Inilah Beberapa Pemaparan Tentang Arti Malioboro

3
6132
Tugu Pal Putih Jogja
Tugu Golong-Gilik Jogja

Malioboro, meski bagi warga Yogyakarta merupakan jalan yang tak ubahnya dengan yang lainnya, namun bagi orang-orang di luar Jogja, melakukan kunjungan wisata ke kota gudeg ini belum lengkap tanpa menyabangi kawasan sepanjang jalan Malioboro.

Merujuk pada perjalanan dari wkatu ke waktu, kawasan Malioboro memang telah terbukti melahirkan soosk dengan berbagai kreativitas budayanya. Oleh karenanya Malioboro menjadi dikenal dan dikenang.

Asal Kata Malioboro

Kata “Malioboro” terbentuk dari dua suku kata, yaitu “malio” dan “boro.” Malio merupakan asal kata dari “mulya” yang memiliki definisi makmur atau mulia, sedangkan “boro” sebagai padanan kata dari “ngembara” atau dalam bahasa Indonesianya adalah mengembara.

  • Kemakmuran dan Kemuliaan

Dari paparan di atas, maka Malioboro adalah gabungan dua suku kata yang mengandung makna, bahwa manusia ini apabila hidupnya menghendaki kemakmuran maka ada jalan yang harus ditempuh yaitu berupa pengembaraan. Selain kemakmuran, pengembaraan yang ditempuh diharapkan juga bisa meraih hasil berupa kemuliaan.

  • Pengembaraan Jasmani dan Rohani

Makna pengembaraan dari Malioboro sejatinya tak sebatas pada berpetualang secara fisik saja. Karena pengembaraan rohani juga menjadi hal yang turut di dalamnya. Karena dari pengembaraan fisik yang disertai pengembaraan batiniyah, bukan tidak mungkin akan diperoleh lebih dari satu keuntungan.

Sebagaimana makmur dan juga mulia. Pengembarana fisik dan batin bisa dipahami bahwa kemakmuran akan bisa tercapai tentu dengan perjalanan pun pengembaraan fisik, sedangkan kemuliaan tentu lebih cenderung pada hasil dari satu pengembaraan rohani pun batin.

Jalan Bunga

Mengacu pada catatan sejarah P.B.R Carey, Malioboro juga dicatat sebagai kata berbahasa Sanksekerta “Malyabhara” yang memiliki arti karangan bunga. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan sepanjang jalan itu yang pada masa kejayaan kerajaan Mataram Islam acap digunakan sebagai jalur utama guna melaksanakan upacara perayaan adat dan juga prosesi Kraton.

Hal ini tak bisa dipungkiri, karena keberadaan jalan ini yang memang menjadi garis limajiner antara Merapi – Tugu Golong Gilig – Kraton – dan jika ke selatan juga mengarah ke samudera Hindia (Laut Selatan).

Bahasa Kaili

Pada beberapa cerita, kata Malioboro pun bisa dikaitkan dengan kata berbahasa Kaili, yaitu bahasa khas satu etnis Kaili yang berada di Sulawesi Tengah. Beberapa daerah pengguna bahasa Kaili ini antara lain adalah Banggai, Donggala, Parigi Moutong, Toli Toli, Poso, Morowali, dan sebagian wilayah Tojo Una Una.

  • Jalannya Wong Cilik

Dalam bahasa Kaili, Malioboro tercipta dari kata ‘Ma’-‘Li’ atau ‘Liu’-‘Boro’. “Ma” memiliki arti “manusia,” “Lio” atau ‘Liu’ erdefinisi ‘lewat’ atau ‘jalan yang dilewati.’ Sedangkan “Boro” dalam bahasa Kaili bermakna ‘kecil’, ‘kerdil’, ataupun ‘pendek.’ Dari bahasa Kaili ini, Malioboro memiliki pengertian sebagai jalan yang di lewati orang kecil. Inipun mungkin bisa dibenarkan, karena orang kecil alias wong cilik yang hendak menuju ke Keraton sebagian besar harus melalui sepanjang jalan Malioboro, pasalnya dahulu keberadaan jalan alternatif masih belum banyak sebagaimana yang ada sekarang ini. [uth]

Sumber Rujukan:

[1] Asal-Usul Nama Malioboro Dalam Tiga Versi beritajogja.co.id Diakses pada 14 Januari 2015
[2] Gambar ilustrasi pic.ikanmasteri.com Diakses pada 14 Januari 2015

Berbagi dan Diskusi

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here