Seplawan: Goa Eksotik yang Berlokasi di Puncak Pegunungan Menoreh

3
3613
merapi dan merbabu terlihat indah dari gardu pandang puncak seplawan
merapi dan merbabu terlihat indah dari gardu pandang puncak seplawan

Ketika menjelajah di kawasan perbukitan Menoreh, ada banyak tempat indah yang bisa dijadikan sebagai tempat refreshing dan menenangkan diri. Tempat-tempat indah itu selain berujud perbukitan, ada pula yang wujudnya adalah goa dan juga air terjun. Mengenai goa, setidaknya ada tiga goa yang cukup di kenal di seputar kawasan pegunungan Menoreh ini; Goa Seplawan, Goa Kiskenda, dan Goa Maria Lawangsih.

Goa-goa tersebut seluruhnya merupakan kawasan wisata alam, namun ada yang berbeda utamanya pada goa Lawangsih. Jika Goa Seplawan dan Gua Kiskendo adalah sebuah goa yang diperuntukkan bagi umum dan lebih cenderung pada sisi wisata alam, maka yang berbeda dari Goa Lawangsih adalah bahwa selain merupakan tempat parisiwata umum, Gua Maria Lawangsih lebih diperuntukkan bagi umat kristiani sebagai tempat beribadah. Karenanya, selain sebagai wisata alam, Goa Maria Lawangsih juga memiliki fungsi sebagai kawasan wisata religi.

Dari ketiga goa tersebut, yang akan menjadi bahasan kali ini adalah Goa Seplawan.

Perbukitan Menoreh

Menoreh adalah satu kawasan perbukitan pun pegunungan yang diawali tak jauh dari kawasan Candi Borobudur membujur ke arah selatan, hingga menjelang samudera Hindia. Tempat yang menjadi saksi sejarah awal perang modern dari Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasa, dan semua pasukannya dalam perang Jawa. Pegunungan Menoreh mencakup tiga wilayah, yaitu Kulon Progo, Purworejo, dan Magelang. Kulon Progo adalah sebuah kabupaten yang berada di bawah naungan Kasultanan Yogyakarta (DIY), sedangkan Purworejo dan Magelang merupakan dua kabupaten yang ada di wilayah Karesidenan Kedu, bagian dari Jawa Tengah.

Sebagai tempat yang berbukit, ada banyak hutan, kebun pun sawah yang menghampar di kawasan Menoreh ini, baik di wilayah lembah, ngarai, pun puncaknya. Karenanya, masih banyak pula binatang liar yang hidup di kawasan ini, sebagai contoh adalah monyet, burung elang Jawa, dan ditengarai harimau juga.

Goa Seplawan

Antara Goa Seplawan, Goa Kiskendo, dan Goa Lawangsih, jaraknya tak begitu jauh, satu tempat ke tempat lainnya jika diukur jarak udara mungkin hanya sekitar 4 sampai dengan 5 kilometer saja. Namun karena jalan perbukitan yang berkelok dan harus memutar, maka jarak itu akan lebih memanjang dan terasa saling berjauhan.

Jika Goa Kiskendo berlokasi di ujung barat wilayah Jogjakarta, yaitu di kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, maka Goa Seplawan terletak di kawasan ujung timur wilayah Kabupaten Purworejo, tepatnya di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, yang jaraknya kurang-lebnih 25 kilometer arah timur pusat kota Purworejo dan sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.

Goa Seplawan ditengarai telah ada sejak ratusan tahun silam, hanya saja dibuka untuk umum sebagai tempat pariwisata baru beberapa puluh tahun lampau.

Wawancara Dengan Juru Kunci

Sosok Bapak Ngudiyo
Sosok Bapak Ngudiyo – Donorejo

Penulis pernah bertandang ke tempat kediaman salah seorang mantan Lurah Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, yang sekaligus juga menjadi salah satu juru kunci kawasan Goa Seplawan, Bapak Ngudiyo namanya. Berjumpa dan berbincang dengan Bapak Ngudiyo ini, ada banyak informasi yang bisa diperoleh, apalagi awalnya, sebagian besar area pertanahan yang menjadi kawasan wisata Goa Seplawan itu sejatinya dahulu adalah juga warisan dari keluarga besar Bapak Ngudiyo sendiri.

Sesuai keterangan, sekitar tahun 1979, kawasan Goa Seplawan ini dibuka untuk umum, yaitu diawali saat pemerintah Kabupaten Purworejo mendapatkan informasi dari masyarakat, bahwa ada wujud Goa indah di kawasan Kaligesing. Dengan pertimbangan semakin dibutuhkannya sarana pariwisata, baik di lingkungan Yogyakarta ataupun di Jawa Tengah, maka pihak Pemda Purworejo memerintahkan jajarannya dan juga sebagian warga untuk membuat tim kecil guna menindaklanjuti pemanfaatan Goa Seplawan. Selanjutnya dibentuklah tim kecil yang didalamnya ada nama Bapak Ngudiyo.

Penemuan Di Goa Seplawan

  • Arca Dewa Siwa & Dewi Parwati

Sebagai langkah dari tim kecil ini, selain membikin program, memetakan, dan juga membangun infrastruktur, adalah juuga menjelajahi kawasan dalam goa. Penjelajahan ini dilakukan tak cukup sekali, hingga pada akhirnya tim berjumlah tak lebih dari 40 orang tersebut berhasil menemukan sebuah arca kencana berwujud sepasang manusia yang dipercaya sebagai Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Arca kencana tersebut memiliki kadar emas 22 karat dan berukuran setinggi 9 cm, dengan berat 2,5 kg, ditemukan pada tanggal 28 Agustus 1979 di salah satu sudut goa.

Menjadi tak lazim adalah sosok yang melihat dan menemukan arca kencana tersebut, yaitu bukan dari anggota tim inti, melainkan justru dari anak kecil seumuran 14 tahun (anak SMP) yang ikut masuk membuntuti team, Slamet namanya.

Awalnya Slamet hanya melihat wujud benda yang tertutup bebatuan memancarkan sebuah sinar yang tak jelas dilihat mata karena tak terlalu terang. Rasa penasarabn Slamet diungkapkan kepada tim, yang lalu diadakan penggalian, hingga akhirnya terdapatlah wujud kendogo, yaitu bentuk wadah tabung perunggu dengan tutup yang rapih. Kendogo ini sudah tak memiliki warna akibat kerak dari bebatuan alam. Kemudian kendogo tersebut dibawa keluar dan dibuka, setelah dicermati, maka disaksikanlah arca kencana didalam wadah tersebut. Sesuai penelitian berbagai tim ahli, merekapun membenarkan bahwa itu adalah wujud arca dari sosok Dewa Syiwa dan Dewi Parwati.

Kedua arca kencana tersebut pada akhirnya diambil-alih pihak Pemerintah Pusat yang lalu disimpan di Monumen Nasional. Sebagai gantinya pihak pemerintah membantu pembangunan kawasan wisata Goa Seplawan, salah satunya dengan membangun sebuah patung Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Sesuai keterangan yang dihimpun dari Bapak Ngudiyo, Goa Seplawan bisa dikategorikan sebagai situs peninggalan sejarah yang sangat tinggi nilainya. Hal itu dikuatkan dari banyaknya pemaparan berbagai tim ahli yang telah meneliti keberadaan Goa Seplawan beserta hal-hal yang ditemukannya. Penilaian tinggi pada peninggalan sejarah tersebut, selain bisa dibuktikan dengan penemuan arca kencana Dewa Syiwa dan Dewi Parwati, dimana sepasang dewa dan dewi itu ditandai dengan pakaian lengkap beratribut chattra, serta prabha di sekitar kepala. Maka ada pula bukti kedua yang memperkuatnya, yaitu ditemukan pula Lingga-Yoni yang bentuknya menyerupai alu serta lesung.

  • LinggaYoni

Lingga adalah lambang laki-laki yang wujudnya bisa berbentuk alu, batang, batu, ataupun tugu, dimana bisa diasumsikan sebagai batang zakar seorang lelaki. Sementara Yoni adalah lambang perempuan yang wujudnya bisa berbentuk lesung, ataupun badan tugu. Lingga sebagai gambaran dari Dewa Syiwa (Dewa Perusak), sementara Yoni adalah manivestasi dari Shakti (istri) Dewa Syiwa, yaitu Dewi Parwati (Dewi Parvati). Ketika tadi bisa memaknai lingga sebagai kemaluan laki-laki maka yoni-pun bisa diasumsikan sebagai perwujudan kemaluan perempuan.

  • Candi Gondoarum

Merupakan petilasan berujud bebatuan yang ditengarai sebagai candi, bernama Gondoarum. Dinamakan Gondoarum karena sesuai cerita turun-temurun, candi ini dahulu memiliki aroma yang harum.

  • Tulisan Saplo Wan

Penemuan terpenting lain adalah sebentuk tulisan SAPLO dan WAN berhuruf Jawa-Kuno yang terdapat pada salah satu dinding Goa, dimana pada akhirnya tulisan itulah yang digunakan sebagai nama Goa. Seplawan adalah nama yang awalnya merupakan gabungan dari dua kata; Saplo dan Wan. Saplo memiliki arti “suci”, sementara Wan berdefinisi “manusia“. Sehingga ketika dimaknai secara utuh, Seplawan mengandung pengertian “manusia suci” atau “tempat bersucinya manusia”

Kepemilikan arti sebagai “tempat bersucinya manusia” ini memberikan pesan sesuai yang dituturkan sang juru kunci, bahwa di dalam Goa terdapat pula genangan serta aliran air bening dan bersih, telaga itu dinamakan sebagai Sendang Wening. Merupakan sendang yang dipercaya dahulunya sebagai air suci para dewa dalam melakukan yogi-nya. Sementara sebagian lain ada juga yang meyaqini bahwa itu adalah tempat bersucinya Sunan Bonang serta Sunan Kalijaga, tepatnya ketika Sunan Bonang memberikan pelajaran hakikat Islam kepada Sunan Kalijaga. Hal ini diperkuat dengan terdapatnya padasan (tempat untuk berwudlu) di dalam goa.

Mencermati penemuan-penemuan yang ada, para tim ahli menyimpulkan bahwa Goa Seplawan ini satu jaman dengan Candi Borobudur, yaitu sekira abad 9 Masehi. Perkiraan itu didasarkan pada beberapa penemuan penyerta yang diperoleh, dimana ada kemiripan dengan relief pada Candi Borobudur.

Kawasan Pariwisata

Guna menggapai kawasan Goa Seplawan memang dibutuhkan usaha yang tak mudah, pasalnya harus melalui jalan yang penuh liku di pegunungan Menoreh, sehingga selain dibutuhkan stamina, juga harus memperhatikan kondisi kendaraan yang akan digunakan. Namun jangan khawatir, karena meskipun agak bersusah-payah dahulu, infrastruktur jalan menuju kawasan pariwisata Goa Seplawan ini sudah bagus dan aspalisasi. Pemandangan selama dalam perjalanan yang menyajikan keindahan alam, dan ketika mulai menanjak atas, kalau dari arah timur, maka pesona Kota Jogjakarta juga sudah bisa dinikmai sebagai hiburannya.

  • Gardu Pandang

Kawasan Goa Seplawan yang ketinggiannya berada di sekitar 700 mdpl (meter diatas permukaan laut) menawarkan pemandangan yang sangat mempesonakan kita. Namun bisa pula dikategorikan sebagai wisata religi pun wisata sejarah.

Memasuki pintu utama kawasan pariwisata, kita diharuskan membayar tiket yang harganya kurang dari Rp 5000,- Apabila belok ke kiri dan lalu menaiki sebuah tangga menuju gardu pandang, maka tatkala cuaca sedang bersahabat, ada beberapa gunung yang mampu dinikmati. Y Di arah timur ada Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, dari arah lain ada pula Gunung Sumbing ataupun Gunung Sindoro, bahkan kalau beruntung akan nampak pula gunung Slamet. Lain dari itu, panorama alam bawah juga tak kalah menariknya. Sudut-sudut kota Joja akan nampak terbentang, diwarnai pula hamparan samudera Hindia serta cekungan waduk Sermo Kulon Progo. Alam kanan-kiri seputar kawasan Goa Seplawan juga masih asri, lumayan menyegarkan mata dengan adanya Taman Bunga. Tak jauh dari gardu pandang ada pula pendopo (gashebo) yang bisa digunakan sebagai ruang pertemuan pun sekedar tempat ngaso leyeh-leyeh. Tersedia pula perlengkapan Mushola dan MCK. .

  • Pelataran

Menuruni area Gardu Pandang, kita bisa menemukan patung replika Dewa Shiwa dan Dewi Parwati, yaitu melalui jalan setapak berundak-undak. Selanjuutnya yang bisa disaksikan adalah sebentuk gubug yang didalamnya terdapat linggayoni dan didepannya terhampar sepetak area, semacam peninggalan masa lalu, berujud bebatuan. Inilah wujud yang ditengarai sebagai Candi Gondoarum.

  • Masuk ke dalam Goa

Mulut (Pintu) Masuk Goa Seplawan Menoreh
Mulut (Pintu) Masuk Goa Seplawan Menoreh

Berlanjut kebawah menuju undak-undakan lalu memasuki Goa Seplawan. Goa ini sejatinya memiliki panjang lorong yang tak terkira dan belum ada yang mampu menembusnya. Sehingga tembus kemana dan dimana berakhirnya, belum diketahui secara pasti tempatnya. Hanya saja, sebagaimana tulisan yang ada di mulut goa, kita hanya diperbolehkan masuk dan mengeksplorasinya kurang-lebih sejauh 750 meter, dimana area lorong 750meter itu telah dilengkapi dengan sarana lampu penerangan. Namun, meski sudah ada penerangan, diharapkan Anda agar tetap berhati-hati karena kondisinya yang sangat licin aakibat air bercampur dengan lumpur.

Sementara selain lorong utama, Goa Seplawan juga mempunyai lorong-lorong cabang yang banyak jumlahnya, dengan rata-rata panjangnya adalah 150 s/d 300 meter. Lorong-lorong cabang Goa ini tidak dibuka untuk umum, karenanya tak disediakan pula sarana penerangan. Alasannya, selain sangat berlumpur (maka disebut juga sebagai istana lumpur), juga demi menjaga kealamian stalaktit dan stalakmit.

Masuk dan mengeksplorasi Goa Seplawan, akan kita temukan banyak hal istimewa. Aliran air bening dan bersih sampai wujud telaga yang acapkali dinamakan sebagai Sendang wening juga bisa dijumpai. Selain itu, menghampar pula ornamen-ornamen yang sangat mengagumkan didalamnya, misalnya adanya helektit, flow stone, soda straw, ataupun gowerdam.

Para team ahli yang sempat meneliti berkeyakinan bahwa goa Seplawan dahulunya sama sekali bukan tempat hunian, melainkan hanya sebatas dijadikan tempat pemujaan. Bisa jadi para pemuja itu adalah para punggawa ataupun raja yang telah mengundurkan diri dari pengabdian dunia ini. Keyaqinan para ahli tersebut salah satunya didasari pada alasan kurangnya cahaya di dalam Goa, ditambah lagi sirkulasi udaranya juga kurang menyegarkan. Selain terdapat segerombolan binatang kelelawar, tentu saja adalah kondisi lantai goa yang kurang nyaman ditinggali karena berujud tanah basah.

Rute Menuju Kawasan Goa Seplawan

Guna menuju tempat wisata Goa Seplawan ini tak ada kendaraan umum yang sampai di kawasan wisata. Oleh karenanya, menyewa kendaraan pribadi adalah pilihan terbaiknya.

  • Dari pusat kota Purworejo kita bisa menuju arah timur, yaitu di Kecamatan Kaligesing. Bisa melalui Cangkrep lalu Brenggong, Plipir, Kaliharjo, melewati Kaligono, lalu menuju Desa Donorejo.
  • Dari Wates – Kulon Progo, ambil saja arah exs SGO (Sekolah Guru Olahraga) yang sekarang menjadi bagian dari kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), lalu menuju kolam renang Clereng, lurus dan ikuti jalan yang mulai mendaki menaiki pegunungan Menoreh, sampai menembus kawasan Goa Kiskenda. Dari sana ikuti saja jalan yang kanan-kirinya dipenuhi hutan pinus, maka tak jauh darinya telah sampai di kawasan Goa Seplawan.
  • Dari Pusat Kota Jogjakarta, tepatnya dari perempatan tugu, ambil saja lurus kearah barat, keluar outer ringroad terus, perempatan pasar Godean juga terus lurus, perempatan (lampu merah) Gedongan tetap lurus, sampai menyebrangi jembatan Kali Progo, setelah itu ada lampu merah (bangjo) Kentheng. Dari sini bisa ambil kiri menuju Puskesmas Janti – Nanggulan, ataupun tetap bisa lurus terus dan mulai menaiki gugusan perbukitan Menoreh, yang pada akhirnya tembus kawasan Jonggrangan. Sedikit lagi lalu naik kearah Goa Kiskendo. Tak jauh dari sana telah dapat dijangkau Goa Seplawan Menoreh.

Mengamati pemaparan yang ada, selain kawasan hutan sekitar bisa digunakan sebagai tempat olahraga extrim dengan kendaraan motor pun mobil, cocok juga apabila kawasan Goa Seplawan ini digunakan sebagai tempat camping dan menginap. Lantaran sangat menjanjikan eksotisme pemandangan pagi hari, utamanya saat cuaca bagus, begitu pula malam dan sore hari, kabut pekat siap menyelimuti. Ada pula medan yang menantang jika Anda juga berkehendak mengadakan hiking pun outbond. [uth]

Catatan:
[1] Selain dari penuturan juru kunci, bernama Bapak Ngudiyo, keterangan juga didapat dari penuturan beberapa masyarakat sekitar

Sumber Rujukan;
[1] Goa Seplawan Menoreh; ikanmasteri.com Diakses pada 6 November 2014
[2] Gambar ilustrasi; pic.ikanmasteri.com Diakses pada 6 November 2014

Berbagi dan Diskusi

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here