Beberapa Tokoh Indonesia Tanpa Ijazah

5
1347
Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti

Kerja Kerja dan Kerja adalah semangat yang diserukan oleh presiden Jokowi – Joko Widodo dalam pidato usai dilantik oleh parlemen di Senayan, Jakarta. Tak pelak nama kabinet pada pemerintahan yang dipimpinnya adalah “Kabinet Kerja.

Dari susunan kabinet yang ditunggu banyak khalayak itu, ada yang tak lazim dari pemerintahan sebelumnya, yaitu dengan mengangkat seorang perempuan yang bergaya urakan, dan tak memiliki pendidikan tinggi, sebatas tamat SMP. Dialah Susi Pudjiastuti, perempuan asli Pangandaran yang memutuskan keluar sekolah saat kelas 2 di SMA I Yogyakarta.

Sejatinya Indonesia ini telah banyak memiliki putra-putri terbaik yang tak selalu bergantung dari pendidikan (tinggi) namun mereka telah memberikan lebih dibanding dari lainnya. Selain karena memang keadaan ekonomi yang tak mengijinkan untuk bersekolah, ada pula yang merasa tak merasa cocok dengan pendidikan yang ditempuhnya.

Tokoh-tokoh Hebat Tak Berijazah

Bukan hendak mengagung-agungkan mereka yang bisa berhasil dalam menjalankan hidup dengan tanpa menamatkan pendidikan.    Lebih dari itu, ini memberikan gambaran semangat bagi kita semua dan lalu semakin membuka mata, bahwa keberhasilan bukan saja sebatas milik yang berpendidikan tinggi,    karenanya yang tak berpendidikan tinggi juga tetap memiliki kesempatan sukses sama.                 Hanya saja, jangan pula lantas memposisikan pendidikan sebagai hal tak penting, sebagaimana dipaparkan oleh sang menteri perempuan bertatto, Susi Pujiastuti berikut;

“Sekolah itu penting. Yang nggak tamat sekolah seperti saya harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup” [Susi Pudjiastuti]

  • Susi Pujiastuti

Adalah keturunan Jawa (Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah) yang terlahir di Pangandaran pada 15 Januari 1965, pemilik dan Presiden direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product, perusahaan eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Mulai November 2014, Susi juga menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja (2014-2019) dibawah pemerintahan Jokowi.

Tahun 2012, Susi Air memiliki 50 pesawat dengan berbagai tipe; 32 Cessna Grand Caravan, 9 Pilatus PC-6 Porter dan 3 Piaggio P180 Avanti. Di samping itu, Susi Air juga telah berhasil mempekerjakan 180 pilot, 175 di antaranya adalah pilot asing, sehingga sebanyak 200 penerbangan perintis berhasil dilakoninya, penghasilan yang didapat dari usahanya hingga mencapai Rp300 miliar.

Susi Pujiastuti hanya berijazah SMP, karena pada kelas II di SMA Teladan (SMA 1) Yogyakarta dia memutuskan untuk tak melanjutkan, dan lalu balik ke tempat kelahirannya.

Tak mau diam dan berpangku tangan, meskipun masih belia, Susi tetap gigih berusaha, diantaranya adalah menjadi pedagang keliling. Menggunakan sepeda motor memutari kampung, dari pintu ke pintu menawarkan bad cover, sprei, kasur, dan keperluan rumah tangga lain. Hingga pada akhirnya ia melihat kesempatan di kampung nelayan seputar pantai Pangandaran. Ia memberanikan diri minta ijin ke ibunya untuk menjual perhiasan hadiah dari kedua orangtuanya, maka bermodalkan Rp 750.000,- yang merupakan hasil menjual perhiasan tersebut, tahun 1983 Susi mengawali profesi sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Dari sini usahanya terus berkembang, dan meskipun penuh liku-liku, Susi tetap berusaha keras melewatinya. Hingga pada tahun 1996, Susi bisa mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan hasil unggulannya adalah lobster berlabel “Susi Brand”.

Tatkala usaha dari hasil laut itu makin banyak menemukan pelanggan, yaitu hingga merambah pasar Eropa dan Amerika, maka Susi berpikir tentang pengadaan sarana transportasi cepat agar mampu mengangkut hasil tangkapan laut sehingga bisa sampai di tangan pembeli masih dalam keadaan fresh. Tahun 2004, dengan melalui beberapa kali lobi dengan pihak Bank, akhirnya Susi bisa meminjam uang sebesar Rp 20 miliar yang kemudian dipakai guna membeli sebuah pesawat Cessna Caravan. Selanjutnya Susi mendirikan sebuah bendera dengan nama PT ASI Pudjiastuti Aviation dan satu-satunya pesawat yang ia miliki itu digunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai penjuru tanah air menuju pasar Jakarta dan Jepang. Call sign yang digunakan Cessna itu adalah Susi Air.

Gempa tektonik dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004 yang melanda Aceh dan pantai barat Sumatera adalah peristiwa bersejarah bagi Susi, pasalnya peawat Cessna milik Susi adalah alat transportasi pertama yang berhasil mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban pada daerah terisolasi. Awalnya selama dua minggu Susi turut menjadi sukarelawan di sana, pesawatnya juga digratiskan bagi siapa saja yang hendak memanfaatkannya, namun selepas dua minggu logistik yang Susi sediakan telah habis, sehingga Susi berniat kembali ke Pangandaran sebagaimana rencana awal. Namun keinginan itu tertahan, pasalnya banyak relawan yang masih membutuhkan pesawat dan tak ada sarana lain yang bisa menggantikannya, sedangkan para relawan juga bersepakat untuk membayar biaya terbangnya.

Dari ketulusan Susi dalam membantu sesama ini seolah memperoleh berkah, maka dari pengalaman yang ada Susi menambah arah bisnisnya. Yaitu tatkala bisnis perikanan mulai merosot, selanjutnya Susi juga melihat peluang untuk menyewakan pesawatnya, menyediakan pesawat yang dikomersilkan guna menampung penumpang, sedangkan di bagian bawah pesawat disediakan bagasi khusus untuk mengangkut ikan dan udang lobster.           Tiga tahun berjalan, perusahaan penerbangan milik Susi mengalami perkembangan pesat. Total kepemilikan pesawat telah berjumlah 14 yang menyebar di beberapa tempat, selain di Jawa dan Sumatera, ada pula 4 pesawat beroperasi di seputar Papua, dan 4 pesawat juga di Balikpapan.

Tahun 2014, Susi rela meninggalkan perusahannya karena harus konsentrasi penuh terhadap jabatan menteri kelautan dan perikanan. Susi meninggalkan manajemen Susi Air yang telah mengoperasikan sekitar 50 pesawat, baik pesawat Cessna Grand Caravan, pesawat Pilatus Porter, ataupun pesawat Diamond (Twin) star.

  • Ajip Rosidi

Tahun 1950 Ajib Rosidi menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi yang kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta pada tahun 1953. Saat menempuh pendidikan dasar, yaitu ketika berusia 12 tahun masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, Ajip telah aktif dalam dunia sastra,  tulisannya telah dimuat dalam kolom anak-anak pada harian Indonesia Raya. Selanjutnya tahun 1956, Ajip bersekolah di Taman Madya Jakarta, yaitu pendidikan setingkat SLTA yang dimiliki perguruan Taman Siswa, namun di Taman Madya ini ia tidak berhasil menamatkan pendidikannya.

Meski tidak tamat sekolah menengah, Ajip tak patah semangat. Dunia kepenulisan dan penerbitan tetap ditekuninya, keberhasilan akhirnya membawanya untuk menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar sejak tahun 1953 hingga tahun 1955. Sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1965-1967 ia juga menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda. Keseriusan di dunia sastra ini mampu mengantarkannya dalam banyak kegiatan, mislanya menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1972-1981, menjadi salah satu pendiri penerbit Kiwari di Bandung tahun 1962, penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi tahun 1964, dan masih banyak lagi.

Bahkan meskipun tak lulus SMA, sebelum pensiun dan menetap di desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Ajip Rosidi pernah dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, menjadi dosen tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku, dan Tenri Daignku. Hingga pada 31 Januari 2011, prestasi-prestasi itu membawanya untuk menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

  • Chairil Anwar

Chairil Anwar atau dikenal dengan julukan “Si Binatang Jalang” terlahir di Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 26 Juli 1922. Merupakan sosok penyair terkemuka dan juga salah satu icon sastra Indonesia. Putera dari bupati Inderagiri, Riau yang masih memiliki pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir (Perdana Menteri pertama Indonesia) ini diperkirakan telah menulis 96 karya, 70 diantaranya adalah puisi.

Pendidikan dasar Chairil Anwar ditempuh di HIS (Hollandsch-Inlandsche School), yaitu sekolah dasar bagi orang-orang pribumi pada masa kolonialis Hindia-Belanda. Dan kemudian diteruskan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), namun ketika usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah, akibat [erceraian kedua orangtuanya, maka Chairil Anwar mengikuti jejak sang Ibu pergi ke Batavia (Jakarta)

Di Jakarta, kegemaran dalam dunia sastra makin terakomodasi. Oleh karenanya, meski tak menyelesaikan sekolah, penguasaan berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman, semakin berkembang seiring giatnya dalam membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Sehingga penulis-penulis tersebut adalah sosok-sosok yang banyak memengaruhi tulisan dan tatanan kesusasteraan Indonesia.

  • Buya Hamka

Buya adalah salah satu panggilan lelaki di Minang, sedangkan Hamka merupakan singkatan dari nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Buya Hamka terlahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Februari 1908, merupakan sastrawan Indonesia, yang sekaligus juga ulama, ahli filsafat, dan juga aktivis politik. Hamka merupakan putera dari pasangan Abdul Karim Amrullah dan Sitti Shafiyah. Sang ayah adalah ulama pembaru Islam di Minangkabau yang terkenal dengan julukan Haji Rasul, sementara ibunya adalah perempuan keturunan seniman di Minangkabau.

Tahun 1915 saat berusia tujuh tahun, Hamka disekolahkan pada satu Sekolah Desa dan belajar ilmu pengetahuan umum seperti berhitung dan membaca, kemudian dua tahun berikutnya Hamka juga belajar di Diniyah School pada setiap sore harinya. Tahun 1918, sang ayah menghendaki agar Hamka bersekolah di Thawalib juga, yaitu satu sekolah Islam modern pertama di Indonesia yang ada di Sumatera. Akibatnya masa kanak-kanak Hamka untuk bermain bersama teman-temannya menjadi terhilangkan. Dan karena padatnya waktu itu juga, maka tak pelak kegiatan sekolah di Sekolah Desa ditinggalkan.

Berawal dari ketidaksenangan pada pelajaran yang diberikan di sekolah Thawalib, maka Hamka lebih senang berada di sebuah perpustakaan milik gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy dibanding harus pusing pada pelajaran-pelajaran hafalan di kelas. Bahkan adakalanya Hamka meminjam lalu dibawa pulang beberapa buku. Karena tidak ada hubungannya dengan pelajaran, tak pelak ia sempat dimarahi oleh sang ayah, tepatnya ketika kedapatan tengah asyik membaca Kaba Cindua Mato. “Apakah engkau akan menjadi orang alim nanti, atau menjadi orang tukang cerita?” begitulah ujar sang ayah.

Buku-buku lain misalnya tentang perkembangan aktivis di Jawa Tengah dan Yogyakarta membuat Hamka tertantang untuk membuktikan-diri pada sang ayah, niatan merantau mencari ilmu ke tanah Jawa menggebu-gebu. Hingga menyebabkan Hamka mantab untuk meninggalkan pendidikan di Thawalib yang telah dienyamnya selama 4 tahun (seharusnya 7 tahun).

Setelah melalui beberapa kendala, akhirnya Hamka berhasil menuju Pulau Jawa, Yogyakarta adalah kota tujuannya dan menetap di rumah adik kandung ayahnya, Ja’far Amrullah. Dari tempat ini Hamka mendapat kesempatan mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan pergerakan Islam yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Dan selain mempelajari pergerakan Islam, ia juga meluaskan pandangannya dalam persoalan gangguan terhadap kemajuan Islam seperti kristenisasi dan komunisme. Selama di Jawa, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan agama. Bukan itu saja, dalam berbagai kesempatan, ia juga berguru kepada Bagoes Hadikoesoemo, HOS Tjokroaminoto, Abdul Rozak Fachruddin, dan Suryopranoto. Masih di Pulau Jawa, Hamka juga menyempatkan diri untuk mengembara ke Bandung untuk bertemu dengan tokoh-tokoh Masyumi seperti Ahmad Hassan dan Mohammad Natsir, yang memberinya kesempatan belajar menulis dalam Majalah Pembela Islam. Tahun 1925, ia juga menuju ke Pekalongan, di sini ia menetap di rumah kakak iparnya dan mulai tampil berpidato di beberapa tempat.

Hamka menjadi besar karena pergerakannya sebagai aktivis bukan saja sebatas di dunia agama (Islam), namun di dunia politik juga tak diragukan lagi, dan lebih dari itu ia juga sangat aktif  di dunia kesusastraan Indonesia, karya-karya hebatnya telah dibukukan, antara lain adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Kepiawaian Hamka dalam banyak bidang tersebut mampu membawanya untuk mendapatkan anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar – Kairo pada tahun 1959, yaitu atas prestasinya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Selanjutnya tanggal 6 Juni 1974, Hamka memperoleh gelar kehormatan serupa dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, dan juga gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo

  • Andre Wongso

Andrie Wongso adalah sosok populer bagi para pengusaha dan juga motivator di Nusantara ini. Adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara yang terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang, yang di usia 11 tahun terpaksa harus berhenti bersekolah pada kelas 6 SD.

Perjuangan hidup tak boleh menyerah, maka sewaktu anak-anak lain masih bisa menikmati kebahagiaan masa kecilnya, Andrie sejak kecil hingga remajanya harus sudah membantu orang tuanya untuk membuat kue, lalu berjualan keliling ke toko dan pasar. 22 tahun adalah usia Andrie untuk memutuskan berangkat ke Jakarta demi mengubah nasib. Satu tekad dimantabkan dalam diri Andrie; siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan jujur. Dan selanjutnya ia memulai bekerja apapun, dari salesman produk sabun sampai pelayan toko.

Hobby main kungfu dari kecil mengantarkannya untuk mendirikan perguruan kungfu Hap Kun Do. Dan ketika film-film laga dari Taiwan merajai layar lebar, Andrie juga melamar sebagai bintang film di perusahaan Eterna Film Hongkong, dengan kontrak kerja selama 3 tahun. Tahun 1980, untuk pertama kalinya Andrie ke luar negeri. Setelah melewati 3 tahun merasakan suka dukanya bermain film di Taiwan, Andrie tahu, dunia film bukanlah dunianya lalu dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, saat Andrie memutuskan tidak memperpanjang kontraknya, kebanyakan orang menyatakan Andrie gagal karena tidak ada satu film pun yang diwakilinya sebagai bintang utama. Akan tetapi hal itu ditepis pada diri Andrie, pasalnya ia lebih merasa dirinya sukses secara mental dalam memperjuangkan impian menjadi kenyataan.

Perjuangannya dari waktu ke waktu selalu ditandai ANdre dengan menyisipkan sebuah kalimat sebagai pemacu semangat, ia gemar menuangkan kalimat-kalimat ke dalam bentuk kata-kata mutiara pada buku hariannya. Sehingga ada beberapa teman kos yang acap mencontek kata-kata yang dibuatnya. Dari keadaan ini timbul gagasan Andrie Wongso untuk membuat kartu ucapan kata-kata mutiara, tujuannya selain untuk memotivasi diri sendiri, juga untuk membantu memotivasi orang lain melalui kartu ucapan, dan tentu saja memanfaatkan peluang yang ada.

Dengan bantuan dari kekasih yang kemudian menjadi istrinya, Haryanti Lenny, dimulailah bisnis membuat kartu dengan merk HARVEST, sebagai cikal-bakal dikukuhkannya Andrie Wongso sebagai raja kartu ucapan. Dari sana pula beberapa usaha dirintisnya, hingga yang paling populer adalah keberhasilannya menjadi Motivator No. 1 di Indonesia. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Beberapa Tokoh id.wikipedia.org Diakses pada 3 November 2014

[2] Gambar Susi Pudjiastuti www.kkp.go.id Diakses pada 3 November 2014

Berbagi dan Diskusi

5 COMMENTS

  1. […] Ada banyak bumbu mentah yang terbuat dari bawang merah serta bawang putih, salah satunya adalah bumbu kecap pada hidangan sate, baik sate khas Jawa, pun Madura.       Lebih dari itu, sebagai bumbu dapur, bawang putih dan bawang merah merupakan dua di antara sekian banyak primadona rempah-rempah nusantara. Hal ini dibuktikan dengan tak akan meninggalkan penggunaan bawang merah dan bawang putih oleh para juru masak pada masakan khas nusantara. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here