Srandul Sunti: Teater Kuno di Lereng Gunung Sumbing Yang Banyak Menyampaikan Petuah

1
3471
Seduplak Gunung Sumbing

Selain hasil alam yang melimpah, tradisi dan budaya yang dijalankan oleh masyarakat Nusantara ini menjadi bagian kekayaan yang tak bisa dinilai harganya. Bukan saja pada tiap provinsi ataupun Kabupaten, namun tiap kampung dan pedesaan rata-rata memiliki lebih dari satu kekayaan budaya itu. Dan karena kepemilikan budaya yang tidak sama itulah terjadi keanekaragaman sebagai pengisi harmoni Nusantara yang tercipta dalam ikatan Persatuan Indonesia. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Keanekaragaman budaya itu tak terbatas pada kreasi dan inovasi generasi sekarang ini, namun juga tercipta dari daya-ciptanya para leluhur pendahulu kita. Jika ada alat musik etnik warisan leluhur berujud rinding gumbeng serta tradisi Gumbregan di Gunungkidul – Yogyakarta, dan juga alat musik tradisional Bundengan di Wonosobo – Jawa Tengah, maka kali ini ada lagi sebuah tradisi di lereng Gunung Sumbing – Magelang, ialah Srandul.

Apa itu Srandul?

Seara bahasa, Srandul dipagut dari istilah berbahasa Jawa “pating srendhul,” yang memiliki definisi tempelan-tempelan yang tak rata dan campur-aduk.

Istilah berbahasa Jawa ini kemudian lebih dikenal sebagai nama sebuah kesenian di daerah lereng gunung Sumbing, dusun Krandegan, desa Sukomakmur, kecamatan Kajoran, kabupaten Magelang. Bentuk kesenian Srandul ini menyerupai teater, namun bergaya kuno karena memang telah lama dan turun-temurun keberandaanya.

  • Teater Kuno

Dikatakan sebagai teater kuno karena selain keberadaannya sudah diwariskan ratusan tahun, kesenian yang lekat dengan masyarakat setempat ini juga memiliki bentuk sederhana dan tak semewah kesenian masa kini baik wayang (orang) ataupun kethoprak.

Meskipun jumlah para penabuh yang cuma belasan, sedangkan para pemainnya tak kurang dari jumlah total jari tangan, namun bukan berarti srandul menjadi kesenian yang kurang peminat. Pasalnya kesenian ini tetap dekat dengan warga.

  • Ikhlas & Menyimpan Tuah

Alasan tetap diminatinya kesenian srandul, tak lain adalah kelenturannya dalam hal pergelaran dan juga upah bayaran. Para pemain juga rela bermain penuhtanpa potongan adegan meskipun tak dibayar dan hanya diberikan pengisi perut belaka. Bahkan ketika ada fragmen cerita yang tercecer dan tak dipentaskan, srandul harus diulang adegannya dari awal.

Lain dari itu, kedekatan seni srandul dengan masyarakat karena ia merupakan kesenian yang mengandung unsur petuah dan wejangan bijak.

Prosesi Awal Pentas

Ketika pentas Srandul dimulai, belasan orang mengawalinya dengan menabuh berbagai macam alat musik, antara lain; gong bumbung yang terbuat dari bambu, pentongan bambu, angklung, dan beberapa gamelan.

Sementara sang pemimpin kelompok kesenian Srandul yang juga berlaku sebagai pawang tetap mempersiapkan sesaji sembari berdoa dengan menggunakan bahasa Jawa dan juga bahasa Arab. Doa dan mantra dari sang pawang itu biasa dihaturkan kepada Sang Penguasa Alam bengan tempat ada di sebuah sudut ruangan yang ditutup tirai bergambar pentas Srandul Sunti.

On The Stage

  • Pakaian & Pemeran

Untuk pakaian yang dikenakan para pemain Srandul sejatinya tak jauh dari pakaian pada kesenian wayang orang. Hanya saja lebih sederhana dan minimalis. Sedangkan untuk para pemerannya, semua adalah para pria yang usianya minimal adalah 40 tahun.

Alasan pembatasan minimal usia pemain ini, selain harus hapal beberapa syair berisi petuah –yang biasanya lebih mudah dilakukan oleh yang cukup umur– adalah juga karena petuahnya sendiri akan lebih mantap jika disampaikan oleh mereka para orang tua yang telah mengecap asin, asem, pahit, getir dan manisnya hidup.

  • Pertunjukan

Tatkala prosesi awal berujud memanjakan doa oleh sang pemimpin dan menabuh musik oleh para pengrawit telah dilaksanakan, pentas selanjutnya adalah menghadirkan seorang penari yang mengenakan kacamata hitam dengan fragmen lakon Babat-Babat. Kemudian meletakkan sebatang oncor dengan sumbu lima cabang pada tengah-tengah ruang pertunjukan sebagai simbol jalan terang.

Tembang-tembang yang berisi makna dan pedoman hidup mulai dilantunkan;

“Temuruna sang widadari. Wus dienteni sing lagi ngendhang… (Turunlah sang bidadari –dan makhluk halus. Sebab telah ditunggu para penabuh kendang –dan musik lain..)

  • Fragmen & Pesan Pedoman Hidup

Dalam lantunan tembang-tembang itu, tersemat banyak pedoman dan petuah hidup agar seyogyanya dijalankan manusia ini demi mendapatkan hal terbaik dalam hidup. Di antaranya adalah tembang yang bercerita mengenai pohon waru yang batangnya condong ke timur akibat tertiup angin. Ini memberi gambaran kepada manusia agar tak mudah gonjang-ganjing tertiup angin dan gampang terseret arus, namun sebaliknya, jadilah sosok yang tangguh dan teguh. Oleh karenanya pedoman dan prinsip hidup harus dipegang kuat.

Untuk penggalan fragmen, ada rombang, laleran, manukan, sampai cerita yang telah akrab di sebagian besar orang Jawa, yaitu kisah Ande-Ande Lumut. Dalam berbagai fragmen ini, ajaran yang disampaikan pun tak kalah bermaknanya. Selain tentang pendidikan pada anak, ada pula pesan tentang ajarana mencari rezeki khalal, pembagian warisan secara adil, dan masih banyak lagi.

  • Nazar, Keselamatan & Keberuntungan

Dipercaya atau tidak, sebagian warga Krandengan yang pernah menanggap Srandul memiliki keyakinan-keyakinan tersendiri. Salah satunya adalah sebagai sarana membantu mewujudkan suatu keinginan, termasuk keinginan membayar hutang ataupun berkah mendapatkan keselamatan dari Tuhan.

Warisan Leluhur Terdahulu

Tahun 2015 pemimpin kesenian Srandul adalah Tarwoto Suprih yang usianya 56 tahun. Ia merupakan generasi ke-5 yang mewarisi dan sekaligus memimpin rombongan kesenian ini. Dan demi keberlangsungannya, ia juga telah mempersiapkan generasi selanjutnya, yaitu salah satu putranya yang berumur 21 tahun bernama Suwal. Suwal mulai dididik dan dibimbing dalam berbagai hal, baik menghafal lagi, bermain peran, membaca mantra dan doa, serta mengikuti tata cara sesaji.

Ritual dan Sesaji

Srandul memang merupakan sebuah kesenian yang tak jauh dari rakyat, dan yang menanggap juga tak hanya masyarakat sekitar, melainkan juga oleh masyarakat daerah Wonosobo dan sekitarnya. Akan tetapi bukan berarti bisa ditanggap dengan waktu seenaknya. Lain dari itu, mesipun pertunjukan ini dimulai dari sore hingga larut, namun malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon adalah waktu pengecualian bagi Srandul untuk mementaskan diri.

Sedangkan bagi masyarakat sekitar lereng gunung Sumbing, kesenian ini telah menjadi bagian yang melekat pada setiap fase kehidupan. Oleh karenanya kesenian ini seolah harus dihadirkan pada berbagai acara, baik pernikahan, khitanan, kelahiran bayi, bahkan juga keberhasilan panen raya para petani.

  • Tindaklanjut Sang Bayi

Sebagai rangkaian upacara selapanan bayi, yaitu peringatan hari ke-35 bayi, hingga bayi menginjak tanah alias ngedhun-ngedhunke, kesenian Srandul juga dihadirkan. Beberapa hal yang harus disediakan dalam rangkaian selamatan itu antara lain adalah; pulpen, cangkul, uang, dan beras.

Sang anak di dekatkan pada semua barang tersebut. Selanjutnya ditunggu reaksi si kecil. Apabila ia mendekati dan memegang cangkul maka kelak ia akan dididik sebagai seorang petani, dan ketika si kecil memedang pulpen maka orang tua memiliki harapan kelak kemudian hari sang anak akan memiliki pendidikan tinggi atau setidaknya menjadi pemikir dan pencatat sejarah.

  • Ritual Penari Srandul

Pemain dan penari Srandul juga diwajibkan melakukan ritual pausa. Ada puasa yang dilangsungkan selama berpuluh hari, namun yang pasti sehari jelang pertunjukan puasa itu hukumnya wajib bagi para pemain Srandul.

Selain kewajiban ritual puasa, para penari Srandul juga diharuskan menyiapkan berbagai jenis sesaji. Salah satunya adalah yang berujud Golong Papat, Lima Panjer. Yaitu empat kepalan (bulat) nasi dan satu tumpeng. Ini mengandung makna bahwa manusia ini tak akan bisa hidup tanpa empat unsur; tanah, api, air, dan angin. Dan juga satu unsur sebagai ‘panjer,’ tak lain adalah Sang Penguasa Hidup.

Sebagai pelengkap, disertakan pula jajan pasar. Ada pisangnya, kacang, dan masih banyak lagi. Semua menjadi perlambang bahwa manusia ini tak akan bisa hidup sendirian. Sedangkan tumpeng lulut yang berasal dari beras ketan juga dihadirkan dengan makna bahwa hidup ini akan memiliki rezeki banyak apabila kita bisa lengketdan akrab dengan sesama.

Demikianlah bentuk kesenian Srandul yang memiliki banyak rangkaian, dan semua rangkaian itu ternyata memiliki banyak makna bagi kehidupan manusia yang bermanfaat. Ada syukur nikmat yang digambarkan melalui seni, dan diselaraskan dengan harmoni, baik antara manusia dengan alam, alam dengan Tuhan, ataupun manusia dengan Tuhan. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Pitutur Srandul dari Lereng Sumbing. Harian Cetak Kompas 1 Maret 2015. Diakses pada 8 Maret 2015
[2] Menjaga Kesenian Srandul Lereng Gunung Sumbing. manteb.com. Diakses pada 8 Maret 2015
[3] Gambar ilustrasi bimosaurus.wordpress.com Diakses pada 8 Maret 2015

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here