Tangis – Teater Gandrik 2015: Menghadirkan Dalang Dalam Pementasan

5
3262
TeaterGandrik 2015 - Tangis

GANDRIK merupakan satu kelompok teater kondang bukan saja di tempat lahir dan berkegiatannya, Jogjakarta. Namun juga di tempat lain Nusantara ini, bahkan juga di manca negara. Keterkenalan teater Gandrik tak lain adalah karena pementasannya yang acap membawakan kritik sosial terkini.

Di samping itu adalah juga karena orang-orang yang menjadi pelaku tak asing lagi bagi dunia seni panggung Indonesia. Sebut saja Drs Susilo Den Baguse Ngarso, Heru Kesowo Murti a.k.a Pak Bina, dan tentu saja Butet Kertaradjasa serta Djaduk Feriyanto yang keduanya tak lain adalah putra seniman kondang alm. Bagong Kusudiardjo sekaligus pengelola Sanggar PBK (Padepokan Bagong Kusudiardjo) Kembaran Bantul Yogyakarta.

Lahirnya Teater Gandrik

Teater Gandrik lahir dan didirikan pada tanggal 13 September 1983 di kota budaya Yogyakarta. Para personel pendirinya antara lain adalah alm Saptaria Handayaningsih, Jujuk Prabowo, alm Heru Kesawa Murti, Sepnu Heryanto, Novi Budianto, dan Susilo Nugroho. Dan mulai diakui keberadaannya adalah pasca menjuarai Festival Pertunjukan Rakyat tingkat daerah.

Pada perkembangannya banyak khalayak yang gemar dengan teater ini karena lebih banyak mengangkat tema-tema sosial, kritik terhadap penguasa atas penindasan rakyatnya sehingga masyarakat kecil menjadi semakin terpinggirkan. Gaya penyampaian bergaya satire menjadi daya pikat karena suasananya juga tetap enak, bahkan acapkali juga diselingi canda.

Tradisional Namun Bergaya Modern

Sedai awal terbentuknya hingga kini, ada pasang surut yang dialami oleh Teater Gandrik dalam berkreatifitas. Bahkan ada satu saat teater ini juga mengalami kevakuman. Namun semangat “guyon parikena” tetap menjadi dasar keberadaannya, baik saat ada pertunjukan ataupun ketika para personil sedang berkumpul.

Era 80 dan 90an

Sebagai satu kelompok teater kontemporer di Nusantara dengan spirit teater tradisional bergaya pementasan modern, Gandrik menjadi barometer beberapa seniman yang bermisi serupa, kritik sosial.

  • Guyon Parikena

Tahun 80 hingga 90an adalah masa-masa produktif bagi Teater Gandrik. Hal itu sebagaimana yang ditunjukkan dalam beberapa pementasan sebagai bagian penting dari dinamika sosial politik di Indonesia pada masanya, masa pemerintahan Soeharto dengan rezim orde barunya. Sehingga tatkala hagemoni kekuasaan Orde Baru sangat berkuasa atas sendi-sendi kehidupan Republik ini, maka lakon-lakon yang dipertontonkan Teater Gandrik menjadi salah satu medium yang menyuarakan kritik sosial sekaligus katarsis politik.

Lakon-lakon dari Teater Gandrik inilah yang dikatakan sebagai “manifestasi teateral dan modern dari pola kritik varian rakyat kecil”, khususnya bagi rakyat kecil di Jawa. Manifestasi tersebut dibuktikan dengan ciri khasnya yang membawakan lakon namun beraroma “guyon parikena.” Yaitu menyindir secara halus dengan sedikit bahan canda sehingga sindiran tersebut lebih dominan melahirkan tawa. Dengan improvisasi spontanitas yang menjadi kebebasan para pelakunya dalam mengembangkan ide, baik satire ataupun humor, maka kemarahan sang penguasa akan sedikit terminilaisir karenanya.

  • Sampakan

Kritik guyon parikena dan semangat mengolah bentuk teater tradisional menuju panggung pertunjukan teater modern, merupakan dua hal penting yang menjadi orientasi estetis lakon-lakon Teater Gandrik. Karena hal tersebut, tak pelak Teater Gandrik mendapat julukan sebagai kelompok yang mengembangkan estetika sampakan. Yaitu sebuah istilah yang dipopulerkan oleh almarhum Kirdjomuljo, dan tahun 80an menjadi trendsetter di Jogja, memiliki padanan bahwa panggung menjadi ajang permainan para aktor secara luwes, cair dan cenderung ‘memain-mainkan karakter’ dalam lakon-lakonnya. Pada kondisi ini para pemain benar-benar merasakan ‘bermain’ dengan kesenangan pun kebahagiaan, sehingga kita pun akan susah membedakan antara ‘aktor sebagai pemain’ dengan ‘watak yang dimainkannya’.

Pola permainan gaya sampakan semacam itulah yang dikembangkan sebagai nafas pertunjukan di Teater Gandrik. Alasannya tak lain adalah sebagai sebuah inovasi pun pengembangan dari pola permainan yang banyak dilakoni teater-teater tradisional di Indonesia.

Anggota: Ikatan Kebersamaan

Bu Muspro Pak Abiyoso - Dalang - Teater Gandrik Tangi -  2015
Performance Teater Gandrik on “Tangis”  — 2015

Upaya Teater Gandrik dalam membangun soliditas antarpersonil salah staunya ditempuh dengan cara menjadikan Teater Gandrik sebagai satu kelompok terbuka. Yaitu memerdekakan para angota-anggotanya baik yang baru ataupun yang lama untuk selalu melakukan proses dan pencarian bersama demi menemukan idiom-idiom teater yang relevan dan orisinil guna dipentaskan pada pertunjukan-pertunjukan yang akan datang.

Keterbukaan dan kemerdekaan itu bukan saja sebatas pada tingkat kekreatifitasan, akan tetapi juga dalam hal keanggotaan. Gandrik menjadi teater yang fleksibel dan membuka dirinya terhadap para anggota, dan hanya satu “ikatan kebersamaan” yang menjadi simpulnya. Kebersamaan itu selanjutnya menjadi ‘sebuah virus’ dalam menemukan idiom-idiom teaterikal yang ingin diraih.

Satu sisi kebersamaan, keterbukaan, dan kemerdekaan ini memberikan output menggembirakan bagi semua pihak, baik pelaku pun pemirsa. Akan tetapi di sisi lain kita akan menyaksikan para anggotanya yang keluar masuk, dan teater ini memiliki personil yang acap berganti-ganti. Yang jelas, sampai sekarang beberapa personil Teater Gandrik terus berupaya membangun soliditas kelompok dengan terus melakukan proses bersama.

Karya-Karya Teater Gandrik

Berikut ini adalah beberapa karya yang pernah dipentaskan oleh Teater Gandrik;

Meh (1983), Kesandung (1984), Pasar Seret (1985), Pensiunan (1985), Sinden (1986), Isyu (1986), Dhemit (1986), Juru Kunci (1987), Orde Tabung (1987), Flu (1988), Kera-Kera (1988), Upeti (1989), Juragan Abiyoso (1990, Tangis (1990), Buruk Muka Cermin Dijual (1991), Khayangan Goyang (1992), Proyek (1992), Brigade Maling (1999), Mas Tom (2002), Departemen Borok (2003), Dewan Perwakilan Rayap (2007), Sidang Susila (2008), Keluarga Tot (2009), Pandol (2010), Gundala Gawat (2013),  dan Tangis (2015).

Pembaharuan Pementasan 2015

Bagi Anda yang gemar menonton televisi tentu tahu pementasan satu hiburan yang dipersembahkan salah satu stasiun televisi nasional, ialah Opera Van Java. Dalam pementasannya di layar kaca, ada satu personil yang berlaku sebagai seorang dalang. Nah tahun 2105, Teater Gandrik sepertinya melakukan hal serupa.

  • Kehadiran Seorang Dalang

Pemunculan seorang dalang dalam sebuah lakon ini, terlepas itu dari gaya yang sedang berkembang ataupun murni keluar dari ide yang sedang menyelubungi para personilnya,tahun 2015 Teater Gandrik cukup sukses dengan pementasannya yang berjudul “Tangis,” sebuah karya baru yang digodog Agus Noor yang sejatinya merupakan pengembangan dua naskah lama buah karya almarhum Heru Kesawamurti, Tangis dan Juragan Abiyoso.

Sehubungan dengan adanya Danais (dana keistimewaan) di Yogyakarta, maka bulan Oktober 2014 Gandrik menggelar dramatic reading atas tugas Paguyuban Teater Yogja. Ajang inilah yang menjadi awal lahirnya format pertunjukan yang mengandalkan peran dalang.

  • Interaksi Dalang Dalam Pengadegan

Yang menjadi pembeda dari pementasan, peran dalang di Teater Gandrik ini memiliki dua fungsi, yaitu menjadi simpul pengadegan dan sekaligus membuka ruang dialektika dengan penonton. Oleh karenanya ada satu masa dalam pertunjukan yang digunakan oleh sang dalang untuk berinteraksi dengan beberapa pemirsanya. Lebih dari itu bahkan sang dalang juga masuk dalam cerita pementasan.

Melihat keberhasilannya, pengadegan dalang dalam pementasan pertama itu berlanjut bulan Desember 2015. Yaitu ketika KPK memperingati Hari Antikorupsi se Dunia di Jogjakarta. Kegembiraan dari format pertunjukan yang menghadirkan peran dalang ini menemukan keasyikan tersendiri sehingga sangat sayang jika tak dilakukan. [uth]

Sumber Rujukan :
[1] Booklet pertunjukan Tangis oleh Teater Gandrik di Taman Budaya Yogyakarta. Disimak pada 12 Februari 2015
[2] Teater Gandrik id.wikipedia.org Diakses pada 18 Februari 2015
[3] Gambar ilustrasi diambil pada pertunjukan ‘Tangis’ di TBY pada 12 Februari 2015

Berbagi dan Diskusi

5 COMMENTS

  1. […] Bagi Butet di dalam proses kreatif berkesenian adalah mari sama-sama berkeringat. Prinsip ‘aku berkeringat sementara kamu bersandar’ sangat dihindari olehnya. Dalam proses penciptaan memang sebaiknya masing-masing aktor saling bekerja keras dan tak bergantung pada orang lain. Karena, hidup ini ditentukan oleh diri sendiri. Jalan ini ditempuh Butet Kertaredjasa oleh kesadaran bahwa ketika mati ia ingin meninggalkan sistem atau proses belajar yang ‘cair.   Sesuai dengan yang diterapkan Butet seperti ini, sehingga nantinya masing-masing anggota bisa mandiri, mampu bertahan, dan terus berproses kreatif meski tanpa dirinya. [Baca juga: Tangis – Teater Gandrik 2015: Menghadirkan Dalang Dalam Pementasan] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here