Hipertensi pada Masa Kehamilan, Berbahayakah?

8
1508
Penyebab Kematian Ibu Hamil
Penyebab Kematian Ibu Hamil

Hipertensi atau tekanan darah tinggi pada masa kehamilan seringkali tidak disadari sebagai salah satu pembunuh bagi ibu dan janin. Hipertensi masih sering dinilai sebagai penyakit biasa yang tidak membahayakan atau memiliki resiko rendah terhadap kematian. Maraknya informasi tentang “stroke” sebagai salah satu ancaman yang mengintai pengidapt tekanan darah tinggi, juga tidak banyak membuat ibu hamil mengetauhi adanya resiko kematian akibat hal satu ini. Kehamilan yang baik idealnya jauh dari ancaman tekanan darah yang melampaui ambang normal.

Hipertensi terjadi apabila darah yang dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh meningkat tekanannya. Tingginya tekanan beresiko merusak dinding arteri. Secara matematis, seseorang disebut mengidap hipertensi apabila memiliki tekanan di atas 140/90 mmHG. Nilai 140 menunjukkan angka sistolik, sementara 90 mmHG menunjukkan angka diastolik.  Resiko hipertensi pada ibu hamil umunya terjadi pada ibu dengan usia di bawah 20 atau di atas 40 tahun.

[Baca Juga: 3 penyebab kematian terbesar ibu hamil]

Jenis dan Penyebab Hipertensi

Penyebab hipertensi dibagi menjadi dua sebab pokok. Pertama, penyebab esensial yang disebabkan oleh faktor selain gangguan pada organ terkait, seperti ginjal dan jantung. Penyebab hipertensi jenis ini bisa diakibatkan oleh gaya hidup tidak sehat, asupan, tingkat stress, kebiasaan konsumsi garam yang berlebih serta persoalan kecanduan pada rokok. Kedua, hipertensi sekunder yang disebabkan oleh gangguan ginjal dan jantung. Pada hipertensi jenis ini, penyembuhan atau pemulihan pada fungsi organ yang bermasalah dapat mengurangi resiko darah tinggi tersebut.

Pre Eklampsia, Penyebab Kematian Ibu Hamil

Hipertensi menjadi salah satu pembunuh bagi ibu hamil. Preeklampsia adalah istilah umum yang dikenal. Istilah ini juga dikenal sebagai keracunan selama kehamilan. Penyakit ini timbul dengan gejala-gejala hipertensi, proteinuria dan edema. Gejala umum yang dapat dilihat pada preeklampsia adalah peningkatan tekanan darah mencapau di 30 mm atau mencapai ambang atas (140 mm HG) pada sistolik. Kenaikan tekananan diastolik juga berubah sebesar 15 mm HG atau mencapai 90 mm.

Gejala ini menimbulkan pelbagai persoalan, seperti penimbunan cairan pada tubuh, kenaikan berat badan, pembengkakan pada jaringan tubuh. Tanda lain yang mengikuti juga tampak pada volume buang air kecil pada ibu yang sedikit. Penumpukan protein pada kencing juga menjadi salah satu hal yang tampak.

[Baca juga: ragam keluhan selama kehamilan dan cara mengatasinya]

Mengatasi Hipertensi pada Masa Kehamilan

Hipertensi meningkatkan resiko kematian ibu hamil. Resiko ini dapat dikurangi dengan memastikan gaya hidup sehat baik yang terkait dengan makanan dan olahraga. Olahraga yang teratur diyakini membantu tubuh menormalisasi tekanan darah. Olahraga yang baik bukanlah olahraga berat, melainkan olahraga ringan yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, seperti jalan kaki.  Ibu Hamil perlu juga mengatur pola makan dan jenis asupan yang dimakan. Mengenali jenis makanan yang dapat menaikkan tensi sangat diperlukan. Hal terpenting lainnya adalah menjaga kestabilan emosi dan suasana psikis. Ibu hamil memiliki tekanan tersendiri, karena itu peran suami diperlukan untuk menjaga kondisi tersebut.

Berbagi dan Diskusi

8 COMMENTS

  1. […] Hipertensi atau tekanan darah tinggi pada masa kehamilan seringkali tidak disadari sebagai salah satu pembunuh bagi ibu dan janin. Hipertensi masih sering dinilai sebagai penyakit biasa yang tidak membahayakan atau memiliki resiko rendah terhadap kematian. Maraknya informasi tentang "stroke" sebagai salah satu ancaman yang mengintai pengidapt tekanan darah tinggi, juga tidak banyak membuat ibu hamil mengetauhi adanya resiko kematian akibat hal satu ini. Kehamilan yang baik idealnya jauh dari ancaman tekanan darah yang melampaui ambang normal.  […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here