Situs Candi Gondoarum di Puncak Bukit Menoreh

6
7017
Situs Candi Gondoarum dan Gubuk Linggayoni
Situs Candi Gondoarum

Selain pantai, gunung adalah tempat favorit bagi banyak orang untuk melepaskan penat akibat aktivitas keseharian. Jika suasana pantai memberikan kenyamanan dengan lantunan suara ombak dan deru angin, dan juga permainan pasir yang mengasyikkan, maka keindahan di alam pegunungan serta perbukitan juga menyajikan kenyamanan lain yang tak kalah indahnya. Ada suara kicau burung, gemericik air, sejuknya udara, riunya pepohonan diterpa angin, kabut putih yang meliuk, dan masih banyak lagi.

Berwisata di salah satu pegunungan Menoreh, ada yang berbeda dari umumnya, yaitu bisa menikmati pemandangan alam goa yang cukup mempesona. Kawasan Goa Seplawan namanya. Namun akan lebih berbeda lagi ketika telah mencapai tempat wisata yang berlokasi di salah satu puncak pegunungan Menoreh tersebut. Pasalnya selain menikmati keindahan goa pun alam sekitar, kita juga akan bisa menjumpai satu situs yang dipercaya sebagai sebuah candi di masa lampau. Ialah situs Candi Gondoarum.

Prasasti Kayu Arahiwang

Sebagaimana penuturan Bapak Ngudiyo, sang juru kunci Goa Seplawan sekaligus mantan Lurah Desa Donorejo – Kaligesing – Purworejo, Goa Seplawan tergolong tempat istimewa karena telah disebutkan berulangkali dalam sebuah Prasasti bernama prasasti Kayu Arahiwang, yang menjelaskan dengan gamblang bahwa Goa Seplawan adalah salah satu tempat yang harus dijaga karena kesuciannya.

Hubungan Kesucian & Candi Gondoarum

Asal mula nama kawasan Goa Seplawan adalah dari kata Saplo dan Wan. Memiliki arti “manusia suci” atau “tempat mensucikan manusia”. Sebagaimana jiwa-jiwa suci yang telah ada, ada perlakuan pun ritual yang sewajarnya dilakukan demi menyucikan diri tersebut. Dan di kawasan lokasi wisata Goa Seplawan, tak pelak terdapat pula sebuah situs Candi bernama Gondoarum.

Lalu apa kaitannya?

Dinamakan Candi Gondoarum tentu saja bukan tanpa alasan. Mengacu pada keterangan yang ada, peristiwa pada saat diangkatnya loyang yoni (sebagai pasangannya lingga), dibawah loyang yoni tersebut terdapat abu vulkanik yang memancarkan aroma semerbak mewangi alias ngganda arum dalam bahasa Jawanya. Aroma mewangi inilah yang juga tak luput dari unsur kesucian yang ada.

Bukti Kesucian

Bukti kesucian yang bisa dilihat adalah ditemukannya sebuah arca kencana (arca emas) berujud Dewa Siwa yang sedang bergandengan tangan dengan Dewi Parwati disebuah sudut lorongnya. Ini menunjukkan bahwa sejatinya telah ada kehidupan didalam Goa pada beberapa puluh/ratus tahun silam. Dan diprediksikan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melakukannya, dimana orang tertentu tersebut dahulunya adalah para pertapa yang menggunakan Goa sebagai tempat bertapa serta tempat pemujaan.

Kesucian lain juga terlihat dari keindahan luar biasa yang ada di Goa Seplawan, baik pada puncaknya ataupun pada kedalaman goa-nya. Hamparan stalaktit, stalagnit di sepanjang lorong goa, gemericik air yang mengalir di sebuah telaga bernama Sendang Wening serta yang menetes dari bebatuan, mampu membuat hati siapapun yang mengunjungi Goa Seplawan ini menjadi nyaman dan tenang.

Ada pula penampakan linggayoni sebagai lambang kesuburan yang pada awal ditemukannya antara lingga dan yoni ini saling terpisah, namun kini keberadaannya telah tertata apik di salah satu sudut area wisata Goa Seplawan. Dengan linggayoni, kesucian hidup dapat kita kupas dan cerna, bahwa dalam dualisme perbedaan (rwa bhineda) antara lingga dan yoni tetap ada manfaat. Oleh karenanya perbedaan itu tetap harus dihormati. Antara pria dan wanita, antara baik dan buruk, antara atas dan bawah, dan seterusnya, sejatinya semua itu berpasangan. Pasalnya, apabila tiada satu perbedaan yang sejatinya “berpasangan,” sudah barang tentu tak akan ada kehidupan ini. Sementara ketika kita menggali maknanya, ada kesuburan disana. Akan ada keberlangsungan hidup melalui regenerasi ketika laki-laki dan perempuan dipasangkan, begitu selanjutnya. Itulah salah satu makna kesucian serta kesejatian yang termaktub pada linggayoni.

Wujud Candi Gondoarum

Secara kasat mata, bentuk Candi Gondoarum saat ini nyaris tak nampak lagi sebagaimana wujud candi pada umumnya. Lain dari itu, yang terlihat hanyalah puing-puing pondasi pun dasar candi, dimana bentuknya sepintas menyerupai batu lain. Yang membedakan adalah terdapatnya beberapa guratan pun ukiran di beberapa sisi batu, yang apabila dirangkai, guratan pun ukiran tersebut bisa saling berhubungan. Masih menurut penuturan dari sang Juru Kunci, Candi Gondoarum ini diduga lebih dahulu ada dibanding Candi Borobudur di Magelang.

Karena masih saling berhubungan, maka lokasi wisata Candi Gondoarum juga tak jauh dari keberadaan linggayoni, yaitu saling bersebalahan. Kalau keberadaan Candi Gondoarum dipagar pada dua sisi dari persegi-empatnya, maka untuk keberadaan lingga-yoni juga telah dibuatkan sebuah cungkup sederhana berdinding kayu guna melindunginya dari terik dan basah.

Lokasi Wisata

Lokasi wisata Situs Candi Gondoarum ini beralamat di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo – Jawa Tengah.   Ini merupakan area paling timur wilayah Purworejo, sehingga lokasi ini juga tak jauh dari perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Perjalanan Menuju Kawasan Situs Candi

Karena masih berada satu lokasi dnegan kawasan wisata Goa Seplawan, maka perjalanan menuju situs candi Gondoarum ini juga serupa.     Yaitu teramat susah jika menggunakan modatransportasi umum.      Sehubungan dnegan itu, menyewa kendaraan pribadi adalah pilihan terbaiknya.

  • Dari pusat kota Purworejo kita bisa menuju arah timur, yaitu di Kecamatan Kaligesing. Bisa melalui Cangkrep lalu Brenggong, Plipir, Kaliharjo, melewati Kaligono, lalu menuju Desa Donorejo.
  • Dari Wates – Kulon Progo, ambil saja arah exs SGO (Sekolah Guru Olahraga) yang sekarang menjadi bagian dari kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), lalu menuju kolam renang Clereng, lurus dan ikuti jalan yang mulai mendaki menaiki pegunungan Menoreh, sampai menembus kawasan Goa Kiskenda. Dari sana ikuti saja jalan yang kanan-kirinya dipenuhi hutan pinus, maka tak jauh darinya telah sampai di kawasan Goa Seplawan.
  • Dari Pusat Kota Jogjakarta, tepatnya dari perempatan tugu, ambil saja lurus kearah barat, keluar outer ringroad terus, perempatan pasar Godean juga terus lurus, perempatan (lampu merah) Gedongan tetap lurus, sampai menyebrangi jembatan Kali Progo, setelah itu ada lampu merah (bangjo) Kentheng. Dari sini bisa ambil kiri menuju Puskesmas Janti – Nanggulan, ataupun tetap bisa lurus terus dan mulai menaiki gugusan perbukitan Menoreh, yang pada akhirnya tembus kawasan Jonggrangan. Sedikit lagi lalu naik kearah Goa Kiskendo. Tak jauh dari sana telah dapat dijangkau Goa Seplawan Menoreh. [uth]

Catatan:

[1] Selain dari penuturan juru kunci, bernama Bapak Ngudiyo, keterangan juga didapat dari penuturan beberapa warga di sekitar lokasi wisata

Sumber Rujukan;

[1] Situs Candi Gondoarum ikanmasteri.com Diakses pada 8 November 2014

[2] Gambar ilustrasi ikanmasteri.com Diakses pada 8 November 2014

Berbagi dan Diskusi

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here