Apa dan Siapa Basarnas Special Group (BSG) itu?

4
4830
BASARNAS - Badan SAR Nasional - Indonesia
BASARNAS - Badan SAR Nasional - Indonesia

Beberapa musibah terjadi di tanah air, yang baru-baru ini adalah bencana tanah longsor di Banjarnegara dan juga jatuhnya pesawat “Air Asia” pada jelang pergantian tahun 2014 menuju 2015. Mencermatinya, di Indonesia ini ada tim yang dibentuk dengan tugas khusus evakuasi dan penyelamatan, bernama BASARNAS. Yaitu kepanjangan dari Badan SAR Nasional yang merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementrian Indonesia dengan tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan (Search And Rescue/SAR).

Sejarah SAR Nasional

Awal terbentuknya satu organisasi SAR di Nusantara yang sekarang ini dikenal dengan sebutan BASARNAS adalah demi menghindarkan diri dari negara dengan status “Black Area,” yaitu satu negara yang tidak memiliki organisasi SAR.

  • ICAO dan IMO

Sebagaimana diketahui, beberapa tahun setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1950 Indonesia bergabung sebagai anggota organisasi penerbangan internasional International Civil Aviation Organization (ICAO ).    Konsekuensinya adalah keharusan Indonesia untuk menjadi negara yang harus mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran apabila terjadi di Indonesia.            Maka sebagai tindakan lebih lanjut, pditetapkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1955 tentang Penetapan Dewan Penerbangan untuk membentuk panitia SAR, yang di dalamnya ada panitia teknis dengan tugas pokok membentuk Badan Gabungan SAR, dan juga menentukan pusat-pusat regional serta anggaran pembiayaan dan material.

Setelah menjadi anggota ICAO, tahun 1959 Indonesia juga masuk sebagai anggota IMO, yaitu International Maritime Organization. Selanjutnya seiring waktu, sepuluh tahun kemudian didirikan satu organisasi SAR Nasional sebagai koordinator utama dari segala kegiatan SAR, dengan tugas menjadi komando teratas dalam mengantisipasi tugas-tugas SAR.     Oleh karenanya tahun 1968 pemerintah menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor T.20/I/2-4 tentang ditetapkannya Tim SAR Lokal Jakarta yang desain utamanya adalah Direktorat Perhubungan Udara. Tim inilah yang menjadi cikal-bakal dan embrio dari organisasi SAR Nasional di Indonesia.

  • ASEAN Umbrella Project

Masih pada tahun 1968, Indonesia mengemban posisi yang cukup penting di Asia Tenggara, yaitu menjadi proyek payung (Umbrella Project) bagi negara-negara Asia Tenggara dalam South East Asia Coordinating Committee on Transport and Communications. Yaitu proyek yang ditangani oleh US Coast Guard (Badan SAR Amerika) yang memiliki tugas mencari dan mengumpulkan data guna merencanakan pengembangan dan penyempurnaan organisasi SAR Nasional.

Dari data yang ada, selanjutnya tim US Coast Guard yang mendampingi beberapa pejabat sipil dan militer Indonesia, menyimpulkan bahwa Instansi pemerintah yang terdiri dari sipil dan juga militer sudah mempunyai unsur pendukung dalam kegiatan SAR, hanya saja masih membutuhkan satu badan pun lembaga sebagai wadah guna menghimpunnya, baik mengenai posisi personil, sarana dan jaringan komunikasi, dan hal lain yang menjadi perangkat dalam kegiatan SAR. Dengan demikian selain perlu pembentukan struktur organisasi pun kelembagaan, dibutuhkan pula   pembinaan dan latihan agar memiliki kemampuan dan keterampilan khusus penyelamatan (SAR).

Perkembangan Organisasi

Tahun 1972 bentuk organisasi berkembang sesuai yang ditetapkan pada tanggal 28 Februari, yaitu melalui Keputusan Presiden Nomor 11 tahun 1972 yang berisi mengenai pembentukan Badan SAR Indonesia (BASARI), dengan susunan organisasinya adalah Unsur Pimpinan, Pusat SAR Nasional (Pusarnas), Pusat-pusat Koordinasi Rescue (PKR), Sub-sub Koordinasi Rescue (SKR), dan Unsur-unsur SAR

  • PUSARNAS

Pusarnas yang menjadi salah satu unit Basari mempunyai tanggungjawab sebagai pelaksana operasional kegiatan SAR di Indonesia, tahun 1974 telah membuktikan prestasinya pada penyelamatan penerbangan dan pelayaran, tepatnya saat terjadi musibah di Bali yang menimpa pesawat Boeing 727-PANAM dan juga musibah di Sulawesi atas pesawat Twinotter (dikenal dengan operasi Tinombala).

Dari keberhasilan penyelamatan yang dilakukan Pusarnas, kemudian tahun 1975 Pusarnas masuk sebagai anggota resmi National Association of SAR (NASAR) dengan kantor pusatnya di Amerika. Oleh karenanya sejak saat itu pula tim Pusarnas secara resmi juga mulai terlibat dalam kegiatan SAR internasional. Salah satunya tahun 1976 ikut berpartisipasi dalam International Aeronautical Federation, yaitu berada dalam kelompok kerja penelitian penggunaan satelit demi kepentingan kemanusiaan (Working Group On Satelitte Aided SAR).

Tahun 1978 Menteri Perhubungan yang berposisi sebagai kuasa Ketua Basari mengeluarkan Keputusan Nomor 5/K.104/Pb-78 yaitu tentang penunjukan Kepala Pusarnas yang sekaligus berlaku sebagai Ketua Basari pada kegiatan operasi SAR di lapangan. Sementara dalam penanganan SAR di daerah dikeluarkan Instruksi Menteri Perhubungan IM 4/KP/Phb-78 untuk membentuk Satuan Tugas SAR di KKR (Kantor Koordinasi Rescue).       Berkaitan dengan hal tersebut, dengan alasan efektifitas dan efisiensi kerja tim SAR di Indonesia, maka tahun 1979 melalui Keputusan Presiden Nomor 47 tahun 1979, Pusarnas yang awalnya berposisi dibawah Basari, selanjutnya langsung masuk dalam struktur organisasi Departemen Perhubungan, dan namanya pun diubah menjadi BASARNAS sebagai sngkatan dari Badan SAR Nasional.

  • Di Bawah Kemenhub

Tuntutan zaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang semakin pesat membuat pelayanan keselamatan juga harus ditingkatkan, termasuk diantaranya adalah  jasa SAR.   Sehubungan dengan hal itu organisasi SAR di Indonesia juga mengalami penyesuaian. Tahun 2005 ada regulasi yang dikeluarjan dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 43 mengenai Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan dan Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 79 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor SAR.

Setahun kemudian dikeluarkan juga Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2006 tentang Pencarian dan Pertolongan yang mengatur bahwa Pelaksanaan SAR (yang meliputi usaha dan kegiatan mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah pelayaran, dan/atau penerbangan, atau bencana atau musibah lainnya) dikoordinasikan oleh Basarnas yang posisi dan tanggungjawabnya langsung kepada Presiden.               Menyadari posisi dan tanggungjawab ini, maka Basarnas berusaha mengembangkan organisasi sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen.  Dan tahun 2007 Kelembagaan dan Organisasi BASARNAS diubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), yaitu melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional.    Karenanya, sebagai LPND, BASARNAS posisi dan tanggungjawabnya langsung dibawah dan kepada Presiden.

Dua tahun berikutnya, Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2009, menyebutkan bahwa LPND mengalami perubahan sebaga Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).    Dengan menjadi LPNK ini, maka secara bertahap BASARNAS mulai melepaskan diri dari struktur Kementerian Perhubungan dan akan langsung bertanggung jawab ke Presiden melalui  Sekretariat Negara (Setneg). Semua ini dilakukan demi upaya menyelenggarakan pelaksanaan SAR yang efektif, efisien, cepat, handal, dan aman.

Basarnas Special Group (BSG)

Memersiapkan personil yang siap, cakap, trengginas, sigap, cepat, tanggap, dan memiliki kemampuan lebih lainnya bukan saja hanya pada sebuah organisasi berlatar militer. Akan tetapi tugas pelaksanaan SAR juga membutuhkan manusia-manusia yang mampu bergerak dengan kecakapan serupa. Tentu semuanya demi mendapatkan hasil maksimal baik keefektifan, efisiensi, kecepatan, kehandalan, dan juga keamanan.

Mempertimbangkan kebutuhan di atas, tak pelak BASARNAS juga memiliki tim khusus dengan kemampuan khusus pula. Yaitu kemampuan di atas rata-rata anggota lainnya meski itu sesama anggota BASARNAS. Tim khusus itu dinamakan Basarnas Special Group atau disingkat BSG.

BSG adalah tim dalam BASARNAS namun memiliki perbedaan khusus dibanding dengan sebagian besar anggota Basarnas lain, utamanya perbedaaan kemampuannya. Baik kemampuan dan keahlian teknik penyelamatan ataupun kemampuan dalam bertahan pada berbagai situasi-kondisi yang harus dihadapi.

Sehubungan dengan hal itu, guna menjadi anggota BSG, Basarnas menentukannya melalui proses seleksi yang sangat ketat. Pasalnya  tim khusus BSG yang mulai terbentuk tahun 2012 ini mengharuskan setiap anggotanya mampu menerima bekal keahlian bertahan dan penyelamatan pada berbagai kondisi alam. Baik di udara, di laut, ataupun di daratan. Ini salah satu pembeda antara anggota BSG -yang hingga akhir tahun 2014 hanya berangggotakan 60 personil- dengan anggota biasa yang sebatas diajarkan satu bidang keterampilan saja. [uth]

Sumber Rujukan:

[1] Sejarah SAR Nasional basarnas.go.id Diakses pada 2 Januari 2015

[2] Di Balik Ketangguhan Tim Khusus Basarnas dalam Pencarian AirAsia QZ8501 kompas.com Diakses pada 2 Januari 2015

[3] Gambar ilustrasi basarnas.go.id Diakses pada 2 Januari 2015

Berbagi dan Diskusi

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here