Sikap Pelit dan Kikir Rentan Terhadap Stress

10
4315
Uang Euro
Uang Euro

Hemat pangkal kaya adalah semboyan yang telah banyak diajarkan orangtua sejak anak masih kecil. Semboyan tersebut seiring dnegan semboyan lainnya, misalnya rajin pangkal pandai, bersih pangkal sehat, dan lain sebagainya. Mampu berperilaku hemat memang sangat membantu kita dalam menjalankan kehidupan secara nyaman, setidaknya dengan kebiasaan “hemat,” kita bisa meminimalisir kekhawatiran akibat kebutuhan dadakan yang acap muncul.

Baik dan Buruk dalam Berhemat

Selalu ada dua sisi dalam kehidupan ini, baik dan buruk, positif pun negatif, atas dan bawah, kanan dan kiri, dan seterusnya. Begitu pula dengan perilaku hemat, tak bisa lepas juga dari dua sisi itu, utamanya sisi baik dan sisi buruknya.

Dengan berhemat, kita bisa membiasakan diri untuk hidup sederhana dan berusaha mengendalikan nafsu, pasalnya dengan didasari rasa hemat maka tak segala keinginan akan dengan mudah dipenuhi, pemborosan akan menjadi satu alasan dalam mempertimbangkan segala hal. Namun sebaliknya, dengan sikap hemat, adakalanya kita juga cenderung mengarah pada sifat pelit bahkan kikir. Kenapa demikian? Karena tak bisa dipungkiri, bahwa segala sesuatunya akan didasarkan pada untung ataupun rugi.

Sifat Pelit dan Kikir

Masih pada perilaku yang acap diajarkan orangtua di rumah ataupun guru di sekolah pada kita sewaktu kecil, yaitu sifat “pelit dan kikir” yang acap digambarkan pada sebuah cerita.   Maka sesungguhnya tak ada bagusnya dari sifat kikir dan pelit tersebut.         Akan tetapi dengan dasar telah terbiasa berperilaku hemat, bukan tidak mungkin sikap kikir telah menjadi bagian dari kebiasaan kita.

Tahukah Anda bahwa sifat pelit dan kikir itu juga menyebabkan penyakit stress?

  • Sifat kikir mempengaruhi kadar stres

Sejumlah responden dikumpulkan dalam satu penelitian yang dilakukan oleh tim Queensland University of Technology (QUT) Australia. Selanjutnya melalui simulasi tawar-menawar transaksi keuangan, para responden tersebut dijadikan sample guna mengukur respon fisiologis.                     Dari sampling tersebut diperoleh keterangan bahwa mereka yang membuat penawaran relatif rendah justru menjadi sosok yang mengidap lebih banyak stres dibanding dengan sosok yang melakukan penawaran lebih tinggi.

  • Penelitian Kadar Stress

Dari penelitian yang ada, para ahli melakukan pengukuran terhadap detak jatung pada saat terjadinya transaksi.      Responden yang menawar dengan harga rendah, dan juga pihak yang menerima tawaran akhir rendah, keduanya didefinisikan mengalami peningkatan detak jantung, di mana peningkatan detak jantung itu serupa dengan kondisi seseorang yang mengidap penyakit stres.

Penelitian ini sengaja didasarkan pada “eksperimen ekonomi” yang melibatkan responden dengan cara mengukur detak jantung yang memang bertujuan guna mengukur stres mental ketika berhubungan dengan uang dan pembuatan keputusan.             Dari penelitian ini para ahli juga menafsirkan bahwa para responden yang kikir cenderung berkadar stres lebih tinggi, kemungkinan besar disebabkan oleh perasaan bersalah.

  • Perasaan Bersalah sebagai Efek Psikologis

Mengacu pada kesimpulan para peneliti dan juga manajer Queensland Behavioral Economics Group Laboratory for Economic Experiments,  ada indikasi bahwa kita memiliki perasaan negatif ketika memperlakukan orang lain dengan tidak adil.        Terbukti dengan munculnya rasa tak nyaman sebagai pengganti biaya emosi dan fisiologi dalam melalukan penawarkan dengan harga di bawah 40 persen dari total nilai.

Oleh karenanya, mau ditutup-tutupi dengan sikap tegas atau keberanian dalam mengambil sikap seperti apapun, kenyataannya tetap masih terlihat adanya indikasi berempati kepada pihak lain, bukan?        Hal itu tergambar pada perasaan bersalah  sebagaimana yang telah dideteksi oleh para peneliti tersebut.

Korelasi Riset Charity

Apabila dirunut lebih lanjut untuk menengok catatan terdahulu, sejatinya penelitian di QUT Brisbane – Australia tersebut sangat berhubungan erat dengan penelitian mengenai manfaat alturisme dalam konteks ekonomi.     Yaitu terbukti dengan tindakan amal yang justru memberikan manfaat dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

Tokoh, para ahli, dan peneliti pada akhirnya semakin memantabkan diri untuk membenarkan pada ajaran kebajikan bahwa tak ada ruginya kita bersikap murah hati meski itu berhubungan dengan urusan finansial sekalipun. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Stinginess May Save You Money, But It’ll Cost You In Stress huffingtonpost.com Diakses pada 12 November 2014

[2] Gambar ilustrasi pixabay.com Diakses pada 12 November 2014

Berbagi dan Diskusi

10 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here