Syaharani: Penyanyi Cantik Yang Sederhana dan Penuh Prestasi

5
1592
Syaharani n Doni Suhendra
Syaharani n Doni Suhendra

Bagi Anda penggemar musik jazz di tanah air pasti tak akan asing lagi dengan perhelatan akbar namun sederhana, yaitu pertunjukan musik rutin setahun sekali bertajuk ‘Ngayogjazz’ di Yogyakarta.

Sebagaimana yang diciptakan, ngayogjazz adalah gelaran musik jazz –yang acap dinilai sebagai musik kelas atas, namun dikonsep sebagai musik rakyat. Oleh karenanya tempatnya pun dipilih bukan di tengah-tengah kota sedangkan beberapa panggung yang didirikan juga bukan di dalam gedung pun di area stadion. Melainkan di tengah-tengah pemukiman warga, di rumah pendapa serta di halaman rumah.

Musisi Proletar

Mengacu pada konsep Ngayogjazz, tak pelak dari tahun ke tahun ada saja penampil musik yang jiwanya tetap tak jauh dari wong cilik, tak merasa menjadi selebritis yang lalu musti mengambil jarak dengan penggemarnya. Hal itu sebagaimana terbukti dengan tampilnya Idang Rasjidi di Ngayogjazz Godean tahun 2013 dan tak ketinggalan adalah Syaharani yang manggung di Ngayogjazz tahun 2014.

Kedua musisi dan pelantun lagu itu benar-benar terasa tiada jarak dengan penggemar dan penontonnya. Bahkan pada hajatan Ngayogjazz tahun 2013 lalu, Idang Rasyidi malah sempat diberi gelar oleh Djaduk Feriyanto –seniman dan juga salah satu penggagas Ngayogjazz, sebagai insan jazz proletar.

Musik memang ada berbagai macam genre, dan dari genre itu bisa saja orang membuat kelasnya masing-masing. Sebagai contoh adalah yang telah tersebut di atas, jazz dinilai oleh sebagian orang sebagai musik kelas atas. Namun terlepas dari itu semua, kenyataannya apa yang dinilai toh tak selalu sesuai kenyataan yang ada di depan mata. Buktinya baik Syaharani pun Idang bisa membawakannya secara baik pada berbagai suasana.

Siapa Syaharani itu?

Jika Idang Rasjidi dijuluki jazz proletar, sejatinya Syaharani adalah orang yang tak jauh berbeda. Meski telah dikenal khalayak sebagai artis dan penyanyi, Syaharani tetap tiada beda dengan kebanyakan dari kita, tetap santai dan tak berjarak. Bahkan adakalanya duduk lesehan sambil ngobrol bersama siapa saja yang ditemui acap dia lakukan.

  • Sejak Kecil

Syaharani yang bernama lengkap “Saira Syaharani Ibrahim” ini sejatnya semenjak kecil lebih dikenal dengan panggilan “Rani.” Adalah perempuan cantik kelahiran Batu, Malang, Jawa Timur, pada tanggal 27 Juli 1971.

Putri dari pasangan Hasan Ali Ibrahim dan Elly Zapantis ini sejak kecil memang telah gemar menyanyi. Hanya saja kegemarannya itu baru mulai digeluti secara serius pada masa kuliah, yaitu di kampus atapun di pub pada tahun 1990.

  • Join Bubi Chen

Bermodalkan suara emas, pernah bertemu dengan Bubi Chen –seorang musisi jazz, maka pada akhir tahum 1998, Rani memberanikan diri untuk bergabung bersama Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Cendi Luntungan, Oele Pattiselanno, dan Sutrisno, yang kemudian membikin album jazz What a Wonderful World.

  • Solo Album

Satu tahun berikutnya, yaitu tahun 1999, Rani menjadi makin berani untuk mengeluarkan album solo jazz pertama dengan mengusung tajuk Love. Nama Rani mulai diperhitungkan karena memang kemampuannya dalam bidang tarik suara tak bisa diragukan lagi. Album Magma yang berisi 11 lagu jazz, fusion, etnik, dan trip hop, ia terbitkan pada tahun 2002.

Album Magma yang dinilai lebih nge-pop namun tetap enak untuk dinikmati ini di usul dengan album solo ketiga tahun 2004. Meskipun yang digarap di dalamnya adalah 10 tembang lawas, namun Natural Jazz adalah hal yang ia eksplorasi sebagai pembeda. Kecuali satu lagu berjudul “Kesan” karya Andy Mapajalous, sembilan lainnya adalah lagu berbahasa Inggris; A White Shade of Pale, Careless Whisper, Fragile, I Can See Clearly Now, dan Lately.

  • Prestasi Rani Juga di Kancah Manca

Penampilan yang meyakinkan membuat Rani terpilih untuk mewakili Indonesia di North Sea Jazz festival tahun 2001. Selain terpilih sebagai wakil Indonesia dalam Festival Jazz di manaca negara, Rani juga makin meyakinkan khalayak akan kemampuannya sebagai aktris dalam teater musikal Madame Dasima, dan tak ketinggalan pembuatan theme song dan vocal illustrator dalam film “Betina,” yaitu film yang berhasil memenangi NETPAC Award Festival Film Asia tahun 2006.

  • Konser Tunggal di TIM

Tak main-main, tanggal 30 Juni tahun 2004 adalah hari pecahnya rekor Syaharani, yaitu menuntaskan gelaran konser tunggal bertajuk Cross Genre Music di Graha Bhakti Budaya TIM (Taman Ismail Marzuki). Ini adalah konser Rani yang menggabungan beberapa genre musik, baik jazz mainstream, pop, ataupun progresif, yang digelar free tanpa memungut bayaran pada penontonnya.

Syaharani dan Queenfireworks

Tahun 2006 Syaharani menggandeng dua rekan lamanya; Achmad “Didit” Fareed dan Donny Suhendra —mantan gitaris Krakatau. Mereka berkolaborasi dengan nama “Syaharani dan Queenfireworks” yang kemudian merilis sebuah album dengan titel “Buat Kamu.”

Kemampuan dalam tarik suara yang tak diragukan lagi membuat perempuan kecil-tinggi ini cukup dielu-elukan insan musik. Ditambah lagi keberadaan personil lain di bawah bendera ESQI:EF yang mengiringinya, semakin menjadikannya istimewa. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Syaharani id.wikipedia.org Diakses pada 18 Januari 2015
[2] Gambar ilustrasi queenfireworks.com Diakses pada 18 Januari 2015

Berbagi dan Diskusi

5 COMMENTS

  1. […] Ini khusus bagi wanita. Melahirkan ternyata juga sangat berpengaruh terhadap keberadaan rambut. Memang ketika sedang dalam amsa kehamilan rambut para perempuan akan nampak segar, lebih tebal, lebih bersinar, ataupun lebih lembut. Namun hal yang harus diwaspadai adalah bahwa pasca melahirkan kenyataannya tingkat estrogen akan menurun yang pada akhirnya mampu membuat para perempuan itu kehilangan kondisi rambut cantiknya. […]

LEAVE A REPLY