Alex Komang a.k.a Syaiful Nuha: Dari Seni Sastra ke Seni Peran

3
2292
Alex Komang a.k.a Syaiful Nuha: Dari Seni Sastra ke Seni Peran
Alex Komang a.k.a Syaiful Nuha: Dari Seni Sastra ke Seni Peran

Alex Komang, pesohor yang penuh talenta pada bidang sastra dan juga seni namun tetap bersahaja dan tetap low profile. Setelah lama tak bergaung namanya, pada tanggal pertengahan Februari 2015 namanya kembali disebut banyak orang. Akan tetapi kali ini berbeda. Karena bergaungnya nama Alex Komang adalah seiring kabar kepergiannya kembali ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa.

Alex Komang atau yang memiliki nama asli ‘Syaiful Nuha’ meninggal dunia pada tanggal 13 Februari 2015 di RSUP dr. Kariadi, Semarang.

Siapa Alex Komang itu?

Bagi generasi terkini mungkin tak banyak yang mengenal sosok Alex Komang. Ialah Syaiful Nuha, pria kelahiran kota Jepara – Jawa Tengah pada 17 September 1961, yang menaruh minat pada seni sastra dan teater, hingga akhirnya juga piawai dalam melakoni dunia seni peran dalam film.

Kegemarannya dalam dunia sastra membuat Syaiful Nuha senang membaca. Diantara bacaan-bacaannya adalah buku-buku karya sastra yang diperolehnya dari toko buku milik ayahnya; Shakespeare, Hamlet, ataupun Chekov.

  • Tantangan Sang Ayah

Melihat minat seni sastra dari seorang anak, sang ayah menantangnya untuk serius menggeluti dunia seni. Tantangan ini bukanlah merupakan hal lumrah pada saat itu, pasalnya dunia seni masih diperdebatkan kehadirannya, apalagi demi menopang keberlangsungan hidup.   Oleh karenanya dalam mengembangkan sastra –termasuk dalam menulis cerpen, Syaiful Nuha menggunakan nama samaran “Alex Komang.”

Kesungguhan Alex Komang menuai hasil, karena di kemudian hari nama ini lebih melejit dibanding nama aslinya, dan tak pelak orang akan lebih mengenal Alex Komang sebagai nama populernya.

  • Hijrah Ke Jakarta

Usai menuntaskan pendidikan SMA, Alex muda memantapkan diri untuk hijrah menuju Ibukota dan kemudian kesehariannya berada di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta Selatan. Di tempat para seniman berkumpul inilah Alex mulai bergabung untuk main teater.

Karir Alex Komang

Tahun 80-an, Alex Komang bersama Teater Egg (sekarang Teater Tetas) mementaskan ‘Jerit Tangis di Malam Buta’ dalam festival teater remaja. Dari sini ia dipertemukan dengan Teguh Karya yang kemudian mengantarkannya untuk berguru padanya, yaitu menjadi salah satu murid di Teater Populer.

  • Main Film

Kebersamaan dengan Teguh Karya ini tidak berhenti di teater saja, pasalnya mereka kemudian juga menciptakan kolaborasi yang selanjutnya juga bermain dalam film “Secangkir Kopi Pahit” serta “Doea Tanda Mata.”

Tahun 1985, Alex Komang mendapatkan Piala Citra sebagai aktor terbaik dan 2 nominasi Piala Citra lainnya. Kemudian tahun 1987, Alex juga berhasil menggondol penghargaan sebagai aktor terbaik pada ajang FFI (Festival Film Indonesia). 2008 Alex Komang hadir dalam film yang diangkat dari cerita Novelnya Andrea Hirata, “Laskar Pelangi.”     Keterlibatannya dalam produksi layar lebar adalah saat menggarap film Ca Bau Kan arahan Nia Dinata. Tahun 2011 lalu Alex juga masih piawai tampil dalam film “Surat Kecil Untuk Tuhan” serta “True Love.”

Penghargaan Piala Maya sebagai Aktor Pendukung Terbaik diraihnya tahun 2013. Dan selain film, Alex juga sempat turut bermain dalam sinetron, antara lain bersama Inneke Koesherawati dan Devy Permatasari dalam Tirai Sutra.

  • Penulis

Minat awal pada bidang sastra terbayar pada tahun 1995, tepatnya pada ajang Festival Sinetron Indonesia. Yaitu masuknya nama Alex Komang bersama Teguh, ke dalam unggulan penulis asli dan penggubah teleplay ‘Indonesia Berbisik.’

Ketua Badan Perfilman

Musyawarah Besar (Mubes) Pembentukan Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 17 Januari 2014 di Hotel Balairung, Jakarta membuahkan hasil yang salah satunya adalah mendaulat Alex Komang untuk duduk sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia periode 2014-2017.

Meninggalkan Anak dan Istri

Jumat, 13 Februari 2015 bertempat di RSUP dr. Kariadi – Semarang, Alex Komang berpulang karena mengidap penyakit kanker hati. Di usia 53 tahun, ia meninggalkan Nori, seorang perempuan asal Malaysia yang dinikahinya pada tahun 1998, dan juga seorang anak.

Tantangan dari sang ayah telah Alex penuhi. Kini ia telah kembali pulang dengan tenang di kampung halaman, Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Dikebumikan berdampingan dengan ayahandanya. [uth]

Sumber Rujukan :
[1] Alex Komang kapanlagi.com Diakses pada 14 Februari 2015
[2] Alex Komang id.wikipedia.org Diakses pada 14 Februari 2015
[3] Gambar ilustrasi diambil dari laman facebook/alex.komang Diakses pada 14 Februari 2015

Berbagi dan Diskusi

3 COMMENTS

  1. […] Dinyatakan “adakalanya,” karena bisa saja pementasan itu utuh sebagai pementasan yang mau tidak mau penonton hanya disuguhi penampilan sang aktor terlepas piawai ataupun tidak, karena musik dan lampu tak selalu ada dan melengkapinya. Yang paling penting pada pementasan teater monolog ini adalah kekuatan sang aktor dalam menjaga para penonton supaya betah mendengarkan sekaligus meyakinkan bahwa cerita yang disampaikan ‘benar-benar terjadi’. [Baca juga: Alex Komang a.k.a Syaiful Nuha: Dari Seni Sastra ke Seni Peran] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here