Asta Brata: Pegangan Hukum Para Dewa Yang Tetap Mulia Bila Dipatuhi Juga Oleh Manusia

7
1483
Asta Brata: Pegangan Hukum Para Dewa Yang Tetap Mulia Bila Dipatuhi Juga Oleh Manusia

Karut-marutnya hukum belakangan ini membuat kita musti kembali lagi pada tata aturan yang sejatinya telah sedari awal disepakati. Memang ada sebagian hukum dan aturan itu sudah tak layak pakai dan butuh direvisi kembali, namun tak sedikit pula yang masih sangat relevan jika memang benar-benar diterapkan dalam kehidupan ini.

Yang jadi masalah, justru belakangan ini hukum hanya dijadikan sekedar pelengkap dan malah diposisikan sebagai pembenaran. Terlepas ini adalah hukum adat, hukum agama, hukum negara bahkan juga sekedar norma, justru manusianya yang memutarbalikkan kepatuhannya. Akan patuh apabila menguntungkan, namun akan mencari segala cara pembelaan apabila ada satu pasal pun lebih dikenakan.

Hukum dan Norma

Norma dan hukum yang dianut pada satu negara tak bisa dilepaskan dari perjalanan berdirinya sebuah negara tersebut. Tak bisa tidak, orang-orang yang secara turun-temurun menghuni wilayah negara adalah mereka yang memiliki pengaruh dalam menyebarkan satu hukum dan taat menjalankannya. Hal itu sebagaimana norma sosial yang tak tertulis namun tetap diakui di seputar kita. Contohnya adalah adanya adat istiadat dan sopan santun yang diberlakukan di suatu tempat.

Lain dari itu adalah penerapan hukum tak tertulis, namun sangat dipegang erat oleh banyak manusia. Sedangkan keberadaan hukum tak tertulis itu sejatinya merupakan peninggalan dari nenek moyang dengan tujuan sebagai pedoman dalam berkehidupan menuju masyarakat aman, nyaman, adil, makmur, dan sejahtera.

Pedoman Hidup Tak Tertulis

Asta Brata yang menjadi bagian dari hukum tak tertulis sejatinya akan bagus diterapkan sebagai pedoman, karena yang tercantum di dalamnya memuat kehendak baik bagi kemaslahatan bersama.

Asta Brata terdiri dari dua kata berbahasa Jawa pun Sanskerta. Asta memiliki arti delapan, sedangkan Brata memiliki padanan kata ‘tindakan.’ Mengacu pada arti dua kata tersebut, Asta Brata memiliki makna sebagai delapan macam tindakan yang apabila diterapkan dalam kehidupan, maka bukan tidak mungkin kemaslahatan itu akan bisa diraih.

Asta Brata

Delapan tindakan dari Astabrata tersebut masinsg-masing digambarkan dalam delapan istilah, yaitu; Wanita, Garwa, Wisma, Turangga, Curiga, Kukila, Waranggana, dan Pradangga.

  • Wanita

Wanita merupakan istilah lain untuk menyebut perempuan. Kata wanita merujuk pada sosok kecantikan, keelokan, keindahan. Dari rujukan kata yang semuanya mengandung makna ‘mempesona’ tersebut, menggambarkan makna bahwa siapapun yang melihat pastinya ada kehendak meraih dan memilikinya, apapun caranya. Artinya, dengan sekuat tenaga, usaha harus ditempuh demi menggapai hal-hal indah yang menjadi impian dan cita-citanya. Serupa dengan seorang pemuda yang segala cara akan ditempuhnya dmei mendapatkan gadis cantik pujaan hati.

  • Garwa

Garwa memiliki arti jodoh. Bisa suami, bisa pula istri. Dalam bahasa Jawa, garwa juga diakronimkan dengan kata “sigaraning nyawa” atau dalam bahasa Indonesia-nya bermakna “belahan jiwa.” Jiwa satu dibelah menjadi dua, atau sebaliknya, dua raga dijadikan satu jiwa.

Ini memiliki makna bahwa setiap manusia hidup musti menyesuaikan diri. Bisa beradaptasi dalam pergaulan manapun dan dengan siapapun. Tak membeda-bedakan dalam bergaul dan berkawan menjadi dasar dalam kesetiakawanan dan menumbuhkan kebersamaan.

  • Wisma

Seperti yang telah diketahui, wisma memiliki arti ‘rumah,’ yaitu tempat manusia ini berlindung dari terik, dingin, dan hujan. Berpetak-petak ruangan dalam rumah, difungsikan sebagai tempat meletakkan kelengkapan kehidupan ini. Ada kamar tamu, ada gudang untuk barang, ada dapur, dan lain sebagainya. Semua ruangan-ruangan dalam rumah itu meski berpetak-petak namun tetap dimanfaatkan sesuai kegunaannya.

Dengan wisma alias rumah ini, diharapkan manusia ini bisa menampung segala pernik kehidupan yang ada di seputar. Mampu melindungi, menyimpan, pun mengatur segala sesuatu sesuai pada situasi dan kondisinya. Dengan begitu ada kebijakan dari dalam diri dan pikirannya.

  • Turangga

Turangga memiki arti ‘kuda.’ Kuda di sini bisa dimaknai sebagai tunggangan yang kuat, teringginas, dan cekatan, namun tetap bisa diatur dan dikendalikan. Baik berlari, menari, berperang, beristirahat, dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Artinya manusia ini tak ubahnya kuda tunggangan. Ada yang dikendalikan, ada pula yang mengendalikan. Yaitu jiwa berbanding raga, otak berbanding nafsu, emosi berbanding kesabaran pun kebijaksanaan. Apabila jiwa kita mampu mengatur dan mengendalikan raga, maka bukan tidak mungkin jalannya hidup ini akan tetap sesuai kehendak diri dalam naungan kebijakan. Sebaliknya, ketika jiwa sudah tak mampu lagi mengatur dan mengendalikan raga, maka besar kemungkinan perjalanan hidup ini tak ubahnya kuda liar yang berlari ke sana ke mari tak tentu arah dan bahkan hanya akan terperosok serta tergelincir menuju jurang.

  • Curiga

Curiga berarti ‘keris.’ Yaitu senjata tajam khas milik orang Jawa yang tajam dan acap dipuja. Dari keris ini membawa pesan kepada manusia bahwa hidup ini perlu juga mempersenjatai diri, yaitu dengan ilmu sehingga akan muncul kepandaian, keuletan, dan lain sebagainya. Sehingga pada akhirnya senjata yang dimiliki tersebut membawa manfaat bagi diri pun orang lain. Sebagai contoh ketika senjata berujud pikiran ini ‘tajam,’ maka tindakan yang diambil pun jauh dari kata meleset dari sasaran.

  • Kukila

Kukila memiliki padanan kata “burung.” Dari burung kita akan bisa mendengar berbagai macam suara kicauan yang merdu, oleh karenanya sebagian orang menjadikannya sebagai ‘klangenan’ pun binatang peliharaan karena suaranya yang enak didengar dan dinikmati.

Artinya manusia ini akan menjadi baik apabila setiap insan bisa menjaga perkataan dan perbuatannya. Kata-kata bagus dan menyejukkan tak pelak akan membawa dampak aman tentram bagi yang mendengar di sekelilingnya. Ketegasan suara juga musti dikeluarkan sebagaimana ocehan burung yang selalu jelas dan nyaring ketika didengarkan. Dengan begitu maka setiap yang mendengarnya juga mampu terpikat dan yakin akan makna kata dari setiap ucapannya.

  • Waranggana

Selain memiliki arti sinden, waranggana juga diartikan sebagai tandak ataupun ronggeng. Yaitu pelaku seni tari yang menampilkan tariannya di tengah-tengah para penonton yang ebrkerumun mengelilinginya. Di tengah kerumunan, snag penari ronggeng biasa ditemani pasangan penari lelaki, sedangkan di keempat penjuru mata angin ada pula 4 lelaki lain yang juga turut memerhatikan tarian dan bahkan acapkali juga ikut menari. Empat penari laki-laki ini seolah menggoda sang waranggana, sehingga akan membuatnya menoleh ke kanan dan ke kiri sejenak melupakan pasangan tarinya di tengah-tengah kerumunan massa.

Adegan waranggana ini memberi gambaran kepada manusia agar dalam meraih cita-cita mulia, yaitu sebagaimana waranggana yang mempersembahkan tarian indahnya, tak mudah terganggu dnegan godaan dari berbagai arah. Karena jika hal itu dilanggar, besar kemungkinan cita-cita luhur dan berkeadilan ta akan bisa dicapai. [uth]

Sumber Rujukan :
[1] Cupu Manik Asta Gina, wasiat hidup Kanjeng Sunan Kalijaga cipcipmuuach.blogspot.com. Diakses pada 26 Februari 2015
[2] Gambar ilustrasi pixabay.com Diakses pada 26 Februari 2015

Berbagi dan Diskusi

7 COMMENTS

  1. […] Ada banyak contoh mengenai buka-bukaan pada era keterbukaan ini. Dari bahasan politik yang dahulu hanya dikuasai oleh para penguasa, sehingga efeknya adalah segala lini ekonomi, budaya dan hal-hal yang mengiringinya juga sebatas dimonopoli penguasa itu. Kini semua itu mulai menjadi terbuka, yang korup pun mulai tersibak kelakuannya, meski hukum masih belum berjalan mengiri keterbukaan itu. [Baca juga: Asta Brata: Pegangan Hukum Para Dewa Yang Tetap Mulia Bila Dipatuhi Juga Oleh Manusia] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here