Mendoan: Makanan Terbuat dari Tempe yang Memuat Nilai Filosofi

10
5439
Resep dan Cara Membuat Tempe Mendhoan
Resep dan Cara Membuat Tempe Mendhoan

Indonesia sebagai negara multikultural yang memiliki kekayaan alam beragam,  tentu saja juga memiliki berbagaimacam kuliner khas pada tiap daerah.  Selain sebagai makanan khas yang disantap, makanan khas itu juga menjadi icon dari daerah tersebut, sebagai contoh adalah gudeg yang identik dengan kota Yogyakarta, rendang yang sering menempel pada kota Padang, pekmpek yang acap diidentikkan dengan kota Palembang, dan masih banyak lagi.

Kali ini ada sebuah makanan khas daerah di Nusantara ini yang tak kalah menariknya, yaitu bernama mendoan.

Mendoan Banyumas dan Tegal

Mendoan adalah sebuah hidangan terbuat dari tempe yang lebih dikenal di daerah karesidenan Banyumas yang meliputi Purwokerto, Cilacap dan sekitarnya, serta daerah Tegal dan sekitarnya.     Mendoan dapat disajikan sebagai makanan ringan untuk menemani minum teh dan kopi saat santai, atau bisa pula dijadikan sebagai lauk makan bersama nasi pun sayur.            Ketika disajikan sebagai makanan ringan, mendhoan akan lebih terasa nikmat apabila dikonsumsi dalam keadaan panas dan disantap bersama cabe rawit ataupun sambal kecap.

Tempe Kemul Semarang dan Wonosobo

Mendoan memili citarasa khas dan “unik,” sehingga hal ini membuatnya menyebar dan digemari tidak saja di seputar Banyumas pun Tegal, oleh karenanya suguhan mendhoan juga menjadi hidangan yang tak begitu susah ditemukan.         Di kota lain masih seputar Jawa Tengah, misalnya daerah Semarang Wonosobo, dan sekitarnya,  mendoan lebih merujuk pada tempe goreng yang dibubuhi (diselimuti) tepung, sehingga lebih dikenal dengan sebutan “tempe kemul”  (kemul adalah selimut dalam bahasa Jawa –red).

Resep Mendhoan

  • Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
    500 gram tempe, diiris tipis melebar   250 gram tepung terigu protein sedang    400 ml air  2 batang daun bawang, diiris halus    minyak untuk menggoreng
  • Bumbu Halus
    3 siung bawang putih   1 1/2 sendok teh garam  3/4 sendok teh ketumbar  1 cm kencur
  • Bahan Sambal Kecap (aduk Rata):
    5 sendok makan kecap manis  1 siung bawang putih, dihaluskan    4 buah cabai rawit merah, dihaluskan  1/8 sendok teh garam
  • Cara Pengolahan:
    • Aduk rata tepung terigu, air, dan bumbu halus
    • Tambahkan daun bawang
    • Aduk rata
    • Celup tempe ke dalam adonan tepung
    • Goreng sampai setengah kering
    • Sajikan dengan sambal kecap

Makna Filosofi

Mendhoan jika ditilik dalam struktur kata berbahasa Jawa terdiri dari ater-ater (kata dasar) berupa ‘mendho,’ ini memberikan sinyal mengenai posisi mendho yang dalam bahasa Jawa merupakan ungkapan untuk mengatakan “diantara kata mendhak (kebawah) dan juga kata mendhuwur (keatas).”        Artinya, mendho ini memiliki definisi “tanggung,” yaitu tak di bawah pun tak di atas.

  • Kenapa berposisi tanggung?

Meski bisa saja ditengarai sebagai sebuah “kebetulan” namun kata mendho tetap bisa diyaqini merupakan ungkapan dari sebuah keadaan bernama mendhoan yang juga memiliki posisi serba tanggung.             Yaitu sebuah makanan tempe goreng dibaluti tepung yang tak kering namun juga tidak terllau basah.          Pasalnya kalau sampai kering, tentu saja namanya bukan mendhoan lagi melainkan tempe keripik, begitu pula kalau terlalu basah tentunya akan menjadi wujud lain, entah bernama oncom ataupun lainnya.

  • Mendo adalah kambing?

Kata ‘mendo’ apabila huruf “E” dilafalkan seperti pada kata ‘Ekonomi’, sedangkan huruf “O” dilafalkan sebagaimana pada kata ‘kotor,’ maka dalam bahasa Jawa krama (Jawa halus) akan memiliki definisin ‘kambing’ alias wedhus.

  • Bermakna menghindar?

Apabila kata dasar mendhoan ini adalah ‘endho’ dan pelafalannya juga diucapkan serupa dengan mendo yang berarti kambing, maka akan memiliki terjemahan ‘menghindar’.       Sebagai contoh dalam kalimat; Pada saat hendak ditabrak sepedamotor, saya menghindar = Pas arep ditabrak motor, aku endho.

Dari deskripsi ini dapat diambil maknanya, bahwa meskipun mendhoan itu enak dan nikmat rasanya namun ada nasehat agar kita tak terbuai dalam kenikmatan dunia saja, pasalnya ada hal lain yang juga harus berani dilakukan, yaitu berjalan ‘mendhuwur’ alias keatas, bukan hanya menikmati untuk tetap tinggal di tengah seperti enaknya rasa mendoan itu, dan bukan pula harus kebawah (mendhak).            Apabila kita telah sampai pada posisi di atas, seyogyanya  tetap berusaha agar senantiasa eling (ingat) dan tak lupa-diri layaknya si mendo alias kambing.          Sebagaimana kita tahu bahwa kambing ketika lapar maunya hanya teriak dan mengembik, kemudian akan diam tatkala hasratnya telah terpenuhi, bahkan kadangkala malah menyimpan makanan di perutnya sehingga didalam kandang bermales-malesan sambil tiduran “nggayemi” (mengunyah makanan).

Masih dari filosofi mendhoan, alangkah mulia apabila amanat dalam menjalankan kehidupan ini kita menerapkan rasa tanggungjawab tanpa melakukan tindakan endho ataupun menghindar dari kenyataan yang sudah sepantasnya dihadapi. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Mendoan id.wikipedia.org Diakses pada 27 Oktober 2014

[2] Gambar ilustrasi mendoan resepmasakantop.com Diakses pada 27 Oktober 2014

Berbagi dan Diskusi

10 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here