Tahukah Anda Hari Ibu Di Indonesia Ini Diawali Dari Gerakan Perempuan Nusantara?

8
2443
Perjuangan Ibu
Perjuangan Ibu

Hampir dipastikan setiap tahun warga dunia memiliki sebuah peringatan untuk mengenang keberadaan Ibu. Namun perayaan hari Ibu tak akan selalu sama waktunya antara negara satu dengan lainnya, sebagai contoh apabila negara-negara barat (utamanya Amerika) memperingati hari ibu pada minggu pertama bulan Mei, maka di negara kita Indonesia ini, peringatan Hari Ibu dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Begitupun di United Kingdom (Inggris), yang memperingati hari ibu setiap minggu ke-4 bulan Maret.

Kenapa tanggal 22 Desember?

Banyak dari generasi terkini hanya sekedar mengamini, bahwa peringatan Hari Ibu dilakukan sebatas demi mengenang jasa-jasa ibu yang tiada terhingga. Tak lebih dari itu. Padahal sejatinya, jika menelusuri banyak rujukan, akan ditemukan banyak catatan yang luar biasa di sana.

Menilik catatan sejarah, dimulai pada tanggal 22 Desember tahun 1928, bertempat di Yogyakarta berkumpullah para pejuang perempuan yang berasal dari 12 kota di Jawa dan Sumatra.   Bukan sekdar berkumpul, selama tiga hari mereka juga menjalankna satu agenda berupa kongres  –yang kemudian dikenal dengan nama Kongres Perempuan I.    Pada akhir kongres, tertanggal 25 Desember 1928, menghasilkan banyak kesepakatan, di antaranya adalah pembentukan organisasi perempuan sebagai sebuah payung bernama KOWANI, yaitu singkatan dari Kongres Wanita Indonesia.

Penetapan Hari Ibu

Seiring berkembangnya waktu, Indonesia merdeka tahun 1945, yang artinya Indonesia berdiri kukuh sebagai negara berdaulat, maka Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama mengeluarkan sebuah keputusan berujud dekrit, tepatnya Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, menyatakan bahwa tanggal 22 Desember  sebagai awal kongres para perempuan tahun 1928 tersebut ditetapkan menjadi hari Ibu.

  • Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959

Bukan tanpa sebab, penetapan sebagai hari ibu oleh Bung Karno itu salah satunya didasari atas manfaat yang dihasilkan dari kongres.   Bahwa para perempuan tersebut juga merupakan para pejuang.      Karena dalam berkumpul, mereka mampu menyatukan ide, gagasan, dan pemikiran tentang perjuangan pembebebasan diri dari belenggu dan juga perbaikan nasib perempuan yang masih direndahkan dibanding kaum lelaki.

Berbagai isu perempuan berhasil digagas dalam Kongres Perempuan I itu. Sebagai contoh adalah isu pernikahan dini, hak memperoleh pendidikan dan kesehatan, human trafficking alias perdagangan manusia –yang banyak mengorbankan anak dan perempuan,  dan isu serta gagasan lainnya.   Dari Kongres Perempuan 1928 itu, mereka juga membahas tentang keterlibatan kaum perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan dari belenggu kolonialis pun imperialis.

  • Terketuk Dari Kongres Pemuda Pertama

Diselenggarakannya Kongres Perempuan Pertama ini tak lain adalah tergeraknya kaum perempuan setelah melihat perjuangan kaum laki-laki yang pada tahun 1926 telah menyelenggarakan Kongres Pemuda Pertama di Jakarta.

Suara sumbang pastilah ada. Apalagi pada masa itu kaum perempuan belum semaju dewasa ini. Namun hal itu tak membuat mereka patah semangat, bak anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, dan dengan semangat seolah tak mau berpangku tangan, kaum perempuan itu juga bersama-sama hendak memberikan hal terbaiknya untuk bumi nusantara.        Sebaliknya, dengan semangat pergerakan pun perjuangan, kaum perempuan yang terketuk hatinya dan yang merasa berkepentingan, sudah seyogyanya musti mendorong dan melibatkan diri dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Hasil Kongres Perempuan I Indonesia

Dari semangat para perempuan yang ada di Yogyakarta kala itu, dari Kongres Perempuan I itu dihasilkan  3 butir pernyataan penting. Yaitu;

    • Membangkitkan rasa nasionalisme
    • Menyatukan gerakan perkumpulan perempuan
    • Membentuk Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia

Tatkala agenda Kongres Perempuan Indonesia ini hendak dilangsungkan, tak pelak kekhawatiran muncul dari pihak penjajah. OLeh karenanya melalui kepolisian Hindia Belanda diselidikilah rencana itu.     Namun tak kalah cekatannya, ketua panitia kongres, yaitu Soejatin, hanya mengutarakan bahwa Kongres Perempuan Indonesia ini sebatas pertemuan non politis. Yaitu hanya membahas posisi para wanita dalam perkawinan serta mendapatkan pendidikan.      Namun dalam pelaksanaannya, ternyata serupa dengan Kongres Pemuda Indonesia. Dilangsungkan dengan menggunakan bahasa pengantar “Bahasa Indonesia” dan penutupannya juga mengangkat agenda utama berupa pengibaran sang saka Merah Putih dengan iringan lagu Indonesia Raya.

Kongres Perempuan II Dengan Tema “Merdeka”

Dengan semangat Kongres Perempuan Pertama di Jogjakarta, maka banyak perempuan merasa satu ide dan memiliki gagasan serupa. Sehingga setahun kemudian, atas semangat kebersamaan, diadakan Kongres serupa yang bertempat di Jakarta dan dihadiri oleh berbagai organisasi perempuan.     Kali ini mereka juga mengusung tema yang lebih berani, yaitu “Merdeka” dari penjanjahan Belanda.   Akibatnya acara kongres di Jakarta itu sempat mau dibubarkan, utamanya saat yel-yel “Merdeka Sekarang” bersahut-sahutan memenuhi sudut ruangan kongres.

Serupa Kongres Perempuan I di Yogya, Kongres Perempuan II ini juga banyak membahas tentang  masalah perkawinan, perdagangan perempuan, serta pendidikan. Hingga kemudian tahun 1930 terbentuklah P4A, yang merupakan singkatan dari Perkumpulan Pembasmian Perdagangan Perempuan dan Anak.       Berlanjut ke tahun 1935, kembali dilaksanakan agenda Kongres Perempuan, kali ini tak canggung-canggung karena dibawa pula isu politik.

Keberanian para perempuan semakin memuncak, apalagi melihat semakin kesewenang-wenangan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda. Oleh karenanya pada tahun 1941, para perempuan Indonesia ini menuntut dan merekomendasikan politiknya lebih tegas, yaitu mendukung dan menyetujui aksi Gabungan Politik Indonesia yang mengusung tuntutan “Indonesia Berparlemen” demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Rezim Mempengaruhi Sejarah

Merunut kejadian yang ada, begitulah perjuangan kaum perempuan itu muncul dalam mewujudkan kemerdekaan bumi Nusantara ini.     Namun mungkin benar bahwa sejarah ini adalah milik para pemenang, utamanya para penguasa. Buktinya dari jaman Orde Baru, Hari Ibu diperingati sebatas seremonial demi mengenang sosok serang ibu.

Memang bukan kesalahan mutlak dari seremonial itu, namun bukankah bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan sejarah perjuangan para pahlawan pendahulunya?

Jarangnya cerita perjuangan kaum perempuan meraih kemerdekaan sebagai awal diperingatinya sebagai Hari Ibu, pada akhirnya hanya menempatkan hari Ibu sebatas pada peran perempuan sebagai ibu di rumah. Di sumur, di kasur dan di dapur. Sama sekali bukan perannya tatkala turut berjuang meraih kemerdekaan. Oleh karenanya semangat bekerja demi keadilan dalam memperjuangkan perempuan, baik dalam melawan pernikahan dini, perdagangan perempuan, penganiayaan terhadap TKW (Tenaga Kerja Wanita), dan masih banyak lagi, sudah selayaknya ditabuh lagi genderangnya. [uth]

Sumber Rujukan:

[1] Hari Ibu id.wikipedia.org Diakses pada 22 Desember 2014

[2] Gambar Ilustrasi pixabay.com Diakses pada 22 Desember 2014

Berbagi dan Diskusi

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here