Inilah Payung Teduh Sebagai Pabrik “Musik Adem”

2
1300
Payung Teduh
Payung Teduh

Musim hujan akan identik dengan jas hujan dan juga payung, karena ketika bepergian ke luar rumah (dan hujan turun) maka dengan menggunakan jas hujan ataupun payung, keteduhan akan sedikit menyelimuti. Baik bepergian dengan menggunakan kendaraan roda dua, ataupun dengan berjalan kaki.

Kali ini ada payung berbeda. Yaitu payung yang mampu membuat teduh tanpa peduli musim. Ialah payungteduh, satu grup musik dengan banyak penggemar karena para personilnya cekatan melantunkan sebuah musik yang terdengar akustik pun aura keroncong dan beraroma jazz. Ini jelas tidak sederhana, sehingga bisa membuat nyaman suasana.

Musik Menyegarkan Membawa Penghargaan

Sambutan meriah atas kehadiran grup musik “payung teduh” tidak lain karena mereka membawa selingan yang cukup menyegarkan bagi industri musik Indonesia yang masih hingar-bingar dengan nuansa KPop ataupun musik pop Melayu.      Payungteduh hadir dengan nuansa berbeda namun justru memiliki daya tarik tersendiri karena mengusung lirik istimewa sebagai pembawa peran dalam setiap lagu-lagunya. Dengan modal perbedaan itu, tak pelak grup payung teduh bisa menyingkirkan kandidat lain dalam memenangi penghargaan seni tahun 2013 dari majalah Tempo.

Bahkan sebulum itu, payung teduh yang membangkitkan kekuatan lirik pada lagu sebagaimana masa-masanya Ismail Marzuki ini juga telah meraih gelar terhormat sebagai “new comer group” dari Majalah musik Rolling Stone Indonesia.

Musik Payung Teduh

Teater Pagupon bisa jadi adalah tempat awal lahirnya grup payung teduh, karena dari sinilah dua orang sahabat berjuluk Is dan Comi yang berprofesi sebagai pemusik acap bertemu dan lalu main musik bersama, hingga kegemaran itu berlanjut di lain tempat. Dari nongkrong bareng di kantin Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia – Depok, selasar gedung kampus, tepi danau UI,  hingga event-event di luar kampus.            tak disadari kebersamaan dalam bertemunya energi yang selaras itu telah menguatkan karakter bermusik mereka sekaligus memberi kenyamanan orang-orang sekitar yang mendengar dan menyaksikan kiprah bermusiknya.

Akhir 2007 Is (Mohammad Istiqamah Djamad) dan Comi (Comi Aziz Kariko) membentuk Payung Teduh dan setahun kemudian mengajak Cito (Alejandro Saksakame) sebagai drummer. Tahun 2010 mereka juga menggandeng Ivan (Ivan Penwy) untuk memetik guitalele.

  • Musik Suasana

Diawali dengan lagu berjudul “Angin Pujaan Hujan,” karakter mereka telah mulai diminati khalayak karena merupakan lagu pertama dengan warna mereka sendiri yang memiliki perbedaan dibanding kebanyakan lagu lain.   Mereka menyebutnya sebagai musik suasana, karena saat bermain musik mereka ibaratkan layaknya ngobrol saja dengan pendengar.            Selanjutnya  tercipta lagu-lagu lain; Kucari Kamu, Amy, dan Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan.   Tak ketinggalan adalah beberapa karya yang dipentaskan dalam teater.  Bersama Catur Ari Wibowo; adalah lagu dengan judul “Resah” dan “Cerita Tentang Gunung dan Laut.”      Pada akhirnya, tahun 2010, Payung Teduh juga meluncurkan album indie pertamanya.

  • Album Indie

Payung Teduh lebih memilih jalur indie dalam memperdengarkan karya-karya lagu dan musiknya. Dengan latarbelakang indie itu, maka mereka memanfaatkan situs-situs pun media sosial untuk mempublikasikannya. Salah satunya adalah melalui video gratis di Youtube dan jejaring perkawanan Facebook.

Dari langkah indie ini kenyataannya musik mereka cukup memperoleh kelas sendiri. Tak sedikit yang meresponnya secara positif, bahkan ada penggemar di Youtube yang menjulukinya sebagai ‘pabrik musik adem.’

Tetap Berkarya dan Tetap Bekerja

Meski senang bermain musik, namun semua personil Payung Teduh sampai saat ini tak berniat menjadikannya sebagai lahan bekerja. Mereka tetap menjadikannya sebatas hobi. Sementara untuk urusan kerja, mereka memiliki pekerjaan dengan profesi berbeda.

  • Profesi Personil

Comi adalah lulusan program magister Universitas Indonesia yang tetap mendedikasikan diri sebagai tenaga pengajar mata kuliah Bahasa Inggris di Universitas Bina Nusantara.    Sedangkan Cito, merupakan penggebug drum yang setiap minggunya sibuk menggeluti pekerjaan sebagai desainer grafis handal.

Is sebagai vokalis dan gitaris Payung Teduh tetap tak pelit pula dalam mengajarkan ilmu bermusik dan juga ilmu teaternya. Bukan itu saja, Is juga mengajarkan seni tari.          Dari keempat personil itu, hanya Ivan, sang pemetik gitalele saja yang masih terbebas karena sedang menyelesaikan kuliahnya.

  • Tanpa Persiapan Aksi Panggung

Kesibukan yang dilakukan masing-masing personil Payung Teduh itu tak pelak juga membuat waktu bertemu mereka tak banyak.    Namun itu tak membuat mereka merasa terbebani meskipun harus tampil di atas panggung bersamaan.

Sebaliknya, lebih dari 3 tahun dalam kebersamaan menggemari permainan musik, telah membuat energi para personil Payung Teduh ini bisa seirama antara satu dengan yang lain.    Oleh karenanya ini menjadi bekal tersendiri tatkala mereka hendak bermain di atas panggung.   Bahkan pernah mereka hanya latihan di back stage, ketika hendak manggung.            Ada pengalaman sehubungan dengan hal itu, yaitu tentang Repertoir “Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan dan Menuju Senja” yang ada pada album Dunia Batas, 2012. Comi justru mengetahuinya saat di back stage, tatkala latihan bersama Is sebelum manggung.   Payung Teduh bisa istimewa tak lain adalah karena mereka berkarya dengan sepenuh jiwa. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Ngaso ‘selow’ bersama Payung Teduh bbc.co.uk Diakses pada 31 Desember 2014
[2] Gambar ilustrasi dan Biography payungteduh.blogspot.com Diakses pada 31 Desember 2014

Berbagi dan Diskusi

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY