang kemudian direalisasikan di Solo oleh Jokowi, sehingga demi terciptanya cita-cita tersebut, Jokowi berminat memasuki dunia politik. Kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kawasan bersahabat bagi para penghuninya adalah masa depan yang hendak diraihnya.

Karir Politik Jokowi

Sukses di bisnis dan latar belakang refleksi kemanusiaan dari hasil perenungannya mengamati kota-kota di Eropa membuat Jokowi memikirkan cara agar bisa berterima kasih secara nyata terhadap kehidupan ini, baik itu terhadap sesama manusia, terhadap lingkungan, terhadap bangsa, dan juga kepada Tuhan Sang Penguasa. Jawabannya adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Tentu saja bukan sebatas bertanggungjawab terhadap parati politik pengusungnya, namun lebih dari itu adalah tanggung jawab moral kepada manusia dan alam semesta. Caranbya tak lain adalah dengan giat disertai ikhlas dalam bekerja sebagai wujud pengabdian diri terhadap sesama.

  • Awal dunia politik Jokowi

Bagi Jokowi, rasa tak percaya diri sempat hinggap ketika awal ia masuk ke dalam dunia politik, pasalnya sosok tubuh yang dimilikinya lebih mirip tukang becak dibanding orang hebat yang telah terstigma berbadan kekar pun gagah. Hal itu bisa dimaklumi, karena kebanyakan dari masyarakat kita masih saja melihat “bleger” alias bentuk badan yang besar untuk dijadikan pertimbangan lebih dibanding sosok kurus, ceking dan tak berwibawa.

  • Walikota Solo – Surakarta

Tahun 2005 menjadi tekad bulat bagi Jokowi,ia mengajukan diri untuk menjadi calon walikota Solo yang kemudian diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kehendak rakyat Solo yang ingin berganti memiliki sosok pemimpin beda menjadi angin segar bagi Jokowi dan partai pengusungnya, oleh karenanya ia berhasil memenangkan pemilihan dengan mengantongi suara sebesar 36,62%.

Inilah waktu Jokowi guna merealisasikan cita-citanya, sehingga pasca terpilih, dengan berbagai pengalaman di masa muda, ia mengembangkan Solo menjadi kota manusiawi. Bukan lantas tak mengalami kendala, lantaran berbagai penolakan masyarakat untuk ditertibkan juga harus dihadapinya penuh rasa “sabar dan sareh.”

Kepercayaan masyarakat semakin timbul, karena Jokowi juga menjawabnya dengan “kerja” sehingga tak memakan waktu berkepanjangan kota Solo mengalami perubahan dan menjadi kajian di universitas manca negara. Seperti tak mengenal lelah, siang malam Jokowi bekerja untuk kota dan lingkungannya, tanpa lelah ia datangi warganya, sambil meresmikan gapura-gapura dipinggir jalan ataupun hadir dalam acara selamatan-selamatan kecil, ia gunakan untuk mendengarkan keluh-kesah warga. Hal inilah yang sedikit banyak memberikan gambaran Jokowi untuk lebih detil memahami anatomi masyarakat, utamanya di tataran paling bawah. Sehingga tatkala suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP guna meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri, maka justru Jokowi meradang, untuk apa pistol? Apakah aku harus menembaki dan memukuli rakyatku sendiri…? Begitulah ungkapnya.

Kekerasan telah disirnakan dari perintah kerja Jokowi, diganti dengan bahasa cinta. Tak pelak berkat pencapaian kinerja ini membuat Jokowi menang telak dalam pemilihannya kembali untuk jabatan Wali Kota Surakarta tahun 2010, yaitu berhasil menang dengan persentase suara sebesar 90,09%.

Berikut adalah beberapa kinerja Jokowi sewaktu di Solo

    • Rebranding Solo
    • Mendamaikan Keraton Surakarta
    • Penataan pedagang kaki lima
    • Pembenahan transportasi umum
    • Hari bebas kendaraan bermotor
    • Pembenahan pendidikan dan kesehatan
    • Solo Techno Park dan Mobil Esemka
  • Gubernur Jakarta

Awalnya secara personal mantan wakil presiden Jusuf Kalla memohon kepada Megawati Soekarnoputri, petinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, untuk mencalonkan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pemilihan gubernur DKI tahun 2012. Hal itu diminta Jusuf Kalla karena Jokowi memang masih merupakan kader PDI Perjuangan. Dilain pihak, Prabowo Subianto juga melobi PDI Perjuangan agar bersedia mendukung Jokowi sebagai calon gubernur karena membutuhkan 9 kursi lagi untuk bisa mengajukan Calon Gubernur dan sebagai wakilnya dipilihlah Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama yang saat itu masih menjadi anggota DPR-RI dari partai Golkar (selanjutnya pindah ke Partai Gerindra).

Ikhwal pencalonan Jokowi ini, banyak yangtidak mengunggulkannya, bahkan juga cenderung nyinyir karena pesimis Jokowi memiliki kemampuan memimpin Jakarta. “Solo bukan Jakarta, Bung!” begitulah salah satunya.

Namun Jokowi lebih meyaqini bahwa hidup adalah tantangan, oleh karenanya kurangi mendengarkan omongan orang pesimis, yang penting kerja dengan cinta, kerja dan kerja. Karena dengan bekerja akan ada satu hasil, sedangkan dengan omongan cenderung hanya akan menghasilkan alasan.

Sikap pesimis dari banyak orang berbalik arah, karena baru pada putaran pertama pemilihan kGubernur Kepala Daerah saja, Jokowi telah berhasil mengantongi suara banyak yang mampu menghantarkannya untuk bertarung pada putaran pilkada selanjutnya.

Usai pemungutan suara putaran kedua, hasil penghitungan cepat Lembaga Survei Indonesia memperlihatkan bahwa Jokowi – Ahok adalah pasangan yang berhasil menjadi pemenang yaitu mencapai angka 53,81%, unggul atas rivalnya, Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli yang memperoleh angka 46,19%. Akhirnya pada tanggal 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menetapkan pasangan Jokowi – Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru masa bakti 2012-2017 untuk menggantikan Fauzi Bowo – Prijanto.

  • Berikut beberapa program dari Jokowi – Ahok

    • Pengambilalihan Sumber Daya Air
    • Peningkatan upah minimum provinsi
    • Pendirian PT Transjakarta
    • Rencana akuisisi Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD)
    • Pengandangan Metromini dan Kopaja
    • Peluncuran bus tingkat wisata
    • Enam ruas jalan tol dalam kota
    • Rotasi jabatan
    • Lelang jabatan
    • Pembenahan saluran air
    • Rekayasa cuaca
    • Normalisasi Waduk Pluit
    • Normalisasi Waduk Ria Rio
    • Normalisasi Waduk Tomang Barat
    • Normalisasi Waduk Rawa Bambon
    • Normalisasi Kali Pesanggrahan
    • Penataan permukiman kumuh
    • Pembangunan dan relokasi ke rumah susun dan kampung deret
    • Pembenahan pendidikan dan kesehatan (Kartu Sehat & Kartu Pintar)
    • Pia topeng monyet
    • Jakarta Kota Festival
    • Pembenahan taman, hutan kota, dan ruang terbuka hijau

Joko Widodo Presiden RI ke-7

Terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta membuat opularitasnya semakin melejit, hal itu tak lain juga berkat rekam jejak baiknya serta pendekatan yang membumi dan manusiawi terhadap sesama. Blusukan tetap menjadi icon yang tersemat pada dirinya guna memeriksa keadaan di lapangan secara langsung. Akibatnya, Jokowi menjadi trend pada survei-survei calon presiden sehingga mampu menyingkirkan kandidat lainnya. Hanya saja wacana ini masih berhenti sebagai wacana, karena awalnya tak ada partai politik yang secara terang-terangan hendak emngusung Jokowi untuk maju sebagai calon Presiden RI, termasuk PDIP sendiri.

Namun akhirnya tanggal 14 Maret tahun 2014, Megawati menulis langsung surat mandat kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden, yang selanjutnya bertempat di rumah Si Pitung Jakarta Utara, Jokowi mengumumkan kesiapannya untuk melaksanakan mandat maju sebagai calon presiden Republik Indonesia dalam pemilihan umum presiden Indonesia 2014. Kebersediaan Jokowi tersebut diucapkan dengan kata “bismillah” sambil mencium bendera merah putih.

Sontak hal itu memengaruhi indeks IHSG yang mampu melesat 152,47 poin menjadi 4.878,64,dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat juga menguat hingga angka 11,386. Tanggal 19 Mei 2014, Jokowi secara resmi juga mengumumkan bahwa Jusuf Kalla akan menjadi pasangannya untuk dicalonkan maju sebagai calon wakil presiden RI. Pengumuman sekaligus deklarasi tersebut berlangsung di Gedung Joeang 45 di Menteng, Jakarta, dengan memperoleh dukungan dari koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura, yang langsung mendaftarkan diri pada Komisi Pemilihan Umum.

Pertarungan pada pemilihan presiden RI tahun 2014 ini terbilang seru, karena rivalnya, yang adalah juga mantan tentara, yaitu Prabowo Subiyanto juga mendapatkan dukungan tak sedikit. Apalagi partai politik juga lebih dominan mendukungnya.

Pada akhirnya suami dari Ny. Hj. Iriana Joko Widodo dan anak dari tiga putra; Gibran Rakabuming Raka – Kahiyang Ayu – Kaesang Pangarep,  berhasil mendapatkan suara rakyat lebih banyak dibanding rivalnya pada pemilihan presiden secara langsung ini, hingga pada tanggal 22 Juli 2014 Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan bahwa Jokowi adalah pemenang pada pemilihan Presiden RI ke-7.

r. H. Joko Widodo yang juga mendapatkan dukungan dari para pesohor dan akadmeisi seperti Anies Baswedan dan Dahlan Iskan ini akhirnya menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden periode 2014 hingga 2019 dengan wakilnya adalah Jusuf Kalla, dan ditetapkan oleh badan legislative tertanggal 20 bulan Oktiber tahun 2014. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Joko Widodo id.wikipedia.org Diakses pada 20 Oktober 2014

[2] Joko Widodo Presiden Republik Indonesia facebook.com Diakses pada 20 Oktober 2014

[3] Gambar “New Indonesian leader hits out over democratic roll-back” channelnewsasia.com Diakses pada 20 Oktober 2014

Berbagi dan Diskusi

11 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here