Konser Mata Cangkem: Saatnya Musik Teater Menjadi Pertunjukan Utama, Bukan Pengiring

8
3402
Anak-Anak Konser Mata Cangkem - Pardiman Djoyonegoro

Seni teater bukan saja sebatas pada dunia seni peran, namun juga meliputi pernik-pernik lain yang mengikutinya. Ada seni panggung sebagai ajang, ada seni musik sebagai pengiring, ada seni tata lampu, bahkan ada penonton yang masuk dalam unsurnya, dan masih banyak lagi.  Dalam seni teater pernik-pernik itu ditempatkan lebih menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya. Sedangkan yang nomor satunya adalah seni peran.

Begitulah satu kesatuan dari kelengkapan seni teater, seni yang secara teori bisa terdiri dari tiga unsur saja, yaitu penonton, tempat, dan pemeran.

Menjadi Berbeda

Pardiman Djoyonegoro, seorang seniman asal Yogyakarta bersama kelompok “Omah Cangkem” adalah bagian dari penyaji seni teater indah yang acap disuguhkan ke khalayak. Yaitu berlaku pada penggarapan “Soundtrack Musik Teater” bersama kelompok-kelompok teater kenamaan.

Pada karya soundtrack, tentu saja Pardiman lebih sering berada di belakang layar dalam menggarap sekaligus mempersembahkan karya-karyanya. Dan namanya juga soundtrack, maka karya-karya garapannya itupun lebih diposisikan sebagai pengiring.    Namun begitu, atas karya-karya Pardiman itulah beberapa reportoar bisa dinikmati dengan sedap.

  • Musik Teater

Ingin mempersembahkan hal berbeda dari biasanya, maka Pardiman memiliki ide membalik posisi tersebut, yaitu hendak memposisikan musik teater sebagai bagian penting dari sebuah pertunjukan –teater– itu sendiri.   Bahwa musik teater bukan saja sebatas diposisikan sebagai ‘bumbu penyedap,’ bahan penegas adegan, pengiring keluar-masuknya pemain dan semacamnya, di mana pada akhirnya kedudukannya hanyalah serupa dengan ‘pelengkap penderita.’

Pardiman ingin membaliknya. Sudah saatnya musik teater juga menjadi pertunjukan. Bukan pengiring.

  • Konser Mata Cangkem

Mengeksekusi idenya, maka pada hari Sabtu 14 Maret 2015 Pardiman mengeksekusinya. Ia memeprsembahkan sebuah konser berjuluk “Konser MATA CANGKEM” (SoundTrack Musik Teater), yang bertempat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

Dan hasilnya, sungguh menakjubkan. Pertunjukan yang digarap Pardiman Djoyonegoro bersama kelompok “Omah cangkem” dengan markasnya yang berada di Dusun Karangjati, bangunjiwa, Kasihan, Bantul, DIY ini menjadi bukti bahwa hasil karya mereka selama ini bukan sebatas sebagai ‘pelengkap penderita’ dalam sebuah pertunjukan teater.         Lebih dari itu, musik telah memiliki kemampuan untuk berdiri sama tinggi bersama unsur lain dalam teater, baik seni rupa, seni sastra, seni tari. bahkan seni peran, yang selanjutnya disinergikan dengan baik oleh sang sutradara, tak lain adalah Pardiman Djoyonegoro.

Pentas Sound Track

Pentas soundtrack bisa dikatakan serupa dengan “semacam” karnaval musik yang digarap Pardiman Djoyonegoro dan yang pernah melatari beberapa pertunjukan teater. Pertunjukan teater itu antara lain adalah Madekur, Tengul, dan Mantra

  • Ekspresi Penemuan
Gejog Lesungdalam Konser Mata cangkem Musik Teater
Sajian Musik “Gejog Lesung” Mata Cangkem

 Pentas soundtrack mata cangkem tak lain adalah gagasan Pardiman sebagai komposer dalam menata musik sebagai ekspresi ‘penemuan’ yang kadangkali dianggap jamak, namun kenyataannya jarang yang menyadarinya. Bahwa adakalanya dalam bermusik kita kembali menemukan raga, dan, dalam titik yang sama kita menemukan kemerdekaan.

Dikatakan jaman namun jarang disadari, pasalnya sedari kanak-kanak banyak manusia ini telah melakukannya. Yaitu dengan bergumam, bertepuk-tangan, bersenandung rengeng-rengeng, yang kesemuanya dilakukan dengan refleks tanpa konsep.     Tiada patokan yang harus dipatuhinya, baik tangga nada pun partitur.  Pada kondisi ini ‘bentuk’ merupakan pemahaman yang bermasalah, karena memang tak ada arah pun hasil jelas yang dituju.     Ini bukan perkara jelek, karena dari refleksitas dan spontanitas ‘tiada kepatuhan’ terhadap aturan inilah justru tubuh menemukan kesejatian, menemukan dirinya.   Bebas – Merdeka.

Dari pemahaman tentang menemukan ‘aku’ itu, maka Pardiman hendak menegaskan bahwa dalam bermusik manusia bukanlah ‘aku’ yang musti mengambil jarak dengan raganya. lain dari itu, justru seorang pemusik adalah raga itu sendiri. Pemusik dan ‘aku’ jumbuh dan luluh dalam kesatuan.

  • Pangung dan Pesan

Dalam segi penyajian, konser yang dilakoni lebih dari 20 orang ini sungguh pempesona. Menarik pula dengan sajian awal oleh anak-anak yang membawakan beberapa lagu diiringi gamelan.                 Sedangkan di atas panggung, selain memang dipersembahkan karya Pardiman yang enak dinikmati, tim artistik pun mempersembahkan hal detil yang sedap di pandang mata. Dengan layang-layang menempel-nyangkut di pohon yang jarang orang pikirkan, lantai panggung yang ditebar jerami padi, hingga gubug tempat Pardiman melakukan aksi. Belum lagi mengenai persembahan para musisi dan sinden yang aduhai.     Semua mempresentasikan hal baru, tradisional dalam modernitas, sekaligus modern dalam balutan tradisi.

Masih di atas panggung, Pardiman sendiri sempat menegaskan bahwa pada musik ada yang dikatakan sebagai ‘bentuk.’  Walaupun pada masa awal bisa saja bentuk itu belum ada dan mewujud, masih samar-samar, atau bahkan sedang tak ada, akan tetapi ia tetap ada menjadi ‘raga.’     Hanya saja kita musti melalui proses guna menemukannya.    Dengan proses yang dilalui itu kemudian ada kebebasan dalam menjelajah dan melakukan eksplorasi pada suatu horizon, di mana bentuknya  mirip dengan kaki langit. Tak nampak jelas di mana tempat berhentinya. [uth]

Sumber Rujukan:

[1] Terkutip dari beberapa pemaparan Pardiman saat pertunjukan berlangsung pada 14 Maret 2015
[2] Terkutip dari booklet pertunjukan ‘Konser Mata Cangkem’ (SoundTrack Musik Teater)  pada 14 Maret 2015 
[3] Gambar ilustrasi adalah  pertunjukan di Taman Budaya Yogyakarta pada 14 Maret 2015

Berbagi dan Diskusi

8 COMMENTS

  1. […] Dalam seni peran terdapat bermacam-macam gaya pementasan, yang di antaranya adalah pementasan realis. Yaitu pertunjukan yang pengucapan dialognya dilakukan sama persis seperti yang ada di dalam naskah dan sama sekali tidak boleh melakukan improvisasi sebagai pengembangan atau penambahan dialog serta adegan di dalam pentas. Bisa dikatakan, tata ruang dan setting di dalam pementasan realis sangat menduplikasi dengan tata ruang dan setting di kehidupan nyata. [Baca juga: Konser Mata Cangkem: Saatnya Musik Teater Menjadi Pertunjukan Utama, Bukan Pengiring] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here