Apa Maksud dan Tujuan Orang-orang Jawa Memukul Kentongan?

5
4755
Kentongan Pentongan
Kentongan Pentongan

Indonesia adalah negeri yang penuh keberagaman yang juga menyuguhkan berbagai keunikan serta pesona. Selain pesona keindahan yang disajikan alam dan budayanya, ada pula keunikan lain yang tetap tak bisa dielakkan, termasuk kejadian mengenaskan akibat bencana, baik banjir, tanah longsor, angin ribut, gempa bumi, dan lain sebagainya.

Dari peristiwa bencana dan bahaya yang ada di Nusantara tersebut, pada akhirnya ada kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakatnya, utamanya masyarakat Jawa,  antara lain adalah kebiasaan memukul kentongan.    Lalu sebenarnya apa maksud dari kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua di Jawa terdahulu semacam itu?

Apa itu Kentongan?

Sebelum mengetahui maksud dari pemukulan kentongan ada baiknya kita pahami dulu apa itu Kentongan.

Kentongan atau ada yang menyebutnya pentongan (penthongan) adalah alat yang difungsikan sebagai sinyal komunikasi, tanda alarm, serta kode morse, terbuat dari batang bambu ataupun batang kayu yang dipahat pun dilubangi, sehingga ketika dipukul akan menimbulkan suara.

Budaya kentongan disinyalir telah diawali dari legenda Cheng Ho di Cina yang mengadakan ekspedisi dengan misi keagamaan. Sebagaimana tradisi meminum teh, seiring perjalanannya, Cheng Ho juga memanfaatkan kentongan sebagai alat komunikasiyang selanjutnya juga diterapkan saat berada di China, Korea, dan Jepang. Namun versi lain ada juga yang menyatakan bahwa kentongan sudah menjadi bagian dari tradisi kerajaan-kerajaan awal di nusantara dalam memberikan sinyal terhadap para prajurit dan juga para warga.

Maksud dan Tujuan

Ada berbagai maksud serta tujuan dalam bunti yang dimunculkan dari kode pemukulan kentongan, berikut adalah beberapa di antaranya;

  • Saat ada kematian

Memukul kentongan saat ada kematian biasa dilakukan oleh orang Jawa terdahulu, biasanya dilakukan oleh pemuka kampung ataupun pemuka agama di kampung. Pemuka kampung bisa saja dukuh sebagai kepala kampung, sedangkan pemuka agama bisa saja Romo untuk agama Katolik, Pastur untuk pemuka agama Kristen Protestan, ataupun Rais, Modin, pun Kaum untuk pemuka kaum Muslim.

Pemukulan kentongan pada kondisi adanya orang meninggal itu dilakukan dnegan tujuan memberkan kabar kepada warga sekitar, sehingga orang berdatangan untuk bergotong-royong saling membantu pada orang yang mengalami kesusahan ditinggal sanak-saudaranya itu. Pukulan kentongan biasanya memiliki irama yang telah lama disepakati bersama secara turun-temurun.

Namun seiring perkembangan jaman yang semakin modern, kode pemukulan kentongan guna mengundang orang ini sudah jarang dilakukan, pasalnya mengenai kabar kematian belakangan ini acap disiarkan lewat pengeras suara di Masjid-masjid pun tempat lain, atau bisa juga telah disebarkan melalui pesan pendek (SMS) di gadget masing-masing warga.

  • Kumpulan dan Rapat Warga

Tak jarang warga juga melakukan kumpulan, baik bertujuan untuk berkumpul membahas sesuatu ataupun berkumpul untuk menjalankan ronda bersama. Ajakan ataupun undangan berkumpul tersebut hingga kini masih acap dilakukan dengan membunyikan kentongan, baik di kediaman kepala kampung ataupun memukul kentongan di pos ronda.

  • Bencana Alam

Terjadinya bencana alam adalah peristiwa yang tak dikenendaki banyak pihak. Akan tetapi jika bencana telah terjadi tentu saja kita tak bisa menghindarinya.

Dari bencana yang ada, baik itu berujud gempa bumi, angin ribut, tanah longsor dan lain-lain, tak jarang mengakibatkan terputusnya sarana komunikasi dan informasi. Oleh karenanya keberadaan kentongan masih sangat berfungsi pada kondisi ini. Kentongan dipukul dengan tujuan agar waspada terhadap kondisi serta cuaca yang ada. Lebih dari itu, apabila memang peristiwa bahaya akibat bencana telah melanda, maka kentongan juga tetap dipukul sebagai tanda pemberitahuan, biasanya dengan irama ‘titir’, yaitu dipukul satu satu namun dengan irama cepat.

  • Pencurian

Serupa dengan kejadian bahaya akibat terjadinya bencana, bahaya yang terjadi akibat adanya tindak pencurian juga sering ditandai dengan memukul kentongan. Berbeda dengan bahaya akibat bencana, jika irama pemukulan kentongann saat bencana adalah satu satu secara cepat, maka ketika terjadi bahaya pencurian cara memukul kentongannya adalah dua kali dua kali dengan tempo agak lambat, misalnya berbirama 4/4.

  • Terjadinya Gerhana

Kebiasaan memukul pentongan juga dilakukan oleh orang Jawa ketika terjadi sebuah gerhana, baik gerhana matahari ataupun gerhana bulan.

Ikhwal pemukulan penthongan pada saat peristiwa bencana ini karena orangtua terdahulu memercayai bahwa hilangnya bulan pun matahari itu akbat dimakan oleh sosok raksasa. Sehingga tindakan memukul pentongan ini dimaksudkan layaknya memukul perut sang raksasa.

Orang dahulu semakin percaya karena tak lama kemudian bulan pun matahari itu akan muncul kembali. Ini mengindikasikan bahwa sang raksasa tak tahan perutnya dipukuli, sehingga bulan pun matahari dimuntahkannya kembali.

Bagian Dari Kearifan Lokal

Mengetahui masih adanya pemukulan pentongan pada era modern sekarang ini mungkin terdengar janggal. Bahkan cerita pemukulan perut raksasa pemakan bulan (matahari) pada peristiwa gerhana juga merupakan hal lucu yang layak ditertawakan, utamanya bagi kita yang mengerti dengan ilmu bumi, sehingga tentu saja sangat paham sebab musabab terjadinya gerhana. Namun begitulah cerita yang menjadi bagian dari kearifan lokal.

Disebut kearifan lokal, pasalnya ternyata ada makna lain yang terkandung di dalamnya, di luar pemahaman khalayak. Bahwa pemukulan kentongan sewaktu peristiwa gerhana, gempa, ataupun kejadian alam lain, juga menjadi bagian kebersahajaan warga dalam mencermati keadaan alam, ilmu titen. Masyarakat banyak diberikan tanda pengingat secara bersama-sama, agar tak mudah lupa dengan fenomena alam dan perhitungannya. Kapan terakhir terjadi gerhana, dan lalu kapan lagi diprediksikan lagi bakal terjadi gerhana serupa. Lebih dari itu, ada bahan pengingat umat manusia pada pencipta-Nya. [uth]

Sumber Rujukan;

[1] Kentongan id.wikipedia.org Diakses pada 14 November 2014

[2] Gambar ilustrasi wikimedia.org Diakses pada 14 November 2014

Berbagi dan Diskusi

5 COMMENTS

  1. […] Bumbu sate ala Jawa lebih dikenal dengan bumbu kecap, karena memang terdiri dari kecap manis ditambah irisan bawang merah serta cabe. Sementara untuk bumbu sate lainnya, ada yang dikenal dengan nama “bumbu kacang,” sebab memang berbahan dasar kacang.          Bumbu kacang pada sate, umumnya terdiri dari kacang, gula, garam, bawang merah, dan bawang putih, yang kesemuanya ditumbuk serta dilembutkan menjadi satu.              Dari ukuran 29 gram bumbu kacang tersebut menurut para ahli memiliki kadar 77 kalori, yang sebagian besar (70%) berasal dari  lemak.      Lebih dari itu, kacang yang ada pada bumbu juga memiliki 138 gram kandungan sodium. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here