Tahukah Anda, Tugu “Golong-Gilig” Jogja Pernah Bernama De Witte Paal?

5
5758
Tugu Pal Putih Jogja
Tugu Golong-Gilik Jogja

Baik di dalam negeri atatpun di manca negara, setiap kota pun daerah biasanya memiliki ikon dan lambang sebagai representasi daerahnya. Selain makanan, ikon sebuah daerah bisa berujud monumen, tugu, jembatan, dan bentuk bangunan fisik lain. Sebagai contoh adalah jembatan Ampera yang identik dengan daerah Palembang, patung ikan hiu dan buaya sebagai lambang kota Surabaya, Tugu Khatulistiwa yang ada di kota Pontianak, dan masih banyak lagi.

Begitu pula yang ada di Yogyakarta. Sejatinya setiap kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta juga telah memiliki makanan khas yang menjadi representasi kabupatennya. Bantul dengan makanan geplak, Gunung Kidul dengan gaplèk, Kulon Progo dengan geblèk, Sleman tersedia salak pondoh, dan Kodya Jogja yang identik dengan makanan gudegnya. Akan tetapi secara keseluruhan Jogja akan sangat melekat dengan satu bangunan fisik berujud tugu yang keberadaannya di tengah-tengah perempatan jalan. Ialah yang sedari awal dijuluki Tugu Golong-Gilik.

Tugu Golong-Gilig

Golong-gilig adalah nama tugu yang berdiri tepat ditengah-tengah perempatan jalan wilayah Yogyakarta. Dari perempatan tugu, apabila ke arah utara akan menuju daerah Jetis, sedangkan apabila lurus ke selatan akan menuju area Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sementara jika dari perempatan Tugu menuju ke arah barat maka akan sampai di daerah Pingit dan menuju Jalan Godean, sedangkan jika terus menuju ke timur kita akan sampai di sepanjang Jalan Solo.

  • Nama Jalan

Jika ditilik dari nama jalan yang ada, membujur ke arah barat dari berdirinya tugu adalah Jl Diponegoro. Selanjutnya yang ke arah timur adalah Jl Jendral Sudirman, sedangkan yang ke utara merupakan Jl AM Sangaji.

  • Pergantian Nama Jalan

Untuk bagian jalan yang membujur ke selatan dari tugu golong-gilik, dahulunya telah diberi nama Jalan Margo Utomo (Penulisan menurut kaidah Bahasa Jawa yang benar adalahMarga Utama” -red) yang berarti “Jalan Utama.” Namun pada era Orde Baru diganti namanya menjadi Jl P. Mangkubumi. Selanjutnya demi mengingat makna filosofi penamaan jalan, maka akhir tahun 2013 nama jalan Pangeran Mangkubumi dikembalikan lagi menjadi Jl Margo Utomo.

  • Monumen Persatuan & Perwujudan Terimakasih

Dibangun pada masa pemerintahan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan HB I), tugu Golong-Gilig ini menjadi wujud tanda terimakasih yang dipersembakan oleh seorang sang raja terhadap rakyatnya.

Selain itu, pembangunan Tugu Golong-Gilik adalah juga sebagai monumen demi mengingat semangat persatuan dan kesatuan. Hal itu sebagaimana termaktub dalam kata “golong-gilig” yang dirujuk sebagai nama tugu.

Wujud Pertama Tugu

Ketika mengkondisikan wujud asli bangunan tugu, sejatinya dahulu tugu Golong-Gilik memiliki warna putih dengan tinggi kurang-lebih 25 meter. Pada bagian puncaknya dahulu berbentuk bulat mirip bola. Dengan wujud bulat mirip bola itulah maka terdefinisi kata “golong”. Sedangkan bentuk tiang tugu yang berdiri tegak ke atas adalah Cilindris, atau dalam bahasa Jawa acap disebut “gilig.” Di bagian dasar tugu ada pembatas berujud pagar melingkar.

  • Makna Gambaran Golong-Gilik

Dari bentuk tugu yang merupakan pengejawantahan dari “Golong-Gilik,” maka sudah sejah dahulu keberadaan tugu ini menjadi harapan pun cerminan pada satu tekad kebersamaan, yaitu antara raja dan rakyatnya. Tekad kebersamaan itu slaah satunya adalah dalam melawan ketidakadilan dan ketertindasan atas penjajahan.

Di samping itu, golong-gilik juga mengandung makna secara spiritual. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dari bentuk tugu yang secara simbolik memberikan kesadaran kepada umat agar bersatu dalam kebersamaan menuju Yang Di Atas. Atau dalam bahasa Jawa terbersit dalam kalimat “Manunggaling Kawula Kalawan Gusti.”

Rusak Akibat Gempa Bumi Tahun 1867

Mengacu pada catatan Tjandra Sengkala dengan kalimat yang berbunyi “Obah Trusing Pitung Bumi,” maka dapat ditarik garis lurus bahwa ada sebuah gempa bumi yang terjadi hingga mengakibatkan kerusakan dahsyat, termasuk di antaranya adalah kerusakan bangunan tugu golong-gilig.

Angka yang tercipta dari catatan Tjandra Sengkala itu adalah 1796. Dari sini kemudian para ahli merunut satu musibah gempa bumi yang terjadi sekitar pukul 05.00 pagi, tanggal 10 Juni 1867 Masehi, atau 4 Sapar Tahun EHE 1796 Tahun Jawa. Dan juga tahun 1284 Hijriah.

Renovasi Tugu Oleh Opzichter van Waterstaat

Dari kerusakan yang ada, selanjutnya tugu itu diperbaiki. Namun karena sebagian bumi Nusantara –termasuk Yogyakarta ada dibawah kekuasaan Hindia Belanda, maka pihak yang menangani perbaikan adalah pemerintahan kolonial dibawah pimpinan Opzichter van Waterstaat yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel. Sedangkan bertindak sebagai pihak pengawasan pembangunan adalah Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V.

  • 1889 Menjadi Tahun Berubahnya Bentuk Tugu

Tugu hasil renovasi itu diresmikan Hamengku Buwono ke-7 tertanggal 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Hanya saja bentuk tugu pun menjadi berubah, tak lain adalah karena latarbelakang Pemerintah Hindia Belanda yang saat itu tak suka dengan persatuan antara rakyat dan rajanya.Perubahan itu di antaranya adalah lambang golong-gilig yang dihilangkan, tentu demi tujuan politik pecah-belah. Sejak saat itulah bagian puncak tugu tak lagi bulat, dan sebagai gantinya diubah menjadi kerucut yang runcing. Sedangkan ketinggian bangunan juga dikurangi menjadi lebih rendah, yaitu hanya 15 meter. Ini artinya bangunan tugu ini mengalami penurunan ketinggian sebanyak 10 meter bentuk asli awal.

Perubahan Nama Tugu

Tidak hanya itu. Ada yang lebih disayangkan adalah pencantuman candra sengkala pasca renovasi yang berbunyi; “Wiwaraharja Manunggal Manggalaning Praja.”

Ketika merujuk pada angka tahun, memang candra sengkala tersebut bisa dimaknai sebagai tahun Jawa 1819. Tetapi apabila hal ini diartikan secara kata perkata, yang dijumpai adalah kekerdilan kemerdekaan pada kawula, karena kalimat yang tercipta adalah “pintu menuju kesejahteraan bagi para pemimpin negara.”

Kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda semakin kentara, pasalnya dengan merasa telah memprakarsai dan juga bisa mendanai serta melaksanakan pembangunan tugu kembali, maka sejak saat itu perubahan nama Tugu Golong-Gilig tak bisa dielakkan. Muncullah nama baru “De Witte Paal” yang berarti Tugu Putih sebagai gantinya.

Poros Imajiner

Sebagaimana terpaparkan di paragraf atas, yaitu mengenai “manunggaling kawula kalawan Gusti,” maka meski diubah dengan cara bagaimanapun, masih ada yang bisa dijadikan keyakinan atas keberadaan tugu. Yaitu adanya sebuah sejarah yang menceritakan bahwa tugu itu ternyata juga menjadi lambang spiritual. Penjelasan lain tentang aspek spiritual itu salah satunya adalah terdapatnya poros imajiner pihak Kraton Yogyakarta. Adalah bentuk garis lurus yang merujuk pada beberapa tempat ketika ditarik dari selatan menuju utara, pun sebaliknya. Tempat-tempat itu adalah sebagai berikut; Laut Selatan yang konon merupakan area kraton pimpinan Ratu Kidul (yang oleh sebagian masyarakat juga dipercaya sebagai istri Sultan Raja-Raja Mataram –red) – Krapyak – Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat – Tugu Golong-Gilik – Gunung Merapi.

Posisi-posisi ini makin diyakini, salah satu contohnya adalah tatkala sultan sebagai penguasa Kraton Yogyakarta duduk di atas singgasana Siti Hinggil Kraton. Maka beliau bisa memandang Gunung Merapi di sisi utara. Sedangkan mengenai keterikatan antara Laut Kidul, Kraton, dan Gunung Merapi salah satunya tergambar dari satu budaya ritual yang disebut larungan dilaksanakan pada bulan Sura (Muharam) di Laut Selatan maupun Gunung Merapi oleh pihak Kraton.

Tradisi Siswa & Mahasiswa Mencium Tugu

Terlepas percaya ataupun tidak terhadap hal-hal magis dan ritualnya, pada jaman sekarang ini toh masih ada banyak siswa pun mahasiswa yangmelakukan ritual mencium tugu usai kelulusan sekola pun kuliahnya.

Secara pasti belum bisa diketahui kebenarannya, namun dari pemaparan mereka yang mencium tugu pasca kelulusannya saat sekolah dan atau kuliah di kota budaya Yogyakarta ini, maka ada keyakinan bahwa suatu saat ada daya yang menarik mereka untuk tetap melampiaskan cinta terhadap Jogja dan kemudian membuatnya datang kembali.

Anda percaya? Untuk lebih jelasnya silahkan datang  ke kota pelajar ini pada masa-masa kelulusan dan tanyakan langsung pada mereka yang melakukannya. [uth]

Sumber Rujukan:

[1] Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat id.wikipedia.org Diakses pada 9 Januari 2015

[2] TUGU JOGJA Landmark Kota Jogja yang Paling Terkenal yogyes.com Diakses pada 9 Januari 2015

[3] Gambar Ilustrasi pic.ikanmasteri.com Diunggah pada 9 Januari 2015

Berbagi dan Diskusi

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here